Sudah beberapa bulan Meyra tinggal di kota kecil itu tanpa seorang pun yang datang.
Dengan tetap memperhatikan kehamilan yang sudah hampir sembilan bulan, Meyra masih sibuk mengurus kafe dengan bermodalkan sisa tabungan yang Meyra miliki.
Kafe kekinian dan menjadi tongkrongan anak muda di sana.
Meyra juga menggandeng grub musik lokal untuk mengisi acara live musik tiap malam.
Meski kecil-kecilan tapi masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Hampir jam sepuluh malam Meyra baru selesai berberes.
Beberapa anak buahnya juga masih setia menunggu.
"Kalian nggak pulang?" meski menjadi bos, Meyra menjadi sosok bos yang disukai para karyawannya.
"Bentar lagi nyonya, masih ingin nongkrong di warung depan," jelas mereka.
"Baiklah, aku duluan ya," pamit Meyra.
Belum juga sampai mobil, tiba-tiba pahanya berasa basah seperti dialiri air yang lumayan banyak.
"Apa ini?" Meyra kaget dengan apa yang dirasakan.
"Bayu? Bisa minta tolong nggak?" panggil Meyra ke karyawan tadi.
"Ada apa nyonya?" Bayu tergopoh mendekat.
"Bisa anterin aku ke rumah sakit," bilang Meyra.
"Tapi aku tak bisa setir mobil," tukasnya.
"Ya udah dech," Meyra memutuskan pergi ke rumah sakit sendiri aja.
Toh dia hanya ingin periksa dan memastikan saja.
Perutnya juga nggak berasa sakit seperti orang melahirkan yang dilihatnya di yutub.
"Beneran nyonya?" Bayu dibuat heran dengan sang bos.
Sampai di rumah sakit, Meyra langsung dibawa ke unit gawat darurat.
Karena dugaan awal yang keluar adalah cairan ketuban yang jika dibiarkan tentu akan membahayakan kedua janin Meyra.
"Nyonya Meyra, apa anda sendirian? Saya perlu tanda tangan keluarga anda sebagai pengambil keputusan," kata petugas itu.
"Jika aku sendiri? Apa tidak boleh?" tanya Meyra.
"Tentu saja boleh, tapi lebih bagus kalau ada keluarga yang mendampingi," sambungnya.
Untung saja, Meyra telah menyiapkan semua.
Segala hal untuk persiapan melahirkan, sudah dia siapkan beberapa minggu yang lalu. Dan selalu Meyra taruh di bagasi mobil.
Meyra mengira akan merasakan sakit yang luar biasa.
Karena menurut bu Agus tetangganya, mulas karena melahirkan bagai seribu sakit jadi satu.
"Tapi kenapa ini kok biasa saja ya?" Meyra meraba perutnya menegang dengan sangat keras.
"Ini namanya kontraksi nyonya, dengan kontraksi ini diharapkan pembukaan akan bertambah;" jelas sang bidan.
Bidan jaga itu dengan cekatan memeriksa Meyra, "Owh sudah pembukaan delapan. Luar biasa kalau anda belum merasakan sakit," kata bidan itu takjub.
"Emang musti sakit?" ucap Meyra.
"Kebanyakan sih akan merasakan sakit yang luar biasa nyonya," jelasnya.
Dan proses pembukaan Meyra termasuk lancar.
"Apa aku bisa melahirkan normal?"
"Sampai sejauh ini sih kondisinya baik-baik saja semuanya," kata bidan itu.
.
Leo merasakan mulas yang luar biasa sejak pulang kantor tadi sore.
"Kenapa nih perut? Perasaan aku nggak makan yang aneh-aneh tadi," gumam Leo sendirian.
Beberapa kali Leo keluar masuk toilet, tapi mulas itu semakin bertambah.
"Ini nih perut kenapa tak bisa diajak kerjasama sih. Kakek bisa marah, kalau aku tak hadir di pertemuan kali ini," Leo ngedumel.
Karena tak kunjung mendapatkan calon istri, hari ini kakek Armando memaksa Leo untuk dikenalkan dengan seorang cewek.
Leo hanya bisa pasrah karena kalau dirinya menolak sang kakek mengancam akan mogok makan dan mogok bicara dengannya. Anak kecil saja kalah sama ulah kakek Armando.
Setelah dipikir-pikir, kali aja Leo cocok dengan cewek itu. Meski dalam hati kecilnya, Leo menolak perjodohan itu.
Ponsel Leo berdering tepat saat Leo merasakan mulas lagi.
"Posisi di mana? Kakek sudah menunggumu sedari tadi? Apa kamu mau membiarkan kakek menanggung malu. Alea dan keluarganya sudah mau sampai nih," omel kakek Armando di ujung ponsel sebelum Leo menyapa.
"Kek, perut aku sakit nih. Puluhan kali aku bolak-balik ke toilet," ujar Leo menceritakan yang sebenarnya. Dan kakek Armando pun tak percaya apa yang diucapkan oleh Leo.
"Jangan banyak alasan. Sepuluh menit lagi harus sampe!" tegas kakek.
"Kek...," Leo menjawab dengan suara lemas sebelum akhirnya pingsan.
"Leo... Leo... Leo," teriak kakek dan tak ada sahutan.
Pertemuan dua keluarga itu pun tak sukses.
Kakek Armando bergegas ke apartemen Leo setelah meminta maaf ke keluarga Alea.
Sampai di sana, didapatinya Leo yang pingsan di toilet.
Tya segera memanggil dokter pribadi keluarga Armando.
Tak menunggu lama, dokter pribadi itu memeriksa Leo.
"Sepertinya tuan muda mengalami dehidrasi tuan besar," jelasnya.
"Dehidrasi?" kakek merasa aneh..
"Untuk sementara akan saya pasang infus dan berikan multivitamin. Ini resepnya silahkan ditebus," dokter itu menyerahkan selembar kertas kepada Adnan yang barusan datang karena mendapat kabar jika sang bos tengah sakit.
Leo terbaring di ranjang kingsize dengan mata masih terpejam. Badannya berasa lemas.
"Sakit apa dok? Cucu saya?" tanya kakek.
"Semua dalam batas normal tuan besar, cuman yang jadi masalah tuan muda kekurangan cairan" jelas dokter.
"Apa perlu ke rumah sakit?" lanjut kakek.
"Kita observasi dulu, kalau infus ini habis tak kunjung membaik lebih baik dirawat di RS," imbuh dokter itu sembari mengecek tetesan infus di lengan Leo.
.
Meyra kini sudah dalam fase pembukaan lengkap.
"Oke nyonya, bersiaplah. Perlu tenaga ekstra, karena anda harus mengeluarkan keduanya. Semangat!" seru dokter kandungan yang barusan datang.
Meyra mengerahkan semua tenaga.
Tak sampai setengah jam kedua bayi mungil yang cukup tampan itu tengah bersaing dalam tangis.
Setetes air mata bahagia Meyra rasakan melihat keduanya.
Meski tak ada pendampingan dari siapa pun saat ini.
"Mama akan berjuang keras demi kalian," bisik Meyra ke keduanya yang sudah berada dalam gendongan.
"Anda terlalu mandiri nyonya," bilang sang dokter.
"Bukan mandiri lagi dok, tapi nyonya Meyra ini sosok wonder women era millenial," sela bidan di sampingnya, membuat semua yang di sana tergelak.
Saat ini Meyra telah dipindah ke ruang rawat inap sementara kedua bayi dipindahkan ke ruang bayi, karena berat badan yang kurang dari normal meski keadaannya baik-baik saja.
Bayu dan seorang teman yang juga karyawan kafe milik Meyra tergopoh mendatangi sang bos.
"Ada apa Bayu?" telisik Meyra.
"Maaf Nyonya, ada yang terjadi di kafe," kata Bayu gugup.
"Bilang saja," balas Meyra.
"Kafe kerampokan, barang-barang elektronik dan semua uang yang ada di meja kasir amblas tak bersisa," seru Bayu sambil menunduk.
Meyra menghela nafas panjang. Percuma juga memarahi mereka berdua, semua yang hilang belum tentu kembali.
Uang di tabungan juga tinggal biaya rumah sakit, karena sudah habis untuk beli rumah dan menyiapkan kafe.
"Nyonya...," panggil Bayu karena tak ada respon dari sang bos.
"Kalian berdua pulanglah. Kafe tutup saja hari ini. Aku belum bisa berpikir," suruh Meyra.
.
Dua hari di rumah sakit, Meyra telah diijinkan pulang.
Saat mengurus di keuangan, ternyata uang yang dipunya masih kurang.
Meyra memutar otak.
Tak mungkin menghubungi Reynand.
Lantas siapa yang bisa aku mintai tolong? Dona? Atau tuan Adnan?
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Tania
lanjut
2023-07-26
2
Dlaaa FM
Lanjutannnnnnn
2023-07-25
2