Hari yang ditunggu-tunggupun tiba, hari ini adalah hari dimana suamiku akan menikah dengan Sukma. Aku sudah mencoba untuk kuat dan menerima semua dengan lapang dada tapi tidak bisa. Bahkan saat proses ijab qobul pun aku tidak datang, aku tidak kuat melihat Mas Barra bersanding dengan wanita lain.
Namun Ki Suryo datang menemuiku dan mengajakku untuk datang ke acara pernikahan itu.
"Harus legawa Ros, apapun yang terjadi kamu harus ikhlas, karena itulah kunci hidup. Jika kita sudah bisa merelakan sesuatu yang kita sayangi saat mereka harus pergi meninggalkan kita, maka tidak akan ada lagi kesedihan yang berkepanjangan yang membuat seseorang kemudian mendekati kita dan menguasai hati kita, mulai detik ini kamu sedang dilatih sabar, dan ikhlas. Semoga apa yang kau alami sekarang akan membuat kamu semakin dewasa dan bijaksana," lelaki itu membimbingku menuju ke ruang pendopo, dimana proses akad nikah berlangsung.
Rupanya acara belum dimulai dan mereka menungguku, aku duduk disamping suamiku dan aku berusaha tersenyum walaupun hati ini ingin menjerit.
Mas Barra memberiku kekuatan, ia menggenggam erat jemariku selama acara itu berlangsung, pandanganku kosong. Yah aku sengaja tidak mau menatap siapapun disana aku hanya berfokus pada penataan hatiku. Aku tidak mau membuat malu keluarga suamiku, makanya selama acara berlangsung aku hanya terdiam menunduk sambil bersholawat untuk menentramkan hatiku.
Ada hikmah dibalik musibah, tampaknya kalimat itu benar adanya, bila hari-hari sebelumnya aku kesusahan untuk melafazkan kalimat thoyibah, tapi kali ini rasanya mulutku mulai terbuka, tidak ada lagi rasa kelu dilidahku atau kekuatan gaib yang menahanku. Hingga aku tanpa sadar bersholawat lirih membuat semua mata menatapku tajam.
Entah kenapa sepertinya ada sesuatu yang ganjil ketika aku sedang asyik bersholawat lirih, suasana gaduh berubah menjadi hening dan Mas Barra mulai melepaskan jemarinya.
Kuedarkan pandanganku menatap semua tamu yang datang, dan jantungku seakan hendak meloncat keluar ketika ku tatap wajah-wajah para tamu undangan yang berubah menyeramkan.
Aku langsung membungkam mulutku dan mengucek-ngucek mataku untuk memastikan apa yang aku lihat ini nyata atau cuma halusinasi aku saja.
Berkali-kali aku mengedipkan mataku sembari mengucek-nguceknya lagi, dan benar wajah mereka kembali normal.
"Kamu cuma halusinasi Ros, makanya jangan bersholawat di sini," ucap Barra mengagetkan aku yang masih mengamati satu persatu wajah para tamu.
Ku lihat Ki Suryo tampak memejamkan matanya, entah apa yang dilakukan lelaki tua itu disana.
Ketika Ijab Qobul dimulai sayup-sayup kudengar suara lantunan ayat-ayat suci yang beberapa hari ini sering ku dengar, kali ini aku sedikit hafal bacaan itu, karena yang dibaca adalah surat Yasin, tanpa sadar aku tergerak untuk mengikuti bacaan itu hingga suana hening kembali melanda ruangan itu. Kini aku seperti mendengar suara tamu-tamu yang mulai gelisah dan ingin meninggalkan ruangan itu.
Kuberanikan lagi untuk mengedarkan pandanganku, bola mataku seakan mau keluar melihat mahluk-mahluk serba hitam dan berbulu panjang berhamburan keluar dari tempat itu.
Aku lihat hanya kaum wanita yang tidak berubah, merek masih tetap cantik tidak seperti kaum adam yang mayoritas seperti mahluk apalah aku tidak tahu namanya tapi aku pernah dengar dari mbahku kalau itu namanya Gondoruwo.
Mahluk tinggi besar dengan mata sebesar bola tenis berwarna hitam legam, bertubuh serba hitam dipenuhi bulu-bulu panjang dan jari tangan dan kakinya ditumbuhi kuku-kuku yang runcing dan tajam.
Kalau sebelumnya aku pingsan melihat mahluk itu tapi kali ini tidak, seperti ada kekuatan yang membuat aku berani dan ingin keluar dari sarang mahluk halus ini. Aku melihat Mas Barra berusaha mencegahku saat aku hendak berlari meninggalkan ruangan itu.
"Kamu mau kemana Ros, jangan pergi!!" cegahnya membuatku sedikit melunak
Aku sadar hanya Barra dan Ki Suryo yang tidak berubah menjadi mahluk menyeramkan.
Namun Sukma langsung bergelayut manja dan menarik lengan suamiku membuat aku meradang.
"Biarkan saja dia pergi suamiku, mungkin sudah saatnya dia pulang dan menerima kenyataan bahwa tidak ada seorangpun yang akan mencintai dengan tulus, sekarang kita nikmati saja malam pengantin kita," ucap Sukma sengaja membuat aku kesal.
Rasa dongkol, kesal, sakit hati bercampur jadi satu rasanya ingin sekali ku robek-robek mulut Si Sukma yang sudah merebut suami dengan curang itu. Namun rasa itu kini berubah menjadi rasa takut yang tiba-tiba menderaku saat kulihat bangunan yang super megah dan mewah berubah menjadi bangunan tua usang yang menyeramkan dipenuhi sarang laba-laba dan juga kelelawar yang berterbangan diatas kepalaku.
Aku lihat Ki Suryo masih memejamkan matanya sambil duduk bersila, dan aku masih mengedarkan pandanganku untuk memastikan bahwa semuanya adalah nyata, samar-samar kulihat tubuh suamiku mulai berubah, walaupun wajahnya masih sama tapi bulu-bulu panjang yang kini memenuhi tubuhnya dan kuku tajamnya membuatku menjerit dan berlari meninggalkan ruangan itu.
Suara kekehan Sukma yang menertawakan aku berubah menjadi suara yang menyeramkan seperti suara tawa sosok Kuntilak.
Aku berlari sekencang-kencangnya meninggalkan tempat itu, kucari jalan setapak yang dulu ku lalui bersama Mas Barra ketika hendak memasuki desa ini, tapi susah sekali aku menemukan jalan itu, berkali-kali aku berlari mencoba menerobos keluar dari hutan kota namun sayangnya aku selalu kembali ketempat yang sama hingga membuat aku sedikit putus asa.
Sepertinya aku akan terjebak di tempat ini, dan tidak bisa keluar dari hutan ini. Aku menangis menjerit dan meminta tolong, aku memanggil Ibu dan Bapakku berharap mereka akan datang menolongku.
"Ibu tolong aku!, aku mau pulang!!" teriakku sambil terisak
"Bapak!!, tolong Ros!, aku takut!!" teriakku lagi sambil mencoba bangkit dan berjalan menyusuri hutan yang tak pernah ada ujungnya itu.
Tiba-tiba sosok Ki Suryo datang menemuiku, dia membimbingku, keluar dari hutan itu.
"Seperti Janjiku, aku akan menunjukkan jalan pulang untukmu Ros," ucap Ki Suryo berjalan didepanku.
Saat kami hendak keluar dari hutan dan menyebrangi jembatan kecil hembusan angin kencang datang menyeret tubuhku hingga terpental kembali ke hutan.
Aki Suryo membantuku bangun dan memapahku agar bisa menyebrangi jembatan itu, namun sesosok mahluk tinggi besar menghadang jalan kami.
"Jangan ikut campur urusanku Aki, kau tidak boleh membawa istriku pergi dari tempat ini," ucap makhluk itu membuatku semakin ketakutan karena dia mengaku sebagai suamiku
Apa mahluk ini adalah Mas Barra suamiku, ah tidak mungkin dia adalah seorang lelaki tampan dan bukan makhluk jadi-jadian yang menyeramkan seperti dia.
"Minggir, jangan halangi jalan kami, aku bukan istrimu, aku mau pulang!" aku tidak tahu kenapa aku jadi berani dan berkata seperti itu pada mahluk dihadapanku itu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
HNF G
baca ayat kursi aja ros
2023-06-07
0
Setiawan Erry
666
2022-12-24
0
Reni Ajah
sreu
2022-08-29
1