Malam semakin larut, bulan seakan jadi saksi dua sejoli yang tengah memadu kasih.
Mas Barra kini duduk di bibir ranjang, ia tersenyum dan menarik pundakku hingga aku jatuh ke pangkuannya. Ia memijat pundakku lembut dan membalikkan tubuhku, kini netra kami saling bertemu, ada rasa malu sekaligus gugup membuatku langsung menunduk karena tidak kuat menatap tatapannya yang sudah membuatku ingin menyerahkan segalanya.
Ia mengelus lembut pipiku, hingga ke pundakku dan memijat lembut disana membangkitkan sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Jantungku kini berdegup lima kali lebih cepat dari biasanya, hembusan lembut nafasnya mulai menyapu wajahku, hingga membuatku memejamkan mataku. Kurasakan sentuhan lembut di kening, hidung dan kini berganti ke bibirku. Rasanya begitu manis dan nikmat, dan aku hanya pasrah menikmati setiap sentuhan tangannya yang kini mulai menjangkau area yang selama ini ku sembunyikan.
Sesaat nafasku seakan berhenti, aku begitu terbuai dengan petualangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya sampai aku harus mencengkeram kain sprei dibawah kami.
Barra mulai merebahkan tubuhku diatas ranjangnya, sepertinya ia tahu yang aku rasakan sekarang sungguh benar-benar memalukan.
"Suamimu menginginkanmu malam ini," bisiknya lembut membuat tubuhku menegang.
Tidak ada penolakan karena aku juga menginginkannya, dan aku hanya pasrah menikmati semua yang ia lakukan padaku dengan desahan manja yang membuatnya semakin bergairah menjelajahi setiap jengkal tubuhku. Kegelisahan yang tidak berujung namun benar-benar tidak mau aku akhiri benar-benar membawa kami ke puncak surgawi. Ditemani hembusan dinginnya angin malam, dan remang-remang cahaya lilin menjadi saksi penyatuan kami. Bahkan dinding kamar ini menjadi saksi, ku rasakan pengalaman baru yang tidak pernah ku bayangkan sebelumnya dan aku tidak ingin mengakhirinya.
Pagi mulai menjelang, perlahan kubuka mataku saat suara kicauan burung membangunkan aku dari mimpi indah ku. Kurasakan jemari Barra masih menggenggam erat jemari ku, dengkuran halusnya terdengar merdu ditelingaku. Kurasakan detak jantungnya begitu cepat, tubuh kami memang masih bersentuhan karena Barra terlelap disampingmu sembari memeluk tubuhku. Ku tatap wajah tampan yang sudah membuatku mabuk kepayang, ku elus lembut pipi hingga rahang kokohnya. Sungguh pria ini benar-benar membuatku tidak berhenti memujanya, aku seperti merasakan jatuh cinta untuk yang kedua kalinya dan kali ini cintaku begitu besar pada suamiku hingga membuatku ingin memberikan seluruh hidupku untuknya.
**Wuushh!!!
**Jraasshh!!!
Seketika aku bangkit dan ku dorong tubuh suamiku kesisi ranjang, manakala sebuah bola api memasuki kamar pengantin kami.
Bola-bola api itu seakan mengincar Barra, dan bukan diriku, aku begitu ketakutan dan hanya bisa berteriak minta tolong.
Mas Barra yang sudah terbangun langsung berdiri dan menyuruhku untuk menyelamatkan diri.
"Menjauhlah dariku!!" perintah Barra, aku segera berlari ke sudut kamar untuk melindungi diri.
Ku lihat Barra mulai memejamkan matanya dan kemudian menangkis semua serangan bola api yang semakin lama semakin banyak.
"Keluarlah kau *******!!" teriak Barra yang begitu murka
Sesosok pemuda tampan muncul dihadapannya, ia terlihat datang ditemani oleh mahluk tinggi besar hitam yang tubuhnya dipenuhi bulu-bulu yang panjang. Matanya sebesar bola tenis dan hanya berwarna hitam legam sama seperti warna tubuhnya. Kuku-kukunya sangat panjang dan runcing, begitu juga kuku jari kakinya membuatku ketakutan dan langsung tidak sadarkan diri.
"Aku tidak punya urusan denganmu, kenapa kau menyerangku Ki Sanak?" tanya Barra geram
"Kau sudah membawa pergi cucuku jadi jangan salahkan aku jika aku akan membunuhmu!" jawab pemuda itu lantang
"Aku tidak pernah memaksanya untuk ikut denganku, tapi dia sendiri yang mau ikut denganku, jadi jangan salahkan aku," tutur Barra dengan nada mengejek
"Dasar Iblis keparat, aku tidak percaya dengan kata-katamu, tidak mungkin cucuku menawarkan diri untuk mengikutimu, kau benar-benar Jin brengsek!!" hardik lelaki itu yang langsung mengeluarkan sebuah kilatan berwarna jingga ke arah Barra, membuatnya jatuh terhempas hingga menghantam dinding.
"Kau bukan tandinganku Barra, jadi serahkan cucuku padaku secara baik-baik maka aku akan memgampunimu," gertak Ki Rangga
"Kau memang sakti Aki, tapi kau tidak akan bisa membawa pulang Ros, karena walaupun aku menyuruhnya pergi dia tidak akan pergi dari sini, ia sudah menjadi istriku sekarang dan kami sudah bersatu, sukmanya sudah terikat denganku jadi ia tidak bisa kembali lagi kedunianya kecuali ia yang mau kembali sendiri," jawab Barra sembari menyunggingkan senyumnya
"Kau benar-benar bajing*n!, beraninya kau menikahi cucuku tanpa seijinku!, apa kau lupa kekuatanmu akan berkurang dan kau akan menjadi lemah jika menikahi manusia!" hardik Rangga
"Aku tahu semuanya Aki, tapi semuanya aku relakan karena aku benar-benar mencintai Ros, dan aku ingin bersamanya sampai akhir jaman nanti," tuturnya membuat Ki Rangga semakin geram
"Persetan dengan semuanya!!" Ki Rangga semakin geram dan kembali melesatkan sebuah kilatan warna ungu bertubi-tubi kepada Barra hingga membuat lelaki itu terkulai lemas tidak berdaya.
"Aku berikan waktu kau sampai Jumat Kliwon, kalau kau tidak melepaskan Ros cucuku, maka jangan salahkan aku jika aku akan memusnahkan dirimu beserta istana dan semua rakyatmu!!" ancam Ki Rangga meninggalkan ruangan itu.
Pemuda itu berjalan keluar meninggalkan rumah Barra, seorang lelaki tua menunggunya di bibir pintu.
Ia mengantarkan ki Rangga hingga ke pintu gerbang rumah Barra.
"Siapa kau?" tanya Ki Rangga dengan tatapan sinis
"Aku adalah Ki Suryo, kuncen tempat ini, mohon maaf jika aku tidak menyambut kedatangan Ki Rangga dengan baik," jawabnya santun
"Kau ini kuncen tapi tidak bisa menyambut tamumu dengan ramah, bahkan kau membiarkan majikanmu membawa cucuku ketempatnya, kenapa kau tidak mencegah pernikahan mereka!!" hardiknya dengan suara lantang
"Semuanya sudah takdir Gusti Allah, walaupun badai datang toh jika Gusti Allah yang sudah berkehendak tidak ada satupun manusia yang bisa menghalanginya," jawab Ki Suryo
"Jangan sok suci, jangan sok seperti seorang Kyai, kau ini cuma seorang kuncen yang tidak lebih dari seorang dukun, jadi bertindaklah sebagai seorang dukun, jangan etok-etok menjadi seorang ustadz," sahut Rangga
"Inggih, Aki. nuwun sewu, maaf saya bukan dukun sakti seperti dirimu, tapi aku juga sudah berusaha membantu gadis itu agar mau pulang ke rumahnya, tapi apalah daya saya, jika cinta sudah bicara. Dan kekuatanmu yang sangat sakti pun tidak akan pernah bisa membawa Ros pulang ke raganya, karena sukmanya sudah menyatu dengan Ki Barra. Ini adalah suatu kejadian yang sulit dan jarang sekali terjadi, Ros hanya bisa kembali ke raganya jika ia mau pulang dengan kemauannya sendiri, dan aku sudah berjanji padanya akan menunjukannya jalan pulang jika ia mau pulang ke dunianya," jawab ki Suryo
"Baiklah aku, pegang janjimu, dan panggilah aku jika hari itu tiba," ucap Ki Rangga yang langsung menghilang dari pandangan ki Suryo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
🦋Elsawhy🦋
imanya ros lemah
2023-07-22
0
HNF G
iihh..... serem ya.... Na'udzubillahiminzalik 😰
2023-06-07
0
Astri
pnsran bmn raga ros d dunianya.. apakah tb2 tdk sadarkam diri saat ragax d bawa barra atau dia smpt alami kecelakaan hingga ruhx di bwa prg oleh barra
2022-12-30
0