Tubuhku terus melayang hingga aku tiba disebuah taman, disana seberkas cahaya menuntunku agar segera menyeberangi sebuah jembatan kecil, dan diseberang sana Mas Barra sudah menungguku. Namun ketika aku mulai akan menyebrangi jembatan itu seorang lelaki tampan yang sangat familiar menarik lenganku, dan melarangku agar mengurungkan niatku menyebrangi jembatan itu.
“Belum saatnya kau pergi Ros, masih ada ibu dan bapakmu yang merindukan kamu dan menunggumu dirumah, jadi pulanglah,” ajaknya lembut
Aku tahu lelaki itu yang selalu mengumandangkan ayat-ayat suci saat aku sedang kesakitan ataupun ketika hujan badai di hari pernikahanku. Wajahnya begitu familiar dan aku merasa sangat dekat dengannya, tapi kenapa aku sulit mengingat dan mengenali siapa dia.
Wajahnya sangat tampan dan ramah meskipun seberkas cahaya membuatku tidak bisa melihat jelas wajah teduh itu, ya...wajah yang selalu tersenyum ramah padaku dan selalu menjadi pelindungku. Entahlah, siapapun kamu, yang jelas aku merasa mengenalmu dan begitu dekat dengan kamu, dan seperti ada ikatan batin diantara kita, karena kali ini aku lebih memilih ikut bersama dia daripada Mas Barra suamiku.
“Kau sudah sadar nduk?” tanya Ki Suryo yang duduk disebelahku
Aku hanya mengangguk dan mengedarkan pandanganku kesekitar, aku melihat Sukma tersenyum manis sembari memegang erat jemari mas Barra, membuat dadaku terasa sesak.
“Haus, aku haus Mas,” ucapku meminta perhatian suamiku
Mas Barra segera mengambilkan segelas air putih dan menghampiriku, namun wanita itu segera merebutnya dan memberikan gelas itu kepada Ki Suryo.
“Biarkan saja Aki yang mengurusinya, lagian dia juga sudah sembuh kok, mendingan kita membicarakan rencana pernikahan kita,” tutur Sukma membuat dadaku semakin sesak
“Apa!, kalian akan menikah!” tanyaku kaget sambil menahan embun di ujung mataku yang hendak tumpah ke pipiku
“Benar sayang, hari rabu besok Mas Barra akan menikahi aku, sebagai kompensasi karena aku telah menyembuhkan luka kamu, makanya mulai sekarang kamu harus ikhlas untuk berbagi suami denganku,” ujar Sukma bagaikan sebuah jarum yang
menusuk-nusuk persendianku, rasanya sakit sekali bahkan lebih sakit daripada ketika aku ditinggal menikah Ka Rizal.
Ku tatap wajah Mas Barra yang merasa bersalah dan pergi meninggalkan aku. Aku tidak mampu lagi menahan kristal-kristal bening yang langsung berjatuhan membasahi wajahku, baru saja
sakit dileherku sembuh, tapi kini hatiku yang terasa sakit, perih, dan begitu
membuatku ingin lari dari kenyataan ini.
Seumur hidup aku tidak pernah
membayangkan akan dipoligami oleh suamiku, walauoun aku tahu Mas Barra
melakukan semua ini untuk menyelamatkan aku, tapi aku masih tetap tidak rela
jika harus berbagi orang yang aku sayang dengan wanita lain. Apalagi melihat
mereka berdua duduk bersanding di pelaminan, sungguh aku tidak kuat. Lebih baik aku mati saja atau aku pergi dari kehidupan Mas Barra karena aku tidak siap
melihat keduanya memadu kasih didepanku.
“Ikhlaskan semuanya nduk, aku yakin inilah jalan terbaik yang Gusti Allah berikan padamu, supaya kamu bisa kembali pulang ke duniamu,” Entahlah aku tidak begitu paham
kenapa Ki Suryo selalu menyuruhku untuk pulang, padahal aku merasa aku berada
di rumahku sendiri. Namun setiap kali aku tanyakan pulang kemana, ia hanya
tersenyum tanpa menjawab.
Segera kuambil gelas dari tangan Ki Suryo dan kutenggak habis airnya dalam sekali teguk, lelaki itu seperti tahu keadaan batinku, ia segera mengisi kembali gelas yang
sudah kosong itu, sampai tak terasa sudah lima gelas kuhabiskan air untuk mengisi kerongkonganku yang mulai dingin ini.
Kulangkahkan kakiku menuju ke kamar mandi, kusiram tubuhku dengan air dingin berharap hatiku yang mulai memanas akan kembali dingin.
Selesai mandi aku berniat pergi ke taman kota lagi untuk menyejukkan pikiranku yang mulai kalut dan tidak karuan. Namun bukannya indah bunga-bunga atau suara gemericik air yang akan membuat pikiranku kembali fresh, justru aku melihat Mas Barra sedang bercumbu dan memadu kasih dengan Sukma, membuatku suasana hatiku semakin kacau, dan rasanya otakku mulai panas dan asap putih sudah keluar dari kepalaku
membuat tubuhku seakan oleng dan hendak pingsan.
Aku segera berlari dan meninggalkan mereka, dan sepertinya Barra sadar dan segera
menghentikan aktivitsnya ketika melihatku lari dari tempat itu.
“Katanya tidak suka, tidak cinta, tapi kenapa kau malah mencumbunya Mas,” ucapku sambil terisak di kamar
“Katanya kau menikahinya karena terpaksa, sebagai imbalan karena gadis itu sudah menolongku, tapi kau bohong, kau berbohong agar aku mengijinkan pernikahan kalian, kau
bohong supaya aku melegalkan perselingkuhan kalian,”
“Kamu salah Ros, semuanya tidak seperti apa yang kau bayangkan. Aku melakukan semua itu semata-mata karena aku sedang merayunya agar ia membatalkan rencana pernikahan kami, karena aku tidak mau menyakiti kamu Ros, kalau aku benar-benar ingin selingkuh dengannya, kenapa aku harus mengobati luka kamu, kenapa aku tidak
menyuruhnya membunuh kamu saja, agar kami bebas berselingkuh tanpa ada yang
menganggu, dan aku bisa segera menikahinya. Percayalah Ros, hanya kamu
satu-satunya wanita yang aku cinta, dan hanya engakaulah yang pantas menjadi
ibu dari anak-anaku kelak, seandainya waktu bisa kuputar aku ingin sekali kembali ke masa itu. Dimana Sukma menyerangmu dan aku harusnya berada sisampingmu melindungi kamu, hingga tidakbterjadi musibah ini. Maafkan aku Ros yang sudah menyakiti hatimu, aku bukanlah lelaki yang baik buat kamu, kalau kau ingin kembali pulang ke rumahmu, pulanglah, aku tidak akan melarang atau menahanmu lagi. Aku ikhlas, aku ingin melihat kau bahagia, bukan menderita seperti ini,” ucap Mas Barra bersimpuh di kakiku membuat semua amarahku langsung sirna dan berganti iba.
Segera kuangkat wajahnya dan kuseka air matanya. Aku melihat ada kejujuran dalam sorot matanya, dia tidak berbohong aku bisa melihatnya. Ku peluk erat tubuhnya dan kamipun saling mendekap dan menangis bersama.
“Maafkan aku Ros, aku yang salah,” segera kututup mulutnya dengan dengan dua jariku
“Aku sudah memaafkan kamu Mas, aku percaya kok sama kamu, aku yakin kau melakukan semuanya itu terpaksa demi menyelamatkan nyawaku, mulai sekarang aku coba untuk ikhlas menerima semua ini, tapi aku gak tahu nanti Mas, karena hati ini tidak bisa ditebak. Bisa jadi hari ini aku ikhlas dan mengizinkan kamu menikah dengan
Sukma, tapi tidak tahu besok.
Jadi jangan salahkan aku, jika nanti aku pergi
meninggalkan kamu, karena aku tidak kuat melihat kalian berdua bahagia. Karena sejatinya tidak ada seorang wanita di dunia ini yang rela di madu walaupun lisannya
berucap ikhlas. Begitu juga aku Mas, aku sadar bahwa aku adalah orang yang
lemah dan labil, jadi tolong maafkan aku jika nanti aku memilih pergi dan
mengikhlaskanmu untuk Sukma karena aku tidak kuat menahan semua ini. Walaupun
aku akan berusaha untuk ikhlas tapi wawlallahu alam, hanya Allah yang mampu
membolak-balikan hati umatnya, semoga kita akan selalu bahagia Mas.” Ucapku
sambil memeluknya erat
Jujur saja akusebenarya begitu berat menerima kenyataan ini, tapi apa mau dikata ini adalah takdirku dan mau tidak mau aku harus menjalaninya.
To Be Continued
Jangan lupa like, komen Love and Vote ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
🦋Elsawhy🦋
jadi terhura aku 😭😭
2023-08-04
0
Astri
nyesel banget bacax klau txta poligamii😭 mau berhenti tp udah d tengah jalan😭
2022-12-30
0
Aqiyu
kasihan Ros Rizal dan Barra sama
2022-10-04
0