Hari pertama mengajar membuatku sedikit melupakan Rizal, karena ini pertama kalinya aku mengajar tentu saja aku merasa grogi di dalam kelas.
Selesai pulang ngajar aku terpaksa pulang sendiri karena Sela masih ada jam tambahan mengajar kelas dua belas.
**Ciit!!!
Sebuah motor tua berhenti didepanku, seorang lelaki tampan yang begitu familiar melepaskan helmnya dan tersenyum kearahku.
"Lagi nunggu angkot ya?" tanyanya ramah
"Iya,"
"Kalau mau pulang bareng aja, kebetulan aku juga mau pulang," ucap Barra ramah
Aku langsung mengangguk dan duduk dibelakangnya.
"Tapi karena aku tidak bawa helm, kita lewat jalan kampung saja ya, takut ditilang polisi," ucapnya sembari menyalakan motornya
Ia memutar motornya melewati jalanan perkampungan, sebenarnya agak aneh sih ketika jalanan yang dilewati itu seperti kampung sepi, padahal hari masih siang, masa tidak ada mahluk satupun yang beredar di jalanan.
Ia menghentikan motornya mendadak, membuat kepalaku terbentur helmnya.
"Awww!!" ku pijat lembut kepalaku yang terasa sedikit nyeri setelah terbentur helmya
Kucoba melihat kedepan karena penasaran ada apa sih sampai Si Barra mengerem mendadak motornya, hingga membuat kepalan inces benjol.
Seorang wanita cantik memakai baju serba hitam menghadang jalan kami, wajahnya terlihat menyeramkan karena seperti ia sedang kesal terhadap seseorang.
"Minggir!!, jangan halangi jalan kami!" hardik Barra
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu mengusir anak manusia itu dari hidupmu!" tandasnya sembari menatap tajam kearahku, membuatku sedikit ketakutan, karena tatapan matanya begitu menakutkan dan juga penuh kebencian.
"Tidak bisa, apa urusanmu melarang aku bersama dia!" jawab Barra lebih ketu dari si gadis berkerudung hitam itu
Sebenarnya siapa dia, kenapa ia begitu membenciku, apa salahku padanya, apa dia pacarnya Mas Barra, terus dia marah padaku karena aku bersama kekasihnya.
Seketika aku langsung turun dari motornya dan memantapkan hati untuk pulang sendiri saja.
"Maaf Mas, mungkin lebih baik aku pulang sendiri saja, supaya Mas bisa menyelesaikan urusan Mas sama Mbaknya," jawabku pelan
"Gak usah, gak ada masalah gue sama kuntilanak itu, dia aja yang nyari gara-gara!" sahut Barra menarik lenganku
"Tapi....," belum selesai aku bicara ia langsung menyuruhku untuk duduk kembali
"Duduk, atau kamu akan celaka bila jauh dariku," ucapnya membuatku ketakutan
Lagi-lagi tatapan mata tajam wanita itu membuatku bergidik ngeri, ia sepertinya menyimpan dendam kesumat padaku. Tatapan itu mengingatkan aku pada diriku sendiri yang kala itu merasa sangat benci kepada Hesti yang sudah merebut Rizal dariku.
Sepanjang perjalanan aku selalu termenung memikirkan gadis berjilbab hitam itu.
"Sudah sampe Ros, apa kamu tidak mau turun," ucapan Barra mengangetkan aku dari lamunanku
"Eeh, sudah sampai ya," ucapku sembari memamerkan deretan gigi putihku
"Kamu ngelamun ya?" tanya Barra
"Iya, aku keringetan sama Mbak yang tadi, apa dia pacar kamu?" tanyaku memberanikan diri
"Dia itu calon istri aku, kami dijodohkan oleh orang tua kami, tapi aku tidak mau dijodohkan, makanya aku lari dari rumah dan memilih kos disini," jawabnya parau
"Tapi sepertinya gadis itu sangat menyukai kamu," jawabku hati-hati
"Kamu benar, tapi aku tidak bisa mencintai dia," jawab Barra memarkirkan motornya
"Motor kamu antik banget, keren!!, walaupun motor jadul tapi masih terawat bagus, pasti harga jualnya mahal," godaku mengalihkan kesedihan Barra
"Iya, itu motor peninggalan ayah, yang dibeli pada masa penjajahan Belanda," jawabnya
"Wew keren, mobil jaman kolonial saja masih terawat bagus, mantul Mas," jawabku memberikan dua jempolku padanya
Aku segera berjalan masuk ke dalam kamar, sementara Barra masih berdiri dihalaman rumah. Kulihat seseorang sedang mengganti tabung gas di dapur.
"Mbaknya baru ya?" tanya lelaki itu
"Iya,"
"Oh iya mbak, perlu saya kasih tau kalau semua penghuni kos boleh masak disini, tapi untuk pembelian gasnya bergantian ya, kalau sekarang giliran saya, nanti mungkin setelah gas ini habis, giliran Mbak yang harus beli," tuturnya
"Baik Mas," jawabku
"Kemana aja Roy, udah dua hari gas abis gak lo beliin, kebiasaan lo. Awas kalau nanti kaya gitu lagi, gue usir lo dari sini," cibir seorang wanita yang keluar dari kamarnya
Deg, rasanya sedikit kaget karena semalam aku lihat sendiri Barra masih memasak dua bungkus mi rebus menggunakan kompor itu, tapi si Ibu bilang gas sudah dua hari habis. Tentu saja hal ini membuat aku sedikit parno.
"Tapi semalam masih nyala kok bu, kompornya," ucapku pelan
"Jangan halu neng, emangnya kamu masak apa semalam, kok gak ada bau-bau masakan semalam," jawab wanita itu membuatku mengernyitkan dahiku
"Bukan saya yang masak bu, tapi teman saya masak mie rebus sekitar pukul setengah sembilan malaman kalau gak salah," jawabku
"Mana mungkin, jam segitu kita masih pada ngobrol disini, tapi gak ada tuh orang yang masak didapur, jangan-jangan temen lo itu setan neng," jawab wanita itu sambil terkekeh
"Tapi semalam bukannya jam delapan malam aja sudah sepi ya, karena pas aku lihat semua pintu tertutup rapat dan tidak ada satupun orang di luar kamar, sembarangan aja ngomong temen aku setan!!" cibirku sedikit kesal
"Si neng ini kebanyakan halu, orang kita lihat kok kamu pindahan, terus jam delapan malam keluar kamar celingukan tanpa menyapa kami yang sedang duduk-duduk di depan kamar, aku pikir kamu sedikit sombong, makanya kita diemin kamu ketika bolak-balik dapur sembari ngomong sendirian," jawab Si Ibu membuat aku bergidik ngeri
"Masa iya sih, Mas Barra itu hantu penasaran, makanya semua orang-orang disini pada gak lihat wujudnya, dan semua yang diceritakan oleh si ibu itu benar, tapi aku tidak ngomong sendirian melainkan berdialog dengan Barra," batinku mulai kacau
"Oh iya neng, kamu tuh harus hati-hati tinggal di situ, harusnya di adakan pengajian terlebih dahulu sebelum menempati kamar itu, karena menurut penuturan Aisyah yang pernah menempati kamar itu, banyak mahluk halus yang bersemayam di kamar itu, apalagi sudah enam bulan kosong makin banyak aja tuh penunggu kamar pojokan, tapi gue salut sama lo, berani tinggal disana," ucap wanita itu
"Jangan-jangan temennya yang diceritakan itu adalah salah satu penunggu kamar itu, makanya tidak kelihatan oleh lo Marni!!" cibir seorang wanita lainnya semakin membuatku semakin ngeri
"Temanku itu tinggal di kamar samping dapur kok, namanya Barra," tambahku membuat semuanya tercengang dengan mulut mengaga
"Barra!!" ucapnya bersamaan
"Iya Barra, dia tinggal disitu bersama temannya cuma aku tidak tahu siapa nama temannya," imbuhku
"Yang kos disitumah si Roy sendirian, emangnya lo bawa teman kemarin Roy?" tanya wanita itu kepada lelaki yang sedang memasang tabung gas
"Semalam ada temanku yang menginap disini namanya Ambara, maaf belum lapor, tapi sekarang dia sudah pergi kok," jawabnya membuat aku sedikit lega.
Aku segera masuk kedalam kamar daripada mendengarkan ocehan para tetangga yang justru semakin menakutiku dengan cerita seram. Akhirnya terbersit ide untuk memperkenalkan Barra kepada mereka, supaya mereka percaya sama aku dan tidak menganggap aku halu lagi.
Setelah berganti pakaian aku segera menuju ke halaman depan untuk mengajak Mas Bara masuk.
Tapi sayangnya aku tidak melihat Barra disana, motornya juga tidak ada, membuatku sedikit kecewa.
"Kamu kemana Barra?" ucapku dalam hati
"Kenapa mencariku," jawab Barra yang tiba-tiba muncul di depanku membuat jantungku seakan mau copot.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
🦋Elsawhy🦋
nah loh...setan ganteng bikin kaget
2023-07-22
0
Astri
lagi suka2nya baca novel beda dunia..
2022-12-30
0
aku dimana!?
Mas Bara adalah Goblin😭🤣
2022-12-11
0