"Ndi toh bocahe sing kesurupan," tanyanya kepada Rizal
"Itu mbah yang lagi dipegangi Pak Lik Karto sama Pak Lik Ngadimin," jawab Rizal sambil menunjuk kearah ku
Sial!!, dasar J*ncuk!, bisa-bisanya dia bilang ke semua orang aku ini kesurupan, aku gila, dasar b*jingan!
Segera kugigit lengan dua rewang yang menyergapku dan aku langsung kabur sebelum dukun itu menyemburkan air putih yang sudah bercampur ludahnya ke wajahku.
**Arrghhh!!!
"As* ajag, setan alas!" gerutu seorang rewang mengataiku
Aku langsung berlari menghindari kejaran mereka dan segera melesatkan motorku dengan kecepatan tinggi.
**Wuushhh, ngueeeng!!
Setibanya di rumah aku langsung membanting pintu kamar dan menangis sejadi-jadinya, rasanya ingin mati saja saat itu karena percuma aku hidup kalau disakiti seperti ini. Belum lagi besok pasti orang-orang mencibirku karena gagal lamaran, padahal ibu sudah mengundang beberapa orang kerabat untuk membantu memasak ataupun menemaninya ketika menerima pinangan dari keluarga si Rizal sialan itu.
Sudah pasti aku akan jadi buah bibir para tetangga yang semuanya sudah mendengar kabar tentang Rizal yang akan melamarku.
"Duh, aku harus gimana, haruskah bajing*n itu aku santet agar mati saat hari pernikahannya, atau aku guna-guna supaya dia balik lagi sama aku," pikiranku sangat kalut saat itu
Kepalaku yang biasanya selalu berpikir positif dan selalu menjadi motivator teman-temanku saat mereka sedang down, tiba-tiba dipenuhi oleh aura negatif. Dan setan-setan tidak henti-hentinya membisiki ku untuk segera membalas dendam kepada Rizal dan juga Hesti.
"Kamu kenapa lagi nduk?, kok nangis lagi?," tanya ibu mengusap lembut rambutku
"Ka Rizal beneran mau nikah bu, huaaa...." aku langsung memeluk ibuku berharap wanita itu akan mencurahkan kasih sayangnya untuk menghiburku yang sedang galau tingkat Dewa.
"Sabar nduk, kalau kalian belum jodoh berarti Mas Rizal bukan yang terbaik buat kamu, dan Allah menyiapkan yang lebih baik buat kamu," ucapnya seperti ucapanku ketika menasihati teman-temanku yang galau saat putus atau diselingkuhi pacarnya
Aku hanya mengangguk pelan dan mengusap air mataku.
"Besok gimana bu?" tanyaku parau
"Yaudah nanti kue-kue yang terlanjur sudah dibuat, kita bagikan tetangga saja, jangankan mau lamaran nduk, besok mau akad aja masih ada kok yang batal, makanya bersyukur karena kalian baru tahap mau melamar, coba kalau kamu diselingkuhi pas udah nikah pasti lebih sakit, sakitnya tuh disini nduk?" ucap ibu sambil menepuk dadanya membuatku tersenyum menertawakan ulah konyolnya
"Tenang aja, kamu tuh cantik, masih banyak cowok-cowok ganteng diluar sana yang mengantri cinta kamu, jadi santuy aja, no men no cry!" ucapnya lagi seperti anak-anak jaman now,
Memang ibuku itu walaupun sudah tua tapi tetap gaul karena ia memiliki sebuah warung mini tempat anak-anak abg nongkrong, jadi tidak salah kalau ibu suka menirukan gaya bicara mereka yang alay bin lebay.
Kuseka air mataku, benar juga kata ibu, aku ini cantik ngapain juga aku nangisin si Rizal bajing*n itu. Ku buka jilbabku dan kusisir rapi rambutku yang sudah panjang, kutatap wajahku lekat-lekat di cermin meja riasku.
Aku memang cantik, walaupun aku tidak pernah memakai make up, toh tidak mengurangi kecantikanku. Bukannya sombong, waktu SMA aku sering ikut lomba peragaan busana walaupun cuma lomba Kartinian, tapi aku selalu juara.
Banyak yang bilang aku tuh manis, tubuhku yang mungil semakin menambah aura kecantikanku yang semakin bersinar, mata belo, hidung mancung namun sedikit galak. mungkin itu yang membuatku tidak pernah mendapatkan seorang pacar, karena setiap yang mendekati aku selalu takut dengan tampang jutekku.
Tapi walaupun aku jutek sebenarnya aku tuh baik loh, sumpah. Buktinya banyak teman-teman aku yang selalu curhat masalah pribadinya kepadaku, karena mereka percaya kalau aku tuh bukan tipe cewek ember yang suka menyebar aib temannya sendiri kepada orang lain.
Cuma Rizal satu-satunya pacar aku dari SMA sampai sekarang, dan itulah kenapa aku begitu terpukul ketika ia menghianatiku dan memilih menikah dengan Hesti sahabat dekatku. Karena cuma dia satu-satunya cowok yang ngertiin aku, dan mau menerimaku apa adanya.
Kenapa air mataku lagi-lagi menetes ketika mengingat lelaki bajing*n itu, rasanya aku tidak rela melihat dia bahagia diatas penderitaan aku.
Aku sempat berpikir untuk datang ke pernikahannya dan mengacaukannya. Sepertinya seru, kenapa otakku ini tidak henti-hentinya berpikiran jahat dan ingin melampiaskan kemarahanku pada Rizal dan juga Hesti.
Hari ini aku pergi ke kampus untuk mengambil legalisir ijazah.
"Kamu rencananya mau kerja dimana Ros?" tanya Aida
"Aku mau cari kerja di Jakarta saja, kayaknya disana lebih menjanjikan daripada di kampung," sahutku
"Aku juga mau kalau Si Mbok mengijinkan aku pergi, tapi kayaknya gak mungkin," keluh Aida
"Yaudah kamu ngabdi disini saja, mudah-mudahan nanti kamu akan diangkat jadi PNS, masa semua sarjana di kampung ini mau ke Jakarta semua, harus ada satu dong yang menetap disini dan membangun kampung kita," jawabku memotivasi Aida
"Iya doakan aku ya, agar bisa diangkat jadi PNS, atau setidaknya bisa jadi perangkat Desa," ujar Aida penuh harap
"Aamiin," jawabku singkat
"Kamu diundang ke nikahannya ka Rizal?" tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulut Aida, membuatku kaget darimana dia tahu kalau Rizal mau nikah.
"Kamu tahu darimana Rizal mau nikah?" tanyaku pura-pura tidak tahu
"Nih, di group WhatsApp," jawabnya sembari menunjukkan pesan singkat dari Rizal yang mengirimkan undangan pernikahannya di group WhatsApp kampus
Sial, bagaimana dia bisa tega-teganya menyebarkan undangan disana, pasti kini semua mahasiswa satu angkatan akan menertawakan aku, status motivator dan pasangan terharmonis akan segera melayang, duh!!, mau ditaruh dimana mukaku ini ya Rob,
"Aku tidak diundang, mana mungkin dia ngundang mantannya, bisa-bisa hancur pestanya," jawabku ketus
"Jadi lamaran besok gagal dong?" tanya Aida hati-hati
"Ya begitulah, lebih baik ketahuan sekarang Da, daripada selingkuh setelah kami menikah, malah lebih parah," jawabku berusaha kelihatan tegar, secara aku kan motivator. Masa iya seorang motivator cengeng, inilah resiko mau tidak mau ya aku harus bersandiwara menjadi Maria Teguh.
"Keren kamu Ros masih bisa tegar, kalau aku jadi kamu mungkin udah bunuh diri kali," jawab Aida membuatku terkekeh sekaligus sedih
"Sebenarnya aku juga pengin bunuh diri Aida, tapi tengsin, kasian ibu sama ayah aku. Secara aku ini anak perempuan satu-satunya, jadi mana tega aku ninggalin mereka."
Setibanya di rumah aku langsung merebahkan tubuhku ke Sofa.
Tok.. tok.. tok!!
"Assalamualaikum!" terdengar suara orang bertamu didepan rumah, kubuka daun pintu rumahku perlahan dan melihat siapa yang datang.
*Juegeerrr!!!
Bagaikan petir disiang hari kedua manusia laknat yang sudah membuat hidupku hancur datang ke rumahku dengan tanpa dosa memberikan undangan pernikahan kepadaku membuatku rasanya ingin menghajar keduanya hingga mamp*s.
Dengan senyum manis yang membuatku ingin muntah Hesti memberikan undangan itu padaku dengan nada mengejek dan sukses membuatku serasa jadi pecundang yang kalah perang.
Dengan penuh emosi dan amarah yang sudah di ubun-ubun, ku robek undangan itu dihadapan mereka dan menghamburkannya ke udara, membuat keduanya marah dan langsung angkat kaki dari rumahku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
©️cary`s
pingin tak santet cah 2 iki 🤣
2023-07-22
1
🦋Elsawhy🦋
waaa pengantenya sinting itu
2023-07-22
0
Ayya Alfahrizy
si rizal kena pelet kah, udah pacaran lama tapivko mau sama ulet bulu
2023-07-20
0