"Aku tidak mau berobat ke rumah sakit, lagian lukaku juga tidak parah, aku mau pulang saja," ucapku lirih
"Ya sudah, nanti kau akan ku bawa ke pamanku saja, kebetulan dia seorang tabib, jadi aku yakin ia bisa menyembuhkan luka kamu," jawab Barra membuatku mengangguk setuju
Ia langsung menyalakan mesin motornya dan meluncur menuju ke tempat tinggalnya di kawasan Jakarta Timur.
Setiap kali bersamanya kenapa Barra selalu saja memilih jalur alternatif yang sepi bukan melewati jalur arteri yang ramai namun jalannya bagus tidak bergelombang apalagi berbatu.
Aish, kenapa leherku baru terasa nyeri sekarang, padahal tadi di puskesmas tidak apa-apa, mungkin ini yang namanya infeksi, rasanya nyeri, panas dan gatal.
"Kami kenapa Ros?" tanya Barra khawatir
"Leherku sakit sekali Mas, rasanya nyeri panas dan gatal," jawabku sambil menggaruk leherku
"Jangan digaruk Ros, elus-elus saja, bahaya nanti tambah infeksi!" sahut Barra membuatku segera berhenti menggaruk leherku
Kali ini aku cuma menepuk-nepuk leherku sambil sesekali mencubitnya untuk mengurangi rasa gatal yang semakin menderaku.
"Masih jauh Mas?" tanyaku tidak sabar
"Satu kilo lagi, sabar ya," ucapnya menenangkan aku
"Kalau masih jauh kita kerumah sakit aja yuk, aku sudah tidak kuat lagi," ucapku merajuk
Barra langsung tancap gas menambah kecepatan motornya agar bisa cepat sampai ke rumah pamannya.
Ia kemudian menghentikan motornya didepan rumah sederhana yang ditumbuhi banyak bunga melati di halaman rumahnya.
Barra memapahku dan mendudukkan aku di Sofa ruang tamu.
"Tolong dia aki, dia dicekik oleh Sukma Melati!" ujar Barra
Seorang lelaki paruh baya menatapku intens, aku tidak tahu apa maksud tatapannya yang sepertinya bertanya sesuatu padaku.
"Kenapa Sukma bisa mencekiknya?" tanya Aki Jarot
"Sukma cemburu padanya, ia mengira kalau Ros yang membuat aku berpaling darinya, padahal aku sama sekali tidak mencintai Sukma makanya aku lari dari perjodohan kami dan bertemu dengan Ros yang sangat lemah dan butuh perlindungan dariku," jawab Barra membuatku terperangah
"Rasanya susah untuk menyembuhkan Ros, karena hanya Sukma sendiri yang bisa menyembuhkan luka gadis itu, aku cuma bisa menghilangkan rasa sakit dan juga gatalnya saja, tapi aku tidak bisa menjamin lukanya bisa sembuh, karena sepertinya Sukma memakai racun yang bisa membuat leher gadis itu membusuk," jawab Ki Jarot membuatku merinding disko.
"Ya Allah apa kuku si Sukma mengandung Sianida, sampai leherku bisa busuk karena terkamannya, aduh bagaimana nasibku jika leherku sampai busuk, pasti tidak ada yang mau melamar aku, jadi perawan tua dong!" keluhku dalam hati
"Tenang saja Ros, aku akan tanggung jawab sampai kamu sembuh seperti semula, lagian kamu terluka itu karena aku, jadi tenang saja aku tidak akan lari," jawab Barra penuh keyakinan
Entah kenapa Mas Barra ini seperti dukun yang selalu tahu isi hatiku dan selalu bisa menenangkan aku saat sedang kalut ataupun galau. Benar-benar lelaki yang membuatku terpesona, dan hampir jatuh hati karena perhatiannya padaku begitu tulus. Rasanya aku selalu dibuat klepek-klepek olehnya, karena ia selalu ada saat aku butuhkan dan selalu menjadi pahlawan untukku saat aku kesusahan.
Aku juga tidak tahu kenapa secepat ini jatuh cinta pada orang yang baru beberapa hari aku kenal, padahal biasanya aku sulit sekali jatuh cinta, makanya seumur hidup aku cuma punya satu orang pacar, dan aku berharap akan menua bersamanya, walaupun takdir berkata lain karena kami akhirnya berpisah karena penghianatan yang dilakukan oleh Rizal dengan Hesti sahabatku.
"Jangan melamun Ros, minumlah?" ujar Barra memberikan segelas air putih untukku
**Glek, glek, glek!!
Dengan tiga kali teguk air putih itu berhasil aku habiskan, mungkin karena leherku terasa panas membuatku kehausan.
"Bagaimana lehermu sekarang, apa masih gatal?" tanya Barra
Ajaib memang, setelah meminum air putih dari Mas Barra tiba-tiba rasa gatal, panas dan nyeri di leherku langsung lenyap seketika, benar-benar mujarab.
"Sudah hilang Mas, leherku sudah enakan nih," jawabku tersenyum senang
"Syukurlah, sekarang kita kembali ke kosan ya sebelum malam," tutur Barra yang kemudian berpamitan pada Aki Jarot
"Aku tahu kalian pasti akan kemari, sekarang pulanglah Barra, sudah saatnya kamu kembali ke rumah kamu, tempat asalmu, bukan bersama mereka yang penuh dosa!" ucap seorang berbadan besar penuh kharisma
"Maaf Romo aku tidak bisa meninggalkan Ros yang sedang terluka sendirian, karena aku yang membuatnya terluka maka aku harus bertanggung jawab padanya, aku harus mengobatinya sampai sembuh!" tolak Barra
"Bawa saja dia bersamamu kalau itu membuatmu mau pulang ke rumah," sahut lelaki itu
Barra menatap lekat kearahku, seakan ingin mengatakan sesuatu.
"Pulanglah Mas, aku bisa pulang sendiri kok," jawabku sedih karena harus berpisah dengan Barra
"Apa kau mau ikut bersamaku?" tanyanya membuatku bersorak gembira dalam hati, karena tentu saja aku tidak akan menolaknya. Karena bagiku bisa dekat dengan Barra adalah suatu kebahagiaan yang selama ini aku rindukan.
"Iya aku mau," jawabku mantap
Barra langsung tersenyum senang tapi tidak dengan Aki Jarot, ia sepertinya tidak rela jika aku pergi bersama Barra.
"Apa benar kau akan ikut bersamanya?" tanyanya membuatku sedikit ragu, kenapa lelaki tua itu melarangku
"Aku yakin aki, karena aku juga ikut Mas Barra untuk berobat, bukan untuk tujuan lain-lain," jawabku penuh percaya diri
"Baiklah kalau itu keputusan kamu, aku tidak bisa melarangnya, kecuali kau mau pulang sendiri aku pasti akan membantumu pulang," jawabnya dengan senyum aneh membuatku semakin penasaran apa yang lelaki tua ini pikirkan.
Aku segera berjalan bersama Barra menuju ke rumahnya.
"Kok motornya ditinggal Mas, emangnya rumah kamu dekat dari sini?" tanyaku di tengah-tengah perjalanan
"Rumahku tidak masuk motor, jadi sengaja aku titipkan motorku di rumah Aki," jawabnya menggandeng lenganku
Aku pikir beneran rumah Barra dekat dari rumah Si Aki, ternyata jauh guys, bahkan aku tercengang ketika harus melewati jalan setapak yang dipenuhi ilalang dan tanaman liar hingga terkesan angker. Aku memegangi leherku yang mulai bergidik ngeri ketika melewati hutan kota yang terlihat angker karena sangat gelap, dan suara binatang malam dan serangga hutan yang saling bersahutan membuat suasana semakin mencekam.
Beruntungnya Mas Barra menggenggam jemariku erat hingga mengurangi sedikit ketakutan yang aku rasakan.
Setelah melewati jalan setapak dan hutan kota, sekarang kamu masih harus melewati jembatan kecil yang dibawahnya mengalir kali kecil yang lumayan deras.
Ternyata bukan hanya dikampung ku saja yang terpencil, ternyata di Jakarta juga ada tempat terpencil bahkan mungkin jauh lebih terpencil dari desaku, setelah melakukan perjalanan cukup jauh kurang lebih satu jam akhirnya kami tiba disebuah perkampungan yang cukup luas, berbanding terbalik dengan jalanan berliku dan menyeramkan untuk mencapai tempat ini, rumah-rumah disini terlihat sangat mewah dan modern melebihi kawasan elite Pondok Indah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Hilya Nur
ceritanya persis seperti novel sebelah yang judulnya kos paling ujung
2025-03-02
0
🦋Elsawhy🦋
ih serem
2023-07-22
0
Aqiyu
kampung demit
2022-10-04
0