Rasanya aku sangat puas melihat dua manusia laknat itu pergi dari rumahku dengan kesal.
*Dreet, dreet, dreet!!
"Halo Sel, ada apa?"
"Kamu udah lulus kuliah kan Ros?"
"Sudah, memangnya kenapa?"
"Disekolah ku sedang mebutuhkan guru IPA, kamu mau gak ngajar disini?" tanya Sela
"Ok, aku mau, tapi besok aku baru bisa berangkat ke Jakarta, bagaimana?" jawabku
"Iya gak papa, kan senin baru ngajarnya," jawab Sela membuatku senang, setidaknya aku bakal punya kegiatan yang akan membuatku melupakan ka Rizal
Sedikit bebanku mulai berkurang, setidaknya besok aku akan punya kesibukan dan bisa melupakan kesedihanku.
Minggu paginya aku sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Jakarta, sebelum Sunny datang ke rumahku.
Sunny cowok terkeren di kampus, tapi sayangnya playboy makanya walaupun rumahku berdampingan tapi kami tidak begitu dekat.
"Kamu gak kondangan dulu ke mantan kamu itu Ros?" tanya Sunny sedikit menggodaku
"Males ah, takut hilaf aku," jawabku acuh
"Hilaf kenapa?" tanyanya penasaran
"Hilaf pengin nyekik mempelainya," jawabku langsung disambut kekehan Sunny
"Kayaknya kamu masih belum bisa move on dari si Rizal ya?" tanya Sunny hati-hati
"Bukan belum bisa move on Sunny tapi masih shock aja, soalnya kan harusnya hari ini dia melamar aku, eeh malah nikah sama orang lain," jawabku menahan air mata yang sudah hampir jatuh
"Kamu mau balas dendam ga?" tanya Sunny
"Balas dendam gimana, kemarin aku labrak dia kerumahnya malah dia bilang aku gila, gak tahu deh kalau aku datang ke nikahannya, dia mau bilang apa lagi?" jawabku kesal
"Kamu datang kesana sama aku, dan pura-pura jadi pacar aku gimana, secara aku juga lagi jomblo, tengsinlah kalau cowok sekeren gue datang ke pesta pernikahan sendirian, apa kata dunia?" ucapnya sombong
Gila nih playboy, bisa-bisanya nawarin ide konyol seperti itu padaku, dasar gila. Tapi ada benarnya juga secara dia itukan cowok famous di kampus dan banyak yang tergila-gila sama dia, akhirnya akupun setuju datang ke nikahan Rizal bersama Sunny sebelum aku pergi ke Jakarta. Sekalian aku mau nunjukin ke mereka bahwa aku tetap bisa survive tanpa dia, dan sudah bisa move on walaupun bohong.
"Yaudah tunggu bentar, gue ganti baju dulu," aku segera berbalik ke arah kamarku namun Sunny dengan sigap menarik lenganku dan memberikan sebuah paper bag padaku.
"Pakai baju itu!" perintahnya memaksa
Aku mengangguk dan segera masuk kedalam kamarku. Selesai berdandan aku segera keluar untuk menunggu Sunny yang juga sedang berdandan di rumahnya.
"Anj*r !, lo cantik banget Ros, gak sia-sia gue berikan baju itu buat lo, kenapa gue baru sadar ada bidadari cantik disamping rumah gue," Sunny menatapku takjub dan memujiku habis-habisan, tapi bukan Rosmayanti namanya kalau cepat tergoda oleh rayuan gombalnya.
Kata orang gue itu susah ditaklukkan makanya cowok-cowok yang deketin gue pada mundur, kecuali Rizal yang dengan gigihnya memperjuangkan cintanya, hingga akhirnya membuat aku jatuh cinta. Itulah yang membuat aku cinta mati sama dia hingga aku jadi galon (gagal move on) kalau ingat dia.
"Udah gombalnya?" jawabku ketus
"Iisshh!!, jangan galak-galak gitu dong Ros, nanti luntur loh cantiknya," ledek Sunny
"Bodo amat!!" hardikku melangkahkan kakiku keluar ruamah, ia menyusulku dengan motor sport miliknya.
"Kita kondangan pakai motor ini?" aku sedikit melotot kesal melihat motor Sunny, bagaimana mungkin aku yang memakai kebaya harus duduk ngangkang diatas motor ini.
" Dasar stress, susah aku duduknya kalau pakai motor gini, udah!, mending bawa motor aku aja deh," usulku padanya
"Gak mau, pokoknya naik motor ini, kamu kan bisa angkat rok kamu, anggap aja sedekah," ucapnya sambil tertawa
"Ogah!!" sahutku berjalan meninggalkan pria
"Baik sayang, kita pakai motor kamu," jawabnya mesra
Aku langsung duduk dibelakangnya dan iapun melesatkan motornya.
Setibanya di tempat resepsi, Sunny menggandeng mesra lenganku membuat semua mata tertuju pada kami. Begitu juga dengan Rizal yang terus menatapku tanpa berkedip. Aku tahu ia sedikit cemburu melihatku terlihat mesra bersama Sunny. Dia benar-benar seperti artis sinetron, sangat pandai berakting didepan Rizal ia bahkan sengaja membisikan sesuatu padaku sangat dekat hingga mungkin orang melihatnya ia sedang menciumku, membuat Rizal mengepalkan tangannya. Rasanya ada kepuasan tersendiri melihat Rizal cemburu, apalagi ketika Hesti mencubit pinggang Rizal, karena matanya terus mengikuti ku kemanapun aku pergi.
Rasanya ingin tertawa sambil menjulurkan lidahku pada mereka, sebagai bukti aku bisa mempecundangi kedua manusia laknat itu.
Belum lagi tingkah manja Sunny yang menyuapiku saat acara sedang menikmati hidangan yang disediakan semakin membuat Rizal makin geram, yes aku menang!, sorakku dalam hati.
Rizal seakan tahu isi hatiku, ia bahkan tidak pernah melepaskan genggaman tangannya sampai kami memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
"Selamat ya, semoga menjadi keluarga yang Samara," ucapku ketika menjabat tangan Rizal
Aku lihat seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan padaku, tapi aku sudah tahan karena air mataku tiba-tiba saja akan turun membasahi pipiku, dan aku tidak mau Rizal melihatku bersedih. Aku segera mengayuhkan langkahku meninggal pelaminan menuju ke parkiran, sedangkan Sunny segera berlari menyusulku.
"Kok buru-buru banget sih?" tanya Sunny sedikit kecewa
"Maaf ya Sun, gara-gara aku kamu tidak bisa menikmati pestanya, aku sudah di tunggu Sela, makanya harus buru-buru berangkat ke Jakarta," jawabku sengaja mengarang cerita agar Sunny percaya.
"Iya, aku ngerti kok, udah naik," jawabnya singkat
Tumben dia tidak protes ataupun kesal padaku, mungkin dia tahu yang aku rasakan sehingga dia tidak banyak bicara.
Sepanjang jalan air mataku mulai membasahi wajahku, rasanya lebih sakit ketika melihat kedua penghianat itu tertawa bahagia di pelaminan, tanpa memikirkan bagaimana perasaan aku. Begini rasanya patah hati, benar-benar ambyar seperti lagunya almarhum Didi Kempot.
Aku terus menyeka air mataku yang terus-menerus turun tanpa henti, sedangkan Sunny memandangku dari kaca spion.
"Kenapa tadi kamu gak cekik mereka?" tiba-tiba Sunny bersuara seakan-akan tahu apa yang aku pikirkan
"Gak ah, takut dipenjara, nanti aku gak bisa ngerasain nikmatnya kawin," jawabku membuat Sunny terkekeh
"Dasar cabul, udah patah hati juga bisa-bisanya mikirin kawin, pasti kamu dau kebelet pengin kawin ya?" tanyanya membuat aku malu
"Sotoy!!" nyinyirku membuatnya kembali tertawa
"Yuadah sekarang, mana barang-barang kamu, biar aku antar ke terminal?" tumben nih anak kesambet setan apa kok bisa baik banget hari ini.
Aku segera mengeluarkan tas ranselku dan sebuah kardus yang berisi sedikit oleh-oleh buat Sela. Yups ciri khas orang kampung yang pergi ke kota selalu membawa kardus, dan aku juga sama guys.
Setelah berpamitan dengan ayah dan ibu aku langsung duduk di belakang Sunny dan bersiap pergi.
"Hati-hati nduk, jangan lupa sholat dan ngaji. Ingat kamu hidup di kampung orang jadi harus ramah dan berbaur dengan orang lain, agar mudah mendapatkan teman," pesan Ibuku
"Inggih bu, Ros pamit ngih, assalamualaikum," ucapku berpamitan
"Waalaikum salam," jawab ibu seraya melambaikan tangannya kearahku
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
🦋Elsawhy🦋
makin aseeek
2023-07-22
0
Fans-nya Okita Souji🌺
gamon aja deh daripada galon 😂
2022-10-06
0
Aqiyu
kayanya Rizal nikah sama Hesti karena MBA mereka selingkuh dibelakang Ros
2022-10-04
0