Setelah berganti pakaian aku segera menuju ke halaman depan untuk mengajak Mas Bara masuk.
Tapi sayangnya Mas Barra tidak terlihat disana, motornya juga tidak ada, membuatku sedikit kecewa.
"Kamu kemana Barra?" ucapku dalam hati
"Kenapa mencariku," jawab Barra yang tiba-tiba muncul di depanku membuat jantungku seakan mau copot.
"Kamu ngagetin saja Mas," ucapku sembari mengatur nafas
"Ada apa kau mencariku?" tanyanya lagi
"Kamu darimana sih, kok tiba-tiba saja langsung nongol didepanku kaya hantu saja," jawabku masih shock
"Kan aku sudah bilang, kalau aku akan datang jika kau memanggilku kapanpun," ujarnya membuatku sedikit berpikir apa Barra ini manusia, atau makhluk jadi-jadian.
"Serius?" tanyaku meyakinkan
"Tentu,"
"Kapan saja dimana saja?" ujarku lagi
"Iya,"
"Gila kamu Mas, memangnya kamu ini demit apa, bisa tahu aku dimana aja!" cibirku membuatnya terkekeh
"Emangnya kalau aku demit kenapa?, kamu takut?" tanyanya membuat bulu kudukku berdiri
"Jangan bercanda, aku serius," tandasku kesal
"Iya maaf, yaudah jawab pertanyaan aku tadi," tuturnya lembut mbuatku menyesali sikap ketusku tadi
"Aku mau memperkenalkan kamu pada tetangga kos kita, soalnya mereka bilang aku ini halu, karena mereka menganggap kamu itu tidak ada," jawabku sambil menggandeng lengannya
"Tentu saja, mereka gak bakal kenal sama aku, kan aku juga baru disana, orang yang kenal aku ya cuma kamu sama teman sekamarku,"
"Roy maksudnya?" sergahku
"Hmmm,"
Entah kenapa setiap aku berjalan bersama dengan Barra, suasana kos jadi sepi, pintu-pintu kamar tertutup rapat seperti tidak berpenghuni. Ku coba mengetuk pintu kamar si ibu yang tadi terlihat sangat bawel, anehnya beberapa kali ku ketuk kamar terasa sepi seperti tidak berpenghuni, padahal dari tadi aku diluar tidak ada seorangpun yang keluar dari kosan. Sungguh benar-benar aneh.
"Mungkin mereka sedang tidur atau istirahat, jadi tidak usah diganggu," kata Barra membuat aku menghentikan aktivitasku mengetuk setiap pintu kosan.
"Ada apa ini!, kenapa berisik sekal!, apa yang kau lakukan Ros!" hardik bu Broto mengagetkan aku
"Eeh maaf bu, bukan maksudku membuat gaduh, tapi saya cuma mau memperkenalkan teman saya pada ibu-ibu disini supaya mereka tidak mengira saya halu bu," jawabku gemetaran, apalagi melihat tatapan mata bu Broto yang melotot kearahku
"Apa yang kalian tertawakan!!, diam!!" teriak bu Broto membuatku menunduk takut
Siapa yang menertawakan dia, bukannya dari tadi aku diam, Mas Barra juga sama, terus siapa yang menertawakan dia,
"Mana teman kamu?" tanya bu Broto sedikit menurunkan nada bicaranya, aku segera menunjuk kearah Mas Barra
"Ini Mas Barra, dia juga sama baru pindah ke sini," jawabku pelan
Kini bola mata besar bu Broto menatap lekat kearah Mas Barra, begitu juga lelaki itu yang balik menatap tajam wanita tua itu. Keduanya seperti dua orang yang sedang beradu tenaga dalam, karena saling diam tetapi mereka berkomunikasi melalui tatapan matanya masing-masing.
"Masuklah ke kamar kamu Ros, karena ada yang harus aku selesaikan dengan teman kamu ini," seru bu Broto penuh penekanan
Aku segera masuk menuju kamarku, sedangkan bu Broto ku lihat berjalan mendekati Mas Barra. Karena aku penasaran apa yang akan dilakukan oleh bu Broto pada Mas Barra, aku sedikit mengintip apa yang mereka lakukan melalui tirai jendelaku.
Baru sejenak aku membuka sedikit tirai jendelaku tiba-tiba kulihat mata Bu Broto melirik kearahku, membuatku reflek langsung menutup kembali tirai jendela kamarku.
Astaghfirullah, baru kali ini aku lihat lirikan mata bu Broto yang begitu menyeramkan membuat aku tidak berani mengintip lagi.
Satu jam aku tiduran diatas kasurku karena tidak berani keluar, membuatku terlelap.
**Krek....krek...krek!!
**Wuuushh!!!
Tiba-tiba angin kencang berhembus masuk ke kamarku membuat jendela kamarku terbuka dan saling bertabrakan menimbulkan suara brisik yang akhirnya membangunkan aku dari tidurku.
Aku segera bangun dan berjalan untuk menutup jendela kamarku.
**Wuushhh!!
Sebuah angin kencang kembali masuk kini menerpa wajahku membuat rambutku berterbangan seperti terkena blower.
**Blepp!!
Setelah angin kencang kini giliran lampu kamarku yang tiba-tiba mati, aku segera keluar untuk melihat skring listrik di depan kamarku. Aku takut listrik turun atau cuma sekedar memastikan listrik mati, agar aku bisa membeli lilin untuk penerangan kamar mumpung belum malam. Sekarang pukul setengah enam petang atau kalau orang Jawa bilang Sandekala (menjelang waktu Maghrib) yang mana saat pergantian siang hari berganti malam ini, merupakan waktunya bagi para lelembut dan mahluk astral keluar dari sarangnya. Makanya kebanyakan orang tua melarang anak mereka keluar atau kelayapan pada waktu Sandekala ini karena takut digondol wewe gombel ataupun Sandekala sendiri yang digambarkan sebagai mahluk gaib yang suka menculik anak-anak.
Ternyata tidak mati lampu ataupun listrik turun, mungkin lampu kamarku mati karena sudah saatnya lampu ini minta di lembiru (lempar beli yang baru).
Hadeeh, males banget kalau Sandekala gini harus keluar rumah untuk beli lampu,
Aku segera merogok saku tas kerjaku dan mengambil selembar uang lima puluh ribuan untuk membeli lampu sekalian makan malam.
**Blep...blep...bleep! prang!!
Ketika kulangkahkan kakiku menuju pintu kamar tiba-tiba lampu kembali nyala, terus padam lagi, nyala lagi, padam lagi dan seterusnya hingga lampunya pecah. Membuatku berteriak ketakutan!!!
"Aaaaa!!!"
"Dasar j*lang!, beraninya kau membuat calon suamiku berpaling dariku!," kudengar suara wanita yang tidak terlihat wujudnya
Aku beringsut mundur hendak lari keluar dari kamarku untuk melarikan diri, tapi kakiku mendadak kaku dan tidak bisa bergerak. Sesosok wanita yang kutemui siang tadi di jalan kini melabrakku, wajahnya terlihat menakutkan sekarang, wajah pucat dengan sorot mata elang yang seperti hendak menelanku hidup-hidup, membuatku semakin ketakutan. Apalagi kini ia berjalan kearahku dengan kukunya yang tajam hendak mencekikku.
"Lepaskan aku!, aku tidak bermaksud merebut Mas Barra dari kamu," ucapku dengan terbata-bata, Karena aku sudah mengalami kesulitan bernafas.
Dalam keadaan setengah sadar aku coba untuk memanggil Mas Barra, berharap dia datang menolongku.
"Ba..rraa!!" ucapku dalam hati
**Braakkk!!!
Sayup-sayup ku dengar suara pintu kamarku ditendang oleh seseorang hingga rusak, aku mencoba memicingkan mataku dan melihat siapa yang datang. Lelaki itu benar-benar datang ia bak seorang pahlawan yang datang menyelamatkan aku dari monster berbaju hitam ini.
Kulihat ia menarik wanita itu dan kemudian menghempaskannya hingga menghilang dari balik dinding kamarku. Ia segera memapahku dan menidurkan aku di kasur.
"Minumlah," ucapnya sambil membantuku untuk minum
Aku lihat ia membersihkan darah di leherku akibat cengkraman kuku tajam si gadis berjilbab hitam.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang," ucapnya sembari memapahku keluar kamar
Ia kemudian menurunkan aku di halaman dan berlari mengambil sepeda motornya.
Setelah memastikan aku duduk dengan benar ia langsung membawaku ke puskesmas terdekat.
Setibanya disana seorang perawat langsung memeriksaku dan membersihkan lukaku.
"Lukanya sangat parah, aku takut akan terjadi infeksi, tapi karena peralatan medis disini terbatas saya menyarankan agar bapak merujuk istrinya ke rumah sakit saja, agar bisa ditangani secara serius disana," ucap perawat itu
"Baik sus," jawab Barra yang kemudian mendekatiku dan memapahku menuju ke motornya.
"Aku tidak mau berobat ke rumah sakit, lagian lukaku juga tidak parah, aku mau pulang saja," ucapku lirih
"Ya sudah, nanti kau akan ku bawa ke pamanku saja, kebetulan dia seorang tabib, jadi aku yakin ia bisa menyembuhkan luka kamu," jawab Barra membuatku mengangguk setuju
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
🦋Elsawhy🦋
mbak kunti 2023..ikut trend donk.lg marak pake hijab 🤣🤣
2023-07-22
1
🍍manis
gilaaa seru banget ceritanya...semangat terus Thor! !
2022-10-31
0
Aqiyu
kalau ada Barra penghuni kosh lain ga kelihatan kecuali bu Broto
2022-10-04
0