Aku tidak henti-hentinya berdecak kagum melihat rumah-rumah disana yang sangat indah dan mewah. Dan dari semuanya rumah Barralah yang termegah dan termewah. Sepertinya Mas Barra anak orang berada itu bisa terlihat dari para penduduk daerah itu yang sangat hormat padanya.
Kedatangan kami disambut bak menyambut Pangeran dan Permaisurinya, semua warga menunduk memberi hormat kepada kami.
Aneh rasanya ketika melihat semua warga yang menatapku dengan tatapan penuh iba dan belas kasihan. Mereka juga berbisik-bisik seperti membicarakan aku, membuatku sedikit canggung dan malu. Warga kampung ini tidak jauh beda dengan warga di kampungku dari dandanan dan cara berpakaiannya pun sama hanya saja mereka lebih tertutup dalam berpakaian.
Ayah Barra ternyata seorang lurah atau kepala suku disini, sehingga ia sangat dihormati di kampung ini. Tiba dirumah Barra rasanya seperti memasuki rumah Sultan, sangat besar dan mewah. Sepanjang perjalanan masuk ke rumahnya mataku selalu terfokus pada isi rumah Barra yang mayoritas adalah barang antik, seperti museum saja.
"Ini kamar kamu istirahatlah," ucap Barra mengantarku ke depan kamar tamu
Aku segera masuk dan duduk di bibir ranjang, kasurnya sangat empuk dan wangi, kamar ini sangat besar walaupun dihuni oleh satu orang. Kucoba buka tirai kamar dan melihat pemandangan di samping kamar. Tampak terlihat taman bunga yang sangat indah membuatku ingin pergi kesana. Kucari ponselku disaku rokku tapi tidak ada, kubuka tas kecil yang ku bawa disana juga tidak ada.
Padahal aku pengin banget selfi disini dan ku pamerkan di status WhatsApp, Facebook dan Instagram aku. Tapi sayangnya ponselku ketinggalan.
Karena tubuhku terasa lengket dan gerah setelah melakukan perjalanan jauh menuju ke kampung ini aku berinisiatif untuk mandi membersihkan tubuhku agar kembali bersih dan segar
Selesai mandi kulirik jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan, ternyata cepat juga waktu berlalu. Kucoba memejamkan mataku agar bisa menghilangkan rasa pegal dikakiku karena seharian berjalan menyusuri jalan setapak dan perbukitan yang lumayan jauh.
**Krieet!!
Ku dengar suara pintu kamarku terbuka pelan. Seseorang masuk kedalam kamar dan duduk disamping ku.
Saat aku meliriknya, sebuah senyum manis terpancar di wajah tampannya.
"Kamu belum tidur?" tanya Barra ramah
"Belum Mas, aku susah tidur," jawabku mencoba bangun dan duduk disebelahnya
"Gimana leher kamu, apa masih sakit?" ia mengusap lembut rambutku membuat dadaku berdesir kencang, jantungku berdetak kencang saat menerima perhatian spesial dari Mas Barra. Tatapannya yang lembut mampu selalu bermimpi untuk menjadi seseorang yang mengisi relung hatinya.
"Udah gak sakit sih cuma tadi aku lihat sepertinya leherku mulai menghitam," jawabku
"Iya, itu adalah efek dari racun yang dipakai oleh Sukma saat mencekik mu, besok kita akan mencoba berobat ke Mbah Suryo, aku dengar ia seorang tabib yang sakti, semoga dia bisa menyembuhkan luka kamu," tutur Barra sembari mengusap lembut rambutku
"Aamiin, semoga ya Mas, agar aku juga bisa cepat pulang," jawabku yang kini tiba-tiba kangen ingin pulang ke Tegal dan wajah ibu dan bapak tiba-tiba saja melintas dalam benakku.
Mereka memanggilku seperti sangat merindukan aku.
"Apa kamu akan pergi dan meninggalkan aku jika kamu sudah sembuh?" pertanyaan Barra berhasil membuat aku bimbang, bagaimana tidak, disisi lain aku kangen ibu dan ingin pulang tapi aku juga tidak mau berpisah dengan Barra.
"Tentu saja aku harus pulang, lagian kan aku baru saja mendapat pekerjaan jadi tidak mungkin aku bolos kerja terus, bisa-bisa aku dipecat," jawabku sedikit memakai logika
"Kamu ngajar disini saja, lagian disini juga banyak sekolahan, jangan tinggalin aku,"
Deg, seketika aku baru merasa apa yang Barra ucapkan itu serius, apa benar dia juga takut berpisah denganku.
"Tapi bukannya Mas bilang, kalau Mas itu lari dari rumah untuk menghindari perjodohan, terus Mas gak mau balik lagi dong ke kosan, apa Mas sudah menerima perjodohan dengan calon istri Mas?" tanyaku hati-hati
"Kalau aku sudah kembali kesini apalagi Romo yang menjemputku sepertinya susah kembali lagi ke kosan, karena rumahku disini, makanya aku minta kamu tinggalah disini bersamaku," pintanya lirih dengan mata berkaca-kaca membuat aku tidak tega untuk meninggalkannya
Ku usap lembut air matanya yang mulai jatuh membasahi pipinya.
"Tolong jangan tinggalin aku, tinggalah disini bersamaku dan jadilah istriku?"
Rasanya bagaikan ketiban durian, hatiku rasanya sangat senang saat mendengar ucapan atau lebih tepat permintaan Mas Barra itu.
Aku hanya tersenyum belum bisa menjawab karena untuk menikah tentunya harus ada persetujuan dari Ibu dan Bapak, sedangkan mereka saat ini masih di Tegal.
Seperti tahu kalau aku sedang ragu dan bimbang menjawab pertanyaan darinya, ia mengusap lembut wajahku dan mendaratkan ciuman hangat yang membuatku terperanjat.
Walaupun ini bukan yang pertama untuk aku, tapi ciuman ini sangat berbeda, rasanya sangat nikmat dan mampu menggetarkan seluruh tubuhku yang menginginkan lebih sekedar dari ciuman. Aku tidak bisa menolak dan hanya bisa membalas dan pasrah. Aku menikmati saat lidahnya bergerak lincah dan menyusuri rongga mulutku dan perang lidahpun membuat ciuman kami semakin panas.
Cukup lama kami saling memagut hingga akhirnya Barra melepaskan ciumannya ketika melihatku kesulitan bernapas.
"Napas Ros," perintahnya dengan nafas yang masih memburu
Aku hanya mengangguk sambil mengatur suasana hatiku dan gejolak yang mulai naik, membuatku semakin tidak nyaman. Aku tidak tahu kenapa cuma ciuman saja bisa membuat aku begitu melayang hingga membuat sesuatu yang basah dibawah rokku.
Ia lagi-lagi menatapku, membuatku semakin malu dan salah tingkah. Aku hanya menunduk karena tidak berani menatap wajahnya.
**Braakk!!
Tiba-tiba seseorang membuka paksa pintu kamarku dan mendekati kami. Lelaki tua itu bukan ayah Barra, lalu siapa dia kenapa ia bisa masuk ke rumah ini dan mendobrak kamarku.
Laki-laki itu sangat aneh, ia memakai blankon dan baju serba hitam. Lelaki itu menatapku penuh iba seperti ingin mengajakku pulang, tapi pandangannya berubah sinis dan penuh amarah ketika menatap Barra.
Begitu juga Barra sepertinya ia tidak suka dengan kedatangan pria tua yang lebih mirip dengan seorang dukun itu, matanya melotot dan mukanya tiba-tiba memerah menatap pria itu.
"Aku tidak mengundangmu ke sini, pergi dari sini, aku tidak ada urusan denganmu, pergilah!, atau kau akan menyesal!" ancam Barra padanya
"Maafkan atas kelancangan hamba yang mengganggu kesenangan Pangeran, aku cuma ingin membawa cucuku pulang, kembalikan cucuku, karena dia bukan milikmu," jawab lelaki tua itu penuh hormat
"Kau boleh saja membawanya pulang dengan syarat kau bisa mengobati luka di lehernya." jawab Barra
Lelaki itu kemudian duduk disampingku dan meletakkan tangannya ke leherku. Anehnya tubuh lelaki itu bergetar hebat saat menyentuh leherku.
"Aaarghhh!" ia mengerang seperti kesakitan dan tubuhnya terlempar hingga jatuh ke lantai. Sementara Barra hanya tersenyum sinis kepadanya seperti sedang mengejeknya.
"Pergi dari sini, karena kau bukan lawanku!" ucap Barra membuat pria itu pergi dari kamarku
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
🦋Elsawhy🦋
tuh dukun...mbahnya si ros di dunia nyata kali
2023-07-22
1
penyemangat🥰🥰
ka ros ga ajak upin ipin sih jd tersesat ke dunia jin dah
2022-11-15
0
Aqiyu
Ros kayanya sekarat di koshan dah ampe bu Broto minta bantuan dari dukun
2022-10-04
0