Senja mengacak rambutnya frustasi ketika mengingat beberapa hari yang lalu Bumi tidak benar-benar menceritakan mengenai ruang kerjanya. Walau bukan itu yang Senja inginkan, tetap saja dia ingin mengetahui lebih dalam. Semua itu karena sebuah telepon yang masuk ke ponsel Bumi hingga Senja diusir paksa dari ruangan tersebut.
Senja menghembuskan napasnya kasar. Hari sudah hampir sore, tetapi dia masih malas untuk beranjak dari ruang tengah. Arta yang sejak tadi siang ikut bersama Bumi, nyatanya belum ada tanda-tanda akan pulang.
Pada akhirnya, Senja memutuskan untuk menghubungi Siska, pengasuh Arta. Dia hanya ingin bertanya mengenai keberadaan anak dan suaminya. Tidak mungkin dia menghubungi Bumi karena sampai detik ini, Senja masih belum berdamai.
"Halo, Sis? Lagi dimana? Kok Arta belum pulang?" tanya Senja sesaat setelah panggilan terhubung.
"Lagi di mall, Bu. Pak Bumi mengajak Arta kesini. Kata beliau, tantenya Arta ingin bertemu."
Mendengar penjelasan itu, otak Senja langsung tertuju pada Naura. Seketika, detak jantungnya pun berulah. "Tante siapa, Sis?" tanyanya lagi untuk memastikan.
"Tante Naura, Bu."
Senja mengumpat dalam hati ketika nama itu kembali mengusik hidupnya. Dia menutup panggilan dan meletakkan ponsel di atas meja. Kepalanya langsung terasa pening hingga memilih untuk bersandar pada bahu sofa.
"Bahkan, mau bertemu Naura saja dia tidak meminta izinku. Bisa-bisanya mereka bertemu di luar rumah," gerutu Senja dengan perasaan yang begitu marah dan kesal secara bersamaan.
Helaan napas kasar pun terdengar. "Sudah jelas sekali jika aku memang tidak penting bagi Bumi." Namun, mengingat bagaimana pesan Deandra dulu, Senja sudah tidak bisa mundur lagi. Masa depan Arta ada di tangannya. Senja hanya berharap, semoga saja Naura tidak memberikan pengaruh buruk untuk kehidupan rumah tangganya.
...----------------...
Entah apa yang dibicarakan Bumi dan Naura kemarin sore hingga pagi ini Naura berkunjung ke rumah dengan penampilan yang ... terlalu berlebihan.
"Selamat pagi, Bi. Mas Bumi belum bangun ya?" tanya Naura pada Bi Tijah yang sedang mengepel lantai.
Senja yang sedang berada di dapur, tak sengaja mendengar pertanyaan Naura. Dia langsung mencibir, tetapi tangannya sibuk memasukkan bahan makanan yang telah diracik.
"Tidak tahu. Coba tanya ke Ibu Senja," jawab Bi Tijah yang samar-samar masih bisa Senja dengar.
"Dengan maksud apa kamu datang pagi ini ke rumahku?" Suara Bumi terdengar membuat Senja menghentikan gerakan tangannya yang berniat menyalakan kran.
"Itu Mas Bumi. Coba kita dengarkan apa yang akan dua manusia itu bicarakan," gumam Senja geram.
"Jika diizinkan, aku ingin mengajak Arta untuk pergi ke wahana permainan."
Senja menunggu jawaban apa yang akan Bumi berikan. Posisinya sekarang memang tidak bisa melihat Bumi karena terhalang sekat ruangan. Dia hanya bisa memasang telinga setajam mungkin agar tahu pembahasan sang Suami dengan perempuan gatal itu.
Namun, hingga beberapa menit berlalu, suara itu tak terdengar lagi, membuat Senja berjalan mendekat untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ketika tubuhnya sudah menempel pada dinding, kepalanya melongok untuk melihat situasi.
Siapa sangka, Bumi justru muncul dan berhasil menabrak Senja hingga tubuhnya terdorong serta hampir terjatuh jika tangan Bumi tak menahan pinggangnya.
Mata Senja membulat saat tanpa sengaja bibir Bumi menyentuh salah sisi wajahnya. "Kamu sedang apa?" tanya Bumi dengan kening berkerut dalam.
Senja mengerjap perlahan untuk mengembalikan kesadaran. "Tidak apa-apa," jawabnya lalu segera melepaskan diri.
Tidak ingin motifnya diketahui, dia berlalu meninggalkan Bumi menuju wastafel. Dia kembali pada tujuan awal untuk mencuci tangan. Namun siapa sangka, Senja justru merasakan pelukan dari belakang disusul sebuah dagu yang bertumpu di bahunya.
"Mas! Kamu—" Senja ingin melayangkan protes, tetapi urung saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Ekor matanya melihat kedatangan Naura yang sedang berdiri di ambang pintu dapur.
"Hari ini masak apa, Sayang? Aku sudah lapar," tanya Bumi begitu lembut sampai Senja hampir terlena jika kepalanya tidak mengingatkan bila saat ini Bumi mungkin sedang berpura-pura.
"Aku masak sop ayam sama udang, Mas. Sebentar lagi matang kok. Kamu tumben bangunnya pagi? Jadi, masakannya belum matang deh," jawab Senja mengikuti permainan yang Bumi buat.
Beruntung, ekor mata Senja melihat Naura yang meninggalkan dapur. Dia segera melepaskan diri dan menatap Bumi tajam. "Aku masih marah ke kamu ya. Jadi, jangan dekat-dekat," peringat Senja dengan mata melotot.
Ketika kakinya hendak melangkah, lengannya tiba-tiba ditahan oleh Bumi. Tampak sekali raut wajah Bumi yang memelas menatap Senja. "Nja? Tolong jangan marah lagi. Aku minta maaf jika sudah kasar beberapa hari yang lalu. Aku menyesal," mohon Bumi yang membuat Senja hampir saja luluh jika tidak mengingat kemarin sore Bumi baru saja makan bersama Naura.
Senja membuang muka. "Untuk apa kamu memohon seperti ini? Lagi pula, aku bukan siapa-siapa di hidup kamu kan?"
"Kata siapa? Mungkin di awal pernikahan, aku belum bisa membuka hati. Namun saat ini, aku mulai mencoba menjalani bersama kamu." Bumi berusaha menjelaskan perasaanya saat ini, yang sayangnya masih tidak membuat Senja luluh.
Helaan napas kasar pun terdengar. Senja mendongak untuk bisa bertemu tatap dengan manik coklat yang selalu bisa menenggelamkannya. "Kalau mau mencoba menjalani bersama, harusnya kamu bersikap terbuka. Bukan malah menyimpan banyak rahasia. Kemarin saja, kamu diam dan tidak memberitahuku jika baru bertemu dengan Naura. Apalagi sampai makan bersama." Keluar sudah seluruh unek-unek yang sejak kemarin memenuhi kepala Senja.
Mulut Bumi terbuka, tertutup, kemudian terbuka lagi. Sedetik kemudian, Bumi terkekeh renyah. "Apa kamu cemburu? Itu tandanya, kamu mencintaiku kan?"
Senja justru jengah mendengar pertanyaan semacam itu. Mana mungkin mulutnya ini mau mengucapkan cinta pada laki-laki yang belum jelas perasaannya terhadap dirinya. Walau hatinya sudah berteriak ingin mengatakan jika Senja sangat sangat mencintai Bumi.
Dia hanya takut cintanya akan bertepuk sebelah tangan. "Kamu pikir saja sendiri." Setelah berucap demikian, Bumi membiarkan Senja untuk mencuci tangan dan menyelesaikan pekerjaannya.
Senja berpikir jika saat ini Bumi sudah meninggalkan dapur. Nyatanya, laki-laki itu kini masih berdiri di ambang pintu sambil mengamati dirinya. Jangan lupakan kedua lengannya yang terlipat di depan dada dengan setengah bahu yang bersandar pada bingkai pintu.
"Kamu cemburu," celetuk Bumi dengan senyum manisnya.
"Apaan sih! Sok asik banget," kesal Senja memutar bola matanya jengah.
"Tuh kan, benar. Kamu memang cemburu. Berarti benar apa yang dikatakan Deandra dulu. Perempuan itu bisa menyembunyikan rasa cinta walau seribu tahun lamanya. Namun, perempuan tidak bisa menyembunyikan perasaan cemburu walau hanya sedetik saja," ucap Bumi yang membuat Senja menggeleng pelan.
Dia mengabaikan omong kosong Bumi dan kembali fokus pada pekerjaan. Namun nahasnya, saat dia ingin menambahkan garam, bumbu itu habis hingga membuat Senja harus mengambil baru, yang letaknya berada di lemari yang tidak jauh dari Bumi.
Karena butuh, Senja pun mengambilnya. Namun, baru saja pintu lemari terbuka, Bumi kini menutupnya kembali. Pria itu membalikkan tubuh Senja dan mengurungnya hingga tidak bisa bergerak.
"Nanti sop aku gosong. Lepas," pintar Senja gemas sendiri dengan kelakuan Bumi.
"Mana ada sop gosong," elak Bumi yang tangannya sudah terulur untuk menyentuh daun telinga Senja. Damn it! Senja mengumpat ketika matanya justru terpejam perasaan sentuhan lembut itu.
"Kamu mencintaiku," gumam Bumi beberapa kali sebelum akhirnya, menautkan bibir pada bibir sang Istri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Juan Sastra
agak ggak suka karakter senja yg terlalu murah, mudah di bodohi hanya dengan sentuhan rasa,, yahh meski halal karwna status suami setidaknya hargai dan cintai dirimu sendiri..
2025-02-07
0
susi 2020
🥰
2023-09-16
0
susi 2020
😘
2023-09-16
0