Bab 9. Dea!

Ketika pagi hari tiba, Senja malas sekali masak. Dia membiarkan Bi Tijah untuk membuat sarapan pagi itu. "Bi? Minta tolong buat sarapan pagi ini ya. Aku sedang malas," pinta Senja yang langsung disetujui oleh Bi Tijah.

"Mau masak apa, Bu?" tanya beliau lebih dulu, barangkali Senja ada permintaan.

"Apa saja, Bi. Aku pasti makan kok." Setelah berucap demikian, Bi Tijah mengiyakan dan segera berlalu dari sana.

Senja memilih duduk termenung di meja makan dengan bahu yang bersandar. Semalam, Bumi berlalu begitu saja tanpa mau menanggapi ucapannya. Hal itu tentu semakin memperkuat dugaan Senja jika dia memang tidak penting di hidup Bumi.

Helaan napas kasar pun terdengar. Harus dengan cara apa lagi agar Bumi mau bersikap seperti biasanya?

"Bunda!" panggil suara menyentak lamunan Senja. Dia menoleh dan mendapati Arta berjalan tergesa-gesa ke arahnya.

"Hai, Sayang. Sudah bangun sejak tadi? Kok belum mandi?" Tangan Senja terulur untuk mengacak rambut Arta pelan.

"Sustel lagi siapkan ail, Bun," jawab Arta bagai telah terbiasa memanggil Senja dengan sebutan Bunda.

"Mau Bunda yang mandikan?" tawar Senja yang segera mendapat anggukan antusias dari Arta.

"Mau!" serunya penuh semangat.

Sambil menunggu Bibi selesai memasak, Senja memutuskan untuk memandikan Arta. Bocah laki-laki itu tampak riang dan sesekali menyipratkan air ke baju Senja hingga seluruh pakaian Senja basah.

"Sudah dulu, Sayang. Nanti sore kita bisa main lagi," ucap Senja sambil mematikan kran air. Arta juga sudah selesai dan dalam keadaan yang wangi dan bersih.

Senja bergegas mengambil handuk dan membungkus kan pada Arta hingga tubuh mungil itu sudah lebih hangat dan kering. "Arta pakai baju dulu ya, Sayang," ucap Senja sambil sibuk mencari pakaian yang cocok, mengabaikan kaos putih yang pagi itu dikenakan sudah basah hingga memperlihatkan bagian dalamnya.

Baru saja Senja kembali mendekat pada Arta, pintu kamar terbuka menampakan Bumi yang sudah lengkap dengan seragam kerjanya. Senja dan Arta refleks menoleh dan mendapati Bumi justru mematung di ambang pintu.

"Pa? Napa?" tanya Arta nyang baru mengenakan pakaian bagian atasnya.

Senja memalingkan muka dan memilih kembali sibuk memakaikan celana untuk Arta. Dia belum menyadari jika kaosnya yang basah berhasil mencetak lekuk tubuhnya yang indah.

"Pa? Mau bicala dengan Bunda?" tanya Arta lagi seakan menjadi pembaca ekspresi dadakan.

Bocah itu langsung lari keluar dan mendorong sang Papa untuk masuk ke ruangan. "Kamu kenapa sih?" tanya Senja akhirnya jengah sendiri.

Senja bisa melihat jakun Bumi yang tampak naik turun, membuat kening Senja semakin mengernyit dalam. "Bumi!" sentak Senja berusaha menyadarkan pria yang kini berdiri beberapa meter di depannya.

"Itu," tunjuk Bumi pada tubuh Senja.

Refleks Senja menunduk dan melihat bagian tubuhnya. Ketika menyadari sesuatu, Senja melotot dan langsung menyilangkan lengan di depan dada. "Kamu diam terus sejak tadi. Kenapa baru mengatakannya?" cecar Senja dengan geramnya.

Bumi mengusap wajahnya kasar. "Lagipula, kenapa sampai tidak sadar sih? Warna hitam dan kaos warna putih itu begitu rawan," balas Bumi membela diri sendiri.

Senja bertambah melotot sampai-sampai bola matanya seperti ingin keluar. "Pergi dulu! Aku harus berganti pakaian!" kesal Senja karena melihat Bumi masih saja berdiri dengan memandangi tubuhnya.

Setelah disadarkan, Bumi pun menyingkir hingga membuat Senja bisa bernapas lega.

...----------------...

"Sudah lama dia tidak banyak bicara. Buruan lihat yang begituan saja, dia jadi banyak bicara. Dasar otak laki-laki sama saja," gerutu Senja sepanjang berjalan menuju meja makan.

Hingga tiba di tempat, dia bisa melihat Bumi yang menatapnya dari atas sampai bawah. "Kamu mau kemana?" tanya Bumi ketika melihat penampilan Senja tampak lebih rapi dari biasanya.

Senja memang mengenakan Midi Dress pagi itu. Dia tiba-tiba memiliki rencana untuk mendatangi panti asuhan. Sudah sejak lama juga dia tidak kesana. "Aku mau ke panti. Mungkin aku akan menginap untuk beberapa hari," jawab Senja yang sudah mengambil posisi duduk di sebelah Arta.

"Arta mau menambah nasi lagi?" tanyanya yang segera mengalihkan perhatian.

Bocah laki-laki itu segera menggeleng sambil menjawab. "Kenyang, Bun."

"Mau apa ke sana?" tanya Bumi tidak biasanya ikut campur dengan urusan Senja.

"Rindu kesana." Senja menjawabnya singkat. Percakapan pun berakhir dari Senja karena Bumi tak lagi bersuara.

Hingga malam hari tiba, ketika Senja sudah bersiap untuk tidur, kepalanya teringat dengan Arta yang dia titipkan pada Bu Sonia. Apakah anak itu makan dengan baik? Apakah anaknya itu bisa tidur nyenyak?

Kemudian, pikiran Senja teringat pada Bumi. Siapa yang akan membereskan tas kerjanya yang mungkin akan banyak sekali kertas yang tidak berguna?

Senja menghela napas kasar. Jika terus seperti itu, jelas dia tidak bisa tertidur. Dia melirik jam dinding yang bertengger di dinding panti. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas dan saat ini Senja ragu apakah harus pulang atau tetap di sini.

Ketika kebimbangan tengah mendera, ponsel miliknya yang tergeletak di atas kasur bergetar panjang. Sengaja Senja tidak menyalakan dering agar tidak menganggu penghuni panti lain.

"Halo, Bi," sapa Senja dengan suara merendah, hampir terdengar seperti bisikan.

".......... "

"Hah! Aku segera pulang, Bi," ucap Senja panik, tetapi tetap menahan suara agar tidak berteriak. Dia baru saja menerima kabar dari Bi Tijah jika Bumi pulang dalam keadaan mabuk dan meracau tidak jelas.

Tentu saja Senja terkejut bukan main. Sejak kapan Bumi suka mabuk? Tanpa berpikir panjang, Senja bergegas pamit pada pengurus panti yang bertugas malam, dan meminta beliau untuk menyampaikan pada ibu panti.

Dia juga mengatakan akan mengirim pesan dan menelepon besok pagi untuk memberitahu. Setelah itu, Senja memutuskan mengendarai motor dengan mengenakan jaket tebal dan peralatan mengendara lengkap.

Suasana malam yang tak pernah sepi, membuat Senja sedikit bisa bernapas lega. Setidaknya dia tidak akan melewati jalanan sepi dan gelap yang ditakutkan akan ada begal atau penjahat lainnya.

Hingga tiga puluh menit berlalu, Senja akhirnya tiba yang segera disambut oleh Bi Tijah di depan pintu. "Maaf, Bu. Saya ganggu waktu ibu. Namun, saya tidak punya pilihan lain," ucap beliau tampak bersalah.

Senja menggeleng. "Tidak apa-apa, Bi. Justru aku berterimakasih karena Bibi mau menelepon. Sekarang, dimana Bumi, Bi?" tanya Senja dengan pandangan mengedar dan berjalan tergesa-gesa mencari keberadaan Bumi.

"Di ruang kerja, Bu. Pintunya tidak dikunci. Namun, sejak tadi saya dengar suara pecah. Saya khawatir terjadi sesuatu yang buruk dengan Bapak," jelas Bi Tijah dan Senja memutuskan berlari kecil ke ruang kerja Bumi.

Benar saja, pintu ruangan itu terbuka lebar hingga Senja bisa melihat bagaimana kondisi ruangan itu sekarang. Sejenak Senja tertegun. Namun, karena tidak memiliki banyak waktu, Senja mengabaikan perasaan yang mengganjal di hati.

"Bumi!" panggil Senja pada pria yang saat ini sedang duduk mengenaskan dengan sebotol minuman di tangan.

Pria itu menoleh dengan bibir mengulas senyum. Kilau matanya tidak bisa berbohong jika pemilik tubuh memiliki kesedihan yang mendalam. Senja mendekat dan melihat bagaimana menyedihkannya keadaan Bumi saat ini.

Tanpa diduga, Bumi berdiri dan langsung memeluk Senja cukup erat, membuatnya kewalahan menyangga bobot Bumi. Aroma alkohol menyeruak ke indera penciuman Senja saat ini. Hingga dia hanya bisa terdiam merasakan debaran jantung yang menggila akibat tubuh Bumi yang dekat tanpa jarak.

"Dea! Akhirnya kamu datang juga," racau Bumi seketika membuat Senja sadar diri.

Terpopuler

Comments

aqil siroj

aqil siroj

duhhhhhh....
next thor

2023-07-17

0

Zakia

Zakia

akankah bumi meminta haknya, tapi dengan tidak sadarkan diri, memanggil Dea dengan pergulatan ranjang mereka, miris sekali nasib yg dialami senja, apa ia akan tetap disamping bumi jika itu terjadi, atau memilih pergi menyerah dengan rumah tangga yang menyakitinya, ,,,,,,

padahal senja hanya meminta untuk dihargai sebagai istri, walaupun belum dicintai.
ini bumi keterlaluan, jangankan dicintai, dihargai sebagai istri aja tidak, nanti kau menyesal bahwa senja memilih pergi karena lelah menghadapi sikap suami seperti bumi, makan hati terus.

2023-07-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!