Bab 15. Gara-gara liptint

"Aku tahu. Aku hanya tidak ingin kamu salah paham. Bukankah kita sudah sepakat untuk memperbaiki hubungan?"

Mendengar penjelasan dari Bumi, diam-diam Senja mengulum senyum bahagia. Ini yang dia inginkan ketika kesalahpahaman terjadi. "Baiklah. Aku mengerti sekarang," jawab Senja sambil berjalan mendekati pintu untuk keluar.

"Mau kemana?" hadang Bumi yang membuat bibir Senja seketika mengerucut kesal.

"Aku mau pesan makanan. Arta kan belum makan," jawabnya sambil berusaha menerobos pintu yang saat ini dijaga oleh Bumi.

"Tidak perlu. Arta pergi bersama Mama tadi. Bagaimana jika malam ini kita makan di luar?" tawar Bumi dan Senja hanya mengerjap pelan sebagai jawaban. Ini bukan seperti makan malam yang Senja pikirkan bukan?

"Kenapa diam? Bagaimana?" tanya Bumi menyadarkan Senja dari lamunan.

"Lebih baik pesan online saja," tolak Senja masih berusaha jual mahal.

Decakan sebal pun terdengar dari Bumi. Setelah itu, Senja merasakan tubuhnya ditarik hingga kini posisinya menempel pada pintu dan yang membuat Senja seperti kehilangan pasokan oksigen adalah, ketika Bumi mengurungnya dengan kedua lengan kekar itu.

"Kamu cinta aku kan? Kenapa tingkah lakumu tidak seperti orang yang sedang jatuh cinta?" tanya Bumi begitu santainya.

"Memang, bagaimana tingkah laku orang yang sedang jatuh cinta?" jawab Senja berusaha menghilangkan kegugupan yang kini menyerangnya.

Bukannya menjawab, Bumi justru menatap Senja lekat. Hal itu membuat Senja tak tahan untuk menunduk malu. Namun, dengan sigap Bumi mengangkat dagunya pelan. "Tatap aku kalau benar kamu tidak mencintaiku," pinta Bumi terdengar begitu lembut di telinga.

Senja berusaha membalas tatapan itu. Namun, hal itu hanya sebentar ketika Senja merasakan jemari Bumi menyusup di antara helaian rambut dan mengelus telinga Senja lembut. Senja memejamkan mata apalagi ketika dia merasakan kening Bumi menempel pada keningnya.

"Kita ini apa?" tanya Senja lirih.

Terdengar tawa pelan dari Bumi sebelum menjawab pertanyaan konyol itu. "Kita adalah suami istri."

"Benarkah?" tanya Senja ragu sendiri.

"Ya. Kamu istriku dan aku suami kamu, di atas kertas."

Mendengar itu, mata Senja seketika terbuka dan menatap manik coklat di depannya. "Lepaskan aku," pinta Senja lembut. Dia justru terpaku pada wajah tampan yang kini bisa dia lihat dari jarak yang sangat dekat.

"Aku tidak akan melepaskan kamu. Setiap hari kamu membuatku terbiasa akan kehadiran dan rasa masakan mu. Sekarang, dengan tanpa berdosanya kamu meminta aku melepaskan kamu? Asal kamu tahu. Status kamu bukan lagi istri di atas kertas. Kamu istriku yang sesungguhnya," jelas Bumi panjang lebar.

Seperti ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan di perut Senja saat mendengar Bumi mengatakan kata 'istriku'. Sederhana, tetapi begitu bermakna bagi Senja.

"Lalu bagaimana dengan perjanjian di atas kertas itu?" tanya Senja lagi.

"Lupakan. Aku akan bakar perjanjian itu."

"Apakah kamu sudah mulai mencintaiku?" tanya Senja yang berhasil membuat Bumi menjauhkan diri dan menatap Senja lekat.

"Bersiaplah. Sebentar lagi kita akan pergi makan malam. Sepulang dari sana, kita langsung jemput Arta," titah Bumi lalu berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Senja.

Senja menghela napas kasar. Apa yang dia harapkan? Tidak mungkin Bumi mau mencintai perempuan seperti dirinya yang jauh dari kata sempurna. Mungkin benar jika saat ini Bumi hanya menjalani sisa hidup bersama dirinya.

Harusnya Senja tidak perlu terganggu. Bukankah di awal dia sudah pasrah? Namun, apa ini? Mengapa Senja terasa kurang jika Bumi tidak mencintai dirinya?

Tidak ingin ambil pusing, Senja menurut dan segera bersiap. Setelah selesai, dia keluar dan menuruni anak tangga. Dari jaraknya berjalan, Bumi sudah menunggu sambil memainkan ponsel.

"Ayo," ajak Senja berhenti tepat di samping Bumi berdiri.

Laki-laki itu mendongak dari layar ponsel dan seketika mata keduanya beradu. Postur tubuh Bumi yang lebih tinggi, membuat Senja harus mendongak. "Ayo," ulang Senja lagi ketika melihat Bumi hanya diam.

"Bibir kamu pakai apa itu?" tanya Bumi menatap pada bibir Senja yang lebih merona dibanding biasanya.

"Pakai liptint. Memangnya kenap—"

Pertanyaan Senja tak selesai ketika bibirnya telah dibungkam oleh benda kenyal. Dan bodohnya, Senja terbuai hingga memejamkan mata. Entah dapat keberanian dari mana, Senja justru membalas setiap sesapan di bibirnya dari Bumi.

Ini gila. Senja akui dia memang gila karena dengan begitu murahnya menerima ciuman itu. Namun, Senja tidak peduli. Semenjak malam itu, aroma tubuh dan setiap apa yang Bumi lakukan selalu menarik bagi Senja.

Tubuh Senja semakin menggila saat tangan Bumi menelusup dari bawah dress yang dia kenakan, lalu mengelus pahanya pelan. Ciumannya terlepas, tetapi Bumi seperti belum selesai menjelajahi tubuh Senja.

Bibir itu turun ke leher dan menyesapnya cukup dalam. "Bumi..." keluh Senja tak kuasa menahan sesuatu yang bergejolak dalam diri.

Tangan Bumi di bawah sana semakin naik hingga berhasil menyentuh titik sensitif yang membuat kesadaran Senja seperti ditarik paksa. Matanya terbuka dan perlahan menjauhkan diri.

Tampak sekali raut wajah Bumi yang begitu kecewa saat Senja berusaha mundur. Namun, Bumi dengan sigap kembali menarik pinggang Senja hingga tubuh keduanya kembali menempel.

"Boleh kan?" rengek Bumi dengan matanya yang sayu dan suaranya yang berubah lebih berat dari biasanya. Senja memejamkan mata ketika jemari Bumi bergerak di sekitar leher dan telinganya.

"Jawab aku. Jika kamu tetap diam, aku anggap kamu juga menginginkan hal yang sama," ucap Bumi lagi dan Senja tidak mengangguk maupun menggeleng.

Justru, Senja mengalungkan lengan di leher Bumi dan kembali melabuhkan kecupan ringan di sudut bibir itu. Merasa mendapatkan lampu hijau, Bumi mengangkat tubuh Senja dan membawanya menuju kamar terdekat.

Sesaat setelah senja terbaring di atas ranjang dengan Bumi yang menindih, wajah keduanya menjauh demi bisa menghirup oksigen ke paru-parunya. "Katakan tidak jika kamu ingin semua ini berhenti. Karena setelah ini, aku tidak yakin bisa mengendalikan diri," ucap Bumi begitu lembut di telinga Senja.

Gerakan tangan Senja yang berusaha membuka kancing kemeja miliknya, Bumi artikan sebagai jawaban jika Senja juga menginginkan hal yang sama. Bumi memejamkan mata ketika seluruh kancing itu terbuka dan telunjuk Senja bermain-main di area perutnya.

"Aaaakh." racau Bumi yang membuat Senja tersenyum tipis. Dia membuka gesper hingga sabuk yang melilit pinggang Bumi terlepas.

Merasa tertantang, Bumi kembali menyambar bibir Senja dan menjelajahi setiap lekuk tubuh yang selalu menganggu pikirannya. Bedanya, saat ini dia melakukan dengan keadaan sadar.

"Katakan jika kamu merasa kesakitan," ucap Bumi lembut sebelum memulai permainan yang sesungguhnya.

Kernyitan di kening Senja tampak dalam saat miliknya berusaha menerobos masuk, membuat Bumi yakin jika Senja sedang menahan sakit. Bumi menghentikan dorongan dan menunduk untuk mengecup sekilas bibir ranum di depannya.

"Sakit?"

Senja mengangguk lemah.

"Aku akan lakukan pelan-pelan." Lalu, Bumi benar-benar melakukan dengan penuh kelembutan hingga Senja perlahan mulai menikmati permainan.

"Bumih... "

Entah berapa lama tubuh keduanya saling bergesekan, saling mendamba, dan sama-sama basah karena keringat. Mengabaikan jika suara keduanya mungkin terdengar hingga keluar.

Terpopuler

Comments

Juan Sastra

Juan Sastra

hueeekkk

2025-02-07

0

susi 2020

susi 2020

🔥🔥🔥🥰🔥🔥🔥

2023-09-15

0

susi 2020

susi 2020

🔥🔥🔥🔥

2023-09-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!