Bab 7. Mama cembuh

Bumi hampir saja tersedak makanan ketika tiba-tiba Senja duduk di hadapan dengan berpangku tangan. Beruntung, dia bisa mengendalikan diri sehingga lontong yang sudah ada di rongga mulut berhasil dia telan dengan baik.

"Aneh!" gerutu Bumi ketika mendapati Senja tersenyum penuh misteri. 

Senja pun tertawa, seakan puas sekali telah berhasil membuat wajah Bumi menjadi tampak kesal. Tanpa rasa berdosa, Senja segera mengambil mangkok dan mengisinya dengan lontong. 

Bumi yang melihat itu, wajahnya sudah merah padam, pertanda kekesalannya telah memuncak. "Enak?" tanya Bumi tampak menggerutu. 

Dengan polosnya Senja mengangguk dengan kedua pipi yang menggembung lucu. Kemarahan yang sempat berada di ubun-ubun, seketika menguar entah kemana melihat bagaimana raut wajah Senja saat ini. 

Untuk beberapa detik, Bumi terpana hingga ingatannya terlempar pada kilasan masa lalu bersama Senja. Dulu, setiap malam minggu dia, Dea, dan Senja akan berkumpul di sebuah kafe untuk menghabiskan masa kejombloan mereka.

Malam minggu yang identik dengan sepasang kekasih yang menghabiskan waktu bersama, mereka gunakan untuk menghabiskan waktu bersama sahabat. 

"Pelan-pelan kenapa, Nja?" ucap Dea kala itu membuat Bumi pada akhirnya menoleh pada Senja. 

Pipi Senja tampak menggembung, penuh akan makanan dan itu begitu lucu di mata Bumi. Dan setelah sekian lama, Bumi kembali merasakan dejavu. Entah itu karena rindu pada Dea atau karena ada Senja di dalamnya. 

"Bumi?" panggil Senja yang membuyarkan lamunan Bumi. 

"Apa?" jawabnya selalu berhasil menguasai diri. Diam-diam dia menghela napas pelan karena justru teringat akan masa lalu. 

"Bagaimana? Hari ini jadi?" tanya Senja sambil matanya tertuju pada Arta. 

Bumi berdehem pelan untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering. "Nanti sore aku kosong. Pukul tiga nanti aku akan jemput kalian," jawabnya sambil mengacak rambut Arta gemas. 

Wajah Senja tampak berbinar. "Arta? Nanti jadi ketemu Mama kan?" Dia melemparkan pertanyaan pada sang Putra yang baru saja selesai menghabiskan makanan. 

"Selius?!" tanya bocah itu hampir tidak percaya. 

"Iya. Tapi, apapun yang terjadi nanti, Arta harus tetap jadi anak baik ya," pesan Senja yang langsung mendapat anggukan oleh Arta. 

Dan lagi-lagi Bumi terpikat oleh bagaimana Senja begitu lembut bersikap pada Arta. Seharusnya, hal ini tidak boleh terjadi. Atau, ini hanya pelariannya saja karena Dea telah pergi? Ya. Mungkin Bumi hanya kesepian dan sedang mencari sosok Dea pada diri orang lain. 

"Aku berangkat," pamit Bumi tidak ingin berlama-lama melihat wajah Senja pagi itu. 

"Salim duyu, Pa," pinta Arta lalu menarik telapak tangan sang Papa untuk dicium. 

Bukannya langsung melepas tangan sang Papa setelah berhasil dicium, Arta justru mengarahkan telapak tangan Bumi pada Senja. "Ante! Cium tangan Papa duyu," pinta Arta dengan polosnya.

Senja seketika melotot. Beruntung dia sudah menelan makanan yang berada di mulut. Bisa-bisa dia tersedak seandainya makanan tadi belum ditelan. Tatapan Senja tertuju pada Bumi yang kini juga sedang menatapnya datar, membuat nyali Senja sedikit menciut.

"Pa? Cium kan?" Arta merengek agar Senja mau mencium punggung tangan sang Ayah.

Bumi pun menghela napas pelan. Dia memberikan kode pada Senja agar menurut saja pada perintah Arta. Tidak ada pilihan lain. Senja berdiri dan mengambil telapak tangan Bumi untuk dikecup.

Ketika bibir Senja menyentuh permukaan kulitnya, darah Bumi bagai berdesir. Sentuhan itu begitu lembut dan berhasil membangunkan seluruh sel di tubuhnya.

"Aku pamit," ucap Bumi segera berlalu dari hadapan keduanya. Bahkan, Bumi sudah menarik pergelangan tangan terlebih dahulu sebelum Senja melepaskan pegangan. Berdekatan dengan Senja lama-lama bisa membuatnya gila.

Saat sore hari tiba, Senja sudah bersiap dan menunggu Bumi pulang. Ada Arta juga yang ikut menunggu di teras. "Itu Papa, Ante!" pekik Arta antusias kala mendapati mobil Bumi memasuki pelataran rumah.

Perumahan yang dipilih Bumi memang tipe cluster tak berpagar. Namun, keamanannya sudah terjamin seratus persen.

Tin. Tin.

Suara klakson mobil pun terdengar dan kepala Bumi melongok dari balik jendela kaca. "Ayo!" ajaknya yang wajahnya tampak muram sore itu.

Tidak ingin ambil pusing, Senja membawa Arta dalam gendongan lalu duduk di kursi depan dan memangku bocah laki-laki itu. Senja melirik Bumi sekilas. Tampak sekali raut lelah menghias wajah tampan itu.

"Apa ada masalah, Bum?" tanya Senja berusaha perhatian dan berharap Bumi mau memberikan sedikit saja kepercayaan untuknya.

"Bukan urusan kamu," jawab Bumi ketus dan Senja hanya bisa menghela napas pelan. Pada akhirnya, Senja memutuskan diam dan tidak banyak bicara sampai mobil itu tiba di sebuah pemakaman elit.

"Ini tempat apa, Ante?" tanya Arta dengan kening tampak berkerut bingung.

"Mama mana?" cecar Arta lagi.

"Iya. Mama sekarang ada di sini. Itu namanya pemakaman," jawab Senja dengan penuh kelembutan.

Senja menoleh pada Bumi yang kini tampak menekan sudut matanya menggunakan telunjuk dan ibu jari. Senja bisa melihat ada setitik air bening yang jatuh di pipi Bumi, membuat Senja yang melihatnya merasa teriris.

"Bolehkah aku turun hanya bersama Arta? Aku tahu. Ini mungkin sangat berat untuk kamu." Senja berucap penuh pengertian.

Isakan dari Bumi pun terdengar bersamaan dengan jarinya yang terlepas untuk menutupi mata. "Aku ikut," putus Bumi dan ketiganya memutuskan untuk turun.

Tibalah mereka pada sebuah gundukan yang tanahnya belum banyak ditumbuhi rumput. "Itu Mama?" tanya Arta tampak kebingungan.

Senja mengangguk dan meminta Arta untuk berjongkok di sisi pemakaman. "Mama kamu ada di sini. Kalau Arta rindu Mama, bilang ke Tante atau Papa dan kita bisa kesini," ucap Senja berusaha menahan sesak yang menghimpit dada.

Hampir satu bulan kepergian Dea dan itu belum cukup untuk melupakan bagaimana baiknya sosok sangat Sahabat. Mungkin, untuk seumur hidup Senja tidak akan bisa melupakan Dea. Dia wanita penyelamat nya. Dia yang telah memberikan Senja sebuah keluarga, dan masih banyak lagi jasa yang Deandra lakukan untuknya.

"Mama tidyak dingin, Ante?" tanya Arta lagi.

Senja tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. "Tidak. Mama sudah sembuh dan tidak sakit lagi. Sekarang, Arta bisa lihat ke langit untuk bisa menatap wajah Mama. Mama ada di sana. Melihat kita dari surga," tunjuk Senja pada langit sore yang begitu cerah dan cantik.

Mata Arta tampak berbinar. "Belalti, Mama cudah cembuh?" Dengan sigap Senja mengangguk membenarkan.

"Alta bahagia lau Mama cembuh," ucapnya lagi dengan senyum merekah. Tidak ada raut bersedih yang ditunjukkan Arta. Bocah berusia tiga tahun itu begitu tegar.

"Arta tidak apa-apa kan? Kalau Mama tinggal di surga?" tanya Senja lagi.

"Tak papa. Mama pelnah bilang kalau di sulga tak cakit lagi. Alta cenang Mama bahagia."

Saat itu juga air mata Senja luruh begitu juga dengan Bumi yang memutuskan berpaling. Ketegaran Arta justru membuat sesuatu yang ada di dadanya semakin sesak.

"Napa Papa dan Ante nangis? Alta tak apa-apa. Mama bilang, Alta halus kuat," celetuk Arta dan Senja segera menghapus air matanya.

"Iya. Mama sudah bahagia. Tante hanya bangga dengan Arta yang sudah begitu dewasa," jawab Senja sambil mengusap puncak kepala sang Putra.

Lalu, Arta tampak mendongak dengan mata yang terpejam. Bibirnya mengulas senyum untuk beberapa saat. Senja tidak ingin menganggu. Dia memutuskan menunggu Arta selesai dengan kegiatan.

"Ante?" panggil Arta dan Senja mengangguk sebagai jawaban.

"Kenapa, Sayang?"

"Mama pelnah bilang. Katanya kalau Mama pelgi, Ante akan jadi Mama Alta." Arta berucap begitu polos dan Senja mengangguk antusias dengan senyum merekah menghias bibirnya.

Senja segera membawa Arta dalam pelukan. "Iya. Tante akan jadi Bunda kamu. Panggil saja Tante dengan sebutan Bunda. Mama tetaplah Mama kamu. Tidak ada orang lain yang boleh kamu panggil dengan sebutan itu." Dan Senja melabuhkan kecupan di puncak kepala Arta dengan penuh sayang.

Terpopuler

Comments

Tri Handayani

Tri Handayani

Next thorrr'semangat up

2023-07-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!