Setelah dua minggu berlalu, Senja pada akhirnya bersedia menikah dengan Bumi. Seperti yang telah Deandra inginkan, yaitu menikahi suaminya dan merawat Arta. Seluruh keluarga tidak bisa berbuat apa-apa dan mendukung permintaan Dea. Apalagi ketika Dea ternyata meninggalkan sepucuk surat wasiat, seperti telah dipersiapkan untuk menjelaskan pada seluruh keluarga.
"Saya terima nikah dan kawinnya Senja Kalaluna binti Bapak Andrian dengan mas kawin tersebut, tunai!"
Suara Bumi menggema di mushola panti asuhan tempat Senja dibesarkan. Pada akhirnya, Pak Andrian, selaku pemilik panti dan ayah dari seluruh anak-anak di panti, bersedia menjadi wali nikah Senja.
Hal itu sah saja karena kondisi Senja yang tinggal di panti asuhan dan tidak mengetahui siapa ayah dan ibu kandung nya.
Hati Senja bergetar kala kata 'sah' menggaung di telinga. Statusnya hari ini sudah berubah menjadi istri dari Bumi. Pernikahan itu memang digelar tertutup dan hanya dihadiri keluarga inti sebagai saksi.
"Kalian sudah sah menjadi suami istri di mata negara dan agama. Selamat, semoga hidup kalian dipenuhi bahagia," ucap Pak Penghulu setelah urusannya selesai dan berniat pamit.
"Terimakasih, Pak," jawab Senja berusaha mengulas senyum. Sedangkan Bumi, pria itu masih setia dengan wajah datarnya. Sama sekali tidak berniat untuk basa-basi. Senja hanya bisa menghela napas pasrah mendapati sikap Bumi yang dingin.
"Selamat ya, Senja. Selamat bergabung di keluarga kami," ucap Bu Sonia, ibu dari Bumi. Mata beliau tampak berkaca-kaca, bahagia sekaligus sedih secara bersamaan. Beliau memeluk Senja penuh sayang dan perhatian.
"Terima kasih, Tante," jawab Senja dan Bu Sonia langsung melepas pelukan. Kepala beliau menggeleng. "Jangan panggil Tante. Panggil Mama. Kamu sudah menjadi anak Mama hari ini."
Mendengar itu, air mata Senja sudah tak terbendung lagi. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Senja bisa memanggil seseorang dengan sebutan Mama. "Terima kasih, Mama," ulang Senja lalu Bu Sonia terkekeh gemas.
"Selamat ya, Senja. Mulai hari ini, kamu juga harus panggil Om dengan sebutan Papa." Kini giliran Pak Adhi yang memperjelas. Senja mengangguk, menerima takdir baik itu. Hari ini mungkin akan menjadi awal dari segala dukanya. Namun, hari ini juga Senja mendapatkan apa yang selama ini orang-orang sebut dengan keluarga.
Keadaan mendadak hening ketika Naura, adik tiri dari Deandra mendekat bersama ibu tiri Dea. Dua wanita itu mengulas senyum meremehkan, membuat Bu Sonia merasa tak suka.
"Selamat ya," ucap Naura setengah hati lalu memeluk Senja.
"Harusnya aku yang berhak menggantikan Mbak Dea karena aku adiknya. Namun, gara-gara surat wasiat itu, semua orang percaya padamu. Kamu sama sekali tidak pantas bersanding dengan Mas Bumi," bisik Naura yang membuat Senja tak terkejut lagi.
Sikap Naura memang seperti itu. Selalu ingin merebut apapun yang Deandra miliki. Ayah dari Dea juga selalu tak tegas dengan sikap Naura yang buruk. Wajar jika tingkahnya semakin menjadi-jadi.
"Senja? Ayo. Kita harus segera pulang karena Arta sudah menunggu," ajak Bu Sonia, sengaja tidak ingin membuat Naura berbicara lebih banyak lagi.
"Bumi! Ajak istri kamu pulang untuk beristirahat," pinta Bu Sonia yang kini beralih pada putranya yang sedang melamun. Akhir-akhir ini Bumi memang sering melamun. Senja memaklumi hal itu karena laki-laki itu baru saja kehilangan belahan jiwanya.
Ketika telah tiba di rumah milik Bumi dan Deandra, Senja langsung disambut hangat oleh Arta. "Ante!" pekik Arta antusias. Bocah laki-laki itu memang sangat dekat dengan Senja karena terkadang dititipkan pada Senja ketika Dea akan mengecek kesehatan.
Bumi yang melihat kedekatan putranya, hanya melirik sekilas lalu berjalan lebih dulu melewati sang Putra. Hal itu membuat Arta bertanya akan sikap sang Ayah yang terkesan dingin. "Papa napa, Ante? Malah?" tanya Arta polos, menganggap jika ayahnya sedang marah.
Senja tersenyum dan berjalan menuju sofa dengan Arta yang berada dalam gendongan. Setelah tiba, Senja mendudukkan Arta dalam pangkuan menghadap dirinya. Sehingga, posisi keduanya kini saling berhadapan. "Papa sedang banyak pikiran. Oh iya, mulai hari ini Tante akan tinggal bersama Arta loh. Bagaimana, Arta senang?" tanya Senja memberitahu bocah yang sudah Senja anggap seperti anaknya sendiri.
Mata bulat Arta terbuka lebar dengan bibir yang menganga. "Yeay! Berarti kita bisa main sama-sama terus!" pekik Arta begitu bahagia. Senja pun ikut tersenyum bahagia melihat bagaimana mata Arta berbinar cerah. Jika Bumi tidak menginginkan kehadirannya, setidaknya masih ada Arta yang begitu bahagia karena ada Senja.
"Arta? Mainlah dulu dengan Sus. Papa mau berbicara dengan Tante Senja dulu," ucap suara berat yang membuat jantung Senja seketika berdegup kencang.
Setelah Arta diambil alih dan diajak ke kamar, Bumi kembali bersuara. "Ikut aku!" titahnya yang tidak bisa Senja tolak. Dia hanya bisa pasrah akan keputusan Bumi setelah ini.
Ternyata, Bumi membawanya ke kamar yang Senja ketahui merupakan kamar tamu. "Ini kamarmu. Aku tidak mau sekamar denganmu. Lebih baik kita tidur terpisah karena aku tidak sudi melihat wajahmu di pagi hari," jelas Bumi yang membuat tubuh Senja terasa lemas bagai jeli.
Sebenci itukah Bumi pada Senja?
"Baca ini!" titah Bumi lagi sambil menyodorkan sebuah map berwarna coklat.
"Perjanjian pernikahan?" Senja bergumam heran. Namun, tak urung dia tetap membaca poin-poin yang tertera. Yaitu,
Perjanjian pernikahan.
Senja tidak boleh masuk ke kamar Bumi
Tidak ada hubungan suami istri
Senja hanya istri di atas kertas dan Bumi tidak akan membawa Senja ke acara manapun
Status Senja akan tetap disembunyikan karena Bumi malu memiliki istri seperti Senja.
Dan masih ada beberapa poin lagi yang tidak sanggup Senja baca. Dadanya sesak diperlakukan buruk oleh Bumi. "Aku terima semua perjanjian," ucap Senja terluka. Hampir seluruh perjanjian itu isinya merugikan dirinya.
Namun, bukankah itu memang tujuan Bumi? Yaitu membuat Senja menderita ketika hidup bersamanya.
"Bagus," jawab Bumi lalu menyodorkan pena untuk digunakan mendatangani perjanjian.
"Tanda tangan di atas materai. Aku tidak ingin suatu hari dituntut," pintanya datar.
Senja menerima bolpoin tersebut dan membubuhkan tanda tangan di atas materai. Dia pasrah pada nasib hidupnya ke depan. Yang harus Senja percayai adalah keyakinannya pada Tuhan.
"Sudah," ucap Senja kembali menyerahkan kertas dan pulpen di tangannya.
"Satu hal yang harus kamu tahu, aku menikahi kamu hanya karena permintaan Deandra. Kalau bukan karena permintaan Dea, aku mana mau. Lebih baik aku membesarkan Arta sendirian." Bumi seakan ingin kembali menegaskan arti Senja dalam rumah tersebut.
"Aku tahu tanpa harus kamu perjelas. Semua karena Dea. Wajar jika kamu mencintai Dea sedalam itu. Dea memang orang baik," jawab Senja merendah. Dia tidak harus meninggi hanya untuk mencuri perhatian laki-laki yang kini sudah berstatus suaminya.
"Bagus jika kamu sadar diri."
Senja hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Bumi yang kelewat pedas itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Annie Soe..
Sabaarr Senja,
Niat kamu kan baik, ikutin surat wasiatnya Dea.
Semua akan indah pada waktunya, percayalah..
2024-10-24
0
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦₉
ikuti saja dulu senja apa maunya bumi dan yakinlah suatu saat dia akan menyesali semua sikapnya itu.
2023-08-18
1
Tock
up lg kak
2023-07-09
1