Bab 10. Terimakasih

"Dea! Akhirnya kamu datang juga," racau Bumi seketika membuat Senja sadar diri.

Bumi mabuk dan mungkin yang saat ini hanya ada dalam pikirannya adalah Dea, bukan dirinya. "Bumi! Sadar!" pekik Senja kewalahan kala seluruh tubuh Bumi dibebankan padanya. Tubuhnya hampir terhuyung jika dia tidak pandai menjaga keseimbangan.

Mengabaikan perasaan di hatinya, Senja berusaha memapah Bumi menuju kamar terdekat, yaitu kamar tamu yang berada di lantai bawah. Jika dia membawanya menuju kamar Bumi, itu akan membutuhkan waktu yang lama karena berada di lantai dua.

Setelah tiba, Senja membanting tubuh Bumi ke kasur, tetapi tubuhnya pun ikut terhempas karena Bumi memeluknya erat. "Jangan pergi... Jangan pergi lagi. Aku rindu kamu, Dea," racau Bumi dengan sorot mata menyiratkan sebuah rasa cinta yang begitu besar.

Senja kembali disadarkan oleh kenyataan dan berniat untuk pergi dari sana. Namun, dengan sigap Bumi kembali menarik Senja agar lebih dekat hingga posisinya yang sekarang begitu sulit untuk melepaskan diri. Karena, Bumi menindih nya dan mengurung menggunakan kedua lengan agar dia tidak bisa kemana pun.

"Bum—" Belum sempat Senja melayangkan kalimat protesnya, sebuah benda kenyal dan lembut berhasil menyentuh bibirnya, membuat Senja mematung. Sentuhan itu berubah menjadi kecupan-kecupan intens, membuat sekujur tubuh Senja terasa begitu kaku hanya untuk sekedar mendorong dada Bumi.

"Aku mencintaimu, Dea."

******

Bumi terbangun ketika merasakan pusing dan mual yang mendera tubuhnya. Dengan mata yang masih terpejam, dia tergopoh-gopoh menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.

Beberapa menit berlalu, Bumi merasa tersiksa karena gejolak di perutnya. Hingga selesai, Bumi mendongak untuk menatap dirinya di cermin. Seketika, matanya terbelalak melihat pantulan dirinya yang tak mengenakan penutup tubuh.

Dia yang tersadar, keluar dari toilet untuk mengecek dugaan yang kini bergelanyut di pikiran. Jantung Bumi seakan berhenti berdetak. Dunianya seperti berhenti berputar kala melihat Senja ada di atas ranjang yang sama dengannya.

"Apa semalam aku melakukannya pada Senja?" tanya Bumi dengan kepala yang mendadak pening. Dia bergegas mengenakan pakaian demi menutupi tubuhnya dan berjalan mendekat ke arah ranjang dengan ragu-ragu.

"Senja," panggil Bumi pelan. Suaranya bahkan bergetar ketakutan.

Bumi bisa melihat kening Senja yang berkerut kemudian meringis dan mengeluarkan desisan kesakitan. Mata indah itu terbuka walau tidak selebar biasanya. Bumi menahan napas kala melihat mata sayu Senja seperti kurang tidur.

"Apa semalam aku... melakukannya padamu?" tanya Bumi ragu.

Senja tidak menjawab melainkan memilih bangkit dan menutupi tubuhnya dengan selimut. "Kamu ingat-ingat sendiri saja. Setelah ini, kamu pasti akan menuduhku yang tidak-tidak lagi," ketus Senja masih sedikit meringis merasakan nyeri di inti tubuhnya.

Bumi pun mengusap wajahnya kasar. "Harusnya kamu tolak. Kamu boleh tonjok atau tampar aku," cecar Bumi yang membuat Senja terkekeh sinis.

"Kamu tidak ingat sedikit pun?" Senja melemparkan pertanyaan mengejek.

"Dasar breng sek!" umpat Senja lalu memilih turun dari ranjang dan memunguti pakaian miliknya.

"Ssssshh." Senja berdesis kala merasakan nyeri dan perih di antara kedua pahanya. Jalannya sampai pincang karena semalam digempur habis-habisan. Namun, dia tetap memaksa melangkah hingga dia merasa pandangannya menggelap lalu tubuhnya terhuyung dan Senja tidak ingat apapun lagi.

Entah sudah berapa lama Senja tidak sadarkan diri. Namun ketika matanya terbuka, hal yang pertama kali dia lihat adalah pemandangan ruangan yang serba putih dengan aroma obat-obatan yang menyengat.

Belum lagi, Senja merasakan salah satu tangannya kebas dan ketika menunduk, dia bisa melihat sebuah infus uang menancap pada lengan. "Akhirnya kamu bangun juga," ucap suara yang begitu familiar di telinga Senja.

Dia menoleh dan mendapati Bumi tengah duduk di sampingnya. Senja masih setia diam dan melihat bagaimana lengan Bumi terulur untuk menekan tombol darurat. "Aku di rumah sakit? Kenapa?" tanya Senja dengan suara yang terbilang lemah.

Dia masih berusaha mengingat kejadian apa yang membuat dirinya sampai harus dirawat. Ingatannya seketika tertuju pada kejadian malam panas antara dirinya dan Bumi. Senja memejamkan mata untuk menghilangkan pikiran itu.

"Maafkan aku, Nja," lirih Bumi tampak bersungguh-sungguh. Hanya kalimat itu yang bisa terucap karena dokter kini telah masuk ke ruangan untuk memeriksa keadaan Senja.

"Keadaanya sudah lebih baik. Hanya saja, Bu Senja butuh waktu istirahat yang cukup. Dan pesan saya pada Pak Bumi, tolong puasa dulu untuk beberapa minggu ya, Pak." Bu Dokter yang mengecek keadaan Senja, berucap dengan sedikit ledekan pada Bumi.

Senja hanya terdiam sedangkan Bumi, laki-laki itu sudah salah tingkah terlihat bagaimana dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sepeninggalan sang Dokter, Senja menatap Bumi yang saat ini juga sedang menatapnya.

"Senja?" panggil Bumi menyadarkan Senja.

"Apa?"

Bumi tampak menghela dan menarik napasnya lebih dulu sebelum memulai berucap. "Aku tidak tahu bagaimana rasanya jadi kamu saat itu. Namun, aku menyesal karena sudah merampas sesuatu hal yang begitu berharga bagimu. Dulu, aku yang membuat perjanjian agar kita tidak saling menyentuh. Nyatanya, aku yang mengingkari lebih dulu."

Senja terdiam. Mencoba mendengarkan kemana arah pembicaraan Bumi. Hingga suara Bumi kembali terdengar. "Mungkin, aku tidak bisa mengembalikan semuanya seperti sediakala. Namun jika kamu mengizinkan, aku berniat untuk menjalani hubungan ini dengan lebih baik lagi. Beri aku kesempatan untuk menerima kamu sebagai istriku."

Sejenak Senja seperti lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar mendengar penuturan Bumi. Apa laki-laki itu bilang? Berniat untuk menjalani hubungan dengan lebih baik lagi? Bumi juga ingin berlatih menerima keberadaan dirinya?

"Kamu yakin?" tanya Senja mencoba mencari kesungguhan pada ucapan Bumi.

Bumi tidak langsung menjawab. Tatapannya justru menerawang jauh, menembus cakrawala. "Sejak kejadian malam itu hingga melihat kamu ada di sini, aku mulai tersadar jika Dea tidak akan pernah kembali. Mau sekeras apapun aku mencoba mengembalikan Dea, itu adalah hal yang mustahil. Karena itu juga aku sampai lupa bersyukur dengan apa yang aku punya saat ini."

"Terimakasih karena kamu bersedia menerimaku dengan segala konsekuensinya. Kamu tidak pernah pergi walau hatiku tidak pernah untukmu. Mungkin, hari ini aku belum bisa mencintai kamu. Entah hari esok akan seperti apa, aku berharap di masa depan bisa membalas perasaan yang kamu beri untukku," ucap Bumi panjang lebar bagaikan sang Surya di pagi hari yang menyinari bumi.

Penuturan itu membuat Senja mengulas senyum bahagia. Apakah ini buah dari segala sabarnya? Walau Bumi belum mencintai dirinya, setidaknya keberadaan Senja dihargai.

"Arta dimana?" tanya Senja mengalihkan pembicaraan karena terlalu salah tingkah.

Decakan sebal pun terdengar dari Bumi. "Jawab dulu," rengeknya membuat Senja tergelak renyah. Lucu sekali melihat Bumi merengek seperti itu dengan wajah memelas nya.

"Iya. Aku akan sabar menunggu hari itu tiba," jawab Senja kemudian menutup wajahnya sendiri yang mungkin sudah memerah.

Terpopuler

Comments

Juan Sastra

Juan Sastra

heeeemmm yah selalu begitu kan thorr

2025-02-07

0

Tock

Tock

Lanjut kak

2023-07-18

0

aqil siroj

aqil siroj

akhirnya yang ditunggu Up juga 😄😄

2023-07-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!