Tubuh Senja rasanya begitu lelah setelah berhasil menyusun seluruh barang di kamarnya yang baru. Beruntung, Bu Sonia belum pulang hingga dia bisa menitipkan Arta terlebih dahulu.
Tubuh Senja yang semula merebah, mendadak bangkit ketika mendengar pintu kamarnya terbuka. Sosok Bumi muncul mengenakan celana bahan pendek serta kaos lengan panjang. Selalu seperti itu. Jarang sekali Senja melihat Bumi mengenakan kaos atau baju berlengan pendek.
"Kenapa?" tanya Senja ketika melihat Bumi hanya berdiam di ambang pintu.
Walau tampak ragu, pada akhirnya Bumi melenggang masuk setelah berhasil menutup dan mengunci pintu. Raut wajah Bumi masih seperti biasa, yaitu datar.
"Lusa aku akan datang ke acara ulang tahun rekan kerja. Mama memintaku untuk memperkenalkan kamu pada semua orang," ucap Bumi dan Senja langsung tahu kemana arah pembicaraan Bumi.
"Terus?"
"Mama pasti akan mengajakmu untuk pergi ke salon dan sebagainya. Sebaiknya kamu tolak dengan baik. Kamu masih ingat isi perjanjian kita kan?" sambung Bumi yang seketika membuat bibir Senja tersenyum masam.
"Memangnya, Mama hadir juga ya?" Senja bertanya untuk mencari celah.
Helaan napas kasar pun terdengar dari Bumi. "Itulah sebabnya aku memintamu untuk menolak secara halus. Carilah alasan yang baik dan jangan pernah mengatakan jika aku yang meminta. Terserah kamu mau bilang apa nanti."
"Iya." Senja menjawab dengan singkat.
"Bagus," ucap Bumi sambil memasukkan telapak tangan pada saku celana.
Setelah menyampaikan hal tersebut, Bumi justru masih bertahan di sana, membuat kening Senja mengernyit heran. "Sudah kan, Bum?" tanya Senja mengalihkan perhatian Bumi yang sedang menatap sekeliling.
"Sepertinya kamu begitu bahagia telah berpindah dari kamar kecil menuju kamar yang besar," ucapnya meremehkan.
Telapak tangan Senja mengepal dengan dada yang menahan amarah. "Harusnya kamu perlu mengingat jika aku bersedia menikah juga karena terpaksa."
"Iya, terpaksa. Tetapi, kamu cinta kan?" tanya Bumi lagi sambil tersenyum miring.
Senja terkekeh meremehkan. "Jangan terlalu percaya diri. Apa selama ini kamu sudah pernah mendengar pengakuan cinta dariku?" Kini giliran Senja yang tersenyum puas melihat bagaimana ekspresi Bumi saat ini.
Untuk pertama kalinya Senja berani membalas ucapan Bumi. Memang, selama ini dia mencintai Bumi. Namun, dia juga tidak mau ditindas setiap hari. Setidaknya dia harus melakukan perlawanan.
Raut wajah Bumi tampak merah padam. Tanpa berkata-kata lagi, Bumi keluar dari kamar. Senja pun menghela napas kasar. Dadanya merasakan sesak yang teramat dalam. Anehnya, rasa cinta yang dia punya untuk Bumi justru masih begitu besar.
Karena waktu sudah sore, Senja memutuskan untuk membersihkan diri. Sebentar lagi makan malam tiba. Beberapa menit berlalu, Senja sudah menuruni anak tangga menuju meja makan.
Dilihatnya Arta yang sudah rapi dan bersih. Bocah itu juga sudah berganti pakaian tidur, menandakan sudah mandi. "Hai jagoan," sapa Senja sambil mengusap puncak kepala Arta.
"Ante cudah beles?" tanya Arta menatap Senja polos.
"Sudah, Sayang. Oma kemana?" tanya Senja sambil menatap sekeliling.
"Di sini, Nja." Bu Sonia muncul dari balik pintu depan.
"Mama sedang menunggu Papa. Katanya, sebentar lagi tiba. Oh iya," sambung beliau yang kini memutuskan untuk duduk di samping Senja.
"Kenapa, Ma?" tanya Senja mengalihkan perhatiannya. Hubungan keduanya memang sudah dekat sejak dulu dan bertahan hingga sekarang.
"Lusa ada undangan. Kamu datang kan dengan Bumi?" tanya beliau yang membuat Senja tersenyum. "Maaf, Ma. Sepertinya aku tidak ikut. Ada yang harus aku urus di hari itu. Mungkin lain kali ya, Ma," jawab Senja yang sudah tidak terkejut lagi karena sudah diberi tahu oleh Bumi.
"Yah. Kenapa? Urusan apa memang?" cecar Bu Sonia tidak ingin menyerah.
"Jangan paksa Senja, Ma. Kalau dia tidak bisa datang ya mau bagaimana lagi. Papa yakin kok, Senja pasti memiliki alasan kuat," sahut suara dari arah depan yang tidak lain adalah milik Pak Adhi.
"Papa sudah datang?" tanya Bu Sonia dengan mata yang berbinar.
"Sudah. Papa kan tepat janji."
"Ya sudah kalau kamu tidak bisa ikut. Semoga lain kali Mama bisa pergi bersama kamu ya. Kalau begitu, Mama pulang dulu. Papamu ajak Mama untuk jalan-jalan. Soalnya, tadi pagi Papa malah urus kerjaan. Padahal kan sekarang hari minggu. Anggap aja ganti," jelas Bu Sonia panjang lebar. Senyumnya begitu merekah dan cerah.
Melihat itu, Senja terkekeh pelan. Suami istri di depannya memang contoh pasangan teladan. "Iya, Ma. Hati-hati ya, Ma."
"Dadah Arta. Oma dan Opa pergi dulu ya," pamit Pak Adhi sambil mencuri kecupan di pipi gembul sang Cucu. Senja merasa gemas ketika melihat Arta begitu pasrah dan menurut saat dikecup beberapa kali oleh Oma dan Opanya.
Hingga keduanya berlalu, di ruangan hanya tersisa Senja dan Arta yang masih sama-sama terdiam menatap ke arah dimana Pak Adhi dan Bu Sonia berlalu.
Senja yang sadar, segera menoleh dan mendapati raut wajah Arta yang tampak muram. " Arta? Kok melamun? Kenapa?" tanya Senja lembut.
Arta menoleh dengan mata bulatnya menatap Senja. "Mama mana, Ante? Kok Papa lama tak ke lumah cakit? Biasanya, Alta cuka ikut," tanya Arta yang membuat Senja bingung harus menjawab apa.
"Kenapa memangnya, Sayang? Tunggu sebentar lagi ya kalau mau bertemu." Senja berusaha sekuat tenaga untuk membuat kebohongan tersebut.
"Alta lindu Mama, Ante. Alta mau peyuk Mama," racau Arta yang matanya berkaca-kaca, membuat Senja seketika tidak tega.
Senja segera membawa Arta ke pangkuan dan menghadapkan ke arahnya. "Alta lihat Tante, Sayang," pintanya penuh kelembutan.
"Alta takut Mama pelgi. Waktu itu kan, Mama tidul telus." Arta mungkin masih mengingat ketika untuk terakhir kali melihat wajah sang Mama di rumah sakit. Pak Adhi memang tidak mengizinkan Senja membawa Arta melihat jenazah Dea ketika sudah berada di rumah.
"Alta lindu Mama," raung Arta yang tangisnya pecah saat itu juga.
Senja ingin berusaha menenangkan. Namun sayang, matanya itu tak bisa diajak bekerjasama. Dia ikut menangis dan memeluk Arta erat. 'Apa sebaiknya aku meminta Bumi untuk mengajak Arta ke pemakaman ya? Bagaimana pun, Arta harus tahu,' gumam Senja dalam hati.
"Iya, iya. Tante juga rindu Mama. Nanti kita kunjungi Mama sama-sama ya," jawab Senja berjanji dalam hati.
Untuk ukuran bocah tiga tahun, Arta adalah seorang anak yang dewasa. Sudah hampir tiga minggu ini dia tidak rewel. Seakan paham akan situasi yang terjadi.
Namun, ikatan batin antara anak dan ibu pasti terjalin kuat. Apalagi ketika Arta belum mengetahui jika sang Mama sebenarnya telah meninggal dunia. Pasti, dalam hati selalu terbersit tanya kemana perginya sang Mama.
"Nanti Tante akan katakan pada Papa untuk mengajak kita bertemu Mama," gumam Senja lagi dan Arta seketika melepaskan pelukan.
"Janji?" ucapnya sambil memberikan jari kelingking untuk membuat janji.
Senja pun membalas dengan menautkan jari pada kelingking Arta. "Janji," jawabnya sambil menghapus air mata menggunakan satu tangannya yang lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Maaf sekali ya... ...
...updatenya terlalu malam. ...
...seharian ini aku sibuk banget🥲...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Atjeh ponsel
up dong thor
2023-07-11
1
Tock
Up lg kak, buat bumi bucin sebucinbucinnya
2023-07-11
0