Dua bulan berlalu. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Semenjak tahu jika Deandra sudah meninggal, saat itu juga Arta mulai memanggil Senja dengan sebutan 'bunda' dan bukan lagi 'tante'. Jelas Senja bahagia. Dengan begitu, Senja berpikir jika Arta nyaman hidup bersamanya.
Berbeda hubungannya dengan Bumi. Pria itu setiap harinya selalu menghindari kontak mata maupun berbicara banyak dengan Senja. Hal itu cukup menganggu pikiran Senja. Dia lebih suka Bumi yang berbicara ketus dan pedas daripada jadi sosok yang pendiam dan dengan tatapan datarnya.
Namun suasana sore itu terasa berbeda ketika Naura, adik dari Deandra datang. Bumi menyambutnya dengan senyuman, hal yang sangat jarang sebenarnya.
"Hai Arta," sapa Naura sambil mencubit pelan pipi sang Keponakan, tetapi segera ditepis kencang oleh bocah tiga tahun itu.
"Jangan centuh Alta," tolak Arta dengan bibir yang mengerucut kesal.
Begitu jelas Senja melihat Naura memutar bola matanya jengah, membuat keningnya berkerut heran. 'Apa sebenarnya tujuan dia kesini? Mau menemui keponakannya bukan? Lalu, mengapa harus bersikap demikian?' batin Senja tak habis pikir.
"Mas. Mungkin Arta belum terbiasa ketika ada aku. Aku yakin, sebentar lagi Arta akan luluh kok seperti sebelum-sebelumnya," ucap Naura pada Bumi dengan percaya dirinya memuji diri sendiri. Padahal, memang dia saja yang tidak mau berusaha dekat dengan sang Keponakan.
Senja tahu jika selama ini Naura tidak pernah peduli dengan Arta. Hal itu disampaikan Deandra sendiri setiap kali bercerita tentang keluarga ayahnya.
"Arta? Salim dulu sama kakek," pinta Senja agar Arta mau menyalami Pak Theo, ayah kandung Deandra.
Sebagai seorang kakek, Senja merasa heran mengapa Pak Theo hampir tak pernah mengunjungi Arta. Dan semua itu terjawab ketika Deandra bercerita jika sang Ayah takut pada istrinya yang tidak lain adalah ibu tiri Dea. Dan entah dengan tujuan apa beliau datang bersama putri kesayangannya ke rumah besar milik Deandra dan Bumi.
Arta menurut walau dengan bibir yang masih mengerucut. Kemudian, bocah itu segera berlari dan masuk ke kamarnya dengan menutup pintu hingga terdengar suara terkunci dari dalam. "Maafkan Arta ya, Om," ucap Senja merasa bersalah.
Pak Theo tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Tidak apa-apa. Wajar. Mungkin Arta merasa asing ketika ada saya dan Naura." Beliau tampak memaklumi sikap Arta.
"Ayo, Om. Duduk dulu," pinta Senja mempersilahkan keduanya untuk duduk di sofa. Bumi pun tersenyum tipis juga ikut mempersilahkan.
"Maaf, Bumi. Sebenarnya, maksud kedatangan Ayah kesini untuk meminta tolong kepadamu. Itu pun jika kamu bersedia," ucap Pak Theo langsung pada intinya setelah minuman dan beberapa camilan terhidang.
"Meminta tolong apa, Yah?" tanya Bumi tidak sedingin biasanya. Walau Bumi sudah mengetahui jika Ayah dari mantan istrinya itu kurang bisa bersikap adil, tetap saja Bumi harus menghormati beliau sebagai orang tua.
"Jika diizinkan, bolehkah untuk beberapa bulan ini Naura menumpang di rumah kamu? Kampusnya kan dekat dari sini. Masa sewa kost yang dia tinggali hampir habis waktunya. Sedangkan satu bulan lagi dia sudah mulai menulis skripsi. Uang Ayah belum cukup." Pak Theo mengeluh, dengan raut wajahnya yang memelas.
Jika dimintai pendapat, Senja dengan sigap akan menolak. Pasalnya, dia mulai teringat akan perkataan Naura sewaktu dirinya menikah. Katanya, Naura yang lebih pantas menjadi ibu pengganti untuk Arta daripada Senja. Dia hanya bisa pasrah dengan keputusan Bumi selanjutnya.
"Maaf, Yah. Untuk soal itu aku tidak bisa bantu. Harusnya Ayah tahu jika saat ini Deandra sudah tidak ada. Walaupun Senja sahabat Dea, status hubungannya dengan Naura jelas berbeda. Mungkin jika Dea masih hidup, aku boleh-boleh saja, karena hari ini tidak akan ada Senja. Maaf, Yah. Aku tidak bisa." Ucapan Bumi itu cukup membuat dada Senja merasa nyeri.
Jelas dari ucapan itu tidak ada sedikitpun pengakuan dari Bumi jika Senja adalah istrinya. Bumi tidak mau mengakui itu. Harusnya, Senja tidak boleh berharap banyak karena ujung-ujungnya akan kecewa. Bumi tidak pernah mencintai dirinya.
"Ya sudah. Kalau begitu bantu Ayah untuk menyewa kost. Bagaimana? Ayah mohon. Bukankah hartamu harta Deandra juga?" Pak Theo seakan sudah putus urat malunya hanya demi bisa mendapatkan uang.
"Tidak perlu bawa-bawa Deandra. Dia sudah tenang di alam sana. Baiklah. Aku akan bayarkan uang kost yang akan Naura sewa. Nanti tinggal hubungi saja," putus Bumi pada akhirnya, tanpa meminta persetujuan Senja.
Helaan napas kasar pun terdengar dari Senja. Dia cukup tahu sifat dari Naura. Setelah Bumi mengatakan tinggal menghubungi dirinya, sudah dipastikan Naura akan memanfaatkan hal tersebut Tinggal lihat saja tanggal mainnya.
"Permisi, Om. Aku ke dalam sebentar," pamit Senja sudah tidak tahan lagi. Dia berjalan menuju kamarnya untuk menenangkan diri.
Sesampainya di dalam, dia memilih duduk di sofa sambil melihat ke arah luar dimana jalanan perumahan terlihat tampak asri. Di sisi jalan kanan dan kiri jalan raya terdapat tanaman pucuk merah yang sudah terpangkas rapi.
Senja menghela napas lagi. Walau sekuat tenaga berusaha tegar, tetap saja rasanya sesakit itu. Tanpa terasa, titik air mulai bergumul di pelupuk mata hingga bendungan itu sudah tak mampu menampung banyaknya air yang tertampung.
Air mata itu jatuh bagai sebuah hujan deras yang membasahi pipi. Menimbulkan isakan sesenggukan yang begitu menyesakkan dada. "Apa sih, yang aku harapkan? Bukankah Bumi sudah pernah mengatakan jika aku akan menderita hidup bersamanya? Dan sampai detik ini, dia sudah berhasil," racau nya dengan memegangi dada yang terasa remuk redam.
Dia pikir, bisa hidup dengan hanya mencintai dalam hati, sendirian. Nyatanya, saat ini dia butuh sebuah balasan. Setidaknya, keberadaannya sedikit dihargai.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan di depan kamarnya, membuat Senja menghentikan tangis. Dia terdiam untuk mendengar siapa sosok yang berdiri di depan sana.
"Senja!" panggil suara yang membuat jantung Senja seperti akan mencelos. Bolehkah Senja berpikir jika Bumi berniat untuk memberikan penjelasan? Baiklah. Senja akan berikan kesempatan jika hal itu sampai terjadi.
Dengan mata memerah dan sembab, Senja berjalan membukakan pintu. Dia tidak membuka pintu sepenuhnya dan memilih menampakkan sebagian tubuh tanpa menampilkan bagian wajahnya.
"Kamu kenapa?" tanya Bumi membuat Senja seperti ingin menangis lagi.
'Pakai nanya lagi!' ketus Senja dalam hati.
"Tidak apa-apa," jawabnya cuek.
"Oh." Jawaban itu membuat Senja bertambah kesal, walau dalam hati berusaha menahan.
"Mau apa?" tanya Senja ketus.
Tanpa diduga, Bumi mendorong pintu agar terbuka sempurna hingga membuat tubuh Senja hampir saja terjungkal. Beruntung, Bumi segera menarik lengan Senja hingga perempuan itu bisa berdiri lagi dengan tegap.
"Kamu nangis?" tanya Bumi sambil menelisik wajah Senja.
Dengan cepat Senja membuang muka. "Kata siapa?"
"Iya. Kamu nangis. Kenapa? Kamu marah?" Bumi tampak khawatir.
"Kenapa aku harus marah? Memangnya, aku siapa? Hanya istri pengganti kan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
LANY SUSANA
next
2023-07-15
0