Bab 13. Telpesona

Pagi harinya, Senja sudah memakaikan Arta baju terbaiknya, yaitu setelan jas yang sama dengan milik Bumi. Karena Senja tidak memiliki pakaian yang sama, dia memilih mengenakan dress dengan warna sama.

Jenis off shoulder dress menjadi pilihan Senja saat ini. Dia ingin tampil cantik dan tidak ingin membuat Bumi malu karena memiliki istri seperti dirinya. Ini penampilan 'perdana' nya setelah sekian lama tidak pernah diajak pergi ke kondangan.

"Bunda!" panggil Arta bersamaan dengan pintu kamarnya yang terbuka.

"Dah celecai belum?" tanyanya lagi yang membuat Senja tersenyum sambil beranjak dari kursi rias yang barusan menjadi tempatnya duduk.

"Sudah. Ayo, kita berangkat," ajak Senja sambil melangkah lalu menyambar clutch yang sudah dipersiapkan. Sedangkan satu tangannya yang menganggur, Senja gunakan untuk menuntun Arta.

"Bunda cantik. Alta cuka," puji bocah laki-laki itu dengan sorot mata penuh kekaguman.

Senja terkekeh pelan, merasa tersanjung mendapat pujian dari putranya. "Terimakasih, Sayang. Kamu juga tampan sekali," jawab Senja sambil mencubit pelan pipi Arta.

"Papa dimana?" tanya Senja ketika tidak melihat Bumi berada di dalam rumah. Namun, pintu di depan sana sudah terbuka. Mungkin Bumi sudah keluar dan menunggu di mobil.

"Di mobil, Bun." Setelah menjawab demikian, Arta berjalan lebih dulu menuju halaman depan. Senja pun menyusul, setelah sebelumnya mengambil salah satu heels di rak sepatu.

Ketika keluar rumah, angin seperti menyambutnya dengan menyibakkan rambut hingga Senja takut kembali berantakan. Dia mengernyit dan segera masuk ke mobil, mengabaikan jika saat ini Bumi masih terpaku di tempat dengan mata yang tak lepas menatap dirinya.

"Bumi?" sentak Senja ketika menoleh dan mendapati Bumi justru membeku di tempat.

"Ya?" Bumi justru tanpa berdosa menjawab iya.

"Belum mau jalan ya?" tanya Senja dengan satu alisnya terangkat.

Arta yang berada di jok belakang sudah tertawa renyah melihat tingkah sang Papa. "Papa itu telpesona pada Bunda," celetuknya yang membuat Bumi seketika menoleh ke belakang dan melotot tajam hingga bola matanya hampir keluar.

"Mana ada? Papa hanya heran. Buat apa desainer menciptakan pakaian yang lengannya begitu. Biar apa? Biar kelihatan bahu mulusnya?" cecarnya tampak menghela napas pelan.

Senja refleks menatap dirinya. Tidak ada yang salah. Biasanya, Senja juga sering mengenakan dress yang semacam ini di beberapa kesempatan. Mengapa hari ini Bumi tampak tak setuju?

"Memangnya kenapa?" tanya Senja heran.

"Ya tidak apa-apa sih. Lain kali, jangan pakai dress model itu lagi. Pilihlah yang tertutup. Kalau perlu dari atas sampai bawah," jawab Bumi setelah itu berdehem pelan untuk membasahi tenggorokan.

Tanpa berkata-kata lagi, Bumi segera melakukan mobil menuju gedung acara, mengabaikan jika kepala Senja saat ini begitu penuh akan pertanyaan. Namun, daripada pusing memikirkan, Senja memutuskan menyalakan musik.

"Boleh menyalakan musik kan, Bum?" tanya Senja meminta izin.

"Hm."

Setelah mendapat jawaban berupa gumaman singkat itu, Senja mulai mengotak-atik layar begitu juga ponselnya. Lagu dengan judul Komang mengalun merdu, membuat Bumi juga tampak rileks ketika mendengarnya.

Sesekali Senja bernyanyi pada bagian reff, bagian yang paling Senja sukai. Sebab kau terlalu indah, dari sekedar kata. Dunia berhenti sejenak menikmati indahmu.

"Berisik! Jangan rusak lagu dengan suara kamu," ketus Bumi yang membuat bibir Senja seketika terkatup rapat. Senja jadi bingung dengan sikap Bumi yang suka sekali berubah-ubah. Sebentar lembut, sebentar kasar. Sebentar ramah, sebentar ketus.

Seingat Senja, Bumi yang dulu tidaklah begitu. "Salah terus aku tuh, di mata kamu. Diam saja salah apalagi bersuara," kesal Senja lalu membuang pandangan ke luar jendela.

Sedangkan Bumi, dia kini tidak bisa berkata apapun. Semenjak Senja naik ke mobil dan duduk di sampingnya, dia akui jantungnya mengalami degupan yang lebih kencang dari biasanya.

Jujur. Senja memang cantik. Apa lagi ketika melihat bahu putih Senja yang terbuka, membuat sisi kelaki-lakian Bumi tertantang. Bumi bahkan sampai harus menelan saliva beberapa kali untuk menghilangkan rasa yang tidak mengenakkan itu.

Sekarang, Bumi melihat Senja yang seenaknya bernyanyi dan tertawa, membuat kecantikannya semakin meningkat pesat. Bumi tidak tahan melihat hal tersebut hingga memilih berucap ketus. Mungkin itu cara jitu untuk membuat Senja tak banyak tingkah, yang akan membuat jantungnya semakin sulit dikendalikan.

Hingga tiba di sebuah hotel berbintang, keduanya masih setia dalam diam. Namun, suara Arta menyadarkan keduanya jika ada seorang anak kecil yang butuh diperhatikan. "Bund!" panggil Arta yang membuat Senja menoleh.

"Cini! Alta mau bilang cecuatu," pintanya yang membuat Senja mendekatkan telinga ke belakang, dimana Arta masih berada di tempatnya.

Senja tersenyum ketika mendengar bisikan dari Arta. Bocah laki-laki itu mengatakan jika papanya mungkin malu ingin memuji Senja karena hari ini begitu cantik. Jadilah yang keluar dari mulutnya adalah kalimat ketus. Gengsi sang Papa katanya sangat besar.

"Oke. Bunda paham sekarang," ucap Senja ingin kembali ke posisi awal. Namun, dia justru terpaku ketika Bumi seperti sedang menguping pembicaraan. Namun, bukan itu yang membuat tubuh Senja saat ini menjadi kaku.

Melainkan karena Senja tidak sengaja mencium pipi Bumi yang kebetulan jaraknya sangat dekat. Senja bersumpah jika itu bukanlah salahnya. Salah Bumi yang sudah menguping dan tidak menjaga jarak.

"Bukan salahku. Kamu yang berniat menguping tanpa menjaga jarak," ucap Senja lebih dulu ketika melihat bibir Bumi terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu. Bibir itu kini kembali tertutup.

"Cie. Bunda cium Papa." Sorakan itu menyadarkan keduanya hingga kini saling menjauhkan wajah.

"Oh, kamu jangan salah paham. Itu bukan cium, Sayang. Itu hanya menempel," jelas Senja yang mungkin kurang dipercaya oleh Arta.

"Ayo turun. Kita bisa terlambat kalau berlama-lama di mobil," ajak Bumi sudah tidak tahan untuk menghirup udara dalam-dalam. Ciuman itu terlalu tiba-tiba, tetapi kembali berhasil membuat jantungnya berulah.

Dia sampai memegangi pipinya, merasa hal tadi hanyalah mimpi karena Senja tidak sengaja melakukannya.

Bumi berniat untuk berjalan lebih dulu meninggalkan keduanya. Namun, ketika sadar jika seluruh pasang mata sedang memperhatikan Senja yang turun dari mobil, apalagi kebanyakan dari seorang laki-laki, Bumi memutuskan untuk menunggu.

Ketika Senja sudah turun dengan Arta yang digandeng, Bumi segera melingkarkan lengan melewati pinggang Senja. Sehingga, dirinya kini tampak posesif pada sang Istri.

"Bumi? Kamu sehat kan? Sikap kamu aneh akhir-akhir ini," celetuk Senja sama terkejutnya ketika pinggangnya tiba-tiba ditarik dan dipeluk posesif seperti itu oleh Bumi.

Jujur, dia bahagia karena bisa dekat dengan Bumi. Hanya saja, itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya. "Kenapa memang? Biasa saja. Tidak ada yang aneh," jawab Bumi acuh.

"Bagimu mungkin biasa saja. Namun bagiku, sebentar lagi aku bisa saja pingsan."

Terpopuler

Comments

LANY SUSANA

LANY SUSANA

next...up banyakin donk

2023-07-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!