Bumi mengernyitkan kening saat merasakan sinar matahari menerobos masuk melewati celah gorden. Tubuhnya terbangun salah kondisi yang lebih segar dari biasanya. Seperti sudah tidur selama satu minggu.
Ketika matanya terbuka sempurna, hal yang pertama kali dia lihat adalah sosok perempuan cantik yang semalam selalu menggaungkan namanya.
Bumi memiringkan tubuh dan menyangga kepala untuk bisa menatap wajah yang kini masih tertidur pulas. Bumi bisa melihat jika Senja itu memang begitu cantik. Entah mengapa Bumi baru menyadari itu.
Bulu mata yang lentik, alis yang rapi tanpa perlu digambar ulang atau disulam, hidung mancung standar orang Indonesia, dan yang terakhir adalah bentuk bibir yang begitu ... seksi.
Bumi menelan saliva ketika melihat bibir Senja sedikit terbuka. Damn it! Dia mengumpat dalam hati saat kilasan semalam lewat di kepala. Bagaimana Senja bermain di atas tubuhnya, sungguh membuat Bumi gila.
"Sudah bangun?" tanya Senja dengan kelopak mata yang masih tertutup. Bumi terperanjat. Takut pikiran kotornya mudah terbaca oleh Senja. Beruntung, Bumi pandai menguasai diri kembali.
"Sudah. Tidurlah lagi jika masih kelelahan," ucap Bumi lalu membawa Senja dalam dekapan.
Senja terkekeh dan mendongak. Posisinya yang sekarang memudahkannya untuk menggapai dagu yang kini tampak ditumbuhi bulu-bulu halus. Dia mengecupnya singkat dan menyembunyikan wajah di ceruk leher sang Suami. Takut rona merah di pipinya akan ketahuan.
Tawa kecil itu menular pada Bumi hingga Senja merasakan dekapan lengan Bumi semakin mengerat. "Kita harus segera bangun, Bumi. Arta adalah tanggungjawab kita. Semalam saja dia menginap dan harus Mama uang merawat," jelas Senja yang segera mendapat anggukan dari Bumi. Namun, laki-laki itu tak kunjung melepaskan Senja.
"Mau mandi bersama tidak?" tawarnya yang membuat Senja seketika menjauh dan menatap kesal ke arah Bumi.
"Tidak untuk hari ini. Aku akan mandi lebih dulu," jawabnya lalu segera menggulung diri dengan selimut untuk menutupi tubuhnya yang tak berbusana.
Tawa Bumi meledak ketika melihat Senja berlari terbirit-birit memasuki kamar mandi. Dia masih menatap pintu yang sudah tertutup itu dengan senyum mengembang di bibirnya. Semalam, Bumi masih ingat jelas jika Senja selalu memanggil namanya.
Ada rasa bangga tersendiri ketika melihat Senja menikmati permainannya. Lalu, ketika melihat raut wajah Senja yang begitu mendamba di bawah kungkungan nya, seketika Bumi menghentikan pikiran itu dalam kepala. Lama-lama Bumi bisa gila jika kejadian semalam terus terngiang-ngiang.
...----------------...
Tepat pukul sembilan pagi, mobil yang membawa Senja tiba di kediaman Bu Sonia dan Pak Adhi. Senja turun lebih dulu meninggalkan Bumi yang harus membenarkan posisi parkir mobilnya.
"Apa kabar, Ma?" tanya Senja ketika memasuki rumah dan langsung bertemu tatap dengan Bu Sonia.
Bukannya menjawab, Bu Sonia justru menelisik penampilan Senja dengan satu alisnya yang terangkat. Senja mengerjap ketika menangkap senyum ibu mertuanya itu penuh arti.
"Kenapa, Ma? Apa ada yang salah dari penampilan ku?" tanya Senja pada akhirnya tidak tahan sendiri.
"Tidak ada. Mama hanya ingin memberitahu jika leher kamu memerah tuh. Mau Mama bantu pakai foundation tidak? Biar bisa tersamarkan," tawar Bu Sonia yang seketika membuat mata Senja membelalak lebar.
Refleks Senja menyentuh lehernya sendiri. "Benarkah, Ma?" Dia begitu malu karena tidak mengetahui jika ada jejak merah yang ditinggalkan Bumi semalam. Jika tahu, sudah sejak berangkat dia akan menggunakan foundation.
Tiba-tiba saja Senja merasakan sebuah syal melingkupi lehernya, diikuti suara Bumi yang membuat Senja menoleh cepat. "Tidak perlu, Ma. Aku sudah membawakan Senja sebuah syal."
Mendengar hal itu, Bu Sonia tertawa. "Akhirnya, sebentar lagi Mama akan punya cucu baru," ucap beliau begitu bahagia.
Senja menggaruk tengkuknya yang tidak gatal akibat salah tingkah yang kini dirasakan. Dia melirik Bumi yang berdiri di sampingnya. Yang membuat Senja heran adalah, ketika melihat sikap Bumi tampak biasa saja, seperti tidak terjadi apapun.
"Bunda!" pekik suara dari arah samping dan Arta muncul dari sana. Sejenak Senja menghela napas. Hidupnya seperti diselamatkan oleh Arta.
"Hai, Sayang. Bagaimana? Apakah tadi malam kamu tidur dengan nyenyak?" Senja berjongkok di hadapan Arta dan mengelus pipi gembulnya penuh kelembutan.
"Nyenyak. Oma dan Opa temani Alta tidul. Selu!" girang Arta begitu menggebu-gebu.
Bumi ikut mendekat dan tersenyum. "Sini, gendong Papa dulu," ucapnya yang membuat Senja tersenyum bahagia.
"Kalian sudah sarapan belum?" Bu Sonia bertanya sambil berjalan mendekati Senja.
"Belum, Ma. Aku berencana mengajak Senja dan Arta untuk makan di luar. Mama mau ikut?" tawar Bumi yang segera mendapat gelengan kepala dari Bu Sonia.
"Mama dan Papa sudah sarapan."
"Oh iya. Papa kemana memang, Ma? Bukannya hari minggu biasanya di rumah?" tanya Bumi lagi yang kini berjalan menuju dapur.
"Papa lagi ke rumah depan kompleks. Katanya, mau ajak main badminton pekan depan." Bu Sonia menyusul sang Putra begitu juga Senja yang memilih duduk di kursi bar mengamati bagaimana Bumi membuka lemari pendingin dengan Arta berada di gendongannya.
"Ini, tidak ada apel atau pir, Ma?" tanya Bumi sambil memeriksa isi kulkas.
"Mama lupa beli kemarin."
"Kalau begitu, nanti Bumi sekalian beli untuk Mama. Senja mau belanja bulanan juga." Mendengar itu, mata Senja mengerjap pelan. Bukankah tadi tidak ada pembicaraan soal belanja bulanan? Dan selama pernikahan, Bumi tidak pernah membawanya berbelanja.
"Tidak perlu. Nanti, Mama akan pergi beli sendiri. Kalian habiskan lah waktu bersama dengan baik," tolak Bu Sonia lembut.
"Tidak apa-apa, Ma. Sekalian ini kok," jawab Senja tidak menjadikan hal tersebut menjadi sebuah masalah.
Karena hal itu, tibalah Senja di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota. Mata Senja menatap sekeliling. Selama hidup, mungkin bisa dihitung berapa kali Senja mendatangi sebuah mall. Itupun bukan mall yang saat ini dia kunjungi.
"Kenapa?" tanya Bumi ketika menangkap raut bingung pada Senja.
"Tidak ada," jawab Senja sambil tersenyum meyakinkan.
Jarang mengunjungi mall bukan berarti Senja tidak tahu bagaimana menggunakan lift atau eskalator. Dia bisa. Hanya saja, dia masih suka tercengang bila melihat bandrol harga yang terkadang tidak masuk di akal.
Ketiganya memasuki gedung tinggi itu dengan berjalan beriringan. Hal yang pertama kali mereka lakukan adalah pergi memesan makanan lebih dulu lalu menyantapnya. Setelah itu, baru Bumi membawa Senja dan Arta menuju supermarket yang berada di dalam mall tersebut.
"Tolong pilihkan yang masih bagus ya, Nja. Pilih juga buah untuk stok di rumah kita," pinta Bumi berjalan ke stan buah menuntun Arta.
Diam-diam Senja mengulum senyum ketika mendengar kata 'kita'. Itu berarti, keberadaanya sudah mulai dianggap oleh Bumi. "Baiklah."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
susi 2020
🥰🥰🥰
2023-09-16
0
susi 2020
😘😘
2023-09-16
0
Tri Handayani
senang'nya bumi udh mw menerima senja...next thorrrr
2023-07-25
0