Bab 17. Selesaikan bersama

Sepulang berbelanja, Senja memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Setelah badannya lebih segar, Senja memutuskan menata seluruh barang belanjaan. Bi Tijah sedang pamit menemui kerabat yang tinggal tidak jauh dari perumahan yang Senja tinggali. Sehingga, Senja memutuskan untuk merapikan nya sendiri.

Buah yang dia beli sudah tertata rapi. Kini tinggal menata berbagai camilan serta mie dan kopi instan. Karena letaknya berada di kabinet atas, Senja sampai kesusahan untuk menggapai tempat paling ujung. Ingin mengambil kursi pun, rasanya begitu malas.

Hingga Senja merasakan sebuah tangan yang melewati samping kepalanya. Hal itu membuat Senja terkejut hingga menoleh cepat ke samping kanan dan menemukan wajah Bumi begitu dekat.

"Biar aku bantu," ucap Bumi lalu mengambil alih mie instan yang sudah berada digenggaman Senja. Dengan polos, Senja mengangguk dan masih setia menatap wajah tampan di sampingnya.

Susah payah Senja harus mengatur debaran jantungnya setiap kali berada dekat dan mencium wangi parfum yang digunakan Bumi.

"Kenapa?" tanya Bumi ketika mendapati Senja hanya terdiam.

"Tidak ada." Senja menggelengkan kepala dan segera memalingkan muka.

Terdengar Bumi yang terkekeh pelan. Pria itu kembali mengambil bungkus mie untuk dimasukkan ke kabinet hingga dus itu kosong. "Sudah selesai," ucap Bumi lalu segera memeluk Senja dari belakang.

Bodohnya Senja yang masih bertahan di posisi yang sama, bukannya menyingkir. Bulu-bulu di tengkuk Senja seperti meremang ketika merasakan hembusan napas Bumi menerus area kulitnya.

"Bumi? Aku belum selesai merapikan barang," ucap Senja secara halus meminta dilepaskan. Namun, tubuh Senja bergerak berlawanan dan justru menyentuh punggung tangan Bumi yang melingkar di perutnya.

Sekali lagi Bumi terkekeh. "Sepertinya, kamu harus mulai mengganti nama panggilan untukku. Kita itu suami istri." Bumi memberikan kode yang langsung di mengerti oleh Senja.

Bibirnya mengulum senyum. "Mau di panggil apa?" tanya Senja menunduk karena pipinya kini terasa memanas.

"Mas?" tawar Bumi dan Senja segera mengangguk menyetujui.

"Baiklah, Mas Bumi," ledek Senja yang kemudian mendapat gelitikan di perutnya dari Bumi. Hal itu membuat Senja tertawa dan berniat membalasnya pada Bumi. Namun, tangan Bumi lebih lihai dalam hal itu.

Tawa keduanya menggelegar di ruang dapur. Beberapa menit yang berlalu, penuh dengan tawa Senja dan Bumi. Hingga keduanya sama-sama terdiam dengan posisi berhadapan dan saling memeluk.

Kedua lengan Bumi berada di lengan Senja, sedangkan kedua lengan Senja bertengger di leher Bumi. "Kamu cantik," puji Bumi dengan tatapan mata yang begitu lembut dan dalam.

Senja tersenyum malu-malu dan berniat menunduk. Namun, dengan sigap Bumi menahan dagunya hingga wajahnya kini mendongak menghadap Bumi. "Jangan menunduk."

Senja menelan saliva ketika perlahan-lahan melihat Bumi mendekatkan wajah. Hal yang Senja bayangkan benar terjadi. Sesaat kemudian dia merasakan bibirnya mendapat sebuah kecupan singkat, tetapi terasa begitu membara.

Kecupan itu berubah menjadi sesapan yang memabukkan hingga Senja bergerak untuk membalas ciuman itu. Beberapa menit berlalu, hanya terdengar suara decapan bibir yang beradu.

"Mas." Senja seketika kehilangan kewarasan saat telapak tangan Bumi menyelusup masuk melewati bawah kaos yang dikenakannya. Keduanya tak lagi berciuman karena bibir Bumi sibuk mengakses lehernya.

De sa han lolos begitu saja dari bibir Senja saat merasakan sentuhan di area dada. Sentuhan itu berhasil membuat Senja gila. Sejenak Bumi menjauhkan tubuh dan mengangkat Senja untuk duduk di kabinet dapur.

Paha Senja terbuka lebar dan Bumi mengisi dengan kedua pahanya. Senja menatap Bumi yang tatap matanya tampak sayu dan berkabut gairah. Belum sempat Senja menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, Bumi kembali mencium daun telinga Senja dan menggigitnya pelan.

"Mas," panggil Senja ingin permainan itu segera berhenti. Bagaimana pun, tempatnya yang sekarang mudah dilihat oleh Arta atau pengasuh dari Arta.

Namun, Bumi seperti enggan untuk melepaskan diri. Justru, laki-laki itu semakin buas dan berniat membuka kaos oversize yang dikenakan Senja. Belum sempat niatnya terkabul, suara Arta terdengar menginterupsi. Membuat gairah yang sudah berada di ubun-ubun, seketika melebur.

"Papa, Bunda, cedang apa? Kok mau ganti baju di dapul?"

Refleks Bumi menjauh dan kesadarannya seperti dikembalikan, setelah sebelumnya seperti melayang-layang. Bumi terkekeh menatap Senja yang tampak panik.

"Tidak. Bunda tadi merasa gatal. Jadi, Papa berniat membantu menggaruknya," jawab Bumi yang segera mendapat oh panjang dari Arta.

"Ya cudah. Alta mau ke kamal dulu ya, Pa, Bun," pamit Arta yang segera pergi dari sana.

Senja menghela napas lega dan berniat turun dari tempat duduknya sekarang. Namun, dengan sigap Bumi membawa Senja dalam gendongan ala koala. Pekikan tertahan pun terdengar. "Mas! Aku belum selesai!" protes Senja ketika tubuhnya terasa melayang dan Bumi membawanya ke kamar tamu yang berada di lantai bawah.

"Aku juga belum selesai. Sebaiknya kita selesaikan bersama-sama," jawab Bumi kemudian tersenyum smirk yang membuat Senja hanya bisa pasrah. Lagi pula, dia juga menikmati setiap sentuhan yang Bumi berikan.

................

Entah sudah pukul berapa ketika Senja terbangun dan tidak mendapati Bumi di tempat sebelahnya. Tubuhnya masih begitu lelah akibat digempur habis-habisan oleh Bumi.

Dengan sisa tenaga yang masih ada, Senja memunguti pakaian yang berceceran di lantai, lalu kembali memakainya. Dia sempatkan untuk mencuci muka lalu keluar demi mencari keberadaan sang Suami.

Ketika tiba di ruang tengah, dia melirik jam yang bertengger di dinding, sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ketika kepalanya menoleh, Senja melihat pintu ruang kerja Bumi terbuka. "Apa Bumi di sana ya?" gumam Senja segera berjalan mendekat.

"Bum— Mas Bumi?" panggil Senja lirih sambil kepalanya melongok ke dalam.

Ingatan Senja seketika teringat pada dinding ruangan tersebut yang dipenuhi foto Bumi dan Deandra. Dia membuka pintu lebih lebar lagi. "Mas Bumi?" panggil Senja lagi. Namun, sosok Bumi tidak ada di ruangan.

Hal itu Senja gunakan untuk melihat lebih teliti lagi ruangan yang sudah dia kali ini Senja kunjungi. Pertama kali datang, dia tidak terlalu mengamati. Kini, waktunya Senja melihat lebih jelas lagi.

Ketika pandangannya menyapu, matanya tertuju pada sebuah kotak coklat berukuran sedang. Firasat Senja kurang enak ketika membaca huruf yang tertera di atasnya.

'DEANDRA SAYANG'.

"Apa aku lancang bila berniat membuka kotak ini?" Jantung Senja bagai dentuman bom yang meletup-letup. Dia takut. Namun, dia juga penasaran. Perlahan, Senja membuka pengait hingga terdengar bunyi 'klik'.

Sebelum membukanya, Senja menarik dan menghembuskan napasnya terlebih dahulu. Pelan-pelan Senja membukanya. Namun ketika kotak itu telah terbuka sempurna, sebuah suara mengagetkan dirinya.

"Lancang sekali kamu!" Kotak itu tertutup kembali dengan kasar dan Senja menatap sosok laki-laki yang kini berdiri di ambang pintu dengan wajah datar menatap dirinya.

"Bu-bukan begitu. A-a-aku hanya—"

"Tidak seharusnya kamu masuk ke ruang kerjaku. Ini ruangan ku. Tidak boleh ada seorang pun yang masuk," ucap Bumi segera mengambil kotak itu dan menatap Senja tajam.

"Jangan ngelunjak. Aku mulai dekat denganmu, bukan berarti kamu bisa bertindak sesuka hati."

Terpopuler

Comments

Juan Sastra

Juan Sastra

hadeeeh,,, sadar senja kamu mungkin hanya pelampiasan hasrat jgn terlalu naif

2025-02-07

0

Annie Soe..

Annie Soe..

Bumi, kamu kasar & galak banget siy,
Awas klo nti bucin ke Senja, tunggu aja tanggal mainnya..

2024-10-26

0

susi 2020

susi 2020

😔😔

2023-09-16

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!