Senja mengerjapkan mata beberapa kali untuk memastikan jika penglihatannya tidak salah. Bahkan, ungkapan kekesalan Bumi sudah tak didengar lagi, kalah dengan matanya yang melihat Bumi malam itu hanya mengenakan kaos dalam.
Namun, bukan itu yang menjadi fokusnya kali ini. Melainkan karena sebuah tatto cukup besar yang bertuliskan 'Deandra', dihias oleh bunga Seruni berwarna putih, di lengan Bumi.
Senja tersenyum getir. Menyadari jika alasan Bumi selama ini selalu memakai baju berlengan panjang karena untuk menutupi tatto tersebut. "Maaf. Tidak seharusnya aku mencoba mendobrak pintu yang butuh banyak kunci untuk bisa membukanya," jawab Senja menunduk dalam.
Dia merasa, pasokan oksigen yang masuk melalui hidung menuju paru-parunya menipis. Sampai dia merasakan sesak yang begitu menyakitkan.
Bumi yang sadar kemana arah mata Senja tertuju, seketika mundur beberapa langkah. "Silahkan keluar. Aku tidak ingin diganggu dulu," pinta Bumi masih mempertahankan nada datarnya.
Senja mengangguk patuh. "Aku akan pergi."
Mengalah. Senja memutuskan pergi ke kamarnya. Dia ingin menenangkan diri atas kejutan berulangkali yang Bumi sembunyikan. Senja berpikir jika selama ini dia cukup mengenal Bumi. Nyatanya, hal itu tidak benar. Masih banyak misteri yang belum Senja ketahui. Entah apa lagi. Yang pasti, Senja yakin masih ada sesuatu yang belum terungkap.
Setibanya di kamar, Senja segera membasuh diri yang baru saja disentuh oleh Bumi. Seketika Senja merasa jijik pada dirinya sendiri yang sudah begitu murah menyerahkan hal yang paling berharga.
Apa yang telah terjadi padanya saat ini, memang sudah tidak bisa di kembalikan lagi. Yang bisa Senja lakukan untuk ke depannya adalah, tidak mudah terperdaya oleh mulut manis Bumi.
Di bawah pancuran shower, Senja menangis meratapi kebodohannya. Sengaja Senja menggunakan air dingin agar otaknya bisa berpikir dengan baik dan tidak bodoh setiap hari. Mungkin membutuhkan waktu satu jam dan Senja menyudahi kegiatannya. Setelah itu, Senja pergi tidur tanpa memedulikan rambutnya yang masih basah.
Keesokan paginya, kepala Senja terasa begitu berat hingga dia memutuskan untuk berbaring saja di ranjangnya. Dia sudah tidak berminat untuk kemana-mana. Seketika dia menyesal karena tidak memperhatikan kesehatannya sendiri dengan mandi air dingin semalam.
"Bagaimana ini? Mana aku haus," keluh Senja merasa sendirian. Badannya begitu lemah seperti pakaian basah.
Di saat-saat seperti ini, air mata Senja kembali berjatuhan. Dulu ketika di panti, Ibu panti akan merawat Senja ketika sakit menyerang. Kini, setelah beranjak dewasa, semua terasa berubah dan sepi.
"De? Apa kamu lihat aku dari atas sana?" racau Senja teringat pada sahabatnya yang sudah berpulang menuju Tuhan.
"Sekuat dan sekeras apapun aku berusaha, tetap kamu pemenangnya di hati Bumi. Rasanya sulit untuk menggeser tempatmu sedikit saja," racau Senja lagi sambil memejamkan mata.
Posisinya yang telentang dengan menatap langit-langit kamar, membuat kondisi Senja terlihat begitu menyedihkan. Sejenak Senja meresapi perasaan luka di hatinya. Namun, hal itu hanya sebentar. Dia harus sehat dan lebih mencintai diri sendiri daripada orang lain.
"Aku harus sehat." Setelah berucap demikian, Senja meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Dia mencoba mencari nama yang bisa dimintai bantuan untuk memanggil dokter ke rumah.
Sialnya, hanya nama 'Mama' yang mungkin bisa Senja andalkan, yang tidak lain adalah Bu Sonia. Senja menimbang-nimbang keputusannya lebih dulu sebelum menekan ikon hijau di layar ponselnya.
"Huh! Tidak perlu. Aku pergi naik taksi saja ke rumah sakit," putus Senja pada akhirnya tidak ingin merepotkan siapapun. Dia masih ingat jelas dengan perkataan Bumi tempo hari. Dimana laki-laki itu berucap jika Senja orang yang merepotkan. Apa-apa selalu meminta bantuan Deandra.Kini, tidak akan Senja biarkan dirinya bergantung lagi pada orang lain.
Senja memaksa tubuhnya untuk bangkit lalu duduk bersandar sambil menikmati rasa nyut-nyutan di kepala. Tidak berapa lama, pintu kamarnya diketuk. Kemudian, pintu itu terbuka menampakkan Arta dengan wajah cemberut.
"Bunda napa tak macak?" tanya bocah itu sambil berjalan mendekati ranjang.
"Bunda cakit?" Arta kembali melempar pertanyaan saat baru saja menyentuh punggung tangan Senja dan merasakan hawa panas.
Senja tersenyum lalu mengacak rambut Arta gemas. "Bunda tidak apa-apa. Hanya demam biasa. Sebentar lagi pasti sembuh kok," jawab Senja lembut.
Raut wajah Arta tampak panik. Lalu, tanpa permisi bocah itu lari keluar, membuat Senja hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
Senja berpikir jika Arta belum memahami bagaimana menghadapi orang yang sedang sakit. Namun, dia sudah salah menduga. Kini, Arta kembali mendatangi kamarnya. Yang membuat Senja terkejut adalah, Arta menarik lengan Bumi untuk ikut masuk.
"Pa? Bunda cakit tuh," ucap Arta yang membuat Senja mengerjap pelan. Berbeda dengan raut wajah Bumi yang masih datar seperti tadi malam.
"Papa akan panggil dokter. Sekarang, Arta minta tolong Suster untuk menyuapi Arta ya?" titah Bumi yang segera dilakukan oleh Arta. Bocah yang usianya hampir menginjak empat tahun itu keluar dari kamar, meninggalkan Senja sendirian yang harus merasa canggung karena ada Bumi.
Senja memalingkan muka ketika melihat Bumi melangkah mendekati dirinya. Tidak berapa lama, Senja merasakan dahinya ditempel sebuah punggung tangan besar. "Kamu demam. Semalam kamu—"
"Tidak perlu mencampuri urusanku. Urus saja diri kamu sendiri," sela Senja yang kemudian terdengar helaan napas kasar dari Bumi.
"Ayo, ke dokter. Kamu harus diperiksa," ajak Bumi yang nada suaranya terdengar lembut.
"Aku tidak mau. Aku tidak apa-apa," tolak Senja berusaha mempertahankan egonya. Bukan hal yang mustahil jika setelah Senja ditolong Bumi, laki-laki itu akan menganggap dirinya orang yang merepotkan.
Bumi terdiam menatap Senja yang masih bertahan dengan argumennya. "Kenapa?" Merasa tidak tahan, Senja memutuskan bertanya. Dia tidak kuat bila di tatap sedemikian dalamnya oleh Bumi.
Bukannya menjawab, Bumi justru sibuk dengan ponsel yang berada di genggaman. Senja merutuki diri sendiri ketika berharap Bumi akan menjawab pertanyaan dari dirinya. Yang ada malah mengabaikan seperti ini.
"Kamu masih marah?" tanya Bumi tanpa ada beban sedikitpun. Seketika Senja memutar bola matanya jengah. 'Masih nanya!' Sayangnya, kata itu hanya bisa Senja ucapkan dalam hati.
"Aku minta maaf," ucap Bumi lagi seakan mudah sekali seperti membalikkan telapak tangan.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Sedari awal semua letak kesalahan hanya ada di aku," jawab Senja sarkas.
Seperti mengabaikan ucapan Senja, Bumi justru mengambil posisi duduk di sisi ranjang dengan mata yang menatap profil samping Senja lekat.
Senja yang instingnya merasa sedang ditatap, seketika menoleh hingga pandangan keduanya saling beradu. "Tidak perlu menatapku dengan raut kasihan seperti itu," ketus Senja yang seketika membuat Bumi terkekeh renyah.
"Aku sedang terpesona, bukan kasihan." Jawaban itu membuat Senja memutar bola matanya malas.
"Terus aku harus percaya gitu? Setelah apa yang terjadi semalam?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
susi 2020
😘😘
2023-09-16
0
susi 2020
😍😍
2023-09-16
0
Nanik Purnomo
up ya mana nih thor?
2023-07-29
1