Bab 11. Mempersiapkan

Kejadian sebelum Senja berada di rumah sakit, Bumi begitu khawatir dan panik kala melihat tubuh Senja terhuyung. Dia memang sedang memperhatikan Senja yang turun dari ranjang dengan kondisi wajah yang meringis.

Dengan sigap, Bumi berlari agar tubuh Senja tidak sampai menyentuh lantai dan beruntung dia berhasil. "Senja! Bangun, Nja!" pekiknya panik apalagi saat ini Senja belum mengenakan pakaian sehelai pun.

Bumi berusaha tenang dan memakaikan piyama yang semalam Senja pakai lagi. Setelah itu, dia bergegas membawa Senja ke rumah sakit dan dokter mengatakan jika kondisi Senja saat ini akibat kelelahan.

Bumi tentu tahu penyebab dari kelelahan yang Senja alami, yang tidak lain disebabkan oleh dirinya. Sungguh. Bumi menyesal dan merasa bersalah karena telah membuat Senja berada di kondisi yang sekarang.

Apalagi ketika dia menyadari jika Senja masih gadis dan belum tersentuh. Terbukti dari bercak darah yang dia temukan pada sprei yang mereka tiduri. Sejak saat itu, Bumi mulai tersadar jika semalam yang dia lihat bukanlah Dea, melainkan Senja. Efek alkohol membuat otaknya menjadi tidak waras.

Bumi berjanji tidak akan lagi minum hingga menghilangkan kesadarannya.

Kini, ketika melihat perempuan di depannya tersenyum, Bumi sedikit bisa bernapas lega. Setidaknya, kondisi Senja saat ini baik-baik saja.

"Bumi?" panggil Senja ketika melihat Bumi hanya diam sambil memandangi dirinya dengan tatapan dalam. Sore itu, di rumah sakit, Senja berkata pada Bumi jika dia merasa bosan seharian ini berada di ruangan. Apalagi, Arta yang masih dikategorikan anak kecil, hingga dilarang datang dan tidak bisa menjadi pelipur laranya.

Jadilah Senja dibawa oleh Bumi untuk menikmati udara sore di sebuah taman, masih di area rumah sakit. "Hm," jawab Bumi hanya berupa gumaman.

"Kenapa?" tanya Senja mulai heran.

"Masih memikirkan Dea?" tanya Senja lagi ketika Bumi tak kunjung memberikan jawaban.

Helaan napas kasar pun terdengar. Bukannya menjawab pertanyaan Senja, Bumi justru mengalihkan dengan pembahasan lain. "Sudah lapar belum? Ini hampir jam enam dan waktunya minum obat."

Senja cukup kecewa karena Bumi masih saja memasang benteng pertahanan yang tinggi padanya. Namun, dia tidak ingin pusing memikirkannya. Lebih baik Senja menikmati yang sudah ada di depan mata. Bukankah saat-saat seperti ini selalu dirinya tunggu? Yaitu, bisa mengobrol dengan Bumi walau singkat.

"Baiklah. Kita kembali ke ruangan," putus Senja bangkit lebih dulu dari bangku panjang yang semula dia duduki. Bumi ikut beranjak dengan membantu Senja membawa tiang infus dan membiarkan perempuan itu berjalan lebih dulu.

Setibanya di ruang rawat inap, ternyata Bu Sonia tengah menunggu kedatangan mereka. "Eh! Mama sudah lama di sini?" tanya Senja merasa tidak enak hati.

Bu Sonia pun tersenyum hangat menatap menantunya. "Belum kok. Tadi ada salah satu suster yang bilang, katanya kalian sedang mencari udara segar di luar. Jadi, Mama putuskan untuk menunggu kalian kembali."

"Bagaimana kondisi kamu sekarang? Sudah lebih enakan?" tanya Bu Sonia sambil memapah Senja menuju brankar.

"Sudah, Ma. Aku sudah tidak apa-apa," jawab Senja berkata jujur.

Setelah memastikan Senja berbaring dengan nyaman, tatapan Bu Sonia langsung tertuju pada Bumi yang saat ini juga sedang menatap beliau.

"Kamu juga, Bum. Mama tahu kalau kamu habis puasa berbulan-bulan. Namun, tidak begini juga. Kan, yang kasihan Senja," ucap beliau mencibir tingkah laku putranya.

Senja hanya tersenyum canggung. Bumi melakukan hal tersebut juga dalam kondisi mabuk. Jika Bumi dalam keadaan sadar, mana sudi laki-laki itu menyentuh dirinya.

Sama halnya dengan Senja, Bumi kini melempar pandangan pada Senja. Mungkin, apa yang saat ini Senja pikirkan juga sedang laki-laki itu pikirkan.

"Sudah. Tidak perlu saling lempar pandang seperti itu. Mama maklum kok. Mama bisa menebak jika ini pengalaman pertama bagi Senja." Bu Sonia seakan sudah tahu hubungan yang terjalin di antara keduanya tidak pernah baik-baik saja. Apalagi kondisi keduanya yang pisah ranjang.

Walau demikian, beliau berharap jika kejadian seperti ini bisa membuat hubungan Senja dan Bumi semakin dekat. Ya, walaupun harus dimulai dengan cara yang salah. "Makanya, janganlah mabuk kalau ada masalah," cibir beliau lagi yang membuat mata Bumi membelalak lebar.

"Mama tahu aku mabuk malam itu?" tanya Bumi terkejut.

Dengan santainya Bu Sonia mengangguk. "Kamu yang sabar ya, Nja. Bumi itu belum membuka mata lebar-lebar makanya pandangannya buram. Suatu saat, jika dia tidak berubah, akan Mama pastikan dia menyesal melewatkan kamu begitu saja." Bu Sonia dengan terang-terangan berada di pihak Senja, membuat Bumi hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal.

Senja yang diperlakukan begitu baiknya, tak kuasa menahan rasa bahagia sampai matanya berkaca-kaca. Adanya Bu Sonia, Senja seperti merasakan sebuah kasih sayang seorang ibu pada anaknya. Perasaan yang sejak dulu ingin sekali Senja alami.

"Mama tidak benci ke aku?" tanya Senja setelah beberapa bulan lamanya menjadi menantu dari perempuan paruh baya di depannya.

"Loh. Kenapa Mama harus benci kamu?" tanya Bu Sonia menatap penuh curiga pada Bumi.

"Kenapa Mama lihat aku begitu? Seolah-olah sedang menuduhku," kesal Bumi yang tidak tahu apa-apa, tetapi mendapat tatapan tajam dari sang Mama.

"Ya barangkali kamu sudah buat Senja sakit hati atau bersedih. Bisa saja kan? Mama tahu bagaimana kamu, Bum." Bu Sonia mengendikkan dagu acuh.

"Bukan salah Bumi, Ma. Aku hanya sedang tidak percaya karena Dea sudah memberikan banyak sekali hal berharga setelah dia pergi. Dia memberikan aku sebuah hubungan yang orang lain sebut dengan keluarga. Suatu hal yang sejak dulu tidak pernah aku miliki. Aku hanya kurang percaya diri karena Mama selalu bersikap baik padaku seperti yang Mama lakukan dulu pada Dea." Senja menunduk murung sambil memilin jemarinya.

"Kenapa tidak percaya diri? Kamu pantas dihargai keberadaanya. Kamu itu sudah rela berkorban banyak untuk bisa merawat Arta. Justru, Mama bahagia karena Arta tetap mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Walau hal itu tidak sepenuhnya bisa menggantikan sosok Dea di hati Arta. Tetap saja, kamu sudah menjadi orang pertama yang Arta cari," jelas Bu Sonia dengan begitu bangga pada Senja.

Mendengar percakapan antara Mama dan Senja, membuat Bumi sadar jika Senja juga manusia. Dia juga ingin di hargai dan dicintai. Benar. Senja telah berkorban banyak hanya untuk merawat Arta dan dirinya.

Lagi-lagi Bumi teringat pada Dea yang pernah berkata jika hanya Senja yang bisa menemani dirinya dan Arta. 'Apa benar jika Dea sudah mempersiapkan semua dengan sebaik-baiknya? Mengapa Dea seperti tahu akan masa yang datang?' batin Bumi bertanya-tanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!