Bab 14. Sepakat

Di pesta pernikahan itu, banyak tamu undangan yang hadir. Yang membuat Senja bahagia adalah, ketika bertemu ibu dan ayah mertuanya. Senja bagai mendapat mukjizat dari Tuhan.

"Mama pikir Senja tidak ikut," ucap Bu Sonia tampak begitu terkejut sekaligus bahagia.

"Ikut, Ma. Kata Bumi, biar bisa jaga Arta," jawab Senja yang membuat Bu Sonia seketika menatap Bumi tajam.

"Kamu tega menjadikan istri kamu sebagai pengganti suster di rumah?" tanya beliau melotot hingga bola matanya seperti akan keluar dari tempatnya.

"Bukan begitu, Ma." Bumi melirik pada Senja yang kini sedang tersenyum penuh kemenangan.

"Bukan begitu apanya? Senja istri kamu loh, Bum. Sudah seharusnya kamu menghargai dan menyayangi dia," ucap Bu Sonia tidak ingin mendengar alasan putranya.

Bumi hanya bisa menghela napas dan melempar sebuah pertanyaan. "Yang anak Mama aku atau Senja sih, sebenarnya?"

Sontak hal itu mengundang tawa dari Senja, Bu Sonia, dan Pak Adhi. Sampai di sini, Bumi sudah kalah berdebat melawan sang Mama.

"Opa!" panggil Arta yang keberadaannya sejak tadi terabaikan. Bocah itu justru sibuk sendiri mengamati sekitar.

"Kenapa, Sayang?" tanya Senja yang lebih peka dan berjongkok di hadapan putranya.

"Alta ingin kecana," tunjuk bocah itu ke salah sisi ruangan dimana terdapat makanan dessert.

"Ooooh. Opa tahu sesuatu nih. Arta pasti mau pudding kan?" tebak Pak Adhi yang memilih membawa Arta dalam gendongan.

"Ya sudah. Ayo, kesana bersama Oma dan Opa. Papa dan Bunda biar pacaran dulu," celetuk Bu Sonia yang anehnya langsung mendapat acungan jempol dari Arta.

Senja pun melongo menatap kepergian ayah dan ibu mertuanya bersama Arta. "Kita ditinggal, Bum?" tanya Senja pada Bumi yang hanya dijawab dengan mengangkat bahu acuh.

Lalu, Bumi berjalan begitu saja, mengabaikan jika Senja sedikit kesulitan untuk mengejar langkahnya. Senja memutuskan berhenti mengejar Bumi ketika laki-laki itu seperti sulit dijangkau. Dia menoleh ke sekitar dan tidak menemukan seorang pun yang Senja kenal.

Bisa dikatakan jika saat ini Senja bagai itik yang kehilangan induknya. Tidak tahu kemana arah untuk melangkah. Daripada terlihat konyol, Senja memutuskan menuju prasmanan. Mungkin, dengan makan dia bisa sedikit menghilangkan rasa kesendiriannya.

Entah kemana perginya Bumi saat ini karena laki-laki itu sudah tak berada dalam jangkauan mata Senja. Dia ingin marah. Namun, sekali lagi dia disadarkan oleh keadaan. "Memang siapa aku hingga Bumi harus bersamaku setiap waktu?" gumam Senja memutuskan mengambil beberapa makanan untuk di makan.

Saat sedang sibuk mengunyah, dari jarak yang tidak jauh darinya, telah berdiri Bumi bersama seorang perempuan yang begitu cantik bak model. Melihat bagaimana Bumi begitu akrab dengan wanita itu, selera makan Senja menghilang seketika.

Apalagi ketika melihat tawa Bumi yang begitu lepas, seperti tanpa beban. Dengannya saja Bumi tidak pernah tertawa senyaman itu. Senja menaruh piring ke atas meja dan enggan menghabiskan makanan yang telah diambil.

"Apa aku begitu membebani kamu? Sampai untuk tertawa karena aku saja rasanya hampir tidak mungkin?" gumam Senja mulai bertanya-tanya.

Saat Senja berniat untuk menyingkir dan tidak ingin melihat Bumi bersama wanita lain, saat itu juga Bumi menoleh hingga mata keduanya kini saling beradu. Senja hanya diam dengan perasaan hati tak karuan. Baru beberapa menit yang lalu dia diterbangkan ke atas awan. Kini, dia harus kembali dihempas sampai ke dasar jurang.

Tanpa terasa, matanya berkaca-kaca dan itu akan terlihat begitu menyedihkan jika sampai Bumi melihatnya. Senja putuskan untuk menuju ke toilet demi bisa menenangkan diri.

Hingga di perjalanan pulang, Senja masih setia diam. Keadaan mobil semakin terasa begitu mencekam ketika Arta juga sudah tertidur pulas di jok belakang.

Bukan Senja berniat mendiamkan Bumi. Hanya saja, untuk mengeluarkan suara Senja begitu malas. "Kamu kenapa berubah jadi pendiam?" celetuk Bumi yang hanya mendapat celengan kepala dari Senja.

"Cemburu pasti," tebak Bumi dengan begitu santainya.

Senja hanya melirik sekilas tanpa berminat menyahuti. Bisa jadi Senja memang cemburu karena raga maupun jiwa Bumi tidak pernah bisa Senja miliki. "Aku ngantuk," jawab Senja lalu pura-pura memejamkan mata.

...----------------...

Beberapa hari berlalu. Senja masih menjadi sosok pendiam dan tak lagi banyak bicara. Namun demikian, Senja selalu menjalankan tugasnya dengan baik seperti merawat Arta dan memasak sarapan juga makan malam.

Jujur. Bumi merasa kesepian ketika Senja seperti berusaha menghindari perdebatan dengannya. Dia sadar sepenuhnya jika perubahan sikap Senja bermula ketika dia berbincang dengan seorang wanita yang dulu pernah menjadi brand ambassador perusahaannya.

Hingga sore itu, Bumi meminta sang Mama untuk menjaga cucu kesayangannya terlebih dahulu. Dengan alasan ingin memperkuat hubungannya bersama Senja, Bu Sonia dengan senang hati menyetujui permintaan Bumi.

"Senja dimana, Bi?" tanya Bumi ketika tak mendapati sang Istri dimanapun. Arta dan sang Mama sudah pergi beberapa menit yang lalu, dan Senja tidak tahu hal itu.

"Sebelum Bapak pulang, Bu Senja pamit untuk mandi. Tidak tahu sudah selesai atau belum," jawab Bi Tijah sambil menunduk ramah.

"Terima kasih, Bi," jawab Bumi kemudian memutuskan untuk mendatangi kamar Senja.

Bumi membuka pintu di depannya tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dan Bumi begitu menyesal karena setelah pintu itu terbuka, pemandangan yang dia lihat pertama kali adalah sosok Senja yang sedang berdiri membelakanginya.

Bukan itu yang menjadi fokusnya kali ini. Melainkan karena Senja belum mengenakan pakaian bagian atasnya. Hanya sebuah bra yang menutupi tubuh bagian atas, sedangkan tubuh bagian bawahnya sudah mengenakan celana pendek se pertengahan paha.

Bumi menelan saliva. Melihat setiap lekuk tubuh milik Senja nyatanya kembali mengingatkan otaknya pada tragedi malam panas itu. Walau mabuk, Bumi lamat-lamat ingat.

"****!" Bumi mengumpat saat Senja berbalik hingga keberadaanya diketahui. Senja tampak membelalak tak percaya.

"Sejak kapan kamu di sana, Bumi?" tanyanya penuh waspada.

"Aku sudah melihatnya," jawab Bumi yang membuat mata Senja bertambah membelalak.

"Dasar kurang ajar!"

"Aku ke sini ada perlu denganmu," ucap Bumi ingin segera mengakhiri kesalahpahaman. Entah sejak kapan melihat Senja marah rasanya begitu menyiksa. Yang pasti, dia ingin hidupnya damai untuk saat ini.

"Katakan!" ketus Senja yang membuat Bumi terkekeh kemudian memilih untuk menutup pintu dan menguncinya.

"Ini tentang wanita yang ada di pesta beberapa hari yang lalu. Kamu hanya perlu tahu jika dia hanya mantan brand ambassador perusahaan. Dia menyapaku lebih dulu dan rasanya kurang sopan jika aku meninggalkan dia begitu saja." Bumi mulai menjelaskan keadaan yang sebenarnya terjadi.

"Lalu, apa urusannya denganku? Aku tidak butuh penjelasan itu," ucap Senja masih meninggikan egonya.

"Aku tahu. Aku hanya tidak ingin kamu salah paham. Bukankah kita sudah sepakat untuk memperbaiki hubungan?"

Terpopuler

Comments

susi 2020

susi 2020

😍😍🥰

2023-09-15

0

susi 2020

susi 2020

🙄🙄

2023-09-15

0

Sky Blue

Sky Blue

Smangt berkatya kax🥰🥰🥰

2023-07-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!