Tiga hari berlalu. Senja masih mengabaikan Bumi begitu saja. Setelah diperiksa dan diresepkan obat oleh dokter panggilan Bumi, keesokan harinya Senja kembali sehat.
Seperti biasa. Kegiatan pagi hari Senja selalu dihabiskan di dapur. Senja kembali memasak untuk Arta dan Bumi. Walau nyatanya, Senja masih mengibarkan bendera perangnya.
"Bunda cudah cembuh?" tanya Arta yang tiba-tiba muncul dari balik sekat. Matanya tampak berbinar melihat Senja yang sudah kembali berada di dapur ketika pagi hari.
"Selamat pagi, Sayang. Sudah. Bunda sudah sehat nih," jawab Senja sambil mengangkat bahunya jumawa.
"Hore! Akhilnya, Alta bica makan macakan Bunda!" seru Arta bersorak gembira.
Senja terkekeh geli melihat tingkah lucu Arta. "Ya sudah. Arta duduk dengan tenang dulu ya. Sebentar lagi buburnya matang nih," pinta Senja dan bocah laki-laki itu menurut.
Sesaat setelah Arta duduk, sosok Bumi pun muncul. Laki-laki itu tengah menuruni tangga, tetapi berhenti di tengah-tengah ketika mendapati Senja berada di dapur. Tatapan Senja yang kebetulan beradu dengan milik Bumi, segera membuang muka dan bersikap cuek kembali.
"Selamat pagi, Jagoan," sapa Bumi pada Arta yang masih bisa Senja dengar dengan baik.
"Pagi, Papa Jagoan," jawab Arta selalu antusias dan ceria.
Walau posisi Senja saat ini sedang berdiri membelakangi meja makan, tetapi telinganya mampu mendengar suara langkah kaki yang dihasilkan dari sebuah sandal rumah. Kemudian, hidung Senja mencium aroma maskulin yang menyeruak, pertanda jika Bumi berada di dekat jangkauan.
"Masak apa, Nja?" tanya Bumi terdengar basa-basi. Senja enggan menjawab. Dia masih malas untuk membuka suara ketika bersama Bumi. Setelah itu, Senja mendengar Bumi berdehem pelan dan semakin berjalan mendekati dirinya.
"Kamu masih marah? Nggak capek marah terus?" tanya Bumi lirih ketika menyadari Bi Tijah memasuki dapur.
"Bi? Aku minta tolong ambilkan mangkok tiga ya?" pintar Senja mengalihkan pertanyaan Bumi.
Helaan napas kasar pun terdengar. Pada akhirnya, Bumi memutuskan untuk duduk di meja makan. Setelah perutnya terisi, dia akan kembali membujuk Senja. Dia tidak mau hari Minggu yang cerah ini mendadak suram karena Senja masih mengabaikan dirinya.
"Hari ini Arta ada les berenang ya, Sayang. Makan dan minum air putih yang cukup biar ada tenaga," ucap Senja sambil memberikan semangkok bubur ayam di hadapan Arta.
"Sus? Aku minta tolong jaga Arta baik-baik ya. Awasi dia terus, jangan sampai lengah," pinta Senja pada suster Siska, pengasuh Arta, yang kebetulan sedang menyisir rambut Arta.
Arta yang mendapat perhatian dari bundanya, mengangguk sambil tersenyum bahagia. Wajar. Ketika masih hidup, Deandra sibuk bolak-balik rumah sakit dan jarang memperhatikan anaknya. Justru, Arta lebih sering menghabiskan waktu bersama Senja. Bahkan, Senja sering juga membawa Arta ke tempatnya bekerja sampai di kira anaknya.
"Alta cayang, Bunda," ucap Arta begitu polosnya, yang cukup untuk membuat Senja merasa tersipu.
"Bunda juga sayang, Arta."
"Sus? Sudah sarapan belum? Kalau belum, ambil bubur di panci. Ayamnya ada di wadah. Sekalian Bi Tijah ajak sarapan ya." Senja seperti sudah terbiasa dan begitu lihai menjadi seorang istri dan ibu.
Bumi yang melihat pemandangan itu, seketika terpana. Bukan dia bermaksud membandingkan. Hanya saja, Senja dan Deandra sangatlah berbeda. Berisiknya Senja di pagi hari membuat jiwa Bumi seperti mendapat sebuah semangat baru.
"Baik, Bu. Terima kasih, Bu. Saya akan ajak Bi Tijah juga." Setelah Siska berlalu, Senja kini memberikan semangkuk bubur pada Bumi tanpa suara. Dia juga mengelap sendok yang akan dipakai Bumi menggunakan tisu.
"Makan!" pintanya ketus yang membuat Bumi diam-diam mengulum senyum.
Tepat pukul sembilan, Arta berangkat ke tempat les bersama pengasuhnya. Bi Tijah pun Senja perintahkan untuk membeli beberapa sayur di kompleks depan. Kini, tinggallah Senja dan Bumi yang mengisi rumah besar itu.
Bagaimana pun, Senja butuh waktu untuk dirinya sendiri. Jadi, dia putuskan untuk membuat coklat panas dan duduk tenang di depan televisi sambil menonton drama China yang belum selesai di putar.
Namun, ketenangannya terganggu ketika dengan santainya Bumi duduk di sebelah Senja dengan bahu yang bersandar. Oke! Senja sadar jika rumah itu adalah milik Bumi. Namun, tidak bisakah pria itu membiarkan Senja menikmati waktu sendirinya?
"Senja?" panggil Bumi yang tak mendapat respon dari Senja.
"Mau sampai kapan kamu mendiamkan aku?" tanya Bumi lagi tampak frustasi.
Tanpa berminat membalas, Senja menyeruput coklat panas miliknya. Otak yang semula mendidih, kini sedikit lebih tenang karena rasa manis dan pahit yang lidah Senja rasakan.
"Mending kamu menghabiskan waktu di ruang kerja," sindir Senja datar dengan tatapan fokus menatap layar televisi.
"Untuk apa? Ini hari Minggu. Aku—" Bumi seketika menghentikan ucapan kala teringat jika awal mula pertengkarannya dengan Senja berasal dari ruang kerjanya.
"Baiklah. Mulai saat ini aku akan mulai terbuka ke kamu. Sekarang, tanyakan apapun yang ingin kamu dengar jawabannya dariku," jawab Bumi yang sudah menegakkan tubuh untuk meraih jemari Senja.
Senja menatap Bumi cukup lama. Dia tidak menolak ketika kulit tangannya bersentuhan dengan milik Bumi. "Yakin?" tanya Senja memastikan.
Melihat Bumi yang mengangguk, Senja menaikkan satu alisnya dan bertanya. "Apa kamu mencintaiku?" Dan melihat raut wajah Bumi yang tampak syok, membuat Senja tersenyum sinis lalu menarik tangannya kasar.
"Kamu nggak bisa jawab kan. Karena kamu nggak cinta ke aku. Semua sikap baik kamu itu mungkin hanya sebuah pelampiasan setelah kehilangan Deandra. Kamu itu cuma haus. Harusnya aku kasih air. Bukan hati," omel Senja panjang lebar dan begitu menggebu-gebu.
Bumi yang mendengar itu, seketika merasa tertampar. Benarkah dia hanya menjadikan Senja sebagai pelampiasan? "Itu tidak benar, Nja," elak Bumi lirih.
Senja terkekeh getir. "Pergilah ke ruang kerjamu, Mas. Kamu akan lebih betah berada di sana daripada menemaniku seperti ini. Karena di sana, ada kenanganmu bersama Deandra. Tidak seharusnya aku mencoba merebut hati kamu dan berharap berlebihan."
Senja berniat beranjak dari duduknya. Namun, Bumi segera mencegah dengan mencekal pergelangan tangannya. "Senja! Tunggu! Jangan salah paham dulu," cegahnya yang membuat Senja mendengus kencang.
Bisa-bisanya Senja diam menunggu hal apa yang akan Bumi jelaskan padanya. Harusnya, Senja pergi saja meninggalkan Bumi. "Apa lagi?" tanyanya ketus.
"Ikut aku," ajak Bumi penuh harap agar Senja mau menurutinya sekali ini saja.
Kepala Senja seketika teringat sesuatu ketika mata Bumi tertuju pada sebuah kamar tamu yang pernah menjadi ruangan panas untuknya. "Kemana? Aku nggak mau terus kamu bodohi dengan sentuhan yang menyesatkan itu. Aku tidak akan tergoda lagi."
"Bukan ke kamar, Senja. Ke ruang kerjaku." Bahkan, Bumi seperti mengerti isi kepala Senja saat ini. Terdengar sekali jika Bumi terkekeh geli melihat tingkahnya.
"Jangan tertawa! Aku tidak suka ditertawakan!" ketus Senja berniat melepaskan diri. Namun, Bumi kembali mencegah dan menggumamkan kata maaf berkali-kali.
Bumi berdiri dan menarik Senja untuk masuk ke ruang kerjanya. Senja pun menurut karena dia terlalu penasaran. Padahal tadi, dia berniat untuk jual mahal.
"Aku akan ceritakan semuanya tentang ruang kerja ini. Ruangan yang berhasil membuat kamu jadi mengabaikan aku," ucap Bumi sesaat setelah pintu itu terbuka.
Mata Senja menyipit. "Aku marah bukan karena hal ini. Namun, lebih pada sikap kamu yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu," sanggah Senja kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
susi 2020
😔😍😔
2023-09-16
0
susi 2020
🙄🙄
2023-09-16
0
Tri Handayani
jngan mudah trbuai dn terpengaruh pd kta manis bumi'senja....nanti sakit hati lagi,,next thorrr
2023-07-30
0