Bab 4. Jangan sia-siakan

Dua hari kemudian, Senja berpamitan pada ibu mertua nya untuk mengambil seluruh barang di kosan. Dengan statusnya yang sudah berbeda, banyak hal yang harus Senja korbankan seperti, pekerjaan dan hidupnya yang bebas.

Menikah memang bukan untuk mengekang. Namun, Senja sudah berjanji untuk berubah menjadi ibu dan istri yang baik. Walau hal itu tidak dianggap oleh Bumi.

"Kamu yakin mau sendiri ke sana?" tanya Bu Sonia menyusul Senja yang berada di dapur. Beliau baru saja tiba di rumah sang Putra untuk bertemu cucunya.

"Tidak apa-apa, Ma. Pakai motor lebih cepat. Lagi pula, di hari Minggu ini Bumi pasti ingin beristirahat. Kasihan," jawab Senja sambil sibuk mengolah makanan.

"Ya sudah. Arta biar Mama yang jaga. Mama juga sudah rindu dengan dia. Eh, malah dia dan Papanya belum bangun," ucap Bu Sonia sambil menggelengkan kepalanya pelan.

Senja terkekeh menanggapi. "Bumi lembur semalam, Ma. Entah sampai jam berapa ada di ruang kerjanya," beritahu Senja yang membuat Bu Sonia terdiam, tidak menunjukan ekspresi apapun.

"Kenapa, Ma? Kok malah melamun?" tanya Senja heran.

Bu Sonia menggeleng sebagai jawaban. "Tidak. Wah. Sepertinya enak nih. Mama sarapan di sini boleh lan?" Beliau seperti ingin mengalihkan pembicaraan.

"Boleh, Ma. Sebentar lagi selesai kok. Oh iya, Ma," celetuk Senja seperti ingin mengatakan hal yang penting.

"Kenapa?"

"Jangan katakan pada Bumi kalau aku yang masak ya?" pinta Senja dan Bu Sonia menghela napas kasar. Beliau mampu memahami jika pernikahan Senja dan Bumi bisa dikatakan kurang tepat.

Bumi masih begitu mencintai Deandra, tetapi istrinya itu meminta Bumi untuk menikahi Senja. Beliau jelas membaca surat yang ditinggalkan Deandra. Dan yang membuat Bu Sonia takjub, ternyata Senja sudah sejak lama menyimpan perasaanya pada Bumi.

Namun bila dilihat setelah menikah, sikap Bumi berubah dingin. Hal itulah yang membuat beliau tidak tega pada Senja. Sebenarnya, Senja itu memiliki kharismatik tinggi. Hanya saja, Bumi masih terlalu mencintai Deandra sehingga matanya masih tertutup dengan hati yang terkunci rapat.

"Maafkan Bumi ya, Nja. Mama tidak bisa membantu banyak. Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian," ucap Bu Sonia lalu menepuk punggung Senja penuh kelembutan.

"Tidak apa-apa, Ma. Aku bisa memahami bila berada di posisi Bumi, " jawab Senja tulus.

Setelah selesai memasak, Senja berpamitan pada Bu Sonia untuk berangkat pagi itu juga. Dengan mengendarai ojek online, tidak berapa lama Senja tiba. Ditatapnya gedung kos yang memiliki ketinggian lima lantai.

Helaan napas kasar pun terdengar. Di sanalah Senja selama ini tinggal. Tidak ingin berlama-lama, Senja naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. Karena masih menyimpan kunci, dengan mudah Senja masuk ke ruangan 3×4 yang beberapa hari lalu masih menjadi hunian ternyaman nya.

Ruangan itu tampak gelap karena tak berpenghuni. Senja pun menggeser gorden dan membuka jendela agar udara segar masuk ke ruangan sempit tersebut. Keadaan sudah lebih terang hingga membuat Senja bisa melihat sekitar yang masih rapi seperti terakhir kali ditinggal.

"Senja!" panggil suara dari luar yang membuyarkan lamunan Senja. Jelas Senja tahu pemilik suara itu yang tidak lain adalah Ibu Kost.

"Iya, Bu!" jawab Senja berteriak agar terdengar sampai luar. Dia bergegas membukakan pintu dan melihat wanita bertubuh gempal itu menatap Senja dari atas sampai bawah.

"Habis dari mana? Kok sudah tiga tidak pulang? Mana dihubungi tidak bisa," tanya beliau menunjukkan raut khawatir.

Senja terkekeh. "Pindah, Bu. Hari ini rencana mau membereskan barang-barang. Maaf ya, Bu. Tiga hari itu aku sibuk," jawab Senja dan Ibu kost tadi mengangguk lega.

"Ibu pikir kemana. Syukurlah kalau kamu sehat. Namun, jangka waktu kamu sewa kan masih lima belas hari lagi. Yakin, mau pindah sekarang?"

"Yakin, Bu. Tidak apa-apa. Anggap saja itu rezeki untuk Ibu." Senja berusaha meyakinkan.

"Kenapa pindah sih? Kamu tidak nyaman tinggal di sini? Apa Ibu terlalu galak?" tanya beliau merasa bersalah.

Senja menggeleng keras. "Tentu saja tidak, Bu. Aku justru sangat betah. Hanya saja, ada sesuatu hal penting yang mengharuskan aku pindah. Maaf ya, Bu."

Percakapan itu pun diakhiri dengan Ibu kost yang berpamitan lebih dulu. Sepeninggalan Ibu pemilik kost, Senja segera berkemas. Karena Senja tak memiliki banyak barang, satu koper besar pun cukup. Dia juga berencana membawa motor kesayangannya ikut serta pindah rumah.

Senja mengecek sekali lagi barangkali ada barang yang tertinggal. Matanya seketika tertuju pada laci lemari yang belum dia buka dan lihat isinya. Dengan sekali tarikan, laci itu keluar dan memperlihatkan dalamnya.

Senja tersenyum kala menemukan sebuah foto masa SMA nya. Di dalam foto itu ada Senja dan Bumi yang berekspresi penuh bahagia. Pada akhirnya, dia memasukkan selembar foto itu pada tas selempang miliknya. Dia masih ingat jelas jika foto itu diambil ketika hubungannya dengan Bumi masih begitu dekat. Lebih tepatnya sebelum Bumi mengumumkan rasa cintanya pada Dea.

Sedangkan di tempat lain, Bumi baru selesai mandi bersama Arta. Semalam dia memang mengajak sang Putra untuk tidur bersama. Walau Arta sudah tertidur di kamar Senja, Bumi memutuskan menggendong Arta dan menidurkan dalam kamar miliknya.

Wajar. Semalam sudah begitu larut hingga Bumi harus membangunkan Senja juga.

Setelah mengenakan pakaian santai, Bumi keluar dengan menggendong Arta ke kamar pribadi sang Putra. Dia meminta bantuan baby sister untuk membantu putranya mengenakan pakaian. "Sus? Tolong pakaikan Arta baju ya."

Bocah lucu itu masih terbalut handuk untuk menghangatkan tubuhnya. "Arta? Ikut Sus dulu ya?" pinta Bumi sambil mengalihkan gendongan pada sang Pengasuh. Beruntung, Arta anak yang tidak banyak protes.

Bumi memutuskan menuruni tangga dan langsung melihat sang Mama yang tengah duduk di meja makan sambil melamun. "Ma? Kapan datang?" tanyanya lembut agar Hu Sonia tidak terlalu terkejut.

"Tadi pagi. Arta mana, Bum?" tanya beliau setelah berhasil menguasai diri kembali.

"Masih ganti baju, Ma."

"Wah! Ini Mama yang masak? Pantesan wanginya tercium sampai kamar," celetuk Bumi yang sudah menarik kursi makan untuk dia duduk.

Bu Sonia hanya tersenyum menanggapi. Dia teringat akan pesan Senja untuk tidak mengatakan pada Bumi jika seluruh makanan di meja merupakan hasil karya sang Menantu Barunya.

"Oh iya. Senja tadi berpamitan dengan Mama untuk mengambil barang ke kosan. Dia ingin Mama menyampaikan ke kamu," beritahu Bu Sonia.

"Ya sudahlah. Lagi pula, Senja sudah dewasa dan berani kemana-mana sendiri." Bumi tampak cuek dan memilih untuk mengisi piringnya dengan nasi dan lauk.

Bu Sonia hanya bisa melihat bagaimana Bumi makan dengan lahap. Padahal, sudah beberapa hari ini putranya tidak berselera. Dalam hati beliau tersenyum. Bangga pada Senja yang begitu sabar dan kuat menghadapi Bumi.

"Semalam kamu mengerjakan apa di ruang kerja? Bukannya Papa masih kasih kamu waktu untuk cuti ya?" tanya Bu Sonia penasaran. Beliau tiba-tiba teringat akan ucapan Senja belum lama ini.

Mendengar pertanyaan itu, Bumi hampir saja tersedak jika makanan di mulutnya belum di telan. Bumi menyambar air putih yang sudah disiapkan dan menatap mamanya lekat.

"Aku butuh waktu sendiri untuk saat ini, Ma. Kepergian Dea masih terlalu mendadak untuk diterima," jawab Bumi tidak sepenuhnya berbohong.

Bu Sonia yang sebenarnya tahu sesuatu, pada akhirnya memberikan nasehat. "Kamu itu masih hidup dan selama itu juga, kamu harus berjuang untuk bertahan dengan baik. Coba alihkan kesedihan kamu pada orang-orang terdekat. Tatap wajah mereka satu-satu dan ingat! Mereka menyayangi kamu. Mereka ingin kamu tetap hidup dengan baik, begitu juga Mama."

"Bersedih boleh saja atas rasa kehilangan dalam hidup. Namun satu hal yang harus kamu tahu, hidup akan terus berjalan. Jangan kamu sia-siakan waktu yang sudah diberikan Tuhan."

Terpopuler

Comments

🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦₉

🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦₉

betul banget apa kata mama...jangan sampai suatu saat kamu menyesal karena orang yang begitu tulus dan sayang sama kamu pergi karena sudah habis kadar kesabaran yang dimiliki.

2023-08-18

1

Zakia

Zakia

kok belum up si,,,,, kalau up cuma 1 bab hufffff

2023-07-10

0

itin

itin

dan jangan sia siakan seseorang yang begitu peduli padamu sebelum kau kehilangannya bahkan lebih kehilangan dari sebelumnya. eeaakkk

2023-07-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!