Hujan

Mata Vania, belalakan. Melihat motor yang berhenti tepat di depan halte itu adalah Alaska. Cewek itu pun menatap arah jalan, tidak mau menatap cowok itu. Mungkin saja Alaska berhenti, di depan halte ada sesuatu. Tidak berhubungan dengan tentang dirinya.

Alaska yang menatap Vania, yang tidak menatap dirinya. Mengerutkan dahinya. Ia pun mengehela nafas pelan sebelum membuka suara.

"Lo ngapain disini! Gak pulang" Lontar pertanyaan yang keluar dari mulut Alaska. Vania yang mendengarnya, menoleh menatap cowok itu yang masih duduk di atas motor nya.

Vania pun menaikkan alisnya, sebelah. Dan menunjuk dirinya sendiri. "Aku?" Bingung Vania dengan pertanyaan dari mulut Alaska untuk siapa.

"Yaiyalah siapa lagi, kan cuman Lo doang di sini" Balas Alaska membuat Vania mengangguk kepalanya.

"Ya... ni mau pulang. Cuman nunggu gojek aja" Ujar Vania menjawab pertanyaan sebelumnya. Alaska pun mengangguk kepalanya paham.

"Emang motor Lo kemana?" Tanya Alaska lagi membuat Vania mengerutkan dahinya heran. Tumben cowok itu kepo dengan urusan hidupnya. Biasanya cowok itu, emosi mulu bawaannya.

"Di bengkel" Jawab singkat Vania menatap arah jalan.

Alaska yang tidak ada niat mau bertanya lagi. Karena itu bukan sikap dia, yang kepo dengan urusan hidup orang. Apalagi itu soal cewek. Itu udah enggan banget.

"Ayoo pulang bareng gue" Vania langsung menoleh menatap Alaska dengan mulut nya menganga. Apa dia gak salah dengar.

Melihat raut wajah Vania. Alaska menarik nafas panjang lalu menghembuskan nafasnya perlahan.

"Gue gak bermaksud apa-apa kok, gue cuman kasian sama Lo aja. Nunggu gojek, apalagi bentar lagi mau hujan" Alaska menatap awan yang sudah mulai abu-abuan. Langit biru yang biasa terlihat, kini tertutup oleh awan. Dan udara pun mulai terasa sejuk.

"Makasih tawarannya. Gue tetap pulang sama gojek aja" Tolak Vania halus. Helaan nafas kecewa keluar mulut dari Alaska. Niat ingin, lebih dekat sama cewek itu kayaknya sulit banget.

"Yaudah kalau begitu, betul ni kan gak mau pulang bareng gue" Tawar Alaska lagi agar Vania mau menimbang kan lagi dari tawarannya pulang bareng dengan nya.

Vania mengangguk pasti. "Iya..." Jawab singkat Vania lalu beralih menatap ponselnya.

Alaska yang tidak tahu berbuat apa lagi. Termenung di atas motornya. Vania yang melihatnya, cowok itu diam saja. Merasa bingung.

"Kenapa diam saja, gak pulang" Alaska membuyarkan lamunannya mendengar pertanyaan dari Vania.

Sebelum mau menjawabnya. Tiba-tiba suara dering telepon terdengar berasal dari ponsel cewek itu. Membuat Vania langsung mengangkatnya.

"Halo kak..." Ucap Vania di sebrang telepon.

"Halo dek, kakak kayaknya gak bisa jemput kamu deh. Karena kakak ada mata kuliah dadakan. Jadi maafin ya... Jadi kamu pulang dengan gojek aja. Atau Kakak pesankan"

"Gausah kak, Vania bisa pesan sendiri" Jawab Vania terdengar lesu dengan sekali-kali melirik Alaska yang seperti mendengar pembicaraan dirinya dengan kak keya di telepon.

"Sekali lagi maaf ya dek" Kak keya merasa bersalah dirinya tidak bisa menjemput adik sepupunya itu.

"Ya kak gak papa kan" Panggilan telepon pun berakhir Vania pun menatap Alaska yang seperti menatap dirinya, butuh jawaban.

"Hufftt... Ayoo pulang bareng gue" Alaska memilih menepiskan rasa penasarannya. Kenapa Vania memanggil gojek nya dengan sebutan kakak. Dan nada bicara pun bukan orang baru pertama kali kenal. Tapi seperti sudah lama sekali berkenalan.

Vania yang melihat Alaska yang masih masih kekeuh mengajak dirinya pulang dengan cowok itu. Akhirnya cewek itu mengiyakan saja. Rasa sedikit malu pun terbesit di hatinya, kalau ia sudah membohongi cowok itu. Kalau dirinya bakal di jemput gojek. Padahal kenyataannya dia bukan di jemput gojek, tapi dengan Kakak sepupunya.

Vania yang sudah berada duduk jok belakang penumpang. Alaska pun menghidupkan mesin motornya dan menancap gas meninggalkan tempat itu juga.

Selama di perjalanan. Baik Vania maupun Alaska diam. Tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka. Vania yang duduk di jok belakang, menikmati udara sejuk menerpa kulitnya.

Tetesan hujan pun terasa di kulitnya. Dan itu membuat Alaska menambahkan kecepatan motornya. Vania yang duduk di belakang, hampir terhuyung. Karena tidak ada pengagngan. Vania merasa gengsi harus berpegangan dengan cowok itu.

"Alaska lebih baik berhenti aja, percuma hujannya makin deras" Vania meninggikan suaranya karena suara hujan begitu deras. Membuat orang tidak terlalu mendengar apa yang kita ucapkan, yang terhalau dengan suara hujan.

Alaska yang dapat mendengarnya, mau gak mau menepikan motor nya di sebuah halte. Mereka pun turun dari motor dengan tubuh mereka hampir semua basah.

Vania pun merapikan rambutnya panjang terurai nya, yang berantakan. Sementara Alaska menatap hujan yang begitu deras turun. Matanya pun menoleh kebelakang melihat tempat duduk. Ia pun mendaratkan bokongnya di kursi itu. Begitu juga Vania.

"Maaf ya gara-gara gue. Lo jadi basah gini" Perasaan bersalah menghinggapi hatinya. Coba saja Alaska memilih pulang duluan, pasti cowok itu tidak akan terkena hujan begini.

Alaska menarik sudut bibirnya keatas. "Gak papa. Ini juga salah gue sendiri, karena kekeuh ingin ajak pulang Lo bareng gue" Alaska tersenyum manis. Vania pun yang menatapnya, langsung menatap kearah lain melihat senyuman manis yang terukir bibir cowok itu. Yang membuat aura cowok itu terlihat tampan.

Vania mendongak pandangannya, menatap hujan yang turun seperti tidak akan mau berhenti. Ia pun melirik jam tangannya, yang berwarna rose gold, terlihat seperti mengembun. Vania pun langsung mengusap jamnya, mengunakan tangan. lalu matanya melihat jarum jamnya masih berputar. Helaan nafas lega keluar mulut cewek itu. Untung aja jamnya gak rusak. Padahal jamnya itu bukan anti air.

Jam pukul 5 lewat 10. Vania beranjak dari kursinya menuju ke sebuah lapangan yang rumput nya terlihat masih terawat. Alaska yang sedari tadi sibuk sama ponselnya. Matanya membelalakkan, melihat Vania yang berjalan ke sebuah lapangan, yang berada di sebrang halte.

"Vania..." Alaska memanggil cewek itu berulangkali, tapi tetap saja hasilnya nihil. Karena cewek itu tampak tersenyum bahagia dengan hujan yang membasahi tubuhnya.

Alaska memgaruk kepalanya tak gatal. Ia pun memutuskan ke tempat lapangan terawat itu.

"Ngapain disini, ini lagi hujan..." Ucap Alaska memengang tangan cewek itu. Vania menatap wajah tampan Alaska yang di basahi hujan.

"Ayoo balik ke halte..." Sambung Alaska yang tidak ada respon dari Vania. Vania mengeleng kepalanya hingga rambut yang terurai basah, ikut tergerak beriringan dengan kepalanya.

"Gak mau! Enaknya disini aja, bosen duduk mulu. Lagi pula hujannya, gak bakal berhenti" Perkiraan hujannya bakal berhenti, lama. Dan membuat Vania yang menunggu hujannya berhenti, merasa jenuh. Ia pun memutuskan mandi hujan saja.

"Karena gak berhenti, kita neduh dulu. Kalau disini Lo nanti bakal sakit" Ucap Alaska dengan nada berteriak, yang suara hujan yang begitu deras. Terdengar sangat berisik, sampai menjadi menganggu pendengaran seseorang.

"Enggak bakal sakit Lo tenang aja. Mending Lo ikut mandi hujan aja" Vania pun menggenggam tangan Alaska dan menarik memutari lapangan yang terawat itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!