Alaska menatap seisi rumahnya yang gelap. Dengan langkah pelan ia pun menuju ke lantai atas di mana kamarnya berada. Namun baru sampai di anak tangga ada suara bariton terdengar dari belakang nya.
"Alaska..." Panggil Papa Davin dengan suara menggelegar satu rumah, dengan lampu rumah yang telah di nyalakan. Alaska memejamkan matanya seraya berdecak kesal. Ia pun membalikkan badannya menghadap ke sumber suara.
Alaska menaikkan alisnya sebelah depan dengan menatap Papa nya. Seolah menunggu perkataan selanjutnya.
"Dari mana saja kamu! kamu tahukan sekarang sudah pukul jam berapa?" Tanya Papa Davin dengan suara yang terdengar emosi. Alaska yang di tanya, nampak tidak mengindahkannya dan ingin melanjutkan langkahnya. Lagipula menurut nya, pertanyaan Papa nya itu tidak penting bagi dirinya.
Papa Davin yang melihat putranya, tidak menjawab pertanyaan yang ia lontarkan menjadi emosi.
"Beginikah Mama kau mendidik kamu Alaska. Menjadi anak pembangkang, dan anak berandalan yang kayak di luar sana. Beginikah Alaska, jawab!" Bentak Papa Davin yang tersulut emosi melihat kelakuan putranya.
Alaska yang mendengarnya, tersenyum tipis. "Mama udah dari dulu pergi. Dan Papa masih nanya, siapa yang mendidik Alaska begini!" Balas Alaska dengan menahan sesak di dada nya.
"Papa pikir sendiri!" Tukas Alaska melenggang pergi menuju ke kamarnya. Panggilan emosi Papa Davin kepada dirinya untuk berhenti, tidak ia ngubris. Alaska sudah cukup lelah dengan harini. Dia butuh istirahat.
"Kenapa sih, harus ada namanya ada figur orang tua" Ucap Alaska seraya menekuk kedua kakinya. Kini dia sudah berada di dalam kamar nya.
"Kalau ujung-ujungnya mereka gak peduli, dengan anak kandung mereka sendiri" Sambung cowok itu seraya mendongak kepalanya menatap langit-langit kamar, untuk menghalau air mata yang ingin turun.
"Mama papa kapan kita bisa balik kayak dulu lagi, menjadi keluarga kecil yang bahagia"
Alaska dengan tatapan dingin, berjalan koridor sekolah. Cowok itu terlihat tidak baik-baik saja.
"Alaska woy..." Panggil Aksara dengan nada suara yang di tinggikan. Namun nampaknya, orang yang dia panggil tidak menggubris. Dan itu membuat Aksara mengerutkan dahinya heran.
"Kenapa itu anak? ada masalah?" Gumam Aksara dan memutuskan untuk tidak terlarut-larut memikirkannya. Ia pun melanjutkan langkahnya menuju ke kelasnya.
Terlihat murid 11 MIPA satu nampak fokus ke papan tulis melihat guru yang sedang menjelaskan materi pelajaran. Tapi tidak semuanya yang fokus! ada yang sibuk bermain dengan ponselnya secara diam-diam di kolong meja. Dan ada sibuk mencoret-coret buku tulisnya, yang di halaman paling belakang. Dan ada juga cowok yang bisa-bisanya tertidur pulas di dalam kelas. Dengan itu masih jam pelajaran pertama.
Guru yang melihat ada yang siswa yang tertidur di saatnya mengajar. Menjadi emosi.
"Alaska... ngapain kamu tidur di dalam kelas. Kalau kamu pengen tidur di rumah sana" Marah guru tersebut. Tapi orang yang di marahin, masih tetap terlelap dalam tidurnya.
Membuat amarah ibu itu menjadi menggebu-gebu. Dengan berkacak pinggang guru itu pun menghampiri siswa yang tertidur pulas itu.
"Bangun Alaska..." Pekik Guru tersebut tepat di telinga Alaska. Alaska yang tertidur pulas, sontak jadi bangun. Dan mengusap-usap telinga nya yang berdengung.
"Kenapa ibu! Bisa gak sih gausah teriak-teriak. Saya lagi enak tidur ni. Dah terus suara ibu kayak toa pecah" ujar Alaska dengan santai. Guru tersebut pun menarik nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya.
"Alaska sekarang kamu keluar dari kelas, sekarang juga. Sebelum ibu panggil kepsek" Titah guru itu dengan berkacak pinggang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments