Vania memegang perutnya yang terasa sakit. Keringat yang sebesar biji jagung membasahi pelipisnya. Gak sanggup menahannya lagi. Vania pun mengangkat sebelah tangannya.
"Bu..." Panggilnya. Guru yang sedang menjelaskan di depan, seketika berhenti.
"Kenapa Vania?" Tanya Ibu guru mata pelajaran tersebut.
"Saya izin ke toilet..." Jawab Vania dengan raut wajah seperti menahan sesuatu.
"Silahkan..." Ucap guru Itu memperbolehkan. Vania pun langsung bangkit dari kursinya, dan berlari tergesa-gesa menuju ke toilet.
"Oi selow lah larinya, mancam pergi ngambil undian aja" Celetuk Loni dengan menatap Vania yang sudah hilang dari pandangannya.
Vania yang berlari tergesa-gesa dan tidak terlalu memperhatikan jalan. Dia menabrak salah satu siswa yang sedang sibuk dengan ponselnya. Hingga ponsel siswa itu melayang ke lantai
"Astaga..." Mata siswa itu langsung membulat sempurna. Melihat ponsel mahalnya retak. Ia pun mendongak menatap seseorang yang telah menabraknya.
Vania pun mengingit bibir bawahnya. Melihat siapa empu yang telah ia nabrak.
"Lo jalan punya mata gak sih. Lihat ponsel gue!" Ucap Alaska dengan nada yang naik beberapa oktaf.
Vania yang tidak mau berdebat, langsung mengatup kedua tangannya.
"Sorry Alaska gue gak sengaja. Soalnya gue dah pengen kebelet berak bye" Vania pun langsung berlari meninggalkan Alaska yang terpaku kesal.
Alaska yang melihat, Vania yang pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Tanpa ada niat ingin ganti rugi. Mengumpat kesal.
"Ck dasar cewek pembawa sial" Berdecak kesal Alaska. Tangannya pun terulur mengambil ponselnya, yang ngenes. Ia pun menghela nafas panjang. Dan berlalu menuju ke kantin.
Selang dua menit. Vania pun selesai membuang hajatnya. Pikirannya tiba-tiba kembali tertuju ke jadian tadi.
"Gimana dengan ponsel tu cowok ya! Apa dia masih marah sama gue" Gumam Vania di dalam hati.
"Dahlah Vania, mati Lo harini. Gak mungkin itu cowok lepasin Lo" Sambung Vania sembari melangkah keluar dari toilet. Vania yang sudah keluar dari toilet langsung di buat tercengang, melihat Alaska ada di depan toilet tersebut.
Fiks Lo hari ini mati! batin vania
Alaska yang melihat Vania yang sudah keluar dari toilet. Langsung mengambil sesuatu di saku celana sekolah nya. Lalu menyodorkannya kepada cewek itu.
Vania menaikkan alisnya sebelah. Melihat Alaska menyodorkan sesuatu di hadapan dirinya.
"Ini ambil buat Lo..." Ujar Alaska yang melihat tatapan bingung dari Vania. Seketika Raut wajah Vania berubah menjadi kaget.
"Buat gue?" Tanyanya memastikan.
Alaska mengangguk kepalanya. "Iya buat Lo?" Jawab Alaska lalu berhenti sejenak.
"Lo lagi sakit perut kan?" Sambung Alaska. Vania yang mendengar perkataan Alaska yang tepat sasaran. Kedua ujung bibir nya naik.
"Iya benar..." Vania tersenyum tipis sembari menerima obat itu. Vania yang dapat perlakuan itu merasa ganjal. Padahal dia telah menabrak tubuh cowok itu, hingga membuat ponselnya retak mungkin. Soalnya Vania tidak terlalu melihatnya, saat ponsel mendarat sempurna di lantai.
"Makasih ya.." Ucap Vania lalu di angguki oleh Alaska. Setelah memberikan obat itu, Alaska berlenggang pergi menuju kelas. Karena jam pelajaran pertama sedikit lagi hampir habis. Mungkin sekarang sudah memasuki mata pelajaran kedua.
Melihat punggung Alaska yang kian telah menjauh. Mata Vania beralih menatap obat yang dia genggam.
"Baik juga, itu cowok. Kukira dia bakal mau bunuh gue. Ternyata cuman ingin kasih obat doang." Vania memutar kemasan tablet obat itu, hingga berhenti pada bagian depan tablet obat itu.
"Bodrex.." Baca Vania yang tertera nama obat itu. Kemudian kerutan pun muncul di dahi Vania.
"Ini obat sakit kepala! bukan obat sakit berak" Imbuh Vania dengan emosi. Lalu ia pun berlenggang kembali masuk kelas.
Saat di dalam kelas. Sebuah kertas melayang ke wajah Vania. Cewek itu langsung menunduk kepalanya. Yang tidak sanggup melihat tatapan ngeri guru tersebut.
"Apa-apaan kamu ini Vania! saya nyuruh hitung. Bukan suruh ngarang. Kamu kira ini pelajaran anak TK, yang bisa jawab seenak kamu. Kalau gak bisa mata pelajaran saya. Besok-besok, jangan harap kamu ngikutin mata pelajaran saya lagi!" Bentak pak Boni dengan emosi yang bergemuruh kepada siswinya. Dan itu mengundang tawaan dari seluruh murid kelas.
"Hahahaha..." Tawa semua murid.
"Diam kalian semua!" Bentak Pak Boni membuat mereka yang tertawa jadi terdiam. Pak Boni pun kembali mengalihkan pandangannya kepada Vania.
"Maaf pak.." Ucap Vania sekian lama terdiam.
"Maaf-maaf! sudah berulang kali kamu minta maaf. Gak ada itu berubahnya, yang ada otak kamu makin blo'on. Saya kira kamu tidur pas pelajaran saya karena sudah pintar ternyata sama aja nol" Balas pak Boni dengan emosi yang masih sama.
"Nanti pas jam, istrihat. Jangan lupa ke ruangan saya! Kamu hari remedial" Tukas pak Boni meninggalkan kelas ips satu. Dan beralih mengajar ke kelas selanjutnya.
Vania pun mendesah lelah, dan berjalan menuju bangkunya dengan lesu. Apalagi tatapan semua murid seperti sedang mengejek dirinya.
"Dasar guru gila, ku sumpahin mati Lo di tengah jalan. Dan semoga aja gak ada mau mengubur jasad Lo yang tua Bangka" Umpat Vania kesal.
Suara ketukan pulpen yang di atas meja. Terdengar berisik. Apalagi kertas yang harus berisi jawaban. Kini bersetipo semua.
"Anjirrr, makin gila ku rasa kalau begini caranya" Gerutu Vania kesal seraya menggoyangkan setiponya. Untuk menyetipokan jawaban yang salah. Sekarang cewek itu tengah berada di ruangan pak Boni. Untuk mengerjakan soal remedial.
Ceklek
Vania yang mendengar, suara pintu terbuka. Langsung terkesiap, dan pasrah kalau dia bakal akan kenak amukan pak Boni lagi.
Alaska yang disuruh pak Boni, mengumpulkan buku latihan para murid. Cowok itu langsung memicingkan matanya. Pas masuk keruangan bapak itu, yang melihat ada Vania berada di dalam ruangan guru matematika yang killer itu.
Sementara Vania bernafas lega, kalau yang masuk itu adalah Alaska. Bukan pak Boni.
Alaska yang masih berdiri di ambang pintu tanpa ingin mengindahkan Vania, langsung menaruh buku latihan para murid tersebut di meja bapak itu. Lalu berjalan keluar. Namun langkahnya berhenti melihat Vania yang seperti kesusahan.
Tanpa ingin menurunkan gengsi nya. Dia mendekati Vania.
"Lagi ngapain Lo?" Tanya Alaska dengan nada biasa saja. Tidak kasar, dan tidak lembut.
Vania menarik sudut bibirnya. "Lagi remedial" Jawab Vania malas.
Alaska yang melirik kertas soal Vania yang sudah banyak yang bersetipo. Dan kemudian merasa soal itu mudah. Ia pun menarik kertas itu, dan mengambil pulpen Vania secara paksa.
Perlakuan yang seperti itu. Membuat Vania emosi. Tapi ia urungkan, melihat apa yang telah cowok itu lakukan.
"Ouh... Lupanya ingin bantu jawab. Bilang kek, dari tadi. Gue kira tadi apa! Ngasal ambil kertas orang" Gumam Vania yang di dapat oleh Alaska.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments