Alaska menatap langit-langit markas. Pikirannya tertuju tentang kemarin. Yang dimana, dirinya bermain hujan dengan Vania. Entah kenapa Vania kemarin terlihat cantik di matanya. Dengan senyuman manisnya hingga membuat matanya menyipit seperti bulat sabit. Alaska pun menarik sudut bibirnya, mengingat Vania menggenggam tangannya yang begitu erat. Tak berangsur lama, Alaska mengeleng kepalanya, berusaha menepiskan pikirannya, yang memikirkan tentang cewek itu.
Itu bukan tujuan awalnya, tujuan awalnya dia adalah berusaha lebih dekat dengan cewek itu. Dan kemudian menmanfaati Vania sebagai taruhannya.
Pandangan Alaska pun beralih ke dadanya. Yang terdapat sebuah novel romantis. Tangannya yang ia jadikan sebagai bantalan di kepalanya. Kini beralih memegang buku novel itu. Lalu membukanya dan membacanya.
Tiap bait barisan ia baca dengan teliti. Dan raut wajahnya terlihat serius. Gak perlu waktu lama membaca. Tiba saja raut wajah Alaska berubah menjadi kesal, dia pun menutup buku novel itu dengan frustasi seraya berubah posisi menjadi duduk di sofa panjang markas.
"Anjirrr, gak ada guna baca itu buku gak ada faedahnya sama sekali" Cowok itu tidak mengerti tiap bait barisan dia baca. Dan tidak seperti keinginannya, mendapatkan sesuatu hal yang berguna, yang ia inginkan.
Alaska pun mengacak rambutnya frustasi. Karel yang baru saja tiba di markas, di buat heran dengan tingkah cowok itu. Ia pun berjalan mendekati Alaska.
"Lo napa? kesurupan. Ku lihat, mancam kesal sendiri tanpa ada alasan" Lontar pertanyaan dari mulut Karel untuk Alaska.
Rambut hitam legamnya, yang terlihat acak-acakan. Dia menoleh menatap Karel dengan sorot mata yang tajam. Kemudian sorot matanya berubah menjadi sayu.
"Gak ada, gue cuman kesal banyak tugas sekolah" Jawab santai Alaska nyaris membuat Karel melongo.
"Yang serius Lo?" Karel nampak melongo tak percaya seorang Alaska frustasi karena tugas sekolah. Gak kiamat kan ni dunia?
Alaska berdecak kesal. "Kalau iya napa!" Jawab Alaska ketus.
Karel menyengir kecil. "Gak ada apa-apa sih" Karel mengangguk kepalanya pelan.
Mata Alaska pun menoleh ke arah lain. Dan tidak menatap ke arah Karel lagi. Namun tiba saja Karel memicingkan matanya melihat sebuah buku di lantai.
Cowok itu pun membungkuk badannya, seraya tangannya terulur mengambil buku itu. Setelah mengambil buku itu, Karel pun kembali berdiri tegak. Dengan rasa penasaran yang menyeruak di dirinya. Ia pun membuka itu perhalaman.
"Alaska nih bukan buku Lo kan?" Tanya Karel selesai membuka buku novel itu perhalaman. Alaska yang sedang bermain ponselnya, pandangannya pun menoleh ke arah Karel. Mendengar pertanyaan yang di lontarkan Karel.
Mata Alaska membulat sempurna. Melihat buku novel itu berada di tangan Karel. Tangannya pun terulur, mengambil buku novel itu secara kasar dari tangan Karel. Karel yang melihat sikap Alaska mengerutkan dahinya.
Suasana hening pun menyelimuti. Alaska pun kembali bermain ponselnya, setelah mengambil buku novel romantis itu dari tangan Karel.
Kedua ujung bibir Karel pun terangkat. "Siapa cewek yang Lo naksir?" Tanya Karel kepo.
"Gak ada" Jawab singkat Alaska tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
"Masa... ntar ku bilangin ke Vania loh" Selepas pulang dari pertandingan basket antar kelas kemarin. Karel tanpa sengaja melihat Alaska berboncengan dengan Vania. Dan bukan di situ aja. Ia pun melihat Alaska dan Vania duduk di sebuah halte dengan kondisi hujan deras.
Alaska melotot kan matanya menatap ke arah Karel.
"Bisa gausah ikut campur urusan orang!" Sentak Alaska emosi. Membuat Karel menelan saliva-nya dengan susah payah.
"Enggak kok, gue cuman becanda doang"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments