Basket

"Ii Vania mancam mana ni..." Seru Tia dengan raut wajah cemas sekaligus ketakutan. Vania yang duduk di atas Tribune samping Tia, nampak memutar bola matanya jengah.

"Lo bisa diam gak sih. Lo itu hanya perlu cukup nonton aja gausah heboh" Balas Vania yang jengah, terhadap sohibnya.

"Gue gak heboh! Gue takut aja kelas kita nanti kalah. Terus kita di jelekkan sama cewek anak MIPA satu itu" Tia menekuk wajahnya kesal, mendengar perkataan Vania. Bisanya cewek itu sesantai itu dengan, kelas mereka kini bertanding basket dengan MIPA satu.

"Terus gue harus gimana?" Vania menaikkan alisnya, membutuh jawaban seperti apa.

"Harus, nangis gitu. Ya enggak kan" Vania melirik sohibnya itu dengan sinis. Bukannya cukup nonton aja apa susah sih. Sohibnya satu ini.

"Serah-serah Lo lah. Ntar Lo kalau di bully jangan salahin gue" Tia meluruskan pandangannya kedepan, melihat pertandingan basket antar kelas akan di mulai.

Vania yang mendengar, ucapan Tia. Mengeleng kepalanya.

Di lapangan basket indoor SMA Labschool. Alaska keluar dari ruangannya, dan berjalan menuju tengah lapangan. Itu sontak mengundang heboh para cewek-cewek. Yang melihat tampilan cowok yang di kenal Bad boy lebih keren daripada biasanya, dengan baju basket yang berbalut badannya, kemudian rambut hitamnya, di biarkan acak-acakan, itu membuat menambah damage ketampanannya.

"Alaska alay fyuu .. "

"Anjirrr ganteng banget cowok gue"

"Pangeran turun dari mana sih"

Vania mendengar teriakan heboh, cewek-cewek SMA-nya. Menutup kupingnya dengan kedua tangannya.

"Cih, alay banget sih ni cewek semua" Vania berdecih pelan dengan pandangannya fokus ke anak basket yang sedang tos antar lawan. Terlihat Alaska sedang berjabat tangan dengan kapten basket anak IPS satu.

"Semoga harimu beruntung..." Ucap Zidan kepada Alaska sembari tangan mereka berjabat tangan.

"I know, hidup gue memang selalu beruntung" Angkuh Alaska dengan senyuman Smirk yang terukir bibir tipisnya.

Zidan berusaha tersenyum, mendengar perkataan Alaska yang terdengar angkuh.

"Liat aja nanti..." Zidan melepaskan jabatan tangannya, seraya berjalan mundur dan mengambil formasi nya.

Tampak wasit berdiri di tengah-tengah, di antara kapten basket dari dua belah pihak. Yang tangannya memegang sebuah bola basket, lalu di angkat tinggi-tinggi. Peluit yang di sangkut di lehernya ia ituin ke di bibir nya. Kemudian meniupnya

Prittt....

Suara peluit pun terdengar nyaring, sembari bola basket yang sudah melambung ke udara. Gerakan yang lincah, Alaska pun berhasil merebut bolanya. Sebelum di ambil di tangan musuh.

Ia pun berlari cepat dengan tangannya, memantul kan bola. Lalu saat dekat ring, Alaska pun melakukan drible dan langsung melemparkan bola itu di ring.

Tepukan heboh pun menyambut. Dengan poin pertama yang baru di raih Alaska. Zidan yang melihatnya, mengacak rambutnya frustasi. Dan ia pun berlari pelan, untuk mengambil bola itu.

Waktu pun terus berjalan, pertandingan basket itu makin terlihat sengit, melihat waktu yang sudah mau habis.

Alaska tersenyum lebar, melihat dirinya kembali mencetak poin. Kepalanya pun menoleh, dan berhenti pada satu cewek yang terlihat tidak terlalu menikmati pertandingan ini. Vania yang seperti menyadari Alaska melihat dirinya. Ia pun langsung menatap kearah lain.

Apalagi melihat senyuman cowok itu, yang ditujukan untuk dirinya.

Pertandingan pun ini berakhir. Banyak terdengar helaan, nafas dari kelas IPS satu. Karena melihat anak MIPA yang meraih juaranya.

"Gak papa deh, walaupun kalah kelas kita. Setidaknya gue bisa lihat Alaska yang terlihat tampan begini" Tia senyum-senyum sendiri sembari menatap Alaska yang sedang mengelap keringatnya mengunakan baju basket nya. Yang terlihat, perut sixpack yang terawat.

"Selamat bro..." Aksara menjabat tangan Alaska sembari melanjutkan perkataannya.

"Atas kemenangannya, emang cocok Lo jadi kapten..." Puji aksara kepada wakil geng motornya.

"Thanks..." Balas Alaska datar.

Vania yang merasa, pertandingan basket nya sudah selesai. Langsung melenggang pergi, dari lapangan basket indoor SMA Labschool.

Cewek itu yang sedang duduk di halte bus. Tampak cemas melihat cuaca t yang mendung. Dan bakal akan turun hujan. Sekian menit.

Sebuah motor pun berhenti tepat depan halte bus.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!