Thurt or dare

Selesai ulangan matematika dadakan, tadi. Kini Vania berkumpul dengan perkumpulan dengan anak inti geng Beatles. Karena bunyi bel jam istirahat sudah lima menit yang lalu. Sekarang tinggal menunggu jam masuk. Tapi nampaknya guru gak akan memasuki kelas. Karena ada rapat.

"Woy nanti bel mending kita di kantin aja. Dari pada ke kelas gak tahu ngapain" Celetuk Jefri seraya memutar botol Aqua di atas meja kantin.

"Benar juga! Lagipun guru ada rapat hari ini" Timpal Karel yang sependapat dengan Jefri. Anak inti geng Beatles Yang mendengarnya, pun nampak manggut-manggut kepalanya.

"Kalau Vania? bagaimana masuk ke kelas?" Tanya Jefri kepada cewek itu yang sedari tadi diam.

Vania tersenyum tipis. "Gue di kantin aja, sama kalian. Soalnya gue kalau di kelas gak tahu ngapain juga" Balas Vania seadanya. Membuat Jefri tersenyum lebar mendengarnya.

"Bagus tuh! Lagipun gue ada permainan buat kalian? mau tau gak?" Seru Jefri seraya memainkan alisnya.

"Enggak..." Sahut kompak Karel, Aksara, Bastian. Mendengar jawaban sohibnya membuat Jefri mengerucutkan bibirnya kesal.

"Jawab mau aja napa..." Kesal Jefri membuat mereka terkekeh.

"Yaudah apa permainannya?" Tanya Aksara seraya menaikkan alisnya sebelah.

"Permainannya thurt or dare! ada yang tahu?" Seru Jefri bertanya. Membuat mereka memutar bola matanya malas.

"Adalah, dah permainan dari zaman purba itu. Jadi maksud Lo apa? Pengen kita main permainan itu" Ujar Karel bertanya. Yang sudah sangat mengenal nama permainan tantangan dan pertanyaan itu.

"Yes tepat sekali, selamat anda mendapatkan uang 100 gopek di kantor pajak" Seloroh Jefri.

"Udahlah gausah bacot Lo! mulaikan terus permainannya. Lo putarin aja ni botol" Titah Karel yang gak mau berlama-lama.

"Ya sabarlah! orang yang sabar itu di sayang ODGJ loh" Balas Jefri yang di sertai kekehan ringan.

"Alaska Lo ikut juga enggak" Tanya Aksara kepada Alaska yang sibuk dengan ponselnya. Alaska yang di tanya pun mematikan ponselnya lalu menyimpan di saku celana abu-abunya. Cowok itu hanya mengangguk kepalanya datar sebagai jawaban.

Membuat Aksara menghembus nafas kasar. "Alah cuman ngomong iya aja susah banget sih" Gerutu Aksara yang melihat temannya yang terlalu cool.

Botol itu pun di putar oleh Jefri dan berhenti tepat pada Karel.

"Ayoloh kenak Lo kan Rel" Ucap Jefri seraya menakut-nakuti Karel. Namun Karel tampak biasa aja.

"Pilih apa Lo thurt atau dare?" Tanya Aksara. Karel pun mengerutkan dahinya, seraya menimbang-nimbang pilih yang mana.

"Gue pilih thurt.." Sahut Karel, membuat Aksara Jefri mendesah panjang.

"Alah gak keren amat sih Lo mancam Bastian!" Timpal Jefri membuat Bastian yang mendengar nya, tersulut emosi.

"Apaan Lo bawa-bawa nama gue! Gue dah sekeren gini, di bilang gak keren!" Ujar Bastian yang mengangkat dagunya tinggi-tinggi.

"Sabar bro sabar bro jangan emosi!" Ucap Aksara seraya mengusap punggung Bastian seolah untuk menenangkan.

"Tapi emang benar Lo gak keren!" Sambung Aksara dengan tergelak tertawa.

"Aanjing Lo Aksara..." Kesal Bastian.

"Udah diam, jangan ribut! siapa ni dulu kasih pertanyaan. Gue duluan aja ya" Ucap Vania membuat mereka semua mengangguk setuju.

"Ini Lo kan dah punya pacar! Sejak kapan sih Lo dah pacaran!" Tanya Vania yang kepo dengan pacar Karel.

"Ya sejak gue kelas 10, tapi gue udah kenal lama sama dia sejak SD. Napa?" Tanya balik Karel.

"Gak ada gue cuman nanya aja!" Balas Vania. Karel pun mengangguk kepalanya.

"Sekarang giliran gue!" Celetuk Jefri yang ingin giliran dia duluan bertanya setelah Vania.

"Lo pernah vcs gak sama pacar Lo?" Tanya Jefri sontak membuat mereka heboh mendengarnya.

"Annj*r ya enggak lah bodoh! gue pacaran masih sewajarnya gak kayak Lo asal. Ada cewek maunya di bawa atas ranjang terus" Balas Karel seraya mengeleng kepalanya.

"Ya lah biar pro!" Seru Jefri memainkan alisnya naik turun.

"Alah mainin cewek elit, nanti giliran tangung jawab-" seru Vania setengah. Lalu di sambung oleh Karel dan aksara.

"Sulit... Chuask" Jawab kompak Karel dan Aksara seraya tertawa renyah. Jefri pun mengangguk kepalanya gak gatal. Merasa tersindir dengan ucapan sohibnya.

"Emang vcs itu apa?" Celetuk Bastian bertanya. Membuat mereka semua mendesah panjang.

"Udahlah gausah banyak nanya cukup dengar aja. Karena Lo masih bocah!" Balas Jefri membuat Bastian menekuk wajahnya kesal.

"Lanjut-lanjut.." Seru Vania. Permainan pun berlanjut hingga terakhir jatuh pada Alaska, selesai dengan Alaska yang memberikan pertanyaan kepada Karel. Botol pun berputar kembali dan botol kembali berhenti tepat ke arah Karel.

"Putar-putar lagi! gue udah!" Titah Karel. Membuat Jefri kembali memutar botol itu kembali. Namun tetap saja berhenti tepat ke arah Karel.

"Kok gue mulu sih yang kenak, ini gara-gara Jefri yang tol*l mutarnya" Kesal Karel. Membuat mata Jefri membelalakkan.

"Kok gue yang di salahkan, botolnya lah di salahin, yang demen banget sama Lo" Sarkas Jefri yang gak ingin salahkan.

"Yaudah gue aja putarin.." Karel pun mengambil alih dan memutar botol itu. Botol itu pun berputar dan berhenti ke arah Vania.

Vania yang kenak gilirannya, menyengir lebar. "Gue pilih thurt aja deh"

"Ah.. Gak asih banget sih lu Vania" Ujar Bastian dengan wajahnya lesu.

"Kalau gue pilih Dare yang ada kalian kasih tantangan ke gue. Yang enggak-enggak! Ya otomatis gue gak maulah. Mending cari aman aja. Yaudah siapa ini mau kasih pertanyaan ke gue" Seru Vania bertanya.

"Gue.." Jawab Alaska membuat suasana berubah menjadi mencekam. Seketika atmosfer pun bumi terasa menipis.

"Kok malah dia duluan sih, kasih pertanyaan" Gumam Vania di dalam batinnya. Alaska melihat semua diam, langsung melemparkan pertanyaan ke Vania.

"Pertanyaan gue, Lo udah pacar apa belum" Tanya Alaska mengintimidasi. Membuat Vania mendengar pertanyaan Alaska, tercengang.

Ngapain dia nanya-nanya gue udah punya pacar belum. Batin Vania bertanya-tanya.

"Cie, kiw-kiw kalau suka bilang. Gausah modus gaya sok cool. Kalau paling hati terdalam naksir" Heboh Jefri. Yang mengira Alaska suka dengan Vania. Padahal tidak.

"Diam Lo, sebelum gue banting" Sergah Alaska dengan tatapan tajam. Seketika membuat nyali Jefri pun menciut. Vania yang melihat tatapan tajam Alaska yang seperti bak elang. Menelan saliva-nya dengan susah payah.

"Jawabannya enggak. Gue belum punya pacar" Jawab Vania dengan hati-hati.

Suasana hening pun menyelimuti.

"Kok malah jadi diam gini sih" Seru Vania di dalam hati.

"Dah gitu aja pertanyaan Lo?" Tanya Aksara kepada Alaska.

"Ya cuman gitu doang.." Balas Alaska datar. Membuat mereka menghela nafas panjang.

"Sekarang giliran gue!" Seru Bastian.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!