Gak pernah di anggap

Vania dengan baju kaos berwarna hitam, dan celana pendek yang panjangnya hanya cuman selutut, kemudian rambutnya yang di kuncir kuda. Dia mengaduk Pop mienya dengan sendok sembari berbicara dengan Tia di telepon.

"Vania, besok ada pr gak?" Tanya Tia di sebrang telepon.

Vania yang di tanya, mengerutkan dahinya. Memikirkan besok ada pr pelajaran apa.

"Kayaknya gak ada deh" Balas Vania membuat Tia tersenyum lega di seberang telepon.

"Baguslah, capek banget dah gue tadi pagi gara-gara pak Boni, ngasih ulangan matematika dadakan terus waktunya dikit lagi" Ujar Tia kesal sembari mengingat tentang tadi pagi di sekolah.

"Ya tapi datang Lo bilang ini mudah kok pak" Ketus Vania dengan melotot kan matanya meskipun tidak terlihat.

Tia yang mendengarnya, tertawa ringan. "Hehe maaf!"

"Enteng banget Lo bilang minta maaf! otak gue tadi pagi dah mendidih tahu jawab ulangan matematika itu" Kesal Vania yang kepalanya, hampir pecah menjawab ulangan matematika tadi lagi. Yang di luar nalar baginya.

"Is gitu doang aja marah gak papa, biar sekalian otak Lo biar di cuci biar pinter" Tia tertawa di akhir kalimat setelah mengucapkan itu.

"Pala otakau! Otak Lo sini gue cuci biar hilang itu sesat-sesat nya cepat" Titah emosi Vania membuat Tia yang mendengarnya tertawa.

"Eh be the way Lo tadi ngapain sama circle Alaska. Di kantin" Tanya Tia yang sempat melihat mereka berada di kantin pas jam kos.

"Gak ada, cuman main-main biasa" Jawab Vania seraya sesuap mie kedalam mulutnya.

Tia mengerutkan dahinya."Main apa?" Penasaran Tia.

Vania yang sedang menguyah mie pun, menjawabnya. "Ya main thurt or dare"

Seketika bola mata Tia pun membulat sempurna.

"Really Lo main gitu sama cowok famous itu?" Tanya Tia memastikan dengan matanya berbinar-binar.

"Yes.." Jawab Vania yang sedikit kepedesan dengan pop mie dia makan.

"Gila Lo van! bisa-bisa nya Lo main sama cowok tampan di sekolah kita. Milih apa Lo pas main sama mereka" Tanya Tia yang masih penasaran.

"Biasa Vania gitu! gue pas main sama mereka milih thurt" Ujar Vania menjawab.

Tia tersenyum. "Kenapa gak milih dare aja sih, biar keren gitu!" Seru Tia di sebrang telepon seraya memainkan alisnya.

"Keren? Keren darimana nya, yang ada ntar gue di suruh aneh-aneh sama mereka" Jawab Vania ketus dengan tangan menganduk mienya yang tinggal tersisa kuahnya.

Tia pun tertawa. "Ya baguslah, palingan ntar Lo di suruh ciuman sama Alaska!" Ucap Tia santai mampu membuat Vania emosi mendengarnya.

"Heh gila Lo! masa nyuruh ciuman di sekolah. Yang ada ntar gue di keluarin dari sekolah" Sungut Vania emosi dengan perkataan temannya yang gak benar-benar aja.

"Heih, tapi berarti Lo mau dong ciuman sama Alaska ciee.." Goda Tia dengan cekikikan.

"Enggak aanjing! Ogah gue di suruh ciuman sama dia. Yang ada ntar mulut gue rabies sama dia" Kilah Vania emosi seraya meneguk air putih dinginnya yang mulai sudah tidak dingin lagi.

"Hahaha, iya kan aja deh. Emang Lo di kasih pertanyaan apa sama mereka?" Lontar pertanyaan lagi dari mulut Tia.

"Ya biasa, mereka cuman nanya gue. Mandi gue sehari berapa! Suka nonton apa. Ya pokoknya pertanyaan biasa aja deh" Balas Vania seadanya.

"Kalau Alaska? Kasih pertanyaan Lo apa" Tanya Tia seraya mengayunkan kedua kakinya ke atas yang kini dalam posisi tidur terlungkup.

"Kalau dia..." Suara Vania tertahan.

"Kalau dia kenapa?"

"Iya... dia agak laen kasih pertanyaan nya!"

"Emang pertanyaan apa dia kasih?"

"Dia nanya gue dah punya pacar apa belum" Jawab Vania.

Tia yang sedang terlungkup di kasur, langsung terkesiap.

"Hah yang benar! dia nanya gitu ke Lo. Wah parah kurasa dia mau nembakin Lo ni" Seru Tia terdengar heboh.

"Ya enggak lah mana mungkin, udah cukup dulu ya soalnya kakak gue dah pulang" Ucap Vania mengakhiri teleponnya. Membuat Tia yang diputuskan sepihak mendesah kesal.

Disisi lain Kakak yang di maksud Vania pun datang menuju ke dapur, dengan menatap Vania dengan tatapan intimidasi.

"Lagi nelepon sama siapa ni?" Cewek yang rambut berwarna hitam sebahu itu memainkan alisnya sembari melemparkan sebuah pertanyaan.

"Gausah mikir yang enggak-enggak. Gue cuman nelpon sama teman" Jawab Vania yang menebak isi pikiran kakak sepupunya itu. Lalu ia pun memutuskan berlenggang pergi ke kamar. Cewek bernama keya itu pun menaikkan alisnya menatap punggung Vania, yang telah hilang dari pandangannya. Matanya pun beralih ke atas meja makan. Melihat ada sebuah pop mie hanya tertinggal sisa kuah.

Dengan seulas senyuman. Tangannya pun terulur mengambil pop mie tersebut. Dan dia pun memakan pop mie tersebut. Matanya pun langsung menbola.

"Anj*rr pedas banget ni mie.. Huuh!" Keya yang mulutnya yang kepedesan langsung mengambil air dingin di kulkas. Dan meneguknya hingga setengah.

Di sebuah kamar yang terlihat mewah dan luas. Dengan kamar yang tercat warna hitam dan abu-abu. Alaska menatap dengan tatapan menerawang menatap langit kamar. Pikirannya kembali tertuju kepada kemarin malam sebelum rajash mengajak taruhan.

Rasa sesak pun menyelimuti dirinya mengingat perkataan yang di lontarkan Papanya padanya. Cuman perkataan biasa tapi menyakitkan bagi seorang anak.

*Flash back*.

"Papa sangat bangga sama kamu Rajash" Ucap Papa Davin bangga kepada anak tirinya.

Rajash mengulas senyum. "Itu cuman biasa pah bagi Rajash, gak ada apa-apanya" Imbuh Rajash dengan sengaja merendahkan dirinya. Agar terlihat oleh Papa Davin bahwa dia anak hebat dari Alaska.

Alaska yang sedari tadi mendengar pembicaraan, antara Papa nya dengan Abang tirinya. Merasa muak, mendengar perkataan pujian di lontarkan papanya untuk anak kesayangannya itu. Ia pun bangkit dari kursi meja makan.

Papa Davin melihat putranya, yang mau seperti hendak pergi. Dengan makanan cowok itu belum sedikit pun tersentuh. Mencegahnya.

"Mau kemana kamu?" Tanya Papa Davin dengan sorot mata tajam.

"Mau pergi ke kamar! soalnya disini terlalu berisik, karena banyak kata bohong yang seolah merasa paling hebat! Tapi kenyataannya tidak" Jawab Alaska seolah menyindir Rajash. Rajash yang merasa tersindir, mengepal kedua tangannya yang sedang memegang sendok makan.

"Lo iri kah?" Rajash menyeletuk mengundang kontan mata menatap dirinya.

Alaska tertawa ringan. "Lo tersindir?" Alaska bukannya menjawab melainkan melempar sebuah pertanyaan, membuat Rajash langsung bangkit dari kursinya.

"Lo kalau iri bilang, gausah sok cari muka" Emosi Rajash seraya mencengkram kerah baju Alaska kuat.

Sudut sebelah bibir Alaska naik. "Bukannya Lo yang disini gak ada muka"

Bugh

Bogeman mentah pun melesat di rahang Alaska. Alaska pun memengang rahang, seraya tersenyum sinis. Ia pun membalas balik pukulan Rajash.

Pergaduhan pun terjadi. Tampak dari mereka berdua tidak ada yang mau mengalah. Tetap saling melesatkan pukulan dan tendangan. Membuat Mami Rina jadi panik. Melihat anak kandungnya dan anak tirinya berkelahi.

Papa Davin pun berusaha menghentikan. Perkelahian antar dua pemuda itu. Namun, dirinya juga terkena pukulan gara-gara berusaha menghentikan.

"Mas tidak apa-apa?" Tanya Mami Rani dengan raut wajah khawatir. Papi Davin yang sedang jemarinya yang memengang rahang yang terasa sakit. Mengeleng kepalanya pelan.

"Berhenti kalian berdua saya bilang!" Titah Papa Davin dengan emosi. Namun mereka berdua tidak mengindahkannya.

Brak

Prang

Krek

Alaska menarik sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Melihat Rajash yang tersungkur ke lantai dan punggungnya menghantam meja makan. Membuat Mami Rani teriak histeris.

"Akhh..." Jerit kesakitan Rajash. Mami Rani melihat putranya yang ngenes, dengan langkah cepat Mami Rani menghampiri putra kesayangannya. Begitu juga dengan Papa Davin dengan raut wajah khawatir menghampiri anak tiri nya.

"Alaska diam kamu di tempat! kalau tidak. kamu saya anggap bukan putra saya lagi" Titah Papa Davin yang melihat Alaska yang ingin melayangkan pukulan kepada putra tirinya.

Alaska menaikkan aslinya, hatinya berdenyut sakit mendengar perkataan yang di ucapkan Papa nya.

"Gue juga gak perlu di anggap sama elo. Lo aja gak pernah dari dulu anggap gue itu ada" Jawab Alaska dengan sedikit rasa sesak di dadanya mengatakan itu. Lalu dia pun berlenggang pergi sembari memegang rahangnya terasa sakit. Tapi itu masih mending dari pada Rajash yang sudah terkapar pingsan.

*Flash off*

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!