Kekantin

Vania dengan wajahnya yang lembap, menekuk wajahnya kesal. Bagaimana gak kesal coba, setelah adu bela diri. Kemarin sore, dirinya betul-betul di buat remuk oleh Alaska, itu cowok berantem tak kenal bulu. Cowok maupun cewek semua dia baku hantam. Alhasil beginilah hasilnya.

Tia merupakan teman Vania, mengerutkan dahinya heran. Melihat wajah Vania yang sedikit kebiruan.

"Haha, napa itu muka Lo? Habis ketabrak tiang listrik kah " Ucap Tia dengan nada mengejek.

Vania menaikkan alisnya. "Enak aja! Kalau iya napa?" Cetus Vania yang suasana hatinya yang lagi gak baik-baik saja.

Tia pun menyengir lebar. "Canda oi, jangan di bawa serius amat. Emang kenapa sih itu muka Lo, kok dah lembab aja" Tanya Tia yang penasaran dengan muka teman Vania yang lembab.

"Habis berkelahi gue" Balas Vania lesu membuat Tia yang mendengarnya, matanya jadi belalakan.

"Hah yang serius Lo" Tanya Tia memastikan, bahwa dia dengar itu benar.

"Iya serius lah, ngapain coba gue bohong. Gak ada guna pun gue, kalau bohong" Sahut Vania seraya menopang dagu, di tangannya yang di atas meja.

Tia pun mengangguk kepalanya paham. "Sama siapa?" Lontar pertanyaannya lagi.

"Sama Alaska!" Sahut Vania singkat.

"What yang serius lo?" Pekik Tia membuat mengundang perhatian semua murid di dalam kelas.

Vania yang melihatnya, menepuk jidatnya. "Jangan teriak bisa gak sih, Lo? Lihat ini kita jadi pusat perhatian" Tegur Vania.

Tia pun menatap sekitar nya, dan benar bahwa dirinya sekarang jadi pusat perhatian. Ia pun menyengir lebar menatap ke arah Vania.

"Hehe, maaf.." Balas Tia membuat Vania memutar bola matanya malas.

"Gimana kok Lo bisa berkelahi dengan tuh cowok?" Bisik Tia yang sangat penasaran, kok bisa-bisanya Vania berkelahi dengan cowok paling sadis di sekolah ini.

"Gini ceritanya.." Vania pun menceritakan dari awal bagaimana dia menantang cowok itu hingga dia di buat babak belur sama cowok bernama Alaska.

"Ouh gitu ceritanya, pantesan siapa suruh Lo nantang dia berkelahi" Ujar Tia membuat Vania cengengesan.

Guru jam pelajaran pertama pun masuk, murid yang tadi ribut. Kini menjadi diam. Dan duduk di tempat bangku masing-masing.

Tak terasa jam pelajaran kini mau berakhir, dan mau memasuki jam istirahat. Suara bel pun berbunyi, semua siswa-siswi pun berhamburan ke keluar kelas.

Tia yang duduk nya, sebelah Vania. Menghampiri meja cewek itu.

"Nilla, gak istirahat Lo?" Tanya Tia yang melihat Vania yang menidurkan kepalanya di atas meja dengan tangannya sebagai bantalan.

Mendengar panggilan, menurut Vania gak suka. Ia pun langsung duduk tegap, dan menatap pelakunya dengan tatapan tajam. Tia yang di tatap begitu merasa was-was.

"Enggak.." Balas Vania memilih tidak berdebat dengan panggilan Tia kepadanya. Dia pun kembali menidurkan kepalanya di atas meja dengan tangan sebagai bantalan.

Tia yang melihatnya, menghela nafas panjang. Dan memutuskan menuju ke kantin sendiri. Padahal dia ingin mengajak cewek itu. Tapi kayaknya di lihat, Vania lagi gak mau.

Saat keluar kelas tiba-tiba Tia di buat kaget, oleh cowok tampan yang berdiri seraya bersedekap dada yang kini tengah menatapnya.

"Ini kelasnya Vania kan?" Tanya cowok tersebut adalah Aksara. Sejak kejadian kemarin, aksara merasa gak enakan dengan Vania. Yang telah terjadi kepada cewek itu. Sebab ulah Alaska.

Tia yang di tanya, nampak tersenyum malu-malu sendiri.

"Iya benar ni kelasnya Vania, emang ada apa ya?" Tanya Tia di akhir kalimat dengan masih senyum malu-malu nya yang terukir di bibirnya.

"Tolong panggilkan Vania boleh?" Pinta Aksara kepada cewek yang berdiri di depannya. Tia yang di pinta pun mengangguk kepalanya. Dan kembali masuk kedalam kelas.

"Van, ada yang ada manggil Lo itu di luar" Ucap Tia seraya menggoyang tubuh Vania yang tengah tertidur di dalam kelas.

"Hm.. Apa" Sahut Vania dengan mata yang memejam.

"Ada yang manggil Lo itu di luar, cepat keluar sana" Titah Tia membuat Vania membuka kelopak matanya. Dan duduk dengan posisi tegak.

"Siapa yang manggil?" Vania menaikkan alisnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Aksara.." Vania yang mendengar nama Aksara, langsung membulatkan matanya sempurna.

"Yang benar Aksara manggil gue?" Tanya Vania memastikan.

"Benarlah.." Jawab Tia dengan pasti.

Vania pun langsung beranjak dari kursinya dan menuju ke keluar kelas. Dan benar apa yang di bilang Tia. Bahwa ada Aksara di depan kelas. Yang sedang menunggunya.

"Hai.." Sapa Vania.

Aksara yang sedang menatap lapangan, kini membalikkan badannya, mendengar suara yang tidak begitu familiar di telinga nya. Dan benar ada sosok Vania yang berdiri depan kelas.

"Hai juga.." Sapa balik Aksara.

"Yuk ke kantin.." Ajak Aksara kepada Vania. Vania yang di ajak nampak bergeming.

Menautkan alisnya bingung. "Ke kantin?" Tanya Vania memastikan.

"Iya benar ke kantin, karena Lo dah jadi bagian anggota inti geng Beatles. Jadi kita berkumpul bareng bersama dengan anak geng Beatles lainnya" Ujar Aksara menjelaskan.

"Kayaknya gue gausah deh, kalian aja ngumpul" Walaupun hasil perkelahian Alaska yang menang. Tetap saja Vania di terima bergabung. Tapi bukan itu faktornya Vania tidak ingin ke kantin.

"Kenapa? Karena Alaska? Gausah di pikirin itu cowok. Dia memang gitu orangnya. Tapi sebenarnya dia itu baik kok orangnya. Cuman yah begitulah, yuk ke kantin" Ajak Aksara.

Vania yang di ajak, nampak menimbang-nimbang. Aksara yang melihat Vania yang masih berpikir, langsung menggenggam tangan cewek itu dan berjalan menuju ke kantin.

"Dah jangan banyak mikir, ntar jajannya habis loh" Ucap Aksara yang menggenggam tangan Vania. Vania yang tangannya di genggam oleh, Aksara jantung tiba-tiba saja berdebar.

Dan bukan itu saja, semua orang berlalu-lalang menatap mereka dengan tatapan susah di tebak. Hingga mereka berdua pun sampai di kantin, yang mana tempat mejanya sudah di klaim menjadi tempat anak geng motor Beatles.

Alaska yang melihat Aksara menggenggam tangan Vania. Menatap dengan tatapan susah di tebak. Merasa sudah sampai kantin, Aksara melepaskan genggaman tangannya. Dan berjalan duduk bersebelahan dengan Karel.

"Oi Rel sibuk ngapain Lo, dari tadi gue liat sibuk mulu dengan itu ponsel" Ujar Aksara bertanya seraya merangkul pundak Karel yang sedang di kursi.

Karel pun melepaskan rangkulan tangan, Aksara yang di pundaknya. "Gak ada lain selain chat ayang gue" Balas Karel dan di angguki kepala oleh Aksara sebagai jawaban. Mata Aksara pun beralih kepada Vania yang masih diam berdiri aja.

"Vania? Kenapa berdiri diam aja! duduk lah" Ujar Aksara lalu di angguki kepala Vania sebagai jawaban. Vania pun mengedarkan pandangannya menatap bangku yang di mana kosong. Dan bangku kosong berada dis samping Alaska.

Dengan wajah yang malas Vania pun terpaksa duduk di sebelah Alaska. Alaska yang menatap Vania sedang menatap kursi kosong sampingnya menendang kursi itu.

Bruk

"Jangan duduk dekat gue! gue malas duduk dekat dengan cewek bervirus" Sindir Alaska membuat Vania mengeram kesal.

Vania pun mendirikan kursi yang di tendang oleh Alaska dengan perasaan kesal.

Siapa juga pengen duduk dekat dengan cowok songong kayak Loh, dih najis. Di dalam batin Vania kesal.

Anak anggota inti lainnya, yang melihat permusuhan Vania dan Alaska. Memilih tidak mengikut campur. Dari pada nantinya mereka juga kenak imbasnya.

Sedetik kemudian, suasana hening pun menyelimuti.

"Oi gak ada yang niat pesankan kita makan-makan gitu" Ujar Jefri membuka suara. Membuat mereka saling menatap satu sama lain.

"Bukannya giliran Lo ya" Timpal Karel kalau sekarang giliran Jefri untuk memesan mereka makanan.

"Lah kok gue? Gue kan udah!" Balas Jefri yang tidak terima kalau harini giliran nya, yang memesan. Karel pun hanya mengangkat bahunya acuh.

"Gimana gue aja yang pesan!" Ucap Vania yang menawarkan dirinya saja yang memesan makanan. Mereka semua pun mengangguk setuju.

Vania pun mengambil tisu yang ada di atas meja. Untuk mencatat menu apa aja yang mereka inginkan. Karena tidak kertas.

"Gue pengen bakso komplit, sama minuman nutrisi" Pesan Bastian. Lalu di catat oleh Vania. Hingga kemudian terakhir giliran Alaska.

"Gue, simpel aja. Bakso komplit juga gak pedas, dan harus banyak mie putihnya. Dan mie kuningnya sedikit saja lalu. Di taruh kerupuk lima, lalu-"

Vania yang mencatat pesanan Alaska menggerutu kesal. Gimana gak kesal, udah di catat di bilang nya gak jadi dan mau gak mau harus di coret pesanan Alaska yang gak jadi itu. Kemudian jadi lagi, yang bilang gak jadi itu.

"Gila ni cowok sengaja bikin gue kesal, lihat Lo pulang gue tunggu di depan gerbang" Gumam batin Vania dengan sangat emosi. Dengan segala tingkah Alaska.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!