Di usir dari kelas

Vania yang di duduk di kursi belakang. Nampak tidak fokus apa yang di jelaskan oleh guru yang didepan. Pikiran cewek itu berkelana tentang kejadian semalam. Cowok yang semalam yang telah menolong dirinya tidak memberikan jawaban. Apakah dirinya boleh ikut bergabung dengan geng motor mereka. Mereka berdua hanya memberikan jawaban tidak. Vania yang tidak terima bergabung, masih tengah berpikir bagaimana dirinya bisa di terima bergabung di geng motor Beatles.

"Duh.. kira-kira siapa ya yang punya nomor wa Aksara" Gumam Vania dengan mengetuk bolpoin nya di meja seraya mengedarkan pandangannya menatap seisi kelas. Karena mengingat cowok semalam yang telah menyelamatkan nya, merupakan satu sekolah dengan nya. Ya menurut nya pasti di kelas nya ini ada yang mempunyai nomor ponsel mereka. Apalagi mereka itu anak famous SMA labschool.

"Tia.." Panggil Vania sedikit berteriak kepada teman sebelah nya. Namun orang di panggil tampak tidak mendengar nya. Ia tampak fokus dengan guru yang sedang menjelaskan materi pelajaran di papan tulis.

"Ck' budeg, amat tuh anak" Vania berdecak kesal. Melihat temannya tidak menyahut panggilannya. Pikiran licik terlintas di kepala Vania. Cewek itu pun merobek kertas buku tulis nya. Dan meremasnya menjadi gumpalan bola.

Tangannya pun terangkat sedikit, untuk ingin melempar kertas yang telah remas itu.

"Satu dua tiga" Kertas itu pun terlempar di udara. Sayangnya lemparan nya tidak kenak sasaran. Dan lemparan nya itu malah mengenai cewek yang mulutnya paling ember di kelas ini.

Bruk

"Aduh.." Cewek yang terkena lemparan kertas itu. Yang bernama Loni, kini tengah pandangan nya menatap kertas yang jatuh di bawah mejanya setelah mengenai kepalanya.

"Aduh buset, malah kenak si mulut ember lagi" Gerutu Vania kesal. Loni pun mengedarkan pandangannya untuk mencari pelaku nya. Senyuman miring pun terukir.

"Ibu.." Panggil Loni membuat guru yang sedang menjelaskan materi itu berhenti sejenak.

"Kenapa Loni?" Tanya guru tersebut.

"Ibu si Vania main lempar kertas, lihat aja ni ibu kertasnya tadi kenak kepala saya" Ujar Loni dengan senyuman merekah. Membuat Vania melihatnya jadi geram.

"Vania apakah itu benar di bilang Loni.." Tanya guru itu memastikan.

"Itu semua gak benar Bu. Si Loni itu fitnah" Jawab Vania dengan dusta agar dirinya tidak terkena hukuman.

"Enggak kok Bu, saya gak fitnah. Ibu kan tahu kalau saya siswi-siswi baik-baik. Sementara Vania, yah tahu sendirilah" Loni tampak memelas mengatakannya membuat guru yang mengajar pelajaran tersebut. Terpaksa mengusir Vania keluar dari kelas.

"Ihh dasar mulut ember, awas aja kau ya. Kutikam-tikam kau pakai pisau nanti" Gerutu Vania seraya menghentakkan kakinya. Cewek itu yang di usir dari kelas gak ambil pusing dan berjalan menuju ke kantin.

Saat sampai di kantin Vania pun membuka freezer es krim. Lalu mengambil salah satu es krim favorit nya yang rasanya strawberry. Dan berjalan menuju ke kasir untuk membayar nya.

"Mpok Desi, saya beli es krim ini satu ya" Ujar Vania seraya menyodorkan uang 10 ribu.

Mpok Desi pun menerimanya dan mengembalikan uang kembaliannya. "Ini neng kembaliannya tiga ribu" Mpok Desi pun menyodorkan uang dua ribu dan seribu.

"Makasih.." Ucap Vania seraya menerima kembalian nya dan di anggukan kepala oleh Mpok Desi sebagai jawaban.

Vania pun berjalan sembari memakan Es krim. Selang beberapa detik Es krim yang, ia makan pun habis. Cewek itu pun segera membuang stick es krim nya tong sampah. Ntah kenapa tiba-tiba saja Vania merasa tidak enak dengan perutnya.

"Duh kok tiba-tiba saja perut ku jadi mules ya.." Gumam Vania seraya memegang perutnya. Sedetik kemudian Vania pun berlari menuju ke toilet sekolah.

Suara angin begitu, banyak keluar. Membuat Vania gak sabaran membuang air besarnya. Cewek itu pun sampai ke toilet dan langsung membuang hajat nya.

Tak lama kemudian, Vania yang masih berada di toilet seperti mendengar suara cowok.

"Halo mah! Alaska minta sekali ini... aja ketemu dengan Alaska ya" Pinta cowok dengan penuh permohonan akan terima permintaan nya. Tapi tetap saja kayaknya permintaannya tidak terima.

"Mama gak bisa Alaska, tolong dong kamu ngertiin kondisi mama mu ini yang ni lagi sibuk" Ujar wanita paruh baya di seberang telepon, merupakan Mama Alaska Kalingga putra anak yang paling bandel di sekolah SMA Labschool yang akan haus perhatian orang tuanya. Mama Alaska bernama Seyra.

"Sibuk? sibuk dengan keluarga baru mama gitu" Cowok tersenyum miris melihat orang tuanya yang tidak satupun memedulikan dirinya.

"Kapan sih, kalian ngertiin Alaska sekali aja! baik Mama sama papa, sama-sama aja gak ada bedanya. Sibuk dengan dunia sendiri, sampai anak kandung sendiri di lantarin. Alaska itu anak kalian mah bukan anak pungut yang baru di jumpa jalan. Dan mana janji mama yang mama dulu buat. Yang bakal selalu ada di saat Alaska butuh!" Mama Seyra yang mendengarnya berdecak kesal.

"Saya gak akan lakukan begini semua, kalau gak Papa kamu yang mulai" Ucap Mama Seyra yang terdengar emosi di seberang telepon.

Mama Seyra pun menarik-narik nafas dalam-dalam, sebelum melanjutkan perkataannya

"Dan cukup hari ini kamu menelepon saya Alaska, kamu itu cuman bikin beban keluarga aja. Lebih baik anak seperti kamu itu mati saja dari pada hidup menyusahkan saya" Teleponan itu pun terputus sepihak. Membuat Alaska pun mengeram kesal. Kenapa sih di keluarga nya gak ada yang memedulikan dirinya. Apa lebih baik dirinya, mati saja. Biar mereka menyesal akan kepergiannya.

Alaska yang berada di toilet menatap cermin, yang menampilkan dirinya.

"Dasar orang tua a-njing" Pekik Alaska seraya meninju cermin hingga terpecah belah.

"Ohmaygat, suara apaan itu" Mendengar suara pecahan kaca itu Vania pun segera menyelesaikan buang air besarnya.

Setelah keluar, mata Vania pun membulat sempurna melihat kaca yang berserakan.

"Astaga... kenapa cermin nya jadi pecah gini" Pandanganya pun menunduk bergilir menatap pecahan kaca yang berserakan di lantai.

Alaska yang melihat, tiba-tiba di toilet ini ada cewek. Merasa heran.

"Ngapain Lo kesini?" Tanya Alaska dengan nada dingin yang begitu menusuk.

Padangan Vania yang menunduk. Kini mendongak menatap wajah cowok yang di hadapan nya. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Melihat tatapan cowok itu yang begitu menghunus seakan menerkam dirinya saat itu juga.

Vania pun mengehela nafas panjang, untuk meredam rasa takutnya "Lah yang seharusnya nanya itu gue. Lo tu ngapain di toilet cewek, apa jangan-jangan Lo ingin ngintip gue ya tadi... Wah parah harus di laporkan ke guru BK ni" Seru cewek itu heboh sendiri.

Alaska yang mendengarnya, ujung bibirnya naik membentuk senyuman miring. Perlahan-lahan ia pun mendekati cewek tersebut.

Vania yang melihat cowok itu mendekati nya jadi takut. Dirinya kini tubuhnya tiba saja terasa kaku.

Alaska pun memengang kedua pipi Vania dan menggeser pandangan kepalanya menghadap belakang.

"Baca yang benar! kalau Lo gak bisa baca, biar gue bacain" Tekan Alaska dengan nada bicaranya masih sama. Membuat orang yang mendengar suara berat dingin nya jadi bergidik ngeri.

"Toilet pria.." Baca Vania dan di akhiri senyuman yang rasa malunya sedunia. Tangan Alaska yang pengang pipi Vania pun turun dan memasukkan ke dua tangan ke saku celana abu-abu nya.

"Silahkan Lo laporin ke guru BK?" Tukas Alaska lalu berlenggang pergi. Namun sebelum melangkah beberapa centimeter langsung di tahan oleh Vania dengan kuat. Lantai toilet itu yang licin membuat Alaska menjadi terpeleset ke belakang dan berakhir mengukung tubuh Vania.

Vania melebarkan matanya, melihat Alaska dengan jarak begitu dekat, yang terlihat sangat tampan. Kulit wajah yang putih bersih hidung mancung, iris mata berwana biru. Dan-

"Astagfirullah apaan tuh, ada orang ew ean" Pekik siswa bernama Jefri membuat heboh satu sekolah.

"Damn ****"

"Ibu kami berdua itu gak ada ew ean di toilet Bu.." Ujar Vania dengan kesal, menyakinkan guru BK bernama Bu Yeyen tersebut.

Bu Yeyen mendengarnya menghela nafas pelan.

"Kamu tahu kan berapa siswi yang hamil di luar nikah dan itu dari hasil perbuatan berhubungan mereka di toilet sekolah. Kamu tahu kan Vania" Bentak Bu Yeyen dengan emosi, melihat perlakuan muridnya yang tak senonoh.

"Tahu Bu.. tapi Vania jujur gak ada lakuin itu?" Raut wajah Vania terlihat sedih melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Dengan berita heboh hoax ini.

"Kamu juga Alaska ngapain kamu ituin ke anak gadis orang" Bentak Bu Yeyen kepada Alaska.

"Saya? berhubungan badan, dengan dia? kayaknya harus mikir seratus sekali deh. Soalnya saya gak sudi dengan cewek t e t e k tepos" Vania mendengar nya langsung melebarkan matanya. Sementara Bu Yeyen menepuk jidatnya seraya mengeleng kepalanya pelan.

"Dih siapa juga mau sama burung Lo yang ke tek kayak ulat bulu, dih.." Vania memutar bola matanya malas seraya menatap jijik.

"Emang Lo dah pernah nengok, burung gue?" Tanya sinis Alaska seraya tersenyum miring.

Vania mengeleng kepalanya pelan. "Enggak.." balasnya polos.

"Terus Lo jadi orang jangan sotoy, lihat aja belum pernah dah sok ngatain" Cibir Alaska dengan sinis.

"Lah Lo juga, jangan sok ngatain orang. Minimal sadar diri dek" Balas cibir Vania yang gak mau kalah.

"Gue bilang kenyataannya kok, gak perlu Lo buka baju dah tau gue kalau t e t e k Lo itu tepos" Ucap datar Alaska. Mendengar itu, Vania memperhatikan tubuhnya. Benar juga apa yang di bilang Alaska.

Mendengar muridnya bicara yang sudah tak sepatutnya, Bu Yeyen pun mengeluarkan jurus nya.

"Diam..." Pekik Bu Yeyen sampai menggelegar satu sekolah suara nya. Sampai Alaska dan vania menutupi kupingnya masing-masing.

Satu menit Bu Yeyen teriak. Guru itu pun berhenti dan melanjutkan perkataannya.

"Jadi gimana ni kalian di luar kan sekolah? atau di nikahkan, cocok soalnya sama-sama bandel" Ujar Bu Yeyen membuat Vania melongo.

"Jangan lah Bu, gini aja mending kita lihat cctv" Ujar Vania memberikan pendapat.

"Gila Lo mana ada toilet di taruh cctv, emang kalau di toilet di taruh cctv untuk di jadikan tontonan badar bok\*p apa?" Celetuk Alaska. Vania yang mendengarnya, merasa benar juga.

Sementara Bu Yeyen yang mendengarnya, melongo. Mendengar omongan muridnya terlalu frontal padahal di depan mereka itu ada guru.

"Yaudah begini ibu kasih keringanan, bila kedapatan kejadian itu terulang lagi. Siap-siap kalian berdua saya keluarkan dari sekolah ini. Dan kalian berdua tidak bebas dari hukuman, hukuman kalian adalah kutip 100 daun kering, gak lebih gak kurang, sekarang juga" Titah Bu Yeyen. Vania yang dapat hukuman seperti itu hanya pasrah.

"Ibu kukira saya pemulung apa? kutip-kutip daun" Spontan Alaska.

"Hah apa kamu bilang Alaska?"

Terpopuler

Comments

nana

nana

kak boleh tanya nama cowoknya itu askara apa Alaska

2023-07-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!