Meminta bergabung

Vania menatap ponselnya, dengan senyuman sumringah. Akhirnya dia mendapatkan nomor WhatsApp Aksara Ganendra merupakan ketua geng motor Beatles. Yang membuat Vania berminat bergabung dengan geng motor tersebut.

From Vania.

Hello Aksara, ini aku Vania. Cewek yang telah kamu tolongin semalam.

Jangan lupa save contacts ku ya.

Setelah mengetik itu Vania pun, mematikan ponselnya. Dan melemparkan ponselnya itu di atas kasur. Lalu ia pun merebahkan tubuhnya dia atas kasur. Hari ini sungguh cukup lelah baginya, yang begitu banyak drama di sekolah tadi.

Setelah lama tertidur, jam pun sudah menunjukkan pukul 8 malam. Vania pun terbangun dan menatap sekitar kamarnya yang gelap, karena tidak di hidupkan lampu.

"Sudah beberapa jam ya gue tidur" Monolog Vania seraya mengambil ponselnya, kemudian menghidupkannya.

Mata cewek itu terbelalak. "Gila lama banget gue tidur" Kagetnya di dalam hati. Vania yang tinggal di rumah nya sendiri, merasa bodo amat. Jika dirinya tidurnya lama. Lagipun tidak ada siapa yang larang.

Tangan lentik cewek itu pun tergerak, membuka WhatsApp. Dan melihat pesan chat nya ada di balas atau tidak oleh Aksara. Tetapi ternyata, boro-boro di balas, di baca pun gak.

"Ck' sombong banget ni cowok, padahal centang dua." Gerutu Vania di dalam hati.

Ide jahil pun terlintas di pikirannya. "Apa gue spam telepon ni aja ni cowok" Monolog Vania seraya tersenyum jahil. Gak butuh lama, ia pun menelepon nomor Aksara.

Drtt..

Panggilan telepon, pertama tidak angkat.

Drettt

Kedua juga, tidak ada di angkat.

Ketiga baru di angkat, oleh Aksara. Disisi lain Aksara mengerutkan dahinya, melihat nomor telepon yang tidak di kenal tertera di layar ponselnya. Yang sedari tadi meneleponnya mulu. Melihat nomor itu asik menelpon dirinya mulu, Aksara pun mengangkat panggilan telepon dari nomor yang tidak di kenal itu.

"Assalamu-" Omongan Aksara yang belum selesai, tiba-tiba saja di potong oleh orang yang menelepon dirinya.

"Halo Aksara!" Suara cempreng begitu terdengar memekakkan telinga cowok itu. Membuat cowok itu menjauhkan benda pipih itu dari telinga nya.

"Kenalin ini ak-" Vania yang juga yang belum selesai berbicara langsung di potong oleh Aksara.

"Assalamualaikum! Ini siapa ya?" Potong Alaska seraya mengerutkan dahinya heran di seberang telepon.

Vania yang tidak mengawali salam dulu, merutuki dirinya sendiri.

"Ehem, walaikumsalam. Kenalin ini aku ni Vania yang telah kamu tolongin semalam" Ujar Vania seadanya di seberang telepon.

"Ouh, emang ada apa telepon saya? Dan juga dari mana kamu mendapatkan nomor WhatsApp saya?" Tanya Aksara menggebu-gebu. Aksara yang posisinya baru selesai mandi dan tengah berdiri. Menarik kursi meja belajarnya, lalu mendaratkan bokongnya.

Vania yang di berikan pertanyaan, memutar otak keras. Menjawab pertanyaan dari cowok tersebut.

"Dari Bu Yeyen.." Cicitnya pelan.

Aksara yang mendengarnya, langsung melongo. Bisa-bisa cewek itu meminta nomor telepon nya kepada guru yang terkenal killer itu.

Cowok itu pun menanggapinya dengan ber'oh ria. "Jadi tujuan kamu menelpon saya apa?" Tanya Aksara langsung to the point. Dia kurang suka teleponan lama-lama dengan cewek yang tidak, cowok itu kenal.

Vania berdehem pelan, untuk menghilangkan rasa tegangnya. Ntah kenapa rasanya, cewek itu gugup bertelepon dengan Aksara. Mungkin saja karena cowok itu merupakan ketua geng motor.

"Aku telepon Aksara, karena aku ingin minta bergabung menjadi anggota geng motor kalian! Boleh gak."

Terlihat seorang cowok tampan dengan gaya cool nya. Melewati ruang tamu. Tapi langkahnya tiba saja berhenti, mendengar panggilan namanya, yang sudah ketiga kali.

Seorang wanita paruh baya yang terlihat masih cantik itu, yang telah memanggil Alaska, berjalan mendekati anak tirinya. Dan menyodorkan sebuah jam tangan warna hitam kepada cowok itu.

Alaska menaikkan alisnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

Melihat tatapan anak tirinya, wanita paruh baya itu pun mengeluarkan suaranya. "Ini Mami beliin jam buat kamu? Bukannya kemarin jam kamu itu rusak. Jadi Mami beli baru" Ujar wanita paruh baya itu bernama Rina Amelia, merupakan ibu sambung Alaska.

Sebelah ujung bibirnya Alaska terangkat. Cowok itu pun menerima jam yang di berikan ibu tirinya. Mami Rina yang melihat anak tiri yang mau menerima apa pemberiannya. Senang bukan main. Tapi setelah itu-

*Prang*!

Jam tangan yang dia berikan di lempar asal oleh anak tirinya. Melihat tatapan tercengang ibu tirinya, cowok itu tersenyum miring.

"Makasih. Tapi gue gak perlu!" Tekan Alaska lalu berlenggang pergi.

Papa Alaska yang berada di ruang tamu, merasa tidak terima dengan perlakuan anak kandungnya terhadap istri barunya.

"Alaska apa yang kamu perbuat! Itu pemberian Mami kamu! Kenapa kamu membuangnya"

"Alaska!" Pekik Papa Davin tersulut emosi. Alaska yang mendengar teriakkan Papanya memberhentikan langkahnya yang sudah di ambang pintu.

Cowok itu menarik sudut bibirnya nya seraya terkekeh remeh. Dan melambaikan tangannya.

"Bye..." Lambai cowok itu membuat Papa Davin darahnya mengalir menjadi mendidih. Kemarahan Papa Davin yang memuncak membuatnya, melampiaskan menendang meja ruang tamu.

Brak

"Dasar anak biadab, beraninya dia tidak sopan dengan Papanya" Emosi Papa Davin mengepal kedua tangannya. Mami Rina yang melihat suaminya emosi mencoba menenangkannya dengan mengusap lengan suaminya.

"Ini pasti, gara-gara ulah seyra yang telah mendidik dia menjadi anak membangkang" Umpat Papa Davin kepada mantan istrinya. Padahal Alaska berubah menjadi anak pembangkang, egois, tidak menurut. Itu ulah kedua orang tuanya. Tapi ntah kenapa Papa Davin sering menyalahkan sikap Alaska menjadi sekarang. Ulah mantan istrinya.

Alaska yang berada di atas motor sportnya, dan masih di pekarangan rumah. Menyalakan mesin motornya tersebut.

"Dasar semua cewek itu caper" Umpatnya di dalam hati terhadap ibu tirinya. Menurut Alaska ibu tirinya, itu memberikan sebuah jam tangan itu karena biar di lihat oleh Papanya. Kalau wanita itu lebih baik daripada Mama kandungnya.

Motornya yang sudah menyala, cowok itu pun langsung menancap gas meninggalkan pekarangan rumah mewah milik orang tuanya.

Setelah menempuh beberapa jam, membelah jalan raya yang cukup padat akan kendaraan. Ia pun sampai di sebuah rumah yang terlihat minimalis. Yang terlihat cukup seram dengan banyak warna coretan hitam di dindingnya.

Alaska pun turun dari motornya dan melepaskan helm full face nya. Dan meletakkan helm full face nya di atas motor sportnya. Kakinya pun melangkah memasuki rumah minimalis itu, yang merupakan markas Beatles.

Terlihat tiga pria bernama Karel, Jefri, Bastian yang sibuk kegiatan masing-masing, sembari menunggu Paketunya datang. Karel terlihat sibuk dengan ponselnya, Jefri dan Bastian, dua cowok itu sibuk bermain suit, permainannya siapa yang kalah suit kepalanya akan di pukul mengunakan botol Aqua.

Jefri yang ituin jari kelingking, sementara Bastian jari jempol, segera mengambil botol. Dan memukul kepala Jefri dengan kuat.

Bruk

Suara pukulan botol terdengar nyaring di ruangan itu. Jefri mengusap-usap kepalanya, yang terasa sakit.

"Anjirrr sakit tol\*l, seharusnya gue pukul Lo." Jefri yang tersulut emosi segera mengambil botol itu dari tangan Bastian, dan memukul kepala Bastian yang terlihat tengah tersenyum, yang tak berdosa itu, dengan berulang kali. Itu semua tidak luput dari pandangan Alaska, cowok itu mengeleng kepalanya melihat tingkah sohibnya itu.

"Rel mana Aksara?" Tanya Alaska membuka suara setelah lama berdiam. Cowok ya di tanya itu bukan menjawab pertanyaan Alaska, malah sibuk dengan ponselnya seraya tersenyum sendiri.

Alaska yang melihatnya, memutar bola matanya jengah. Tangan cowok itu pun terulur mengambil ponsel Karel dan melemparnya asal hingga berujung mengenai kepala Jefri yang sedang memukul kepala Bastian mengunakan botol.

"Duhh.." Ringis Jefri

Karel membulat matanya sempurna, cowok yang sedang rebahan di sofa itu langsung berdiri menatap pelaku dengan tatapan tersulut emosi seraya mencengkram baju pelaku itu. Tapi pelaku nya adalah Alaska, Karel pun segera melepaskan cengkeramannya.

"Lo bisa gak sih, gausah semena-mena gitu Alaska!" Ucap Karel dengan menahan emosi sembari berjalan mengambil ponselnya yang jatuh di karpet dekat Jefri dan Bastian duduk.

Jefri yang kepalanya terkena lemparan ponsel, pelakunya adalah Alaska, hanya bisa berdecak kesal di dalam hati.

Alaska yang mendengarnya, menarik sudut bibirnya.

"Enggak bisa!" Sahut nya enteng seperti tanpa beban. Membuat Karel menghela nafas panjang, untung aja ponselnya layarnya tidak retak. Kalau retak ntah apa yang, dirinya perbuat kepada cowok yang di juluki bad boy itu.

Ruangan itu pun tiba-tiba jadi hening, karena dari mereka tidak ada mengeluarkan suara lagi. Alaska melihat suasana jadi hening kembali bertanya, apa yang belum di jawab oleh Karel tadi.

"Mana Aksara?" Tanya Alaska seraya memasukan tangan nya di saku celana jeans nya, menatap ke bawah yang dimana Karel sedang rebahan di sofa dan sedang sibuk dengan ponselnya kembali yang sempat terlempar.

"Mana gue tahu, mungkin dia lagi di jalan" Sahut Karel tanpa mengalikan pandangannya pada ponselnya. Alaska pun mengangguk kepalanya paham.

"Kayaknya agak laen, ketua kita. Biasanya dimana-mana itu ketua datang paling awal. Ini anggotanya" Timpal Jefri seraya berdiri dan mendaratkan bokongnya di atas sofa samping kaki Karel.

"Iyah betul ituh, tapi mungkin aja Aksara telat datang karena..." Semua tampak menunggu lanjutan omongan Bastian.

"Karena apa?" Tanya Karel.

"Ya karena lagi cebokin anjing nya, yang berak di celana" Tiga cowok itu tampak kesal mendengar kalimat lanjut nya, Bastian yang terbilang goblok di anggota inti geng motor Beatles.

"Dia itu Islam, ege. Bukan kayak Lo yuhani, mana mungkin dia cebokin berak anjing yang di celana pula lagi" Ketus Jefri dengan emosi.

"Hah yuhani, agama apaan itu!" Tanya bodoh Bastian. Membuat mereka makin kesal.

"Pergi tanya sana aja sama nenek Lo!" Balas Jefri yang emosinya seperti tisu di belah dua.

"Nenek? tapi nenek gue dah mati, kayak mana mau nanya?" Ujar Bastian bertanya dengan tatapan memelas.

Jefri berdecak kesal. "Diam Lo, Batavia gue lakban juga mulu Lo" Ancam Jefri membuat Bastian meneguk ludahnya dengan susah payah.

Orang-orang yang mereka tunggu pun akhirnya datang.

"Hello guys nungguin gue ya?" Seru Aksara dengan tersenyum lebar dengan tampang tidak berdosa nya. Membuat mereka mendengarnya ingin melempar cowok itu ke sungai Amazon. Karena membuat mereka menunggu lama cowok itu.

Tapi setelah itu tiba-tiba, tatapan mereka berubah menjadi dingin. Melihat seorang cewek mendatangi markas mereka.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!