"Ini serius, kamu kerjakan sendiri? Gak nyontek." Vania yang sudah menyelesaikan remedial nya, tadi pas istirahat. Sekarang dipanggil lagi oleh pak Boni itu, suruh menghadap nya di ruangan bapak tersebut. Bapak Boni tampak tidak percaya bahwa itu dia kerjakan.
"Iya pak saya serius, saya gak nyontek. Kalau misalnya saya nyontek bagaimana coba? Ponsel saya sama bapak. Sementara itu soal bapak buat sendiri. Gak mungkin jawabannya ada di google. Kemudian lagi saya kerjakan nya di ruangan bapak" Jawab Vania yang berusaha menyakinkan pak Boni.
Sementara pak Boni menatap Vania dengan tatapan menyelidik. Berusaha mencari kebohongan dari siswi itu. Tapi tidak terlihat dari siswinya itu berbohong. Sekian detik pak Boni pun menghela nafas panjang.
"Ini hasil ulangan remedial kamu" Pak Boni menyodorkan kertas ulangan yang tertera nilai 100. Vania yang melihatnya, tercengang lebar.
"Tutup mulutmu, ntar masuk lalat pula nanti" Imbuh Pak Boni. Vania yang mendengar perkataan pak Boni, langsung mengatupkan mulutnya seraya cengengesan.
"Iya pak, Kalau gak ada keperluan lagi dengan saya. Saya izin pergi pamit pulang dulu ya" Pamit Vania lalu di anggukan oleh pak Boni. Dengan hati gembira Vania melangkah keluar dari ruangan pak Boni.
"Anjirrr senang banget gue, baru pertama kalinya. Gue dapat nilai seratus di ulangan matematika" Ucap Vania bahagia sembari menatap kertas ulangan remedial tersebut. Ia pun memasukkan kertas ulangan itu ke dalam tas ranselnya. Dan berjalan menuju ke parkiran SMA labschool.
Saat sudah berada di parkiran, Vania melihat Alaska sedang mengeluarkan motornya di parkiran. Dengan suara cempreng, Vania pun memanggil nama cowok itu.
"Alaska..." Panggil Vania, sontak membuat Alaska langsung menoleh. Alaska yang menatap Vania dari kejauhan mengerutkan dahinya. Vania yang melihat Alaska sedang menatapnya, dengan langkah lebar dia pun menghampiri cowok itu.
"Makasih banget ya! sudah bantuin gue kerjain ulangan matematika remedial tadi" Ujar Vania seraya tersenyum lebar kepada Alaska.
Cowok itu mengangguk kepalanya "Sama-sama" Jawab Alaska seraya membalas senyuman dari Vania. Seketika membuat Vania salting sendiri. Dan itu tidak luput dari pandangan Alaska.
Di dalam hati Alaska tersenyum seringai. Melihat Vania yang tampak salting melihat senyumannya.
Buset ni cowok, sekali senyum damage nya gak ngotak njirr. Batin Vania sembari tersenyum sendiri.
Alaska yang melihat Vania melamun sendiri. Ia pun melambai tangannya di udara di tepat wajah Vania.
"Hai..." Panggil Alaska membuat lamunan Vania buyar.
"Eh iya, ada apa?" Jawab Vania sembari merutuki dirinya yang salting terhadap cowok itu.
"Gue pulang dulu ya. Lo gak perlu tumpangan kan" Ujar Alaska bertanya. Vania mengeleng kepalanya.
"Gak perlu. Soalnya aku dah bawa motor sendiri. Sekali lagi makasih ya" Ucap Vania lalu di angguki kepala oleh Alaska.
Alaska pun menaiki motornya. Namun tiba-tiba saja tangannya di pengang oleh Vania. Vania pun langsung menarik tangannya, yang refleks memegang tangan cowok itu.
"Sorry, gue bukan bermaksud apa-apa kok memegang tangan Lo. Gue cuman nanya, bagaimana dengan ponsel Lo apa perlu gue ganti" Tanya Vania di akhir kalimat.
Alaska yang di tanya, mengeleng kepalanya. "Enggak perlu, gue bisa perbaiki ponsel itu sendiri kok" Jawab Alaska, lalu menyalakan mesin motor nya.
"Gue duluan ya" Pamit Alaska, lalu meninggalkan parkiran sekolah. Vania yang terpaku diam, di parkiran sekolah. Merasa tidak nyakin dengan cowok.
"Itu tadi benaran Alaska apa gak sih? Padahal pas gue nabrak dia minta rugi. Sekarang gak perlu" Vania mengeleng kepalanya gak percaya terhadap sikap Alaska yang berubah begitu pesat.
"Pasti ada yang gak beres dengan itu cowok" Gumam Vania. Yang kemudian cewek itu pun pergi menaiki motornya, lalu meninggalkan pekarangan parkiran SMA labschool.
"Woy kalian ada lihat? Aksara gak" Karel berjalan mendekati dua remaja yang sedang sibuk memakan Pop mie.
Jefri dan Bastian mengeleng kepalanya. "Gak ada lihat tuh, kenapa emangnya?" Jefri bertanya.
"Iya gak ada gue cuman ada perlu aja sama tuh paketu" Jawab Karel yang ada keperluan sesuatu dengan Aksara.
Mereka berdua pun mengangguk kepalanya. "Kenapa gak telepon aja?" Saran Bastian membuat mata Karel membulat sempurna.
"Ouhh ada benar juga. Tapi udah gue coba telepon dia dari tadi. Percuma ponselnya gak aktif." Semua pun nampak terdiam, dan berlarut dalam pikiran mereka masing-masing.
"Assalamualaikum guys, kenapa pada diam aja ini" Seru sapa Vania yang baru tiba saja di markas. Tetapi seru Vania, tidak membuat mereka bereaksi apa-apa. Dan itu membuat Vania menggaruk kepalanya yang tak gatal. Yang merasa bingung dengan sikap mereka.
"Halo..." Sapa Vania lagi. Tetap saja tidak mengubah mereka, bereaksi apa-apa.
Alaska pun tiba di markas. Dan menatap anak inti geng Beatles yang terlihat aneh menurut nya.
"Kenapa mereka?" Tanya Alaska pada Vania.
Vania menaikkan kedua bahunya. "Ntah gue juga gak tahu" Mendengar jawaban Vania, Alaska pun mendekati Karel dan menepuk pundak cowok itu. Sontak membuat cowok itu kaget, yang sedang termenung.
"Eh monyet eh monyet" Kaget Karel sembari mengusap dadanya, yang berdetak lebih cepat. Cowok itu pun menatap Alaska dengan nyalang.
"Lo bisa gak, gau-"
"Gak bisa!" Sela Alaska. Membuat raut wajah Karel berubah menjadi kusam.
"Kenapa kalian dari tadi diam aja!" Tanya Vania membuka suara.
Karel menaikan alisnya sebelah, seraya menatap Vania. "Gak ada, gue cuman mikirin Aksara kemana" Jawab Karel membuat Vania ber'oh ria.
"Ouh cari Aksara... Aksara gak bakal datang dia kesini" Ujar Vania memberitahukan. Semua Kontan mata pun langsung tertuju ke cewek itu.
"Kok Lo bisa tahu?" Tanya karel dengan penuh tanda tanya.
"Iya tuuh, kok lo bisa tahu" Celetuk Bastian.
"Ya bisa tahu karena dia sendiri, bilang ke gue" Jawab Vania dengan santai. Sontak mereka berubah menjadi marah.
"Wah parah! perlu kita hajar ni... si aksara"
"Kalau bisa jadiin sambil terasi..." Timpal Bastian seraya menyengir.
"Emang dia kasih tahu apa ke Lo" Karel bertanya.
"Iya dia bilang ada acara keluarga, makanya dia nanti gak datang ke markas. Dan dia juga bilang tolong sampaikan ke pada kalian semua" Vania menjawab apa yang di sampaikan oleh ketua geng motor mereka tadi.
"Terus kenapa dia cuman bilang ke Lo" Penasaran Jefri kenapa cuman Vania aja di beri tahu sementara mereka enggak.
"Ya itu gue kurang tahu, mungkin saja dia sibuk makanya dia gak sempat kasih tahu ke kalian" Jawab Vania yang hanya menebak saja.
"Mana mungkin! mungkin dia kasih tahu cuman ke Lo. Karena Lo pacarnya enggak" Ucap asal Jefri yang mengundang gelak tawa semua orang. Kecuali Alaska.
"Ya enggaklah anjing" Ketus Vania kesal dengan ucapan mereka. Tetapi itu membuat mereka makin semangat menggoda Vania.
"Cie Vania... Akhem diam-diam naksir ke paketu-"
"Kalian bisa diam gak! mulut kalian itu berisik" Panas Alaska. Seketika membuat mulut mereka semua bungkam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
nana
Alaska cemburu tp gk tau itu beneran cemburu apa acting.... kan dia mau buat vania suka n diputusin
2023-07-31
1