Tapi setelah itu tiba-tiba, tatapan mereka berubah menjadi dingin. Melihat seorang cewek mendatangi markas mereka.
Cewek yang mendatangi markas mereka, tampak menelan ludah nya dengan susah payah.
"Kenapa mereka menatap gue gitu banget! Ada salahkah dari penampilan gue." Cewek itu yang bernama Vania menatap penampilan nya, yang menurutnya biasa-biasa aja, tapi kenapa mereka menatap menghunus sekali.
Aksara yang melihat tatapan temannya, terhadap Vania. Berdehem pelan untuk memecahkan suasana yang mencekam ini.
"Ehem, gue ingin bilang sesuatu sama kalian. Kalau cewek ini bakal jadi anggota baru di geng motor Beatles. Jadi mohon kita sebagai keluarga besar geng motor Beatles, akrab dengan anggota baru kita. Jangan sampai ada kata permusuhan di antara kita" Ujar Aksara tegas kepada anggota inti geng motornya. Mereka semua, nampak manggut-manggut kepalanya yang mengerti apa yang di bilang Paketunya.
Aksara yang melihat, Vania hanya diam saja menyiku cewek itu. Dan mengasih kode lewat tatapan matanya.
Vania yang mengerti, mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.
"Kenalin nama gue, Vania kaleisha. Panggil aja Vania" Ucap Vania seraya mengulurkan tangannya ke Jefri. Jefri pun menyambut salaman tangan dari Vania seraya menyugar rambutnya kebelakang.
"Kenalin juga, gue Jefri allegra-" Sebelum selesai berbicara perkenalannya, tapi sudah langsung di potong oleh Bastian.
"Panggil aja dia ale-ale yang murah meriah" Bastian memainkan alisnya naik turun. Membuat Vania yang menatapnya, jadi geli sendiri.
"Diam Lo Batavia, gue belum selesai ngomong" Sentak Jefri yang emosi, karena perkenalan nya di potong oleh sohibnya itu. Bastian yang di sentak, jadi sebal sendiri seperti anak kecil.
"Ehem," Jefri berdehem sejenak sebelum melanjutkan perkataannya kembali.
"Panggil aja ayang." Tampak Jefri tersenyum malu-malu setelah mengatakan itu seraya menatap Vania yang begitu cantik di matanya. Vania pun menarik kembali tangannya, dengan menatap Jefri yang aneh di matanya. Tapi sedetik kemudian senyuman Jefri luntur, mendengar suara dingin Karel.
"Panggil aja dia Jefri" Timpal dingin Karel yang muak melihat lelucon sohibnya. Yang gak mau berlama-lama hanya demi sebuah perkenalan doang.
Vania pun mengangguk kepalanya. "Oh oke," Matanya pun beralih ke Karel.
"Panggil aja gue Karel" Jawab Karel santai lalu di angguki oleh kepala Vania. Karel tipe cowok yang suka di bawa santai dan tidak suka ribet, jadi berdekatan dengan ni cowok. Jadi suasana itu jadi nyaman. Habis mengetahui nama cowok itu, mata Vania pun bergilir menatap cowok yang di samping Karel.
Bastian yang melihat Vania menatapnya, mengedipkan matanya sebelah.
"Kalau gue Bastian, kalau adek perlu apa-apa panggil aja abang Bastian, siapa yang berani mukul adek Vania bakal abang basmi dengan bau hama ketiak Abang. Di jamin semua musuh langsung k.o" Ujar Bastian seraya mengangkat ketiaknya, membuat mereka semua menutup hidung nya. Mencium bau aroma semerbak jahanam.
Huek
"Bau banget, bangsat! Berapa hari sih Lo gak mandi" Tanya Jefri ketus dengan menutup hidungnya.
Bastian menyengir lebar. "Udah 100 hari" Jawab nya dengan tampang tak berdosa.
"Pantesan ban gke, baunya aja seperti semerbak ken tut biawak" Jefri meringis pelan seraya mengipas-mengipas wajahnya mengunakan tangannya, agar mengurangi rasa baunya. Tapi tetap aja, rasa baunya itu masih ada.
"Lo tutup ketiak Lo itu tolol" Titah Karel dengan emosi bergemuruh. Bastian yang mendengarnya, tersenyum kecut seraya menutup ketiak nya. Setelah menutup ketiak nya, semua tampak bisa menghirup udara bebas.
"Uwaaw, semerbak bau ken tut biawaknya hilang" Ucap Jefri yang sudah kembali menghirup udara bebas.
Karel yang di samping Jefri, menaikkan alisnya. "Emang Lo pernah cium bau ken tut biawak?" Tanya Karel kepada Jefri.
Jefri mengeleng kepalanya pelan. "Enggak.." Jawab nya polos. Membuat Aksara, Karel mengeleng kepalanya pelan.
Perkenalan terakhir jatuh pada, Alaska yang sedari tadi diam. Tatapan dingin Alaska membuat Vania seolah dirinya jadi takut. Dan lebih baik tidak berkenalan dengan sosok cowok itu.
Aksara yang melihat Alaska diam saja, menghela nafas pelan. "Biasa dia memang gitu, panggil aja dia Alaska" Ujar Aksara mengantikan sohibnya itu sebagai perkenalan nama, lalu di angguki kepala oleh Vania.
Sebelah sudut bibir Alaska naik. "Lo gak salah Aksa! nerima cewek ini di jadi anggota geng motor Beatles" Ucap Alaska dengan nada meremehkan.
"Gak salah kok! Emang kenapa?" Tanya Aksara di akhir kalimat. Membuat Alaska menatap cowok itu dengan tersenyum miring.
"Gak ad-" Omongan Alaska yang belum selesai, dan langsung di potong membuat cowok yang berdarah dingin.
"Tunggu-tunggu dia anggota geng motor sini juga" Tanya Bodoh Vania. Membuat semua orang yang mendengarnya, tampak terkekeh kecil kecuali Alaska. Dengan pertanyaan Vania yang tidak masuk akal.
"Yaiyalah, malahan dia wakil di geng motor Beatles" Celetuk Karel. Vania yang mendengarnya, langsung tercengang. Parah ini kalau dirinya satu geng motor, sama ni cowok. Yang ada nanti hari-harinya jadi suram. Niat masuk geng motor Beatles ini, karena mencari kesenangan. Malah berakhir sadis nanti.
"Kenapa Lo kaget! gak suka kalau gue wakil geng motor sini" Tanya Alaska dengan tatapan yang menghunus.
Vania pun mengeleng kepalanya cepat. "Gak kok, biasa aja" Jawab Vania berusaha biasa-biasa saja padahal dirinya dah takut banget.
Mendengar jawaban Vania, membuat Alaska tersenyum lebar. Senyuman Alaska yang terukir di bibir cowok itu. Membuat orang takut melihat senyumannya yang mengerikan itu.
"Lo masuk ke geng ini, buat apa? Buat caper atau buat pamerin ke teman Lo? Aksara!" Panggil Alaska di akhir kalimat terhadap sohibnya.
"Apa?" Tanya Aksara datar.
"Gue gak terima kalau cewek ini, masuk ke geng motor kita" Ujar Alaska menolak kalau Vania gabung di geng motor Beatles.
"Gak bisa gitu dong, gue disini ketua. Jadi gue berhak memasuki siapa yang gue mau!" Tegas Aksara yang tidak terima, Vania tidak di bolehkan bergabung dengan geng motor mereka.
"Ya gue tahu, kalau Lo ketua. Tapi Lo harus minta izin ke kita-kita. Apalagi masukin cewek ke geng motor Beatles" Alaska menatap Vania dengan tatapan remeh. Vania yang menatapnya juga, menatap Alaska dengan tatapan tajam.
"Gue dah minta izin kok, Lo aja gak baca pesan gue" Balas Aksara. Alaska yang mendengar jawaban Aksara, langsung membuka ponselnya, dan benar saja cowok itu sudah minta izin ke dirinya, lalu pesan itu belum dia baca. Karena wa Aksara Alaska, ia arsip kan begitu dengan grup Beatles. Ia pun menaruh kembali ponselnya di saku celana nya.
"Ya tetap aja gue gak terima, nanti dia di pukul terus nangis yang ada orang tuanya marah ke kita. Bilang sama Mama, Papanya. Aku di pukul tadi sampai bonyok mah pah, Haha" Alaska tergelak tertawa dan begitu merendahkan Vania. Vania yang di rendahkan merasa tidak terima.
"Dengar ya, gue gak tahu Lo ada masalah apa sampai segini nya benci sama gue. Tapi gue bisa buktikan kalau gue bisa bela diri. Dengan cara bagaimana kita kita berdua berkelahi? kemudian gue ingatin buat Lo cewek itu gak selemah Lo kira. Cewek itu bisa lebih kuat dari namanya cowok. Walaupun kuadrat cewek itu sebatas di dapur. Dan juga Lo gak perlu takut gue gak bakal ngadu kok, ke nyokap dan bokap gue kalau gue di bonyok, dan kalau bisa di bunuh pun sekalian. Karena bokap dan nyokap gue dah meninggal" Ujar Vania tegas mampu membuat seorang Alaska yang tidak pernah kalah debat dari pada siapa pun itu. Kini terlihat bungkam.
Aksara, karel, Jefri, dan Bastian. Bersorak di dalam hati, melihat Alaska di buat bungkam oleh seorang cewek.
"Oke gue terima adu bela dirinya, jika Lo menang. Lo bakal di terima di geng motor ini kalau sebaliknya. Jangan pernah sehelai rambut pun dan muka Lo nampak di mata gue"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments