Alaska berjalan koridor sekolah dengan wajahnya di tekuk kesal. Cowok itu memutuskan keluar sebelum guru mata pelajaran kimia, itu memanggil bapak kepala sekolah. Dan mungkin menghukum dirinya nantinya.
Mata yang masih terasa ngantuk, dan tidak tahu kemana. Dia memutuskan pergi ke kantin sekolah aja. Tempat itu adalah tempat yang nyaman bagi orang yang suka bolos, dan malas belajar.
Saat Alaska berjalan di koridor dekat lapangan. Mata cowok itu berhenti melihat seorang cewek sedang bertengkar dengan seseorang. Matanya pun menyipit melihat siapa cewek itu.
"Alah gausah bacot Lo. Lo kira mentang-mentang kakak kelas gue takut gitu!" Vania menaikkan alisnya seraya menatap sinis, kepada kakak kelasnya. Ya cewek itu adalah Vania, lebih jelasnya lagi Vanilla kaleisha. Dia tidak suka banget dengan nama kakak kelasnya, bernama Bianca. Yang tadi sengajain menumpahkan air minumnya.
"Hah! Emang gue peduli gitu?" Ucap Bianca membuat Vania makin panas. Vania yang kesal menjambak rambut, Bianca. Sang empu pun menjerit kesakitan.
"Auuw sakit! lepaskan tanganmu itu di rambut gue" Sentak Bianca emosi di sertai sakit kepala akibat rambutnya jambak oleh Vania.
"Enggak mau!" Balas Vania makin memperkuat kuat jambakan rambut Bianca. Membuat Bianca menjerit kesakitan.
"Gue bakal lepaskan jambakan rambut Lo , asal lo mau ganti rugi minuman gue yang telah Lo tumpahin" Sambung Vania. Teman Bianca melihat, cewek itu di jambak. Mencari pertolongan.
"Lepasin gak tangan Lo di rambut gue" Pekik emosi Bianca dengan nafas yang terengah-engah.
"Udah gue bilang, ganti dulu! baru gue lepasin" Vania tersenyum seringai menatap muka Bianca yang udah kemerahan.
"Oi ada apa-apa ni, lepasin Bianca gak! Vania" Ujar cowok yang di panggil oleh teman Bianca. Cowok tersebut bernama Deny yang merupakan ketua osis SMA labschool.
Vania tidak menggubris perkataan Deny. Ia tetap bersikukuh menjambak sebelum Bianca mau ganti minuman yang telah cewek itu tumpahkan.
"Deny tolong gue! Den" Pinta Bianca yang sudah tidak tahan lagi.
Deny mengehela nafas panjang. Ia pun mencengkram tangan Vania yang menjambak rambut Bianca. Vania yang menjambak rambut Bianca pun terlepas.
Vania pun berdecak kesal. Dan menatap Deny dengan tatapan tajam.
"Lepasin tangan Lo di tangan gue!" Pungkas Vania dan langsung Deny lepaskan.
"Mending kalian bubar sebelum, seret kalian berdua ke ruang BK" Titah Deny dengan tegas. Dan membuat mereka menurutinya.
"Awas Lo urusan kita berdua belum selesai" Ancam Bianca seraya merapikan rambutnya yang berantakan. Vania yang mendengar ancaman cewek itu, memutar bola matanya malas.
"Oke gue tunggu!" Balas Vania yang tidak sedikitpun takut terhadap anak penyumbang donatur di sekolah ini.
Mereka pun bubar. Vania yang mau berjalan menuju ke kelasnya. Matanya pun bertemu dengan Alaska yang menatapnya dari kejauhan. Namun setelah itu mereka membuang pandangan mereka dan menatap objek lain.
Alaska yang ingin ke kantin, pun melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
"Lo bisa sih ngalah sama cewek!" Marah Vania kepada Alaska yang asal potong antrian bensinnya.
"Ngalah? Sorry di kamus gue gak ada nya namanya ngalah" Sarkas Alaska dengan senyuman miring yang terukir bibirnya.
"Ouh iya baru tahu gue!" Vania menatap tajam kearah Alaska. Dan begitu juga sebaliknya Alaska menatap tajam kearah Vania.
"Aduh mbak, bang jangan bertengkar disini! Lihat itu orang nya udah ngantri dari tadi" Tegur tukang isi bensin tersebut. Mata Vania maupun Alaska menatap orang yang sudah sedari tadi menunggu lama giliran antrian mereka. Hingga para orang pun mengumpat terhadap dua orang yang berbeda jenis kelamin itu.
Alaska menarik sudut bibirnya. Ia pun langsung memotong antriannya. Membuat Vania melihat Alaska mengumpat kesal.
"Dasar cowok mau seenaknya!" Gerutu Vania dalam hati.
Dari kejauhan ada seseorang memperhatikan mereka dengan raut wajah susah di tebak. Orang itu tersenyum lebar, menatap Vania dan Alaska.
Anak inti Beatles yang sudah sedari tadi berkumpul. Dan tinggal menunggu dua seseorang lagi. Orang yang tunggu pun datang.
"Cie barengan itu.." Seru Jefri seraya memainkan alisnya. Vania yang di bilang pergi barengan, padahal dirinya datang sendiri mengerutkan dahinya bingung. Ia pun menoleh kebelakang nya. Raut wajah Vania seketika langsung berubah, melihat siapa orang itu.
"Ck' lupanya ada cowok songong!" Umpat Vania di dalam hati. Alaska yang melihat tatapan Vania yang tertuju padanya. Yang seperti tidak suka melihat keberadaan dirinya merasa bodo amat.
"Minggir Lo beban..." Ucap Alaska. Padahal jalannya masih luas. Tapi cowok itu malah menyuruh Vania minggir. Vania yang sudah malas berdebat, menggeser posisinya. Suasana pun jadi hening.
"Gimana nih rencana kita! Anak geng petir asik cari perkara mulu dengan anak geng kita" Ucap Karel membuka suara. Aksara yang mendengar perkataan, Karel nampak mengangguk kepalanya.
"Udah banyak pun anak geng motor kita, jadi korban gara-gara anak geng petir" Timpal Jefri yang termasuk yang menjadi korban terhadap anak Geng motor petir dan juga Bastian.
"Lo berdua tapi gak apa-apa kan!" Tanya Aksara kepada Jefri Bastian.
"Ya mereka berdua gak papa lah. Palingan dapat hoki doang" Tawa Karel pecah mengingat mereka berdua di kejar anak geng petir. Hingga motor mereka berdua rusak dan sekarang sudah dalam perbaiki.
Jefri berdecak kesal, mendengar perkataan Karel.
"Hoki pala otakau.." Ketus Jefri memutar bola matanya jengah.
"Iya tuh, liat aja bebeb ku jadi rusak. Gara-gara motor sambel kledek" Marah Bastian terhadap geng motor petir. Membuat mereka semua tertawa kecuali Alaska. Cowok itu lebih banyak diam nya.
"Samber gledek, bukan sambel kledek Tia!" Timpal Vania terkikik.
Bastian mengerucutkan bibirnya. "Nama aku Bastian bukan Tia vavan" Balas Bastian yang tidak suka dengan panggilan Vania yang memanggil namanya Tia. Padahal jelas-jelas namanya Bastian.
"Ouh sorry, teringat nama teman aku yang di kelas" Ujar Vania menyengir lebar.
"Tapi Lo juga jangan panggil gue vavan, nama aku Vania!" Sambung Vania yang juga tidak suka panggilan baru yang aneh itu untuk dirinya. Bastian pun menanggapinya dengan senyuman lebar.
Anak inti geng Beatles, pun kembali membahas topik pembahasan soal tentang geng petir. Yang melakukan penyerangan terhadap geng motor mereka. Tak terasa waktu pun terus berjalan hingga membuat waktu sudah mulai malam.
Waktu yang sudah mau gelap anak geng motor Beatles, pun memutuskan untuk pulang.
"Dadah Vania..." Lambai tangan Bastian yang sekarang sudah mulai akrab dengan Vania. Yang merupakan anggota baru geng motor Beatles.
Vania yang melihatnya tersenyum tipis. Ia pun turut melambaikan tangannya kepada cowok itu. Namun suara klakson yang memekakkan telinga, langsung memecahkan suasana situ.
"Minggir Lo! Kelahangi jalan aja" Titah Alaska mengendarai mobil sport nya. Vania melihatnya menjadi kesal.
"Jalan masih luas! ngapain gue harus minggir!" Ketus Vania.
"Ya karena ni jalan bapak gue!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments