Taruhan

Alaska yang baru selesai, membersihkan dirinya. Seketika matanya berubah menjadi dingin. Melihat sosok orang yang paling benci bila ada kehadiran orang tersebut.

"Ngapain Lo di kamar gue?" Tanya Alaska dengan nada dingin. Orang yang di tanya nampak rebahan santai dengan sebagian kakinya yang selonjoran.

Alaska yang melihat, cowok itu tidak menggubris pertanyaan yang dia lontarkan. Dia pun menarik kaki cowok itu hingga kepalanya kebentur ke lantai.

Bruk

"Akhh.." Teriak sang empu kesakitan. Ia pun menatap pelakunya dengan emosi bergemuruh, cowok itu pun langsung bangun lalu menarik kerah baju Alaska.

"Ngapain Lo mau hajar gue?" Alaska menepis kasar tangan cowok itu yang di kerah bajunya.

Cowok yang bernama Rajash Bimantara itu berusaha meredam emosinya. Dia disini bukan untuk berkelahi dengan adik tirinya. Tapi ingin mengajak taruhan.

"Santai aja, gue gak hajar Lo kok" Ucap Rajash dengan senyuman seringai.

"Gue disini cuman kasian aja sama Lo!" Sambung Rajash dengan nada seperti mengejek.

Alaska mengerutkan dahinya, mendengar perkataan Rajash yang merupakan abang tirinya.

"Gue gak perlu rasa kasian dari Lo! Lebih baik Lo keluar dari kamar gue, sebelum gue yang seret Lo keluar dari kamar gue!" Ucap Alaska dengan penuh penekanan di setiap kalimat yang dia ucapkan.

Sebelah ujung bibir, Rajash naik. "Ouh iya! Lo nyakin, gak butuh rasa kasian dari gue! Padahal gue ingin bantu Lo" Balas Rajash dengan senyuman miring yang terukir di bibirnya.

Alaska menaikkan alisnya sebelah. "Ingin bantu apa?" Tanya Alaska datar. Membuat senyum Rajash mengembang.

"Ya gue ingin bantu Lo, tapi ada syaratnya" Rajash melipatkan kedua tangannya di dada seraya memiringkan kepalanya.

"Syarat apa?" Tanya Alaska to the point.

"Syaratnya adalah Lo harus terima taruhan gue" Tekan Rajash seraya tersenyum miring.

"Oke gue terima! apa taruhannya!" Tanya Alaska yang tidak mau basa-basi lagi.

Rajash pun mengambil ponselnya di saku celana pendek nya. Lalu menunjukkan foto sebuah cewek.

Mata Alaska langsung membulat sempurna, melihat Abang tirinya, mempunyai foto Vania. Ada hubungan apa cowok itu bisa memiliki foto cewek itu.

"Lo kenal kan?" Rajash menaikkan alisnya sebelah dan menatap adik tirinya itu seolah menunggu jawaban dari Alaska.

"Kalau gak kenal! taruhannya batal termasuk niat gue ingin bantu Lo" Pungkas Rajash yang melihat tidak ada respon dari Alaska.

Alaska pun menghela nafas panjang. "Kenal! Jadi tujuan Lo?" Tanya Alaska dengan tangannya ia masukkan ke saku celana pendek nya.

Rajash yang mendengar jawaban, Alaska tersenyum lebar. "Gue pengen Lo pacaran dengan cewek bernama Vanilla kaleisha, dan buat dia cinta mati ke Lo. Dan satu lagi putusin dia dengan cara yang memalukan. Jika itu berhasil gue bakal suruh nyokap gue cerai dengan bokap Lo, Deal?"

Senyuman miring pun terukir di bibir Alaska. Apalagi soal sangkutan orang tua mereka, yang tentu ini tidak boleh lepas dengan nyakin Alaska pun menjawabnya.

"Deal.."

Vania sedari tadi asik mengumpat kesal. Gimana tidak kesal, gak ada angin gak ada hujan. Gurunya matematika bernama pak Boni itu memberikan ulangan harian yang sangat mendadak bagi dirinya yang tidak suka namanya menghitung.

"Enak menghitung uang sendiri, dari pada menghitung x dan y tolol ni. Yang tidak ada berfaedah nya sedikitpun di kehidupan gue" Vania mengedarkan pandangannya untuk mencari bala bantuan. Namun sepertinya, murid lain sama hal dengan dirinya.

"Ya tuhan, bolehkah kau turunin otak Albert Einstein. Ke otak ku ini. Soalnya otak ku ini dah hampir pecah hanya melihat angka-angka tolol ni" Gerutu Vania di dalam hati seraya menggenggam kuat pulpennya.

"Tia...." Panggil Vania untuk memutuskan meminta bala bantuan keteman sohibnya. Tia yang sedang sibuk mencari jawaban di kertas coret-coret. Tidak mendengar panggilan dari Vania. Membuat Vania berdecak kesal. Apalagi mata pak Boni gak diam di tempat.

"Woy Tia aanjing, bagi jawaban kont\*l" Ucap Vania dengan nada berbisik. Tetapi tetap saja tidak membuat Tia menoleh.

"Dahlah gue doain budeg benaran Lo! kalau bisa gue tunggu Lo di depan pintu gerbang" Umpat Vania kesal seraya meremas kertas coret-coret. Melihat bala bantuannya, tidak bisa ia pinta tolong.

Vania pun hanya pasrah menjawab, soal ulangan matematika.

"Bismillah... cacicup kembang kuncup siapa yang benar aku pilih" Ucap Vania tidak ada cara lain mencari jawaban selain itu. Padahal soal ulangan model ber essay semua.

Disisi lain, Tia cekikikan sendiri. Karena ia berhasil membuat Vania tidak meminta jawaban dirinya.

"Mohon maaf Vania! Gue bukan pelit tapi kalau ingin pengen jadi kaya harus pelit. Biar nanti jadi elit" Ucap bangga Tia seraya tertawa pelan sendiri.

Pak Boni, yang melihat siswi nya ketawa sendiri. Merasa ada yang tidak beres.

"Tia..." Panggil pak Boni yang suaranya menggelegar satu kelas. Dan mengundang perhatian semua murid yang kini menatap Tia.

Tia yang di tatap semua murid, menganga. "Iya pak ada apa?" Tanya Tia dengan gegelapan.

"Kenapa kamu ketawa sendiri!" Tanya Pak Boni dengan nada yang beberapa oktaf.

"Anuu pak..."

"Anu apa? Sakit jiwa kamu?" Potong Pak Boni membuat Tia mengumpat kesal.

"Gak ada apa-apa kok pak! Cuman soal ulangan harini kayak mudah gitu..." Jawab Tia dengan senyuman di buat-buat.

Pak Boni mendengar, perkataan siswinya. Memegang kumis nya. "Baguslah kalau begitu... jadi kalau mudah lagi bapak tambah lagi soalnya jadi lima" Ujar Pak Boni membuat semua teriak histeris di dalam hati.

"Tia aanjing! satu soal aja belum tentu ke jawab Tia!! Ini dah malah tambah soal lagi!" Suara hati siswa-siswi.

"Alamak mimpi apa semalam aku sampai dapat hidayah begini..." Ujar salah satu siswa menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!