Marahnya bad boy

Panas matahari siang yang cukup terik. Alaska Kalingga putra, di panggil dengan sebutan Alaska, anak yang terkenal bad boy di sekolah ini. Tengah duduk santai di bawah pohon rindang dekat lapangan.

Mata cowok itu tertuju pada gadis yang sedang mengutip daun kering. Sementara Bu Yeyen yang berada di lapangan, berkacak pinggang melihat siswa nya itu.

"Alaska..." Pekik Bu Yeyen dengan berkacak pinggang.

"Kenapa kamu diam hah! kutip sana daun kering" Titah Bu Yeyen dengan tangannya memegang rol panjang.

Alaska yang sedang enak-enak duduk santai merasa terganggu. "Kenapa gak ibu kutip sendiri aja coba" Gumam cowok itu masih mampu di dengar oleh guru BK tersebut tapi samar.

"Kamu tadi bilang apa hah?" Tanya guru BK tersebut.

"Saya gak ada bilang apa-apa" Balas Alaska datar seraya memasukan tangan nya ke saku celana abu-abunya. Ia pun melenggang pergi seraya bergumam.

"Dasar guru BK budeg" Cibir Alaska tapi tidak terdengar oleh guru BK tersebut.

Bu Yeyen yang melihat punggung Alaska kian menjauh. Menggerutu kesal. "Ihh lama-lama bisa mati muda saya menghadapi anak nakal itu" Setelah mengatakan itu Bu Yeyen pun melangkah pergi, dan memutuskan melihat mereka dari kejauhan.

Vania yang sedang mengutip daun kering, dan sudah terkumpul banyak. Tersenyum bangga terhadap dirinya. Setidaknya hukuman ini sedikit lagi selesai. Vania pun menyapu pandangannya ke halaman sekolah dan berhenti pada cowok yang di kenal Bad boy itu.

"Sudah selesai kutip daun dia? cepat banget" Gumam Vania yang tampak dari jauh cowok itu sudah menyelesaikan hukuman nya. Karena berhadapan langsung dengan Bu Yeyen.

Bu Yeyen melebarkan matanya, melihat apa yang di depannya.

"Kaleisha..." Pekik Bu Yeyen yang kesabarannya sudah habis. Alaska yang di hadapan guru BK tersebut menutup kupingnya kuat.

"Sial, bisa-bisa kuping gue budeg dengan ni guru" Batin Alaska di dalam hati.

Setelah puas berteriak, Bu Yeyen menarik nafasnya dalam-dalam. Menetralkan dadanya yang terasa sesak.

"Kaleisha ngapain kamu kutip daun warna hijau, saya suruh kan 100 daun kering" Ucap Bu Yeyen dengan berkacak pinggang.

Alaska menunjukkan dirinya. "Saya Bu?" Tanya Alaska ambigu. Sejak kapan namanya berubah jadi kaleisha.

"Iya kamu!" Tekan Bu Yeyen.

Alaska mendengarnya, menyeringai tipis. "Nama saya Alaska Bu! Alaska Kalingga putra. Bukan kaleisha" Ujar Alaska penuh penekanan.

Bu Yeyen yang salah menyebut nama siswa nya, menjadi malu sendiri.

"Ouh salah ya, sorry. Soalnya nama kamu hampir mirip dengan kaleisha. Kalingga, kaleisha" Ujar Bu Yeyen.

Alaska yang mendengarnya, memutar bola matanya jengah. Mana ada mirip namanya, dengan kaleisha dan Kalingga. Dan juga siapa yang pemilik nama bernama kaleisha itu.

"Kamu ngapain diam aja, darimana kamu petik daun hijau ini!" Ketus Bu Yeyen.

"Iya di pohon mangga dekat lapangan" Jawab Alaska santai. Membuat darah Bu Yeyen menjadi mendidih.

"Silahkan kamu cari daun kering sekarang juga, jangan harap hukuman ini selesai, sebelum 100 daun kering terkumpul" Ucap Bu Yeyen dengan penuh penekanan.

Alaska pun melenggang pergi seraya berdecak kesal. Cowok itu pun mengutip daun kering yang berjatuhan. Langkah cowok itu berhenti, melihat tumpukan daun kering yang sudah terkumpul. Dan ide jahil nya pun terlintas di pikiran nya.

Kemudian tumpukan daun kering milik Vania itu di ambil diam-diam oleh Alaska. Sedangkan Vania sibuk mengikat rambutnya yang panjang terurai, membelakangi tumpukan daun itu. Dan tidak mengetahui kalau daun kering nya diambil. Ia pun menoleh kebelakang dan melihat daunnya hanya tersisa sedikit.

"Mana daun kering nya kok tinggal segini" Tanya Vania dengan dirinya sendiri.

"Gak mungkin kan hilang begitu aja" Batin Vania dalam hatinya. Dia pun menatap kejauhan punggung Alaska yang seperti tangannya memengang daun kering.

"Heih.. heih" Panggil Vania kepada murid yang berlalu lalang.

"Napa?" Tanya siswa yang di hentikan oleh Vania.

"Lo ada lihat tu cowok lewat sini gak" Tunjuk Vania kearah Alaska.

Siswa yang melihat Alaska tiba-tiba saja jadi takut. Ia pun langsung mengeleng kepalanya.

"Gak tahu.." Ucap siswa itu lalu berlenggang pergi. Siswa tersebut tidak menjawabnya karena ia gak mau harus berurusan dengan cowok yang terkenal sadis di sekolah ini. Apalagi Alaska tipe cowok yang tidak beri ampun pada orang mengusik ketenangan nya.

"Ck' Napa sih itu orang tinggal jawab aja sih" Gerutu Vania seraya menggaruk kepalanya yang gak gatal. Dengan wajahnya di tekuk kesal, cewek itu memulai mengumpul daun kering di awal lagi.

"Lo kok bisa sih, bisa berurusan dengan Alaska, Lo tahu kan itu cowok. Beh, bandel nya nauzubillah. Bisa-bisa Lo di pukul oleh dia, Nia!" Tia merupakan temannya Vania mengeleng kepalanya. Mendengar cerita bahwa Vania kenak hukuman gara-gara kepergok di toilet berdua dengan Alaska. Padahal itu cuman salah paham.

"Ya aku gak tahu namanya musibah.." Ketus Vania bad mood seraya menyeruput jusnya. Sudah setahun sekolah disini. Baru kali dirinya kenak masalah dengan namanya Alaska itu.

Kini mereka berdua berada di kantin anak MIPA. Bunyi bel istirahat pun sudah berbunyi semenit selalu. Vania dengan santai menyantap baksonya.

"Se- nakal apasih dia sampai-sampai di juluki bad boy di sekolah ini" Tanya Vania dengan kepo. Walaupun Vania sudah lama sekolah sini dia tidak terlalu peduli dengan namanya anak nya famous. Cewek itu juga termasuk orang yang introvert. Dia lebih suka di dalam kelas.

"Bad boy banget, namanya kriminal beh lewat untuk di juluki cowok nakal itu. Semua orang aja di pukul, guru aja di lawan. Apalagi kita-kita ini, dahlah tinggal nama doang" Ujar Tia menjelaskan. Membuat Vania mengangguk kepalanya paham. Benar juga tadi pas di depan Bu Yeyen yang terkenal guru BK killer aja. Cowok itu aja seperti tidak ada sopan santun. Dan seperti tidak ada rasa takutnya sedikit pun.

Kantin MIPA yang terdengar biasa riuh, kini tambah riuh. Suara heboh-heboh begitu terdengar di kantin tersebut. Apalagi suara cewek, yang begitu terdengar alay.

"Anjirrr ganteng banget sih mereka itu"

"Gila vibes ganteng mereka lewat dari drama Korea"

"Ah.. ayang gue"

Teriak heboh cewek melihat 5 cowok remaja, memasuki ke kantin. Lima cowok tersebut merupakan anak geng motor bernama Beatles. Yang terdiri oleh, Aksara Ganendra sebagai ketua, Alaska Kalingga putra sebagai wakil ketua. Karel, Jefri, Bastian merupakan anggota, atau pasukan inti.

"Van! kayak Alaska walaupun sikapnya nakal-nakal nauzubillah, tapi dia ganteng banget ban gke" Seru heboh Tia melihat Alaska bersama sohibnya. Vania yang mendengarnya, menoleh ke arah yang di pandang oleh Tia.

Mata Alaska dan Vania bertemu sejenak sebelum memalingkan wajahnya menatap objek lain.

"Ck' ganteng darimana nya coba?" Ucap Vania seraya memutarkan bola matanya jengah.

"Ganteng bodoh! mata Lo aja katarak!" Cibir Tia yang tidak terima cowok seganteng Alaska melebihi Korea itu di bilang gak ganteng.

"Alay Lo.." Balas Vania sinis. Ia pun menoleh kebelakang kembali melihat cowok famous itu. Vania pun melihat ke belakang bukan fokus untuk melihat Alaska. Melainkan cowoknya yang telah menolong nya semalam, yang tengah duduk di perkumpulan Alaska.

"Gimana Lo tadi di BK, Alaska?" Tanya Jefri yang merupakan penyebabnya Alaska masuk ke BK.

Alaska menaikkan alisnya. Lalu meninju wajah Jefri membuat cowok itu tersungkur ke lantai. Itu membuat mengundang perhatian banyak orang yang berada di kantin.

"Anjirrr ngapain Lo mukul wajah gue bangsat" Emosi Jefri seraya bangun dan membetulkan duduknya kembali di atas kursi.

"Hukuman buat Lo" Jawab santai Alaska seraya tersenyum miring. Jefri mendengarnya tersenyum kecut.

"Tia Lo ada gak sih, punya nomor wa namanya Aksara" Tanya Vania dengan antusias.

Tia mengeleng kepalanya. "Gak ada.." Balas nya seraya menyuapkan bakso ke dalam mulutnya.

"Ih pelit banget sih Lo, bagi dong" Pinta Vania dengan matanya berbinar-binar.

"Gak ada Vania, aku gak punya nomor wa mereka" Jawab Tia sebal, terhadap temannya gak mengerti-ngerti. Mendengar Tia tidak mempunyai nomor wa Aksara, Vania memutuskan untuk mencari nya nanti. Sekarang terlebih dulu mengisi perut nya sebelum bel masuk berbunyi.

Selang beberapa menit bel masuk pun berbunyi. Para murid pun berlenggang pergi dari kantin menuju kembali ke kelas. Alaska dan sohibnya yang baru beranjak dari kursi tiba saja berhenti. Melihat Alaska mengepal kedua tangan kuat.

"Lo tahu gak tadi kalau Alaska dengan cewek anak kelas 11 IPS berduaan tadi di toilet. Kira-kira ngapain ya mereka, apa-" Sebelum melanjutkan perkataannya suara meja tersungkur dan suara pecahan kaca terdengar menggema di kantin.

***Brak***..

***Prang***..

"Akkh..." Teriak histeris para murid ketakutan begitu terdengar nyaring. Nyaris hampir saja mereka terkena pecahan gelas dan mangkok berada meja yang tersungkur ke lantai.

"Alaska.." Panggil Aksara seraya menyugar rambutnya ke belakang melihat Alaska sudah mode emosi.

Cewek yang menggunjing tadi, kini bergetar hebat. Melihat Alaska menatap tajamnya.

Rahang laki itu mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat. Hingga menonjolkan urat nadinya.

"Lo kayaknya suka banget deh urusin hidup orang" Ucap Alaska dengan nada begitu dingin. Membuat suasana nya hening diam, menjadi suram.

"Apa mulut Lo perlu gue sobek?" Lanjut Alaska dengan nada masih sama.

"Atau Lo mau buktiin kalau gue itu beneran apa gak melakukan berhubungan \*\*\*\* di toilet dengan cewek Lo sebut tadi. Kalau begitu, silahkan Lo panggil dokter terkenal profesor terkenal, dan periksa gue masih perjaka apa gak dan cewek itu masih perawan apa gak. Kalau gue masih perjaka dan cewek itu masih perawan. Lo harus masuk penjara seumur hidup kalau gak di hukum mati" Alaska menatap dengan sorot mata tajam nya. Melihat mata cewek itu yang sudah berair.

"Kalau malah sebaliknya, gue bakal bakal masuk penjara seumur hidup atau di hukum mati juga. Atau Lo bunuh gue silahkan. Gak perlu pikirkan tentang bayaran nya, gue bayar semuanya kalau perlu" Bentak Alaska berakhir cewek itu menangis histeris.

"Huaaa.." nangis cewek tersebut.

Bu Yeyen yang tiba-tiba datang melihat kantin sudah kayak kapal pecah. Langsung menatap penyebabnya. Alaska yang merupakan penyebabnya. Terlihat seperti sangat emosi dari pada biasanya.

"Alaska.." Panggil Bu Yeyen membuat cowok itu langsung menoleh ke arah guru BK itu. Bu Yeyen seketika nyali menciut melihat tatapan tajam Alaska.

"I-kut ibu ke ru-ang BK" Titah Bu Yeyen terbata-bata. Guru BK yang di takuti oleh semua murid di SMA ini. Tiba saja takut oleh satu siswa bernama Alaska Kalingga putra.

"Buset masuk BK lagi itu anak" Celetuk Karel seraya mengeleng kepalanya.

"Udah tiga kali kayaknya hari ini dia masuk BK" Timpal Jefri.

Vania yang melihat akan kejadian itu, melebar matanya. "Gila! ini namanya lebih dari sekedar bad boy ini, cih" Vania berdesis pelan melihat kemarahan seorang terkenal Bad boy.

Dengan santai Alaska mengekori guru BK tersebut. Seperti tidak ada rasa bersalah sedikitpun, dari raut wajah tampannya. Padahal meja yang ia jatuhkan bisa aja nanti kenak para murid di kantin itu, dengan atas meja itu ada gelas dan mangkok. Dia gak mikir resiko itu, apa yang akan terjadi nanti, yang cowok itu pikir bagaimana hatinya puas.

Terpopuler

Comments

nana

nana

badboy tp masih perjaka....

2023-07-26

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!