Naksir

Vania menghentakkan kakinya kesal. Jam istirahat sudah berbunyi semenit selalu. Sekarang cewek itu berjalan menuju ke kelasnya.

"Ciee enak banget tadi di ajak ke kantin sama Aksara" Seru Tia heboh melihat Vania yang sudah di dalam kelas. Dan kini tengah duduk di kursinya.

"Biasa aja.." Balas Vania dengan bete seraya menunggu guru pelajaran masuk.

"Kenapa sih itu muka Lo, udah masam aja. Padahal tadi di ajak ke kantin sama cowok ganteng lah" Tia memainkan alisnya seraya tersenyum menggoda ke Vania.

"Apaan sih Lo, biasa aja kali. Cuman di ajak Aksara doang" Timpal Vania mengeleng kepalanya, melihat Tia yang terlalu melebih-lebihkan.

"Ya walaupun Aksara, tapi dia cowok famous tahu" Balas Tia yang tak mau kalah. Vania pun hanya mengangguk kepalanya mengiyakan saja.

"Lo kenapa sih? Gue lihat masam gitu" Tanya Tia mengulangi pertanyaan tadi yang belum di jawab oleh Vania.

Vania yang di tanya, tersenyum lebar. "Lo tahu gak! Gue kesel banget sama tuh cowok. Belagu amat, mancam dia paling hebat dan paling waw gitu. Padahal bagi gue dia itu cuman cowok sampah yang gak bisa menghargai cewek" Kesal Vania mengingat perlakuan Alaska terhadap nya.

"Siapa? Alaska? jadian cepat kalian berdua cocok soalnya" Ujar Tia tergelak tertawa.

Vania mendengar perkataan, Tia berdecak kesal "Ck, amit-amit gue kalau jadian sama dia" Vania memutar bola matanya malas, memikirkan misalnya kalau dirinya jadian sama Alaska. Yang kelakuannya kayak Dajjal.

"Hahaha, awas nanti naksir Loh! Bilang aja sekarang gak mau. Nanti tahu ujung-ujungnya malah kemakan omongan sendiri" Kelakar Tia. Membuat Vania yang mendengar perkataannya, jadi panas.

"Dih amit-amit cabang babu. Moga gue gak pernah namanya pacaran sama tu cowok songong"

Vania menatap celingak-celinguk sekitar area parkir. Merasa tidak ada melihat dirinya. Ia pun mendekati motor sport, yang menurutnya itu milik Alaska.

"Benar gak sih! Motornya Alaska, jangan salah pula nanti" Gumam Vania menatap sport berwarna biru tua.

"Dahlah fiks ini motor, milik cowok songong itu" Tukas Vania lalu jongkok dan niat ingin mengempeskan ban motor sport tersebut. Suara angin ban motor tersebut terdengar, Vania pun tersenyum menyeringai. Merasa melihat ban motor sport itu sudah kempes. Ia pun menutup kembali tempat pintil ban tersebut.

"Yes rencana gue berhasil, mampus Lo gak bisa pulang dasar bad boy songong?" Gumam Vania seraya tersenyum bangga dengan perbuatannya. Yang ingin mengerjai cowok itu.

"Siapa yang songong.." Suara berat terdengar di samping telinga Vania. Seketika Vania pun menoleh kesamping. Dan matanya langsung membelalakkan, melihat siapa yang pemilik suara itu.

"Hay lagi ngapain?" Sapa Alaska dengan senyum manis yang di buat-buat. Vania yang menatap Alaska begitu dekat, tidak mengedipkan matanya sedikit pun. Melihat pahatan wajah yang begitu indah.

"Gak ngapa-ngapain kok, cuman bocorin-. Eh maksudnya cari jepit rambut gue tadi jatuh, sekarang hilang ntah kemana" Ujar Vania berbohong dan sedikit hampir keceplosan mulutnya. Yang posisi tadi jongkok, Vania pun berdiri dan menepuk kedua tangannya yang kotor.

Alaska yang jongkok juga, kepalanya pun manggut-manggut seraya berdiri.

"Lo mau kemana? mau pulang?" Tanya Vania basa-basi. Lalu di jawab sekedar anggukan kepala oleh Alaska.

Alaska pun menghampiri, motor sportnya yang berada di samping motor sport biru tua. Vania yang melihatnya. Langsung tercengang kaget.

"Itu motor Lo? Bukannya motor Lo warna biru tua?" Tanya Vania dengan ekspresi kagetnya.

Alaska menaikkan alisnya, dengan tatapan menyelidik. Melihat tatapan, Alaska. Vania langsung was-was.

"Maksudnya gue biasanya. Gue sering lihat Lo naik motor sport warna biru tua! Sekarang kok dah warna hitam aja" Ujar Vania sembari cengengesan.

"Gue banyak motor! Bukan motor biru tua aja" Tukas Alaska seraya menaiki motor sportnya. Vania yang mendengarnya, langsung menatap motor biru tua.

"Jadi ini motor sport milik siapa?" Tanya Vania di dalam batin dengan perasaan kalut. Tiba-tiba pak Boni pun datang dan menghampiri motor sportnya.

"Ngapain kamu sini Vania?" Tanya Pak Boni melihat keberadaan siswinya yang melamun di parkiran sekolah.

Lamunan Vania pun buyar, "Eh pak! Ngak ngapa-ngapain kok" Jawab Vania lalu berlenggang pergi. Tapi belum beberapa langkah, namanya Vania di panggil keras.

"Vanilla kaleisha..." Panggil pak Boni dengan suara keras.

"Duuh gawat ni jangan bilang! Kalau itu motor milik pak Boni" Batin Vania. Ia pun memegang tali tasnya seraya membalikkan badannya.

"Kenapa pak?" Tanya Vania dengan ekspresi takut.

"Ini kenapa ban motor saya jadi kempes, apa ni ulah kamu!" Tuduh Pak Boni.

Vania pun mengeleng kepalanya cepat. "Enggak kok pak, saya gak tahu kenapa ban motor kenapa jadi kempes" Ujarnya berbohong.

"Jangan bohong! tadi pas bapak lihat enggak kempes gini bannya, kenapa pas balik-balik dah jadi kempes. Kalau gak bapak lihat cctv, jika ini kesalahan kamu! Siap-siap bersihin seluruh toilet di sekolah ini" Ancam Pak Boni, membuat Vania meneguk ludahnya dengan susah payah.

"Iya pak saya jujur deh, kalau ban motor bapak jadi kempes gitu ulah saya..." Jawab Vania dengan menyengir kuda.

Bapak Boni yang mendengar jawaban siswinya, menarik nafas-nafasnya dalam. "Vanilla kaleisha... Bapak hukum kamu kutip daun 100 lembar" Titah Paka Boni dengan emosi.

"Yah bapak kok saya di hukum sih! saya kan dah jujur" Lirih Vania.

"Tapi tetap saja kamu bersalah! Dah jangan bantah lagi. Nanti bapak tambah suruh kutip 100 daun lagi mau kamu" Ancam pak Boni membuat Vania mengangguk kepalanya mengiyakan.

Vania pun memulai mengutip daun kering dengan wajahnya di tekuk kesal. Tia yang baru siap piket, melihat Vania mengutip daun kering, dirinya pun bertanya-tanya.

"Vania ngapain Lo kutip daun kering? di hukum lagi sama Bu Yeyen" Tanya Tia seraya menaikkan alisnya sebelah.

"Bukan! Gue di hukum sama pak Boni aanjing. Ini semua gara-gara Lo. katanya motor sport si milik Alaska warna biru tua, tapi kok sekarang warna hitam" Ketus Vania kesal. Gara-gara temannya, itu dirinya sampai di hukum sama guru paling killer selain Bu Yeyen.

"Hahaha, makanya kalau gue ngomong itu kuping di pasang. Dah gue bilang motor Alaska di samping motor sport biru tua, bukan motor sport biru tua. Dah kenak Lo kan, ingin niat jahil orang malah kenak sendiri" Sindir Tia.

"Tia jangan pulang dulu, bantuin gue gitu" Pinta Vania memelas.

"Ogah, Lo ituin sendiri. Siapa suruh cari masalah" Ketus Tia lalu berlenggang pergi.

"Ck' gak setia amat punya teman. Ini semua pasti gara-gara Alaska, gara dia gue jadi sial" Gerutu Vania kesal.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!