Kita tidak bisa bersantai lagi

Langit kini sudah berganti jingga karena hari sudah senja. Dimas baru saja keluar dari kantor, sementara suasana kantor sudah sangat sunyi.

Pria itupun langsung melangkah menuju di mana mobilnya terparkir.

Di saat ia hendak masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia pun melihat di layar kalau Tsania sedang menghubunginya

"Ya, Sayang?" sahut Dimas sembari menutup pintu mobilnya, lalu melajukannya dengan kecepatan sedang.

"Kamu di mana, Sayang?" sahut Tsania.

"Ini di mobil. Aku baru saja keluar dari kantor," Dimas membelokkan kemudi mobilnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lainnya memegang handphone di telinganya.

"Bagaimana, Sayang? Photo-photonya sudah kamu dapatkan kan?" dari nada bicara wanita di ujung sana, bisa diketahui kalau wanita itu masih belum merasa tenang.

"Sudah aman, Sayang. Aku sudah memindahkan semuanya ke flashdisk aku, dan yang di laptop itu semuanya sudah aku hapus tak bersisa," Dimas, tersenyum smirk walaupun wanita di ujung sana tidak akan mungkin bisa melihat senyumnya.

"Kamu tidak bohong kan Sayang? Kamu tidak hanya ingin menenangkanku saja, makanya bilang seperti itu?" Tsania memastikan.

"Aku tidak berbohong. Buat apa aku membohongimu hala beginian? Zora memang bodoh, sandi laptop itu sama sekali tidak dia ganti, makanya aku bisa membukanya dengan mudah," tampak senyum puas dari bibir Dimas.

"Ahh, kamu memang yang terbaik, Sayang! Kalau begitu aku sudah bisa tenang sekarang," sorak Tsania dari ujung sana.

"Kalau begitu panggilannya aku tutup dulu ya, Sayang. Kamu hati-hati di jalan. Aku tidak mau kamu sampai kenapa-napa nanti," Tsania kembali menunjukkan perhatiannya, hal yang membuat Dimasa senang.

"Oh, so sweet! Jadi kalau aku kenapa-napa emangnya kenapa?" goda Dimas.

"Aku pasti akan sedih. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, Sayang!" kata-kata yang sangat membuat Dimas bahagia, tanpa dia tahu kalau itu hanya ucapan dari mulut seorang Tsania saja, bukan dari hati yang tulus.

Dimas tersenyum sangat lebar. Benar-benar merasa tersanjung mendengar ucapan Tsania. Beda dengan Aozora dulu, yang setiap dia tanya, 'kalau seandainya dia mati, bagaimana' wanita itu selalu menjawab. Kalau iya pasti akan sedih, tapi dia tetap akan berusaha untuk realistis dengan tetap melanjutkan hidup dan mencoba untuk tidak selamanya larut dalam kesedihan. Jawaban Aozora, membuat Dimas merasa kalau wanita itu tidak benar-benar mencintainya. Jadi, begitu mendengar ucapan Tsania tadi membuat dirinya jadi merasa benar-benar dicintai.

"Kamu benar-benar membuatku melayang, Sayang.Aku benar-benar tidak sabar untuk bisa memakanmu setiap hari," Dimas mulai memancing pembicaraan ke arah vulgar.

"Ahh, kamu ya! Bisa saja membuatku merinding membayangkan seranganmu. Kalau denganmu, aku siap kamu makan setiap hari, Sayang. Tapi, sabar ya, 5 hari lagi kita akan menikah," ucap Tsania, dengan suara yang dibuat selembut mungkin dan sedikit mende*sah.

"Ahh, suaramu sudah memancing gai*rahku, Sayang. Kamu harus tanggung jawab!" sesuatu milik Dimas di bawah sana sudah mulai menggeliat.

"Ihh, gila kamu, Sayang. Nanti saja kamu pulang ke rumah kita video call seperti biasa. Sekarang, kamu fokus mengemudi saja. Aku tutup teleponnya ya, Sayang!" akhirnya panggilan pun benar-benar diputus oleh Tsania dari ujung sana

.

.

.

Dimas melemparkan begitu saja tas kerjanya ke atas sofa, begitu pria itu di kediamannya.

"Dimas, ada apa? Kenapa terlihat kesal seperti itu?" tegur Damian, papa Dimas dengan kening yang berkerut bingung.

"Bibi Amber dan Zora yang membuatku kesal, Pa," sahut Dimas, seraya menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.

"Amber, Zora? Ada apa dengan dua wanita wanita itu?" seorang wanita yang tidak lain, mamanya Dimas, ikut buka suara.

"Apa kamu masih kesal karena Zora tiba-tiba membatalkan pernikahan kalian berdua, Dimas? Apa kamu masih berharap kalau Zora berubah pikiran dan menikah denganmu lagi? Kalau memang karena itu, mama nggak setuju! mama tidak mau lagi punya menantu seperti dia yang dengan enaknya meninggalkanmu," sambung Meta mamanya Dimas, dengan mata yang berapi-api.

Sepertinya wanita paruh baya itu benar-benar terhasut dengan pengakuan Dimas, yang sudah memfitnah Zora di depan mamanya dengan mengatakan kalau Zora yang tiba-tiba membatalkan pernikahan. Wanita yang dulunya sangat menyukai Aozora, kini sangat membencinya. Sebaliknya, wanita paruh baya yang dulunya tidak menyukai Tsania, justru sekarang menyukai wanita itu karena dianggap sudah berjasa mau menggantikan kakaknya, demi menjaga nama baik keluarganya.

"Tidak, Ma! Tidak sama sekali. Aku tidak mungkin mengharapkan Zora lagi. Justru sekarang aku semakin bersyukur kalau dia tidak jadi istriku," ujar Dimas.

"Jadi, kenapa kamu bisa kesal dengan Zora lagi? Dan apa hubungannya Zora dengan bibi kamu, Amber?" Meta mengernyitkan keningnya, semakin bingung.

"Karena ternyata, Zora membatalkan pernikahan, agar bisa menikah dengan Arsen."

"Apa! Zora menikah dengan Arsenio? Bagaimana bisa?" Meta tersentak kaget, demikian juga dengan Damian.

"Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Yang jelas Zora sekarang sudah jadi istri Kak Arsen. Bibi Amber sendiri yang menunjukkan surat pernikahan mereka. Tapi, bukan itu yang membuatku kesal, Ma, masalahnya sekarang selama Kak Arsen tidak sadar, Zora yang mengambil alih perusahaan. Sedangkan aku, kembali ke posisi semula, Ma, Pa. Dan ini juga keputusan Bibi Amber. Tapi, aku yakin kalau ini atas permintaan Zora,"terang Dimas yang sengaja melebihkan-lebihkan dan tidak memberitahukan alasan sebenarnya Zora menikah karena demi melunasi hutang papa wanita itu.

"Benar-benar wanita licik dan matre. Mama benar-benar bersyukur kalau dia tidak jadi menantu Mama. Ini Kak Amber juga kenapa bisa sampai mau menjadikan wanita licik itu menantu? Meta terlihat benar-benar sangat marah.

"Mungkin, Kak Amber terpengaruh dengan tutur kata Zora dan muka sok polosnya, Sayang," Damian menimpali.

"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus memberitahukan Kak Amber, bagaimana sebenarnya, Zora. Jangan sampai harta mereka jatuh ke tangan wanita itu," Meta meraih ponselnya hendak menghubungi Amber.

"Tidak perlu, Ma!" Dimas dengan cepat mencegah namanya itu. Karena dia takut kalau mamanya itu nanti menghubungi bibinya itu, kebohongannya tentang Zora bisa terbongkar, dan berujung pernikahannya dengan Tsania batal.

"Kenapa kamu melarang, Mama? Apa kamu mau wanita itu mengambil semua harta kakak sepupumu itu? Arsen sekarang masih koma, mama takut kalau Zora memanfaatkan kondisi Arsen sekarang untuk bisa memindahkan semua aset-aset atas namanya. Kamu kan sudah bisa lihat sekarang kalau dia itu licik, Dimas!" Alis Meta bertaut, menatap Dimas dengan tatapan menyelidik.

"Karena sia-sia saja, Ma. Aku sudah menjelaskan semuanya ke bibi Amber, tapi bibi sama sekali tidak percaya. Sepertinya Zora benar-benar sudah berhasil mempengaruhi Bibi Amber." Dimas mencoba mencari alasan.

"Benar-benar wanita ular! Mama benar-benar tidak menyangka kalau selama ini dia hanya berpura-pura polos," Meta kembali mengumpat.

Dimas tersenyum tipis, merasa kalau mamanya sudah berhasil dia provokasi dan percaya dengan apa yang dia katakan.

"Bibi Amber tadi, justru malah menuduh papa dan aku yang berniat mengambil perusahaan. Dan bahkan bibi Amber mengancam, sekali saja aku, papa atau mama menjelek-jelekkan Zora, dia tidak akan segan-segan untuk mendepak aku dan papa dari perusahaan, Ma. Kalau sudah seperti itu, bisa-bisa kita akan jadi gembel, kan? Jadi, mending kita diam saja untuk sekarang. Sampai Kak Arsen bangun dari komanya. Mama tahu sendiri kan kalau Kak Arsen sangat mencintai Hanum. Jadi aku yakin, Kak Arsenio pasti akan langsung mengusir Zora, begitu dia sadar. Mama berdoa saja, semoga Kak Arsen cepat bangun dari komanya," Dimas kembali memprovokasi mamanya.

"Baiklah kalau seperti itu!" pungkas Meta akhirnya. "Kamu belum makan kan, Nak! Mama ke dapur dulu, untuk memanaskan makanan. Kasihan Mbok Jum kalau disuruh-suruh lagi!" wanita paruh baya yang memang pada dasarnya baik itu berdiri dari tempat dia duduk dan melangkah ke dapur.

"Dimas, bagaimana ini? Ini benar-benar sudah tidak bisa kita biarkan. Kita harus secepatnya bertindak. Papa akan memikirkan bagaimana caranya papa bisa mendapatkan tanda tangan, atau cap jari Arsenio, di surat pengalihan nama perusahaan atas nama kamu itu," ucap Damian, setelah memastikan kalau Meta istrinya sudah benar-benar pergi.

"Iya, Pa. Kita tidak boleh bersantai lagi. Aku juga takut kalau nantinya, Kak Arsenio tiba-tiba bangun," balas Dimas.

Tbc

Terpopuler

Comments

ira

ira

ank dan suamimu yg ular😤😤😤

2024-07-03

4

Yanti

Yanti

hadeeeeeeehhhh ular bilang ular

2024-06-23

0

Ghufron Ali Sya'bana

Ghufron Ali Sya'bana

meta?

2024-06-10

0

lihat semua
Episodes
1 Dipaksa untuk menikah
2 Keputusan Aozora
3 Alasan Amber.
4 Sah berganti status jadi istri
5 Menyampaikan uneg-uneg
6 Cantik
7 Daren
8 Permintaan Arsenio
9 Membersihkan tubuh Arsen
10 Hari pertama ke perusahaan
11 Dimas turun jabatan
12 Kedatangan Tsania
13 Kepanikan Tsania dan Dimas
14 Kita tidak bisa bersantai lagi
15 Bingung
16 Ancaman Aozora
17 Kepanikan Dimas dan Tsania
18 Kekesalan Arsenio
19 Gagal
20 Bangun
21 Hampir saja
22 Hampir saja 2
23 Berusaha menahan rasa kesal
24 Kamu butuh bantuan?
25 Apa dia sebaik itu?
26 Dia pasti cemburu
27 Aksi Damian
28 Ini pasti ulah Aozora
29 Terlalu percaya diri
30 Kepanikan Dona
31 Kamu harus berterima kasih padaku
32 Kamu harus menemaniku terapi
33 Ribut
34 Hampir saja
35 Siapa kamu?
36 bertemu Danuar
37 Aditya marah
38 Kembali ke pemilik asli
39 Sedikit kecewa
40 Selingkuh ?
41 Permulaan karma
42 Anda lebih tega
43 Bagaimana perasaanmu sekarang padaku?
44 Apa yang harus aku lakukan
45 Ancaman Dona.
46 cantik sekali!
47 Rencana licik Damian
48 Kemarahan Arsen
49 Aozora hilang sabar
50 Anggap saja aku sudah mati
51 Sulit dipahami
52 Bosan punya banyak uang
53 Aku tidak suka!
54 Rahasia Hanum
55 Akan kembali ke kantor
56 Pasrah
57 Sisi lain Arsen
58 Aku akan menghapus bekasnya
59 Dimas pulang
60 Ide gila Dona
61 Menyambut Arsen
62 Mau jadi sekretaris
63 Aku mau lihat sejauh mana rencanamu
64 Dona mengancam Tsania
65 Menemui Samudra!
66 Bella mendatangi Samudra
67 Ini tidak bisa dibiarkan
68 Provokasi Hanum
69 dia itu adik sepupuku
70 Aku sudah tidak peduli!
71 Apa yang aku lakukan itu keterlaluan?
72 Aku menyerah
73 Ke Makam
74 Dilema Tsania
75 Penyesalan Meta
76 pingsan
77 Keputusanku tetap sama.
78 Kalau tidak berguna buang saja!
79 Rencana Dimas
80 Acara Ulang tahun, Arsen
81 Ancaman Hanum
82 Aku juga tidak minta dilahirkan
83 Mengancam Danuar.
84 Aku harus bertindak
85 Ini semua rencanaku
86 Terpaksa melaporkan
87 Provokasi Hanum
88 Datang ke ruanganku sekarang!
89 Ya, Dia Raraku!
90 Aku mau menginap di sini
91 membujuk Aozora
92 Ke kantor polisi
93 Aku hamil.
94 Cerita Arsen
95 Kekesalan Arsen
96 Cari cara
97 Syarat Dimas
98 Aku ikhlas melakukannya
99 Perdebatan Bella dan Niko
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 bab 108
109 bab 109
110 bab 110
111 bab 111
112 bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 bab 115
116 bab 116
117 bab 117
118 bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Pengumuman
126 Pengumuman
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Dipaksa untuk menikah
2
Keputusan Aozora
3
Alasan Amber.
4
Sah berganti status jadi istri
5
Menyampaikan uneg-uneg
6
Cantik
7
Daren
8
Permintaan Arsenio
9
Membersihkan tubuh Arsen
10
Hari pertama ke perusahaan
11
Dimas turun jabatan
12
Kedatangan Tsania
13
Kepanikan Tsania dan Dimas
14
Kita tidak bisa bersantai lagi
15
Bingung
16
Ancaman Aozora
17
Kepanikan Dimas dan Tsania
18
Kekesalan Arsenio
19
Gagal
20
Bangun
21
Hampir saja
22
Hampir saja 2
23
Berusaha menahan rasa kesal
24
Kamu butuh bantuan?
25
Apa dia sebaik itu?
26
Dia pasti cemburu
27
Aksi Damian
28
Ini pasti ulah Aozora
29
Terlalu percaya diri
30
Kepanikan Dona
31
Kamu harus berterima kasih padaku
32
Kamu harus menemaniku terapi
33
Ribut
34
Hampir saja
35
Siapa kamu?
36
bertemu Danuar
37
Aditya marah
38
Kembali ke pemilik asli
39
Sedikit kecewa
40
Selingkuh ?
41
Permulaan karma
42
Anda lebih tega
43
Bagaimana perasaanmu sekarang padaku?
44
Apa yang harus aku lakukan
45
Ancaman Dona.
46
cantik sekali!
47
Rencana licik Damian
48
Kemarahan Arsen
49
Aozora hilang sabar
50
Anggap saja aku sudah mati
51
Sulit dipahami
52
Bosan punya banyak uang
53
Aku tidak suka!
54
Rahasia Hanum
55
Akan kembali ke kantor
56
Pasrah
57
Sisi lain Arsen
58
Aku akan menghapus bekasnya
59
Dimas pulang
60
Ide gila Dona
61
Menyambut Arsen
62
Mau jadi sekretaris
63
Aku mau lihat sejauh mana rencanamu
64
Dona mengancam Tsania
65
Menemui Samudra!
66
Bella mendatangi Samudra
67
Ini tidak bisa dibiarkan
68
Provokasi Hanum
69
dia itu adik sepupuku
70
Aku sudah tidak peduli!
71
Apa yang aku lakukan itu keterlaluan?
72
Aku menyerah
73
Ke Makam
74
Dilema Tsania
75
Penyesalan Meta
76
pingsan
77
Keputusanku tetap sama.
78
Kalau tidak berguna buang saja!
79
Rencana Dimas
80
Acara Ulang tahun, Arsen
81
Ancaman Hanum
82
Aku juga tidak minta dilahirkan
83
Mengancam Danuar.
84
Aku harus bertindak
85
Ini semua rencanaku
86
Terpaksa melaporkan
87
Provokasi Hanum
88
Datang ke ruanganku sekarang!
89
Ya, Dia Raraku!
90
Aku mau menginap di sini
91
membujuk Aozora
92
Ke kantor polisi
93
Aku hamil.
94
Cerita Arsen
95
Kekesalan Arsen
96
Cari cara
97
Syarat Dimas
98
Aku ikhlas melakukannya
99
Perdebatan Bella dan Niko
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
bab 108
109
bab 109
110
bab 110
111
bab 111
112
bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
bab 115
116
bab 116
117
bab 117
118
bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Pengumuman
126
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!