Sah berganti status jadi istri

"Please, jangan katakan, aku akan dibuang! Aku capek diangggap seperti barang yang bisa dibuang begitu saja kalau sudah tidak dibutuhkan lagi," batin Aozora.

Amber terlihat tersenyum penuh makna dan menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak sekejam itu Nak Zora. Kamu tenang saja, aku tidak akan pernah membuangmu, karena kamu itu bukan barang yang seenaknya dibuang kalau sudah tidak butuh lagi," ucap Amber, seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh Aozora.

"Kenapa dia tahu apa yang aku pikirkan ya? Apa dia bisa membaca pikiran?" bisik Aozora pada dirinya sendiri.

"Kalau nanti Arsenio bangun dari komanya, Tante akan berusaha memberi pengertian padanya, dan kamu juga berusaha untuk membuat dia bisa menerimamu,"lanjut Amber lagi.

Penjelasan wanita paruh baya itu, benar-benar mampu membuat Aozora merasa tenang.

"Lagian, aku tahu, Zora kalau kamu juga ingin membalas perbuatan mama tiri kamu yang sudah mengambil perusahaan mama kamu kan?"

Lagi-lagi Aozora tersentak kaget, bingung kenapa calon mertuanya itu bisa tahu apa yang ada dipikirannya.

"Da-dari mana, Tante tahu tentang itu?" suara Aozora terdengar gugup.

"Aku tahu semuanya, karena aku mendengar sendiri tadi pembicaraan keluargamu." sahut Amber membuat Aozora semakin kaget.

"Tenang saja, aku tidak akan menuduhmu, mau menikah dengan putraku, sebagai batu loncatan untuk bisa balas dendam, merebut kembali perusahaan peninggalan almarhumah mamamu. Justru, aku senang, karena itu berarti pernikahan kalian, bukan keuntungan satu pihak saja, melainkan dua pihak. Jadi, aku tidak perlu merasa bersalah karena pernikahan ini, menguntungkan dua belah pihak. Kamu bisa menjadikan pernikahan ini sebagai batu loncatan untuk merebut kembali perusahaan mamamu sedangkan aku ... Aku bisa mempertahankan perusahaan suamiku," ucap Amber, tersenyum penuh makna.

"Sekarang, persiapkan dirimu! Kamu akan menikah hari ini juga," imbuh wanita paruh baya itu.

"Heh, sekarang?" Aozora terkesiap kaget.

Belum sempat Amber menjawab, pengawal yang tadi membawa Aozora masuk, kembali masuk dan membungkukkan badannya ke arah Amber.

"Maaf, Nyonya, mengganggu sebentar. Petugas dari catatan sipil sudah datang. Mereka ada di depan. Apa mereka bisa aku suruh masuk?" lapor pengawal itu.

"Iya, suruh saja mereka masuk!" titah Amber.

"Catatan sipil? maksudnya ini apa?" batin Aozora bingung.

"Kamu bingung ya?" tebak Amber, dan Aozora menganggukkan kepalanya.

"Kamu dan putraku akan menikah secara hukum dulu. Untuk masalah agama, kita bisa lakukan nanti setelah dia bangun dari komanya," jelas Amber.

Bertepatan Amber selesai meluruskan kebingungan Aozora, tampak ada dua orang pria masuk, yang bisa diyakini adalah pihaknya dari catatan sipil.

"Selamat sore, Ibu Amber! " sapa salah satu dari pria itu.

"Sore, Pak Danu! Apa semuanya sudah siap?" tanya Amber, memastikan.

"Sudah, Bu!" sahut pria yang dipanggil Danu itu.

"Baiklah kita ke kamar anakku sekarang. Ayo, Zora!" Amber berdiri dari tempat dia duduk dan beranjak pergi.

"Tante, maaf! Bagaimana dengan berkas-berkasku?" Aozora sama sekali belum beranjak dari tempat dia berdiri. Karena dia benar-benar bingung, bagaimana dia bisa menikah sedangkan dia saja belum memberikan berkas-berkasnya pada wanita itu.

Amber yang nyaris melangkah, menyurutkan langkahnya dan kembali menoleh ke arah Aozora dengan senyum yang tidak pernah tanggal dari bibirnya.

"Mengenai berkas-berkasmu, aku papamu sudah memberikannya dari kemarin," jawab wanita paruh baya itu.

Aozora sontak tersenyum smirk, menyembunyikan lukanya mendengar jawaban ibu dari calon suaminya itu.

"Papa ternyata benar-benar sudah berniat ingin menjualku. Bahkan belum bertanya, kesediaanku, dia sudah memberikan berkas-berkasnya," batin Aozora, berusaha menahan rasa sesak di dadanya.

"Ayo ke kamar, Arsen!" Amber kembali buka suara.

"Kenapa harus ke kamar Arsen ya? Emangnya pria itu ada di sini? Bukannya di rumah sakit?" batin Aozora yang semakin bingung.

"Robby, kamu bawa barang Nona Aozora ke kamar tuan muda!" titah Amber, lagi pada pengawal.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Amber berhenti di depan pintu kamar yang tertutup. Dari pintu yang mewah saja sudah bisa digambarkan kondisi kamar di dalam yang pasti juga sangat mewah.

"Ini kamar Arsen, dan juga akan jadi kamarmu, Zora. Anak saya dirawat di dalam. Dokter yang setiap hari datang ke sini." jelas Amber sebelum Aozora bertanya.

Benar saja, sesuai dengan dugaan Aozora, begitu pintu kamar dibuka tampak kamar yang didesign dengan sangat mewah dengan warna khas laki-laki. Wangi kamar yang maskulin juga langsung menyeruak menyentuh hidung, mendatangkan kenyamanan untuk bisa tetap berada di dalam kamar.

"Itu Arsenio, putraku!" Amber menujuk ke arah ranjang besar dan mewah.

Tampak jelas Aozora melihat sosok pria yang sedang terbaring dengan banyak alat medis yang menempel di tubuhnya.

Aozora tidak bisa memungkiri dan tidak bisa mengatakan kalau dia tidak kagum dan terpesona melihat pria yang menurutnya sangat tampan, dengan kulit yang tidak terlalu putih, tapi juga tidak kecoklatan. Pria itu juga memiliki hidung yang mancung dan rahang yang tegas. Benar- benar sempurna lukisan Tuhan yang ada di wajah pria itu.

Kaki pria yang hampir menyentuh ujung ranjang, menandakan kalau pria itu memiliki tubuh yang tinggi. Dan bisa dilihat walaupun pria itu katanya sudah koma selama sebulan, tapi tubuh pria itu terlihat tidak kurus sama sekali dan dia juga sepertinya tidak kehilangan otot-ototnya.

"Nona Aozora, sekarang tanda tangan atau bisa juga sidik jari di sini!" Pria bernama Danu yang merupakan dari dinas catatan sipil itu tiba-tiba buka suara, menyadarkan Aozora dari alam bawah sadarnya.

"I-iya, Pak? tanda tangan?" Aozora tiba-tiba terlihat seperti orang linglung.

"Iya, Nona! Anda harus tanda tangan di sini!" pria bernama Danu itu menunjuk tempat di mana ada tertulis jelas nama lengkap Aozora, pada sebuah kertas yang bisa dilihat merupakan surat pernikahan.

Dengan tangan bergetar, Aozora menerima pena dari tangan Danu. Lalu ia menelan ludahnya dengan sedikit susah payah saat melihat surat pernikahan di depan matanya.

"Ayo, Zora, tunggu apa lagi!" tegur Amber yang sepertinya tidak sabar. Wanita paruh baya itu sepertinya belum benar-benar tenang, sebelum Aozora membubuhkan tanda tangannya. Ia takut wanita yang dia tahu masih berusia 24 tahun itu, berubah pikiran.

"I-iya, Tante!" lagi-lagi Aozora tersentak kaget.

"Ayo, Zora! Kamu jangan ragu lagi! kamu sudah memutuskan untuk bersedia, ya kamu harus memegang kata-katamu. Ingat juga perusahaan mamamu!" bati Aozora, memberikan semangat pada diri sendiri.

Aozora memejamkan matanya sekilas, kemudian mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan, lalu dengan pasti ia pun menandatangani surat pernikahan itu.

Setelah dia berhasil menandatangani, ia pun mengembuskan napas lega, demikian juga dengan Amber.

"Sekarang giliran, Tuan Arsenio!" ucap pria bernama Danu lagi.

Aozora mengernyitkan keningnya, karena bingung bagaimana pria koma itu bisa membubuhkan tanda tangan, sementara pria itu koma.

Tanpa bertanya, Aozora akhirnya langsung menemukan jawaban ketika pria bernama Danu itu meletakkan jari jempol Arsenio ke sebuah tinta, lalu mengarahkan ke arah kertas yang tertera nama lengkap pria itu.

"Emm, kenapa tangan Tuan Arsen seperti berat ya? Seperti ada penolakan?" ucap Danu dengan alis bertaut, bingung.

Aozora sontak melihat ke arah tangan Arsenio untuk memastikan ucapan pria bernama Danu itu. Benar saja, tampak pria yang sedang koma itu, seperti menahan tangannya, agar tidak bisa menyentuh kertas.

"Kenapa bisa seperti itu? Bukannya seharusnya tangannya lemas ya dan bisa kita gerakkan kemana saja tanpa adanya penolakan? Tapi ini kenapa dia sepertinya menahan tangannya untuk tidak menyentuh kertas?" bisik Aozora, bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

"Masa sih, Pak? Masa orang koma bisa melawan?" Amber buka suara.

"Coba, sini aku yang lakukan!" sambungnya lagi

Amber mengambil alih tangan putranya. Tapi, anehnya tangan Arsenio kembali lemas dan dengan mudah wanita paruh baya itu meletakkan jempol putranya itu di surat pernikahan.

"Akhirnya kalian berdua sudah sah menjadi suami istri secara hukum," ucap pria bernama Danu itu, membuat Amber mengembuskan napas lega.

"Ya Tuhan, aku tidak menyangka dengan singkat dan cara begini, statusku bisa secepat ini berganti. Ternyata aku sudah memiliki suami," batin Aozora, sembari menarik napas panjang. "Apapun yang terjadi pada pernikahanku ke depannya, aku akan terima dengan lapang dada," lanjut Aozora lagi, bermonolog dalam hatinya.

Tbc

Terpopuler

Comments

Surahmi Rahmi

Surahmi Rahmi

berfantasi ....gak nyata kan sah sah saja

2025-03-15

0

Trisna

Trisna

hanya di novel pernikahan model seperti ini bisa di lakukan

2024-10-28

1

Susi Andriani

Susi Andriani

itu nikah model apa?

2024-10-09

0

lihat semua
Episodes
1 Dipaksa untuk menikah
2 Keputusan Aozora
3 Alasan Amber.
4 Sah berganti status jadi istri
5 Menyampaikan uneg-uneg
6 Cantik
7 Daren
8 Permintaan Arsenio
9 Membersihkan tubuh Arsen
10 Hari pertama ke perusahaan
11 Dimas turun jabatan
12 Kedatangan Tsania
13 Kepanikan Tsania dan Dimas
14 Kita tidak bisa bersantai lagi
15 Bingung
16 Ancaman Aozora
17 Kepanikan Dimas dan Tsania
18 Kekesalan Arsenio
19 Gagal
20 Bangun
21 Hampir saja
22 Hampir saja 2
23 Berusaha menahan rasa kesal
24 Kamu butuh bantuan?
25 Apa dia sebaik itu?
26 Dia pasti cemburu
27 Aksi Damian
28 Ini pasti ulah Aozora
29 Terlalu percaya diri
30 Kepanikan Dona
31 Kamu harus berterima kasih padaku
32 Kamu harus menemaniku terapi
33 Ribut
34 Hampir saja
35 Siapa kamu?
36 bertemu Danuar
37 Aditya marah
38 Kembali ke pemilik asli
39 Sedikit kecewa
40 Selingkuh ?
41 Permulaan karma
42 Anda lebih tega
43 Bagaimana perasaanmu sekarang padaku?
44 Apa yang harus aku lakukan
45 Ancaman Dona.
46 cantik sekali!
47 Rencana licik Damian
48 Kemarahan Arsen
49 Aozora hilang sabar
50 Anggap saja aku sudah mati
51 Sulit dipahami
52 Bosan punya banyak uang
53 Aku tidak suka!
54 Rahasia Hanum
55 Akan kembali ke kantor
56 Pasrah
57 Sisi lain Arsen
58 Aku akan menghapus bekasnya
59 Dimas pulang
60 Ide gila Dona
61 Menyambut Arsen
62 Mau jadi sekretaris
63 Aku mau lihat sejauh mana rencanamu
64 Dona mengancam Tsania
65 Menemui Samudra!
66 Bella mendatangi Samudra
67 Ini tidak bisa dibiarkan
68 Provokasi Hanum
69 dia itu adik sepupuku
70 Aku sudah tidak peduli!
71 Apa yang aku lakukan itu keterlaluan?
72 Aku menyerah
73 Ke Makam
74 Dilema Tsania
75 Penyesalan Meta
76 pingsan
77 Keputusanku tetap sama.
78 Kalau tidak berguna buang saja!
79 Rencana Dimas
80 Acara Ulang tahun, Arsen
81 Ancaman Hanum
82 Aku juga tidak minta dilahirkan
83 Mengancam Danuar.
84 Aku harus bertindak
85 Ini semua rencanaku
86 Terpaksa melaporkan
87 Provokasi Hanum
88 Datang ke ruanganku sekarang!
89 Ya, Dia Raraku!
90 Aku mau menginap di sini
91 membujuk Aozora
92 Ke kantor polisi
93 Aku hamil.
94 Cerita Arsen
95 Kekesalan Arsen
96 Cari cara
97 Syarat Dimas
98 Aku ikhlas melakukannya
99 Perdebatan Bella dan Niko
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 bab 108
109 bab 109
110 bab 110
111 bab 111
112 bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 bab 115
116 bab 116
117 bab 117
118 bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Pengumuman
126 Pengumuman
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Dipaksa untuk menikah
2
Keputusan Aozora
3
Alasan Amber.
4
Sah berganti status jadi istri
5
Menyampaikan uneg-uneg
6
Cantik
7
Daren
8
Permintaan Arsenio
9
Membersihkan tubuh Arsen
10
Hari pertama ke perusahaan
11
Dimas turun jabatan
12
Kedatangan Tsania
13
Kepanikan Tsania dan Dimas
14
Kita tidak bisa bersantai lagi
15
Bingung
16
Ancaman Aozora
17
Kepanikan Dimas dan Tsania
18
Kekesalan Arsenio
19
Gagal
20
Bangun
21
Hampir saja
22
Hampir saja 2
23
Berusaha menahan rasa kesal
24
Kamu butuh bantuan?
25
Apa dia sebaik itu?
26
Dia pasti cemburu
27
Aksi Damian
28
Ini pasti ulah Aozora
29
Terlalu percaya diri
30
Kepanikan Dona
31
Kamu harus berterima kasih padaku
32
Kamu harus menemaniku terapi
33
Ribut
34
Hampir saja
35
Siapa kamu?
36
bertemu Danuar
37
Aditya marah
38
Kembali ke pemilik asli
39
Sedikit kecewa
40
Selingkuh ?
41
Permulaan karma
42
Anda lebih tega
43
Bagaimana perasaanmu sekarang padaku?
44
Apa yang harus aku lakukan
45
Ancaman Dona.
46
cantik sekali!
47
Rencana licik Damian
48
Kemarahan Arsen
49
Aozora hilang sabar
50
Anggap saja aku sudah mati
51
Sulit dipahami
52
Bosan punya banyak uang
53
Aku tidak suka!
54
Rahasia Hanum
55
Akan kembali ke kantor
56
Pasrah
57
Sisi lain Arsen
58
Aku akan menghapus bekasnya
59
Dimas pulang
60
Ide gila Dona
61
Menyambut Arsen
62
Mau jadi sekretaris
63
Aku mau lihat sejauh mana rencanamu
64
Dona mengancam Tsania
65
Menemui Samudra!
66
Bella mendatangi Samudra
67
Ini tidak bisa dibiarkan
68
Provokasi Hanum
69
dia itu adik sepupuku
70
Aku sudah tidak peduli!
71
Apa yang aku lakukan itu keterlaluan?
72
Aku menyerah
73
Ke Makam
74
Dilema Tsania
75
Penyesalan Meta
76
pingsan
77
Keputusanku tetap sama.
78
Kalau tidak berguna buang saja!
79
Rencana Dimas
80
Acara Ulang tahun, Arsen
81
Ancaman Hanum
82
Aku juga tidak minta dilahirkan
83
Mengancam Danuar.
84
Aku harus bertindak
85
Ini semua rencanaku
86
Terpaksa melaporkan
87
Provokasi Hanum
88
Datang ke ruanganku sekarang!
89
Ya, Dia Raraku!
90
Aku mau menginap di sini
91
membujuk Aozora
92
Ke kantor polisi
93
Aku hamil.
94
Cerita Arsen
95
Kekesalan Arsen
96
Cari cara
97
Syarat Dimas
98
Aku ikhlas melakukannya
99
Perdebatan Bella dan Niko
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
bab 108
109
bab 109
110
bab 110
111
bab 111
112
bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
bab 115
116
bab 116
117
bab 117
118
bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Pengumuman
126
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!