Dimas turun jabatan

"Zo-Zora!" seru Dimas menatap kaget ke arah Aozora.

"Oh, kamu kenal Zora ya?" Amber berpura-pura tidak tahu.

"Emm, dia itu__"

"Dia mantan tunanganku, Ma!" sambar Aozora dengan cepat.

Aozora terlihat tegar di depan pria yang hampir saja menjadi suaminya itu. Walaupun sebenarnya dia tidak bisa membohongi perasaannya kalau masih ada rasa pada pria itu, mengingat banyak kenangan manis yang sudah mereka lalu selama bertahun-tahun.

"Ma?" gumam Dimas, bingung.

"Kenapa dia memanggil Bibi, Ma?" Dimas menatap penuh tanya ke arah Amber.

"Lah, kenapa emangnya? Bukannya seorang menantu harus memanggil mama mertuanya mama?" Amber tersenyum smirk.

"Me-menantu? Bibi jangan bercanda! Kak Arsenio tidak mungkin sudah menikah kan?" Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya karena yang dia tahu kalau kakak sepupunya itu masih koma.

"Apanya yang tidak mungkin? Arsen memang sudah menikah dengan Zora kemarin. Mereka sudah sah secara hukum," Amber merogoh tasnya dan meraih sebuah kertas. Lalu menunjukkannya ke arah Dimas. Ternyata wanita itu sengaja membawa surat pernikahan antara putranya dan Aozora. Karena ia sudah yakin kalau Dimas pasti nantinya tidak akan percaya.

Dimas benar-benar tidak berkutik melihat bukti yang ditunjukkan oleh Bibinya itu. Ia melirik ke arah Aozora yang saat ini menatapnya dengan tatapan yang sukar untuk dia baca. Ada benci, ada luka dan ada cinta, semuanya bercampur mendengar satu, di manik mata wanita yang hampir saja menjadi istrinya itu.

"Sial! Jadi pria lumpuh yang dikatakan Tsania, yang akan dinikahi Aozora demi membayar utang itu, Kak Arsenio? Kenapa dia tidak memberitahukan siapa pria itu sih?" Dimas mulai mengumpat, merutuki wanita yang sebentar lagi akan jadi istrinya itu. "Tidak boleh jadi ini! Aku harus mempengaruhi Bibi Amber," batin Dimas.

"Bi, kenapa Bibi gegabah menikahkan Kak Arsenio dengan wanita ini? Dia mau menikahi Kak Arsenio, pasti karena mengincar harta. Dia gagal menikah denganku, jadi bisa dipastikan dia sakit hati padaku, makanya dia mau menikah dengan Kak Arsenio, agar bisa membalasku. Dia itu wanita licik, Bi!" Dimas mulai berusaha mempengaruhi Amber.

"Sudahlah, Dimas! Kamu tidak perlu memfitnah Zora, karena bagaimanapun, dia sekarang sudah jadi istri kakak sepupumu. Jadi kamu harus menghormatinya, seperti kamu menghormati Arsen!" tegas Amber, membuat Dimas terdiam tidak bisa membantah.

"Oh ya, bibi datang ke sini bersama Zora, hanya mau bilang, kalau posisi kamu akan digantikan Zora, sampai Arsen sembuh. Kamu bisa kembali ke posisi awal kamu!"

Mata Dimas membesar sempurna, terkesiap kaget mendengar ucapan wanita paruh baya itu. "Ni, tidak boleh begitu dong! Dia ini bukan keluarga kita. Tidak mungkin Bibi bisa memberikan posisi tertinggi di perusahaan ini!" Dimas berusaha untuk protes.

"Dia bukan orang lain lagi. Dia sekarang istri Arsen. Posisinya sama sepertiku, wanita yang masuk ke keluarga Pramana!" tegas Amber.

"Tapi, Bi! Dia __"

"Tidak ada tapi-tapi! Keputusanku sudah mutlak tidak bisa diganggu gugat lagi!" potong Amber cepat.

"Dulu Bibi meminta bantuan kamu, karena tidak mungkin Arsen memimpin perusahaan karena kondisinya, tapi sekarang, Arsen sudah punya istri, jadi biarlah istrinya yang memimpin perusahaan sekarang!" sambung Amber lagi.

"Tapi, tidak mungkin bisa mengurus perusahaan sebesar ini, Bi! Yang ada nanti perusahaan ini akan bangkrut!" Dimas masih tetap tidak bisa terima.

"Kenapa tidak mungkin? Apa kamu lupa kalau aku juga pernah mengurus perusahaan almarhumah mamaku yang sudah diambil dengan licik oleh calon istrimu itu?" Aozora yang tidak terima direndahkan, akhirnya bersuara menimpali ucapan Dimas.

"Hei, Diam kamu!" Dimas mulai meninggikan suaranya.

"Jangan bentak menantuku, Dimas! Suara Amber juga sudah mulai meninggi.

"Bukannya aku sudah bilang kalau kamu harus menghormatinya?" imbuh wanita paruh baya itu.

"Bi, tolong pikirkan ulang keputusan Bibi ini! Jangan sampai perusahaan ini hancur hanya gara-gara wanita ini!" Dimas mengangkat jari telunjuknya tepat di wajah Aozora.

"DIMAS! TURUNKAN TANGANMU!" bentak Amber, membuat Dimas mau tidak mau menuruti perintah bibinya itu.

"Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu, karena ada Niko yang akan membantu! Bukannya selama ini juga seperti itu? Kalau bukan karena ada Niko, perusahaan ini juga akan cepat bangkrut kan di tanganmu?" Amber menunjuk ke arah Niko, yang dari tadi hanya diam saja, berusaha memahami apa yang dibicarakan tiga orang yang ada di ruangan itu.

"Jangan kira Bibi tidak tahu ya kalau kamu sering keluar di jam kerja, pergi entah kemana dan bahkan tidak balik lagi bekerja. Papamu, mamamu dan kamu sendiri juga sering kan menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi kalian, sampai bisa berlibur ke luar negeri? jangan kira Bibi tidak tahu!" tutur Amber panjang lebar, tanpa jeda.

Dimas sontak saja kaget, tidak menyangka kalau bibinya itu tahu apa yang terjadi. Ia benar-benar tidak bisa berkutik sekarang.

"Sebenarnya, Bibi bisa saja melaporkan kalian ke polisi karena tindakan kalian itu masuk pada kasus korupsi. Tapi, Bibi masih punya hati mengingat kalau kalian masih keluarga kami. Tapi, maaf ... Bibi merasa kalau sekarang Bibi menyadari satu hal, kalau keluarga ya keluarga, bisnis ya bisnis. Jadi, sekarang Bibi masih bermurah hati tidak langsung menghentikan kamu dari perusahaan ini tapi kamu masih bekerja, walaupun dengan kembali ke posisi semula! Karena itu sesuai dengan perjanjian," pungkas Amber mengakhiri ucapannya.

"Sekarang, kamu bisa keluar dari sini, dan kembali ke ruanganmu yang dulu!" titah Amber, namun pria itu masih tetap tidak beranjak dari tempat dia berdiri.

Kemudian, Amber mengalihkan tatapannya ke arah Niko.

"Niko, Tante mohon kamu bantu Aozora untuk beradaptasi dan tolong ajari dia dalam mengelola perusahaan ini. Tante percaya padamu!" Niko tersenyum dan menganggukkan kepala, mengiyakan.

"Kalau begitu, Tante keluar dulu! ingat kamu bantu menantu Tante! Dan kamu Dimas, segera bereskan barangmu dari meja itu, karena Zora akan duduk!" Kemudian Amber menoleh ke arah Aozora. Tatapan tajam yang tadi dia tunjukkan pada Dimas, kini berubah lembut saat menatap Aozora.

"Mama pulang dulu ya, Sayang! Kabari Mama kalau Ada yang memperlakukanmu tidak baik!" suara keras wanita paruh baya itu, pergi entah kemana saat berbicara dengan menantunya.

"Iya, Ma. Tenang saja, aku bisa mengatasinya!" sahut Aozora dengan sangat yakin.

"Niko, ayo kamu antarkan Tante dulu ke bawah!" Amber mengayunkan kakinya melangkah keluar diikuti oleh Niko. Bukannya dia tidak bisa turun sendiri ke bawah, tapi dia sengaja mengajak Niko karena dia ingin membicarakan sesuatu dengan asisten pribadi putranya itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Ternyata kamu licik juga ya Zora?" Dimas tersenyum sinis ke arah Aozora ketika sudah memastikan kalau Bibi dan asisten pribadi Arsen itu sudah benar-benar pergi.

"Tolong ambil barang-barang kamu yang ada di ruangan ini! Aku mau duduk!" Aozora memutuskan untuk tidak menanggapi ucapan Dimas yang dia anggap tengah menyindirnya.

"Cih, sombong sekali kamu! Ingat kamu itu hanya wanita yang cocok untuk dimanfaatkan, dan aku yakin kalau kamu juga hanya pion yang digunakan oleh bibiku. Aku bisa pastikan kalau kamu tidak akan bertahan lama di perusahaan ini. Karena setelah Kak Arsenio bangun, kamu akan segera dicampakkan!" sudut bibir Dimas membentuk senyuman sinis dan penuh ejekan.

"Oh, seperti itu? Kamu kira aku akan ciut mendengar ocehanmu ini? Aku tidak selemah dulu, Dimas. Asal kamu tahu, aku menganggap ocehanmu itu hanya sampah! Kamu bisa keluar sekarang, atau kamu lupa di mana pintu keluar? Apa perlu aku antarkan kamu?"

Dimas mengepalkan kedua tangannya dengan kencang. Kalau bukan karena ancaman bibinya, ingin sekali dia memberikan pelajaran pada wanita yang dulu pernah mengisi hari-harinya itu.

"Baik, aku akan keluar. Tapi jangan kira aku berbohong dengan ucapanku tadi. Setelah Kak Arsen sadar, kamu akan ditinggalkan karena wanita yang sangat dia cintai itu Hanum. Kak Arsenio, tidak bisa hidup tanpa Hanum, camkan itu!" pungkas Dimas, sembari beranjak keluar dari ruangan CEO.

"Hanum?" gumam Aozora sembari berdiri terpaku, menatap ke arah Dimas sampai tubuh pria itu menghilang di balik pintu.

Tbc

Terpopuler

Comments

Surahmi Rahmi

Surahmi Rahmi

mamer idaman, semangat zora, semangat nulis tor

2025-03-15

0

Dra. Aminah

Dra. Aminah

mantap ceritanya, jd semangat baca nya

2024-08-13

3

Ani Baru

Ani Baru

kerennn

2024-07-21

1

lihat semua
Episodes
1 Dipaksa untuk menikah
2 Keputusan Aozora
3 Alasan Amber.
4 Sah berganti status jadi istri
5 Menyampaikan uneg-uneg
6 Cantik
7 Daren
8 Permintaan Arsenio
9 Membersihkan tubuh Arsen
10 Hari pertama ke perusahaan
11 Dimas turun jabatan
12 Kedatangan Tsania
13 Kepanikan Tsania dan Dimas
14 Kita tidak bisa bersantai lagi
15 Bingung
16 Ancaman Aozora
17 Kepanikan Dimas dan Tsania
18 Kekesalan Arsenio
19 Gagal
20 Bangun
21 Hampir saja
22 Hampir saja 2
23 Berusaha menahan rasa kesal
24 Kamu butuh bantuan?
25 Apa dia sebaik itu?
26 Dia pasti cemburu
27 Aksi Damian
28 Ini pasti ulah Aozora
29 Terlalu percaya diri
30 Kepanikan Dona
31 Kamu harus berterima kasih padaku
32 Kamu harus menemaniku terapi
33 Ribut
34 Hampir saja
35 Siapa kamu?
36 bertemu Danuar
37 Aditya marah
38 Kembali ke pemilik asli
39 Sedikit kecewa
40 Selingkuh ?
41 Permulaan karma
42 Anda lebih tega
43 Bagaimana perasaanmu sekarang padaku?
44 Apa yang harus aku lakukan
45 Ancaman Dona.
46 cantik sekali!
47 Rencana licik Damian
48 Kemarahan Arsen
49 Aozora hilang sabar
50 Anggap saja aku sudah mati
51 Sulit dipahami
52 Bosan punya banyak uang
53 Aku tidak suka!
54 Rahasia Hanum
55 Akan kembali ke kantor
56 Pasrah
57 Sisi lain Arsen
58 Aku akan menghapus bekasnya
59 Dimas pulang
60 Ide gila Dona
61 Menyambut Arsen
62 Mau jadi sekretaris
63 Aku mau lihat sejauh mana rencanamu
64 Dona mengancam Tsania
65 Menemui Samudra!
66 Bella mendatangi Samudra
67 Ini tidak bisa dibiarkan
68 Provokasi Hanum
69 dia itu adik sepupuku
70 Aku sudah tidak peduli!
71 Apa yang aku lakukan itu keterlaluan?
72 Aku menyerah
73 Ke Makam
74 Dilema Tsania
75 Penyesalan Meta
76 pingsan
77 Keputusanku tetap sama.
78 Kalau tidak berguna buang saja!
79 Rencana Dimas
80 Acara Ulang tahun, Arsen
81 Ancaman Hanum
82 Aku juga tidak minta dilahirkan
83 Mengancam Danuar.
84 Aku harus bertindak
85 Ini semua rencanaku
86 Terpaksa melaporkan
87 Provokasi Hanum
88 Datang ke ruanganku sekarang!
89 Ya, Dia Raraku!
90 Aku mau menginap di sini
91 membujuk Aozora
92 Ke kantor polisi
93 Aku hamil.
94 Cerita Arsen
95 Kekesalan Arsen
96 Cari cara
97 Syarat Dimas
98 Aku ikhlas melakukannya
99 Perdebatan Bella dan Niko
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 bab 108
109 bab 109
110 bab 110
111 bab 111
112 bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 bab 115
116 bab 116
117 bab 117
118 bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Pengumuman
126 Pengumuman
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Dipaksa untuk menikah
2
Keputusan Aozora
3
Alasan Amber.
4
Sah berganti status jadi istri
5
Menyampaikan uneg-uneg
6
Cantik
7
Daren
8
Permintaan Arsenio
9
Membersihkan tubuh Arsen
10
Hari pertama ke perusahaan
11
Dimas turun jabatan
12
Kedatangan Tsania
13
Kepanikan Tsania dan Dimas
14
Kita tidak bisa bersantai lagi
15
Bingung
16
Ancaman Aozora
17
Kepanikan Dimas dan Tsania
18
Kekesalan Arsenio
19
Gagal
20
Bangun
21
Hampir saja
22
Hampir saja 2
23
Berusaha menahan rasa kesal
24
Kamu butuh bantuan?
25
Apa dia sebaik itu?
26
Dia pasti cemburu
27
Aksi Damian
28
Ini pasti ulah Aozora
29
Terlalu percaya diri
30
Kepanikan Dona
31
Kamu harus berterima kasih padaku
32
Kamu harus menemaniku terapi
33
Ribut
34
Hampir saja
35
Siapa kamu?
36
bertemu Danuar
37
Aditya marah
38
Kembali ke pemilik asli
39
Sedikit kecewa
40
Selingkuh ?
41
Permulaan karma
42
Anda lebih tega
43
Bagaimana perasaanmu sekarang padaku?
44
Apa yang harus aku lakukan
45
Ancaman Dona.
46
cantik sekali!
47
Rencana licik Damian
48
Kemarahan Arsen
49
Aozora hilang sabar
50
Anggap saja aku sudah mati
51
Sulit dipahami
52
Bosan punya banyak uang
53
Aku tidak suka!
54
Rahasia Hanum
55
Akan kembali ke kantor
56
Pasrah
57
Sisi lain Arsen
58
Aku akan menghapus bekasnya
59
Dimas pulang
60
Ide gila Dona
61
Menyambut Arsen
62
Mau jadi sekretaris
63
Aku mau lihat sejauh mana rencanamu
64
Dona mengancam Tsania
65
Menemui Samudra!
66
Bella mendatangi Samudra
67
Ini tidak bisa dibiarkan
68
Provokasi Hanum
69
dia itu adik sepupuku
70
Aku sudah tidak peduli!
71
Apa yang aku lakukan itu keterlaluan?
72
Aku menyerah
73
Ke Makam
74
Dilema Tsania
75
Penyesalan Meta
76
pingsan
77
Keputusanku tetap sama.
78
Kalau tidak berguna buang saja!
79
Rencana Dimas
80
Acara Ulang tahun, Arsen
81
Ancaman Hanum
82
Aku juga tidak minta dilahirkan
83
Mengancam Danuar.
84
Aku harus bertindak
85
Ini semua rencanaku
86
Terpaksa melaporkan
87
Provokasi Hanum
88
Datang ke ruanganku sekarang!
89
Ya, Dia Raraku!
90
Aku mau menginap di sini
91
membujuk Aozora
92
Ke kantor polisi
93
Aku hamil.
94
Cerita Arsen
95
Kekesalan Arsen
96
Cari cara
97
Syarat Dimas
98
Aku ikhlas melakukannya
99
Perdebatan Bella dan Niko
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
bab 108
109
bab 109
110
bab 110
111
bab 111
112
bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
bab 115
116
bab 116
117
bab 117
118
bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Pengumuman
126
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!