Hari pertama ke perusahaan

"Daren, kamu benar-benar keterlaluan ya!" bentak Arsenio, begitu panggilannya mendapat tanggapan dari sahabatnya itu.

"Hei, kamu kenapa? Pagi-pagi sudah marah-marah saja. Bikin mood orang hancur tahu nggak!" protes Daren.

"Diam kamu bangsat! Kamu kan yang menyarankan wanita itu membersihkan tubuhku? Benar-benar cari mati kamu ya!"

"Wanita itu punya nama, Sen. Namanya Aozora calon istri masa depanku, seandainya kamu tidak mau dia lagi sih nantinya," Daren masih mengajak Arsenio untuk bersahabat.

"Eh, setan! Aku lagi kesal nih, bisa-bisanya kamu bercanda! Kamu sepertinya benar-benar tidak sayang sama nyawa kamu lagi ya!" suara Arsenio semakin meninggi.

Tawa Daren tiba-tiba pecah, mendengar amukan sahabatnya itu. "Kenapa sih harus marah-marah? Harusnya kamu senang lah, ada yang membersihkan badanmu. Bukannya rasanya seperti sedang dielus?" ledek Daren.

"Diam kamu! Yang ada aku merasa tersiksa bangsat!" bentak Arsenio dengan wajah memerah.

"Nikmati saja, Sob. Makanya sudahin kepura-puraanmu! Selama kamu masih tetap berpura-pura, siap-siap saja untuk terus tersiksa," pungkas Daren yang tanpa izin langsung memutuskan panggilan begitu saja.

"Woi, Daren bangsat! Arghh, kenapa dimatikan sih?" umpat Arsenio sembari melemparkan ponselnya begitu saja di atas kasur.

Namun, baru beberapa saat, pria itu menggeser tubuhnya untuk meraih kembali ponsel itu. Ia pun kembali menghubungi seseorang.

"Iya, Sen!" terdengar suara seorang pria dari ujung sana.

"Kamu sudah di kantor?" tanya Arsenio dengan wajah datar. Ternyata Arsenio sedang menghubungi Niko, sahabat yang jadi asisten pribadinya sekaligus orang yang sangat dia percaya.

"Sudah! Ada yang bisa aku bantu?" tanya Niko.

"Aku cuma mau menyampaikan, kalau mungkin sebentar lagi mama akan datang ke sana dengan seorang wanita bernama Aozora. Dia akan menggantikan posisi Dimas yang sekarang. Kamu sambut mereka dan awasi, takut Dimas dan papanya macam-macam!" titah Arsenio.

"Aozora? Siapa dia? Sepupu kamu dari Tante Amber?" tanya Niko. "Kalau iya, bukannya nanti Dimas dan papanya akan merasa marah, karena dia tidak ada hubungannya dengan keluarga Pramana?" imbuhnya.

"Bukan sepupuku, tapi istriku!" sahutku Arsenio, tegas.

"Hah, istri? sejak kapan kamu menikah? dan bukannya kamu __"

"Kamu bisa jangan banyak bicara tidak? Intinya kamu sambut mereka dengan baik dan jaga, jangan sampai Dimas berbuat macam-macam dengan Aozora!" dengan cepat Arsenio menyela ucapan Niko.

"Ya udah!" sahut Niko, singkat.

"Oh ya, jangan sampai kelepasan pada Zora, kalau aku sebenarnya sudah sadar dari koma,"

"Hah? Jadi wanita itu juga belum tahu kalau kami sudah sadar? Tapi kenapa bisa menikah? Dan bukannya kamu bertahan untuk masih tetap koma karena masih berharap Hanum datang dan meminta maaf?" cecar Niko beruntun.

"Kamu bisa diam nggak sih? kalau sekarang aku jelaskan, akan banyak memakan waktu. Lain kali akan aku jelaskan. Intinya kamu sambut mereka, kamu awasi dan jangan sampai keceplosan. Satu lagi, kamu usahakan ada juga yang mengawasi Aozora dari jauh!" titah Arsenio.

"Sepertinya wanita ini sudah bisa membuatmu lupa sama Hanum, sampai-sampai kamu takut dia kenapa-napa. Secantik apa sih dia? Apa lebih cantik dari Queen Hanum?" ledek Niko.

"Diam! stop menduga-duga yang sama sekali tidak benar. Sampai sekarang, belum ada yang bisa menggantikan Hanum. Sekarang kamu lakukan saja apa yang aku perintahkan!" bentak Arsenio. Menghadapi orang yang rasa ingin tahunya besar memang benar-benar menguji emosi, untuk Arsenio.

"Iya, iya! sudah matikan saja ponsel kamu, aku mau ke bawah menyambut istriku!"

"Hei, bangsat, istriku, bukan istrimu!" Arsenio menggeram kesal.

Tawa Niko sontak pecah, merasa senang berhasil membuat seorang Arsen keki.

"Oh, istrimu yah? Dia bukan Hanum lho, dia Aozora. Kamu sadar kan bilang dia istrimu?" goda Niko.

"Sadarlah, brengsek! Arghh kamu jangan banyak bicara lagi, sana turun ke bawah!" tanpa menunggu jawaban dari Niko, Arsen langsung memutuskan panggilan secara sepihak.

"Kenapa aku bereaksi berlebihan tadi ketika dia bilang Aozora istrinya? Harusnya aku bersikap biasa aja kan? Arghh bodo amatlah!" Arsenal menggerutu tidak jelas.

"Haish, mana aku lapar lagi? Mana mama sudah pergi lagi. Mau tidak mau aku harus minta si Daren bawa makanan," Arsenio mengelus-elus perutnya yang sudah berteriak minta diisi dari tadi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Amber berjalan masuk dengan anggun demikian juga dengan Aozora. Begitu sudah menginjakkan kaki di dalam lobby, dua wanita itu langsung disambut oleh Niko.

"Pagi, Tante!" sapa Niko seraya tersenyum lebar. Matanya sedikit melirik ke arah wanita yang berdiri di samping wanita paruh baya itu.

"Wah, dia pasti Zora. Cantik juga!" puji Niko yang tentunya hanya dalam hati. "Tapi, kenapa dia mau menikah dengan kondisi Arsen yang seperti itu? Apa dia ada tujuan tertentu, makanya mau menikahi Arsen?" Niko mulai menatap Aozora, dengan tatapan menyelidik.

"Pagi juga Niko, kenalkan ini Aozora, istri Arsen. Dia di sini untuk menggantikan posisi Dimas, sebagai CEO. Jangan tatap dia seperti itu, karena dia tidak seperti yang kamu pikirkan!" ucap Amber seakan mengerti apa yang dipikirkan asisten putranya itu.

"Eh, ng-nggak kok, Tan. Ayo aku bawa ke atas!" Niko seketika gelagapan, mendengar ucapan wanita paruh baya yang dia tahu mengandung sebuah teguran di dalamnya.

Niko pun berjalan, dan Amber serta Aozora mengekor dari belakang.

Semua karyawan yang berpapasan dengan mereka,seketika membungkukkan sedikit badannya untuk memberi hormat.

Tidak jarang terdengar bisik-bisik, yang bertanya-tanya tentang Aozora yang berjalan bersama dengan Amber. Namun, Aozora terlihat cuek walaupun sebenarnya dia sangat gugup sekarang.

Mereka bertiga masuk ke dalam lift yang khusus digunakan oleh para petinggi.

Setelah semuanya masuk, Niko dengan sigap langsung menekan tombol yang bisa dilihat jelas oleh Aozora kalau mereka akan menuju lantai 11.

Tidak perlu menunggu lama, akhirnya lift yang membawa mereka pun berhenti tepat di lantai 11.

"Ayo keluar, Zora!" Amber meraih tangan Aozora, menggandeng tangan menantunya itu.

"Ma, aku gugup!" bisik Aozora.

"Kamu tenang saja, ada mama di sini!" Tangan Amber menepuk-nepuk punggung tangan Aozora yang sedang merangkul lengannya.

Niko dan Dua wanita berbeda usia itu kini berhenti tepat di sebuah pintu yang bertuliskan ruangan CEO. Tanpa pikir panjang Niko pun mengetuk pintu itu.

"Masuk!" terdengar suara pria yang sangat familiar di telinga Aozora.

Pintu pun dibuka oleh Niko, dan mempersilakan Ibu dan istri dari pemilik perusahaan itu untuk masuk lebih dulu.

"Bibi Amber! Bibi datang ke sini?" Dimas yang tadinya duduk di kursinya langsung berdiri untuk menyambut tantenya itu. Pria itu belum menyadari kehadiran Aozora yang berdiri di belakang wanita paruh baya itu.

"Iya. Kenapa? Tidak boleh?" sahut Amber, dingin.

"Tentu saja boleh, Bi." Dimas berusaha untuk terseyum. Tanpa sengaja mata pria itu mengarah ke arah belakang dan begitu kagetnya dia begitu melihat wanita yang berdiri di belakang Bibinya itu.

"Zo-Zora!" gumam Dimas.

Tbc

Terpopuler

Comments

Surahmi Rahmi

Surahmi Rahmi

tenang zora ada mamer

2025-03-15

0

Jue Vee

Jue Vee

*berdebat

2024-08-24

2

ira

ira

cie cie cemburu kayanya nih arsen 🤣🤭🤣 Daren dn Niko SM jailnya ngerjain arsen🤣🤣🤣

2024-07-03

2

lihat semua
Episodes
1 Dipaksa untuk menikah
2 Keputusan Aozora
3 Alasan Amber.
4 Sah berganti status jadi istri
5 Menyampaikan uneg-uneg
6 Cantik
7 Daren
8 Permintaan Arsenio
9 Membersihkan tubuh Arsen
10 Hari pertama ke perusahaan
11 Dimas turun jabatan
12 Kedatangan Tsania
13 Kepanikan Tsania dan Dimas
14 Kita tidak bisa bersantai lagi
15 Bingung
16 Ancaman Aozora
17 Kepanikan Dimas dan Tsania
18 Kekesalan Arsenio
19 Gagal
20 Bangun
21 Hampir saja
22 Hampir saja 2
23 Berusaha menahan rasa kesal
24 Kamu butuh bantuan?
25 Apa dia sebaik itu?
26 Dia pasti cemburu
27 Aksi Damian
28 Ini pasti ulah Aozora
29 Terlalu percaya diri
30 Kepanikan Dona
31 Kamu harus berterima kasih padaku
32 Kamu harus menemaniku terapi
33 Ribut
34 Hampir saja
35 Siapa kamu?
36 bertemu Danuar
37 Aditya marah
38 Kembali ke pemilik asli
39 Sedikit kecewa
40 Selingkuh ?
41 Permulaan karma
42 Anda lebih tega
43 Bagaimana perasaanmu sekarang padaku?
44 Apa yang harus aku lakukan
45 Ancaman Dona.
46 cantik sekali!
47 Rencana licik Damian
48 Kemarahan Arsen
49 Aozora hilang sabar
50 Anggap saja aku sudah mati
51 Sulit dipahami
52 Bosan punya banyak uang
53 Aku tidak suka!
54 Rahasia Hanum
55 Akan kembali ke kantor
56 Pasrah
57 Sisi lain Arsen
58 Aku akan menghapus bekasnya
59 Dimas pulang
60 Ide gila Dona
61 Menyambut Arsen
62 Mau jadi sekretaris
63 Aku mau lihat sejauh mana rencanamu
64 Dona mengancam Tsania
65 Menemui Samudra!
66 Bella mendatangi Samudra
67 Ini tidak bisa dibiarkan
68 Provokasi Hanum
69 dia itu adik sepupuku
70 Aku sudah tidak peduli!
71 Apa yang aku lakukan itu keterlaluan?
72 Aku menyerah
73 Ke Makam
74 Dilema Tsania
75 Penyesalan Meta
76 pingsan
77 Keputusanku tetap sama.
78 Kalau tidak berguna buang saja!
79 Rencana Dimas
80 Acara Ulang tahun, Arsen
81 Ancaman Hanum
82 Aku juga tidak minta dilahirkan
83 Mengancam Danuar.
84 Aku harus bertindak
85 Ini semua rencanaku
86 Terpaksa melaporkan
87 Provokasi Hanum
88 Datang ke ruanganku sekarang!
89 Ya, Dia Raraku!
90 Aku mau menginap di sini
91 membujuk Aozora
92 Ke kantor polisi
93 Aku hamil.
94 Cerita Arsen
95 Kekesalan Arsen
96 Cari cara
97 Syarat Dimas
98 Aku ikhlas melakukannya
99 Perdebatan Bella dan Niko
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 bab 108
109 bab 109
110 bab 110
111 bab 111
112 bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 bab 115
116 bab 116
117 bab 117
118 bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Pengumuman
126 Pengumuman
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Dipaksa untuk menikah
2
Keputusan Aozora
3
Alasan Amber.
4
Sah berganti status jadi istri
5
Menyampaikan uneg-uneg
6
Cantik
7
Daren
8
Permintaan Arsenio
9
Membersihkan tubuh Arsen
10
Hari pertama ke perusahaan
11
Dimas turun jabatan
12
Kedatangan Tsania
13
Kepanikan Tsania dan Dimas
14
Kita tidak bisa bersantai lagi
15
Bingung
16
Ancaman Aozora
17
Kepanikan Dimas dan Tsania
18
Kekesalan Arsenio
19
Gagal
20
Bangun
21
Hampir saja
22
Hampir saja 2
23
Berusaha menahan rasa kesal
24
Kamu butuh bantuan?
25
Apa dia sebaik itu?
26
Dia pasti cemburu
27
Aksi Damian
28
Ini pasti ulah Aozora
29
Terlalu percaya diri
30
Kepanikan Dona
31
Kamu harus berterima kasih padaku
32
Kamu harus menemaniku terapi
33
Ribut
34
Hampir saja
35
Siapa kamu?
36
bertemu Danuar
37
Aditya marah
38
Kembali ke pemilik asli
39
Sedikit kecewa
40
Selingkuh ?
41
Permulaan karma
42
Anda lebih tega
43
Bagaimana perasaanmu sekarang padaku?
44
Apa yang harus aku lakukan
45
Ancaman Dona.
46
cantik sekali!
47
Rencana licik Damian
48
Kemarahan Arsen
49
Aozora hilang sabar
50
Anggap saja aku sudah mati
51
Sulit dipahami
52
Bosan punya banyak uang
53
Aku tidak suka!
54
Rahasia Hanum
55
Akan kembali ke kantor
56
Pasrah
57
Sisi lain Arsen
58
Aku akan menghapus bekasnya
59
Dimas pulang
60
Ide gila Dona
61
Menyambut Arsen
62
Mau jadi sekretaris
63
Aku mau lihat sejauh mana rencanamu
64
Dona mengancam Tsania
65
Menemui Samudra!
66
Bella mendatangi Samudra
67
Ini tidak bisa dibiarkan
68
Provokasi Hanum
69
dia itu adik sepupuku
70
Aku sudah tidak peduli!
71
Apa yang aku lakukan itu keterlaluan?
72
Aku menyerah
73
Ke Makam
74
Dilema Tsania
75
Penyesalan Meta
76
pingsan
77
Keputusanku tetap sama.
78
Kalau tidak berguna buang saja!
79
Rencana Dimas
80
Acara Ulang tahun, Arsen
81
Ancaman Hanum
82
Aku juga tidak minta dilahirkan
83
Mengancam Danuar.
84
Aku harus bertindak
85
Ini semua rencanaku
86
Terpaksa melaporkan
87
Provokasi Hanum
88
Datang ke ruanganku sekarang!
89
Ya, Dia Raraku!
90
Aku mau menginap di sini
91
membujuk Aozora
92
Ke kantor polisi
93
Aku hamil.
94
Cerita Arsen
95
Kekesalan Arsen
96
Cari cara
97
Syarat Dimas
98
Aku ikhlas melakukannya
99
Perdebatan Bella dan Niko
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
bab 108
109
bab 109
110
bab 110
111
bab 111
112
bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
bab 115
116
bab 116
117
bab 117
118
bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Pengumuman
126
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!