Kepanikan Tsania dan Dimas

"Terserah kamu mau mengatakan apapun, aku tidak peduli! Yang jelas, sekarang kamu tidak bisa minta uang yang banyak ke Dimas lagi untuk gaya hidupmu yang glamour itu. Terlebih perusahaan mamaku yang kalian rebut, pasti keuangannya masih goyang kan? Silakan nikmati dulu yang sekarang, karena yang terjadi sekarang ini belum seberapa dibandingkan dengan yang akan terjadi ke depannya," mata Aozora memerah penuh amarah.

"Kamu bukan Kak Aozora yang aku kenal dulu! Kenapa sekarang kamu bisa berubah sejahat ini?"

"Satu, stop panggil aku kakak, karena aku bukan kakakmu dan aku juga tidak sudi punya adik seperti kamu. Bukannya aku sudah pernah bilang, setelah aku keluar dari rumah itu, aku sudah putus hubungan dengan kalian? Kedua ... Kalian yang membangunkan sisi jahatku. Sekarang Keluar dari sini!" suara Aozora kini sudah meninggi. Tatapan wanita itu berkilat-kilat penuh amarah, bahkan napas wanita itu sudah memburu.

Tsania sontak bergidik merasa takut melihat tatapan Aozora. Ia pun segera berbalik dan menghambur ke pintu. Namun, begitu pintu dia buka, seorang pria ada yang akan masuk. Hingga membuat kepala wanita itu terbentur ke dada pria itu.

"Sayang, kamu kok ada di sini?" ternyata pria yang baru saja datang itu adalah Dimas. Pria itu, datang kembali bermaksud ingin mengambil barang-barangnya yang tertinggal.

"Sayang, akhirnya kamu datang. Dia mengintimidasiku!" Tsania menunjuk ke arah Aozora, sembari mengerucutkan bibirnya, berharap pria itu memarahi Aozora.

"Cih mulai deh dramanya!" gumam Aozora.

"Zora, kenapa kamu seperti itu? Kalau kamu marah karena kami punya hubungan, yang harusnya kamu salahkan itu ya kamu sendiri, kenapa kamu bisa sangat membosankan? Jadi, tidak salah aku lebih memilih adik kamu dibandingkan kamu!" bentak Dimas.

"Ya, dia tidak membosankan karena dia memberikan tubuhnya ke kamu kan? Lalu kamu belanjain dia. Maaf ... Aku tidak semurah itu,"

"Sayang! dengar dia bilang aku murahan!" rengek Tsania manja. Di sisi lain, mulut Aozora komat-kamit, menirukan gaya manja Tsania.

"Dimas, Sekarang kamu datang ke sini mau apa lagi? Cepat katakan!" Aura kepempimpinan Aozora mulai terlihat.

"Aku hanya ingin mengambil barang-barangku!" sahut Dimas berusaha untuk meredam amarahnya.

"Oh, photo ya? Tuh aku sudah buang ke tong sampah!" Aozora menunjuk ke arah tempat sampah menggunakan mulutnya.

"Beraninya kamu! Apa hak kamu membuangnya hah!" suara Dimas terdengar menggelegar.

"Karena ini mejaku, dan aku anggap itu sampah," jawab Aozora, enteng. Wanita itu sepertinya tidak merasa gentar mendengar suara Dimas yang menggelegar.

"Seharusnya sih, bukan hanya photo itu yang aku buang ke tong sampah, tapi kalian berdua juga, soalnya kalian juga kan sama-sama sampah!" lanjut Aozora, seraya tersenyum sinis.

"Kamu!" Dimas menggertakan giginya. Pria itu melangkah menghampiri Aozora dengan tujuan untuk memberikan pelajaran pada wanita itu. Ia seakan tidak ingat akan ancaman bibinya tadi.

"Ada apa ini?" belum sempat Dimas mendekat ke arah Aozora, Niko tiba-tiba muncul dengan aura yang sangat dingin.

"Oh, tidak ada apa-apa Niko. Aku ke sini hanya mau mengambil barang-barangku! Sayang sini bantu aku!" Dimas memberikan isyarat pada Tsania.

"Eh, i-iya!" seakan mengerti, Tsania langsung bergerak untuk membantu Dimas mengambil barang-barangnya.

Tangan Dimas hendak meraih laptop tapi langsung ditepis oleh Aozora.

"Laptop ini bukan barangmu. Ini punya perusahaan. Jadi kamu tidak boleh membawanya!" ucap Aozora dengan tegas.

"Tapi __"

"Tidak ada tapi-tapi!"

"Benar kata Bu Zora. Ini milik Arsenio jadi biarkan tetap di ruangan ini!" Niko buka suara.

"Sial! Mana banyak photo-photo Tsania tidak berpakaian dengan berbagai pose lagi di dalam sana!" wajah Dimas sudah terlihat panik.

Raut wajah panik yang terlukis di wajah Dimas tentu saja bisa dibaca oleh, Aozora. Dia langsung yakin kalau ada sesuatu di dalam laptop itu.

"Lagian si Niko ini juga brengsek! Hanya asisten saja, belagu.Gara-gara aku sudah tidak jadi CEO lagi, aku sudah tidak bisa memerintahkan dia lagi. Benar-benar sial!" Dimas merutuki kesialannya.

"A-aku hanya memindahkan data-data pekerjaan yang aku miliki di dalam laptop itu. Setelah selesai aku pindahkan, nanti akan aku kembalikan lagi ke sini," Dimas masih berusaha mencari alasan agar dia bisa membawa laptop itu bersamanya.

"Nanti aku akan kirimkan ke email kamu. Kamu kasih tahu saja, email kamu dan nama folder tempat kamu menyimpan datanya," ucap Aozora membuat Dimas mati kutu.

"Sial! sepertinya dia sudah curiga. Kalau dia mendapatkan photo-photo itu, apa dia akan menyebarkannya nanti. Kalau iya ... Argh sial! Bisa-bisa tubuh Tsania akan jadi konsumsi publik!" berbagai pemikiran negatif seketika berkelebat di pikiran Dimas.

"Kamu kenapa sih, Sayang? Kenapa terlihat seperti kebingungan?" bisik Tsania.

"Nanti aku akan katakan. Sebaiknya kita pergi dari sini saja!" Dimas balik berbisik.

"Zora__"

"Panggil saya, Bu Zora! karena kita tidak tidak sedekat itu!" potong Aozora dengan cepat.

"Brengsek! sombong sekali dia!" umpat Dimas dalam hati. "Sabar, Dimas. Sekarang biarkan saja dia merasa menang dulu. Tunggu saat yang tepat untuk menjatuhkannya," lanjut Dimas lagi.

"Bu Zora, Pak Niko, kami permisi dulu!" Dimas berbalik dan menarik tangan Tsania untuk keluar dari ruangan itu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Sayang, sebenarnya kamu kenapa sih tadi? Kenapa terlihat seperti orang linglung dan terlihat panik?" Tsania langsung mencecar Dimas begitu mereka sudah keluar dari ruangan Aozora.

"Bagaimana tidak panik? Di dalam laptop itu, banyak photo-photo bu*gil kamu berbagai pose,"

Mata Tsania sontak membesar mendengar ucapan Dimas. "Bagaimana bisa? Kenapa kamu simpan di laptop itu sih? Apa gunanya handphone kamu hah? Bagaimana nanti kalau Kak Zora menyebarkannya?" pekik Tsania.

"Kamu bisa pelankan suaramu tidak? banyak karyawan di sini. Mereka nanti akan curiga, kamu mau?" Dimas menatap penuh peringatan ke arah Tsania. "Ayo masuk!" Dimas masuk ke dalam ruangannya disusul oleh Tsania dari belakang.

"Arghh, pokoknya aku nggak mau tahu kak, jangan sampai photo-photo itu dia lihat. Kakak tahu sendiri, dia benci dan sangat dendam padaku. Dia pasti melakukan berbagai cara agar dendamnya terbalaskan," Tsania mulai terlihat ingin menangis.

"Kamu juga sih, kenapa tidak kasih tahu aku kalau pria yang akan menikahi Zora itu sepupu aku? Kan jadi begini jadinya?" Dimas mulai menyalahkan Tsania.

"Aku juga saat itu kurang fokus, Sayang. Yang hanya aku ingat kalau pria itu lumpuh, itu saja. Kalau aku tahu Arsenio yang dimaksud itu sepupumu itu, aku sendiri yang akan mengajukan diriku untuk bisa menikah dengannya," cetus Tsania tanpa sadar.

"Maksudmu?" mata Dimas menatap tajam penuh amanah.

"Ka-kamu jangan marah dulu! Maksudku, aku mau menikah dengannya,agar aku bisa diam-diam mengalihkan kepemilikan perusahaan ini atas namamu, itu saja kok, Sayang. toh walaupun seandainya aku menikah dengannya, kita bisa tetap bercinta tanpa ketahuan seperti yang kita lakukan selama ini di belakang Kak Zora," Tsania mulai mengelus dada Dimas, untuk membuat pria itu tidak marah.

"Oh, iya juga ya?" Tsania mengembuskan napas lega, karena Dimas sudah kembali berhasil dia kendalikan.

"Sekarang bagaimana dengan photo-photo itu, Sayang?" Tsania kembali merengek.

" Kamu tenang saja! Dia pasti akan sulit menemukan photo-photo itu. Nanti aku akan tunggu dia dan Niko pulang, baru aku akan menyelinap masuk," Dimas berusaha menenangkan Tsania.

"Lagian, kamu sih! Kenapa sih harus simpan di laptop perusahaan? Udah gitu wallpapernya photoku yang itu lagi," protes Tsania dengan bibir yang mengerucut.

"Aku kan tidak tahu kalau akan seperti ini? Aku hanya ingin di saat aku ingin menyalurkan hasratku, aku bisa menuntaskannya dengan hanya melihat photomu dan membayangkan aku sedang melakukannya dengan mu. Karena hanya dengan melihat tubuhmu, aku benar-benar sudah sangat bergai*rah," bisik Dimas, vulgar.

"Ahh, kamu ya! Apa tubuhku se menggai*rahkan itu?" Tsania mulai terpancing.

"Tentu saja, Sayang. Tubuh benar-benar sudah membuatku candu," Dimas mulai mengendus-endus leher Tsania. "Walaupun sebenarnya, aku juga masih sangat penasaran dengan milik Aozora?" bisik Dimas pada dirinya sendiri tanpa menghentikan kegiatannya.

tbc

Terpopuler

Comments

murni l.toruan

murni l.toruan

Sampah ketemu sampah jadi bau busuk,

2024-08-16

2

Sarmi Yati

Sarmi Yati

dua duanya dah gila.😡

2024-07-04

1

ira

ira

bagus Zora simpn aja tuh fotonya Tsania jdikn bukti klo di memang menjual tubuhnya

2024-07-03

0

lihat semua
Episodes
1 Dipaksa untuk menikah
2 Keputusan Aozora
3 Alasan Amber.
4 Sah berganti status jadi istri
5 Menyampaikan uneg-uneg
6 Cantik
7 Daren
8 Permintaan Arsenio
9 Membersihkan tubuh Arsen
10 Hari pertama ke perusahaan
11 Dimas turun jabatan
12 Kedatangan Tsania
13 Kepanikan Tsania dan Dimas
14 Kita tidak bisa bersantai lagi
15 Bingung
16 Ancaman Aozora
17 Kepanikan Dimas dan Tsania
18 Kekesalan Arsenio
19 Gagal
20 Bangun
21 Hampir saja
22 Hampir saja 2
23 Berusaha menahan rasa kesal
24 Kamu butuh bantuan?
25 Apa dia sebaik itu?
26 Dia pasti cemburu
27 Aksi Damian
28 Ini pasti ulah Aozora
29 Terlalu percaya diri
30 Kepanikan Dona
31 Kamu harus berterima kasih padaku
32 Kamu harus menemaniku terapi
33 Ribut
34 Hampir saja
35 Siapa kamu?
36 bertemu Danuar
37 Aditya marah
38 Kembali ke pemilik asli
39 Sedikit kecewa
40 Selingkuh ?
41 Permulaan karma
42 Anda lebih tega
43 Bagaimana perasaanmu sekarang padaku?
44 Apa yang harus aku lakukan
45 Ancaman Dona.
46 cantik sekali!
47 Rencana licik Damian
48 Kemarahan Arsen
49 Aozora hilang sabar
50 Anggap saja aku sudah mati
51 Sulit dipahami
52 Bosan punya banyak uang
53 Aku tidak suka!
54 Rahasia Hanum
55 Akan kembali ke kantor
56 Pasrah
57 Sisi lain Arsen
58 Aku akan menghapus bekasnya
59 Dimas pulang
60 Ide gila Dona
61 Menyambut Arsen
62 Mau jadi sekretaris
63 Aku mau lihat sejauh mana rencanamu
64 Dona mengancam Tsania
65 Menemui Samudra!
66 Bella mendatangi Samudra
67 Ini tidak bisa dibiarkan
68 Provokasi Hanum
69 dia itu adik sepupuku
70 Aku sudah tidak peduli!
71 Apa yang aku lakukan itu keterlaluan?
72 Aku menyerah
73 Ke Makam
74 Dilema Tsania
75 Penyesalan Meta
76 pingsan
77 Keputusanku tetap sama.
78 Kalau tidak berguna buang saja!
79 Rencana Dimas
80 Acara Ulang tahun, Arsen
81 Ancaman Hanum
82 Aku juga tidak minta dilahirkan
83 Mengancam Danuar.
84 Aku harus bertindak
85 Ini semua rencanaku
86 Terpaksa melaporkan
87 Provokasi Hanum
88 Datang ke ruanganku sekarang!
89 Ya, Dia Raraku!
90 Aku mau menginap di sini
91 membujuk Aozora
92 Ke kantor polisi
93 Aku hamil.
94 Cerita Arsen
95 Kekesalan Arsen
96 Cari cara
97 Syarat Dimas
98 Aku ikhlas melakukannya
99 Perdebatan Bella dan Niko
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 bab 108
109 bab 109
110 bab 110
111 bab 111
112 bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 bab 115
116 bab 116
117 bab 117
118 bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Pengumuman
126 Pengumuman
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Dipaksa untuk menikah
2
Keputusan Aozora
3
Alasan Amber.
4
Sah berganti status jadi istri
5
Menyampaikan uneg-uneg
6
Cantik
7
Daren
8
Permintaan Arsenio
9
Membersihkan tubuh Arsen
10
Hari pertama ke perusahaan
11
Dimas turun jabatan
12
Kedatangan Tsania
13
Kepanikan Tsania dan Dimas
14
Kita tidak bisa bersantai lagi
15
Bingung
16
Ancaman Aozora
17
Kepanikan Dimas dan Tsania
18
Kekesalan Arsenio
19
Gagal
20
Bangun
21
Hampir saja
22
Hampir saja 2
23
Berusaha menahan rasa kesal
24
Kamu butuh bantuan?
25
Apa dia sebaik itu?
26
Dia pasti cemburu
27
Aksi Damian
28
Ini pasti ulah Aozora
29
Terlalu percaya diri
30
Kepanikan Dona
31
Kamu harus berterima kasih padaku
32
Kamu harus menemaniku terapi
33
Ribut
34
Hampir saja
35
Siapa kamu?
36
bertemu Danuar
37
Aditya marah
38
Kembali ke pemilik asli
39
Sedikit kecewa
40
Selingkuh ?
41
Permulaan karma
42
Anda lebih tega
43
Bagaimana perasaanmu sekarang padaku?
44
Apa yang harus aku lakukan
45
Ancaman Dona.
46
cantik sekali!
47
Rencana licik Damian
48
Kemarahan Arsen
49
Aozora hilang sabar
50
Anggap saja aku sudah mati
51
Sulit dipahami
52
Bosan punya banyak uang
53
Aku tidak suka!
54
Rahasia Hanum
55
Akan kembali ke kantor
56
Pasrah
57
Sisi lain Arsen
58
Aku akan menghapus bekasnya
59
Dimas pulang
60
Ide gila Dona
61
Menyambut Arsen
62
Mau jadi sekretaris
63
Aku mau lihat sejauh mana rencanamu
64
Dona mengancam Tsania
65
Menemui Samudra!
66
Bella mendatangi Samudra
67
Ini tidak bisa dibiarkan
68
Provokasi Hanum
69
dia itu adik sepupuku
70
Aku sudah tidak peduli!
71
Apa yang aku lakukan itu keterlaluan?
72
Aku menyerah
73
Ke Makam
74
Dilema Tsania
75
Penyesalan Meta
76
pingsan
77
Keputusanku tetap sama.
78
Kalau tidak berguna buang saja!
79
Rencana Dimas
80
Acara Ulang tahun, Arsen
81
Ancaman Hanum
82
Aku juga tidak minta dilahirkan
83
Mengancam Danuar.
84
Aku harus bertindak
85
Ini semua rencanaku
86
Terpaksa melaporkan
87
Provokasi Hanum
88
Datang ke ruanganku sekarang!
89
Ya, Dia Raraku!
90
Aku mau menginap di sini
91
membujuk Aozora
92
Ke kantor polisi
93
Aku hamil.
94
Cerita Arsen
95
Kekesalan Arsen
96
Cari cara
97
Syarat Dimas
98
Aku ikhlas melakukannya
99
Perdebatan Bella dan Niko
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
bab 108
109
bab 109
110
bab 110
111
bab 111
112
bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
bab 115
116
bab 116
117
bab 117
118
bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Pengumuman
126
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!