Permintaan Arsenio

Melihat tatapan Aozora, Daren sontak mengikuti ke arah mana mata wanita itu memandang. Raut wajah Daren seketika pucat bercampur panik, ketika mengetahui kalau wanita yang dia tahu istri dari sahabatnya itu sedang menatap curiga ke arah kotak makanan bekas Arsenio.

"Dokter Daren, kenapa ada kotak makan di sana? Siapa yang makan tadi?" akhirnya pertanyaan yang ditakutkan Daren terlontar juga. Bukan hanya Daren yang panik, yang sedang pura-pura koma juga ikutan panik.

"Oh, itu ... itu bekas temanku makan tadi. Sepertinya dia sangat kelaparan," Daren tersenyum tipis dengan sudut mata yang sedikit melirik ke arah Arsenio.

"Daren sialan! Bagaimana bisa dia jawab jujur soal itu," umpat Arsenio dalam hati.

"Bekas temanmu?" Aozora mengernyitkan keningnya sementara Daren mengangguk, mengiyakan.

"Jadi, di mana temanmu sekarang?" tanya Aozora lagi.

"Tidur," jawab Daren singkat. Namun walaupun singkat, tapi bisa membuat jantung yang sedang terbaring itu mau melompat.

"Tidur? Tidur di mana?" Aozora mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, mencari keberadaan teman yang dikatakan oleh pria tampan di depannya itu.

"Ya, tidur di rumah inilah. Entah di manapun dia, pokoknya di rumah ini," sahut Daren, ambigu.

"Oh, seperti itu ya? Tapi bukannya habis makan itu, tidak baik langsung tidur? Kamu seorang dokter, kenapa tidak menasehati temanmu?" Aozora mengernyitkan dahinya.

"Oh, temanku yang satu ini bebal orangnya. Bayangkan saja, pacarnya sudah meninggalkan dia begitu saja, tapi dengan bodohnya dia masih menunggu. Benar-benar bebal dan bego kan?" Daren berusaha menahan tawanya, ketika melihat ekspresi wajah kesal yang ditunjukkan oleh Arsenio sahabatnya.

"Brengsek! Berani-beraninya dia menggosip di depan orangnya langsung," Arsenio mamaku dalam hati.

"Tapi mungkin ada alasan yang tidak bisa dikasih tahu oleh kekasihnya itu makanya pergi. Kita tidak boleh berprasangka buruk dulu," sahut Aozora, bijak.

"Tapi ...."

"Kita tidaklah boleh langsung mengambil kesimpulan, sebelum kita cari kebenarannya, dokter Daren," belum sempat Daren menyelesaikan ucapannya, Aozora sudah menyela lebih dulu.

"Haish, padahal aku mau menyadarkan suamimu sendiri, Zora," ucap Daren yang hanya berani dia ucapkan dalam hati.

"Oh ya, Kenapa kita jadi membahas hal lain? Kita bahas saja tentang Tuan Arsen. Menurutmu apa yang harus aku lakukan agar dia bisa cepat bangun dari komanya?" Aozora kembali ke topik pertama.

"Emm, kamu harus ajak dia bicara terus, Zora. Kalau diajak bicara terus, berangsur-angsur dia pasti akan bangun sendiri," jelas Daren.

"Oh baiklah, Dokter Daren. Terima kasih!"

"Please, jangan panggil aku pakai embel-embel, Dokter. Panggil Daren saja!" Daren benar-benar risih mendengar Aozora memanggilnya pakai embel-embel Dokter.

"Oh ya, Daren, apa aku bisa keluar dulu? Aku titip mas Arsen sebentar. Soalnya aku haus," tanya Aozora dengan sopan.

"Oh, silakan!" Aozora tersenyum lebih dulu, baru kemudian beranjak pergi.

Setelah terdengar pintu tertutup dengan sempurna, Arsenio kembali membuka matanya dan mengembuskan napas lega.

"Brengsek juga kamu, Ren! Buat apa kamu nyindir-nyindir aku tadi?" Arsenio menatap Daren dengan tatapan tajam.

"Seru aja, Sob! Kapan lagi kan bisa ngusulin seorang Arsenio? kalau ada kesempatan ya, ngapain disia-siakan, iya nggak?" Daren tertawa renyah.

"Sialan kamu! Sana pergi!" Arsenio melemparkan bantal ke arah Daren, yang dengan tangkas ditangkap oleh pria itu.

"Tapi sumpah, Sob. Istri kamu itu cantik sekali!" ucap Daren sembari meletakkan kembali bantal yang ada di tangannya.

"Sudah tahu," sahut Arsenio singkat.

"Yakin kamu sudah benar-benar lihat? Tadi kamu hanya melihat wajahnya waktu tidur kan? Bayangkan saja, tidur saja dia cantik, ketika dia buka matanya, wah ternyata lebih cantik lagi, Sen! Menurutku nih, lebih cantik dari Hanum,"

Arsenio sontak menatap Daren dengan tatapan membunuh. Pria itu benar-benar tidak suka, Hanum dibandingkan dengan wanita lain.

"Eits, jangan marah dong! kamu langsung sensi saja dengar nama Hanum. Padahal sudah jelas, dia meninggalkanmu demi pria lain yang tidak membosankan sepertimu.Iya kan? Dia meninggalkanmu karena kamu kaku," Daren kembali meledek. Namun, di balik ledekannya, terselip makna untuk menyadarkan sahabatnya itu.

"Sudahlah, jangan bicara lagi! Sekarang aku minta tolong agar kamu turun ke bawah, dan panggil mamaku ke sini! Dan kalau boleh kamu tahan Zora dengan mengajaknya bicara, agar tidak masuk ke kamarku, sampai kamu lihat mamaku sudah kembali ke bawah. Boleh kan?" pinta Arsenio dengan wajah serius.

"Iya deh!" Daren, membereskan peralatannya, kemudian melangkahkan kakinya.

Baru lima langkah melangkah, Daren tiba-tiba berbalik kembali.

"Sen, kalau nanti kamu memutuskan tidak menginginkan Aozora, kabari aku ya! Aku siap menerimanya, walaupun nanti kamu bilang kalau dia bekas kamu!" ucap Daren yang langsung mendapat tatapan mata tajam dari Arsenio.

"Hei, berhenti bicara sembarangan!pergi atau aku lempar jam ini ke kamu!" bentak Arsenio sembari mengangkat jam weker di tangannya.

Daren terbahak, lalu kembali berbalik kemudian beranjak pergi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Amber, melangkah masuk ke dalam kamar, menutup lalu menguncinya.

Wanita paruh baya itu mengayunkan kakinya melangkah menghampiri ranjang tempat anaknya terbaring.

"Arsen, ini mama! Kamu bangunlah!" Suara Amber terdengar tegas.

Setelah mendengar suara sang mama, Arsenio yang tadinya sempat menutup matanya, kembali membuka matanya.

"Ada apa meminta mama datang ke sini? Apa kamu mau protes karena mama menikahkan kamu dengan Aozora?" tukas Amber.

" Iya, kenapa Mama menikahkanku dengan wanita itu tanpa membicarakan lebih dulu ke aku? Mama kan tahu sendiri kalau aku __"

"Mengharap Hanum datang menemuimu iya kan?" Amber memotong dengan cepat. "Sampai kapan hah? Sudah sebulan kamu terbaring seperti ini, tapi dia tidak datang kan? Seminggu yang lalu, kamu sadar dari koma, kamu bilang mau tetap pura-pura koma, dengan harapan Hanum datang menemuimu. Kamu lihat sendiri, dia tidak pernah datang, Sayang," Amber berbicara dengan nada berapi-api.

Arsenio bergeming, tidak menjawab sama sekali, karena yang dikatakan oleh mamanya itu benar adanya.

"Sen, Mama tidak mau kalau Hanum datang kembali. Mama tidak akan pernah sudi punya menantu seperti Hanum," sambung Amber kembali.

"Tapi, Ma ... Bagaimanapun Mama tidak bisa berbuat sesuka hati seperti ini. Mama itu harus tetap kasih tahu aku, karena ini tentang pernikahan," ucap Arsenio.

"Kalau untuk hal itu, Mama minta maaf. Tapi, Mama melakukan itu karena Mama yakin kalau Zora adalah yang terbaik untukmu." Tegas Amber.

"Lagian, kenapa kamu tidak langsung bangun saat menandatangani surat pernikahan itu dan langsung menolak? Jadi, mama anggap kamu menerimanya. Sudahlah, semuanya sudah terlanjur. Bagaimanapun sekarang kamu harus menerima Aozora istrimu,"" imbuhnya.

Arsenio akhirnya memilih untuk tidak menanggapi mamanya lagi, karena menurutnya tidak akan ada gunanya. Dia akan kalah melawan mamanya itu. Lagian menurutnya apa yang dikatakan mamanya itu benar. Seharusnya dia bisa langsung bangun, saat menandatangani surat pernikahan tadi, agar dia bisa menolak.

"Kapan kamu akan berhenti berpura-pura tetap koma, Arsen? Menurut mama sudah saatnya kamu berhenti!" Amber kembali buka suara, setelah ibu dan anak itu terdiam untuk beberapa saat.

"Sabar, Ma. Aku belum siap?" sahut Arsenio.

"Belum siap bagaimana? Jangan bilang kalau kamu masih berharap, Hanum akan merasa bersalah dan datang. Kamu jangan bodoh, Sen! Kalau dia memang merasa bersalah, dari awal dia tahu kalau kamu koma, dia pasti langsung datang. Lagian, dengan keadaanmu yang lumpuh seperti ini, apa kamu yakin dia masih mau bersamamu? bangun, Nak, bangun dari mimpimu!" ucap Amber dengan nada geram.

"Sudahlah, mama sudah cukup sabar satu minggu ini. pokoknya mama tidak mau tahu, kamu harus berhenti berpura-pura, agar kamu bisa melanjutkan pengobatan kaki kamu itu!" pungkas Amber, tegas.

"Tolong ngertiin aku, Ma. Aku akan bangun kalau aku sudah benar-benar yakin," ucap Arsenio, tegas.

"Ma, apa mama tahu, ternyata Aozora adalah calon istri Dimas," Arsenio mengalihkan pembicaraan.

"Mama sudah tahu," sahut Amber.

"Mama sudah tahu? Jadi kenapa __"

"Mama juga baru tahu tadi, karena tanpa sengaja mama mendengar perdebatan keluarga Aozora," potong Amber dengan cepat.

"Awalnya Mama tidak menyangka kalau Dimas yang mereka maksud itu sepupu kamu. Tapi, setelah Mama mendengar kalau dia akan menikah Minggu depan, makanya Mama yakin kalau itu Dimas sepupumu. Karena alasan itulah membuat Mama merasa semakin yakin untuk menikahkanmu dengan Aozora. Mama kasihan dengan jalan hidupnya. Mulai dari mamanya meninggal karena depresi akibat diselingkuhi papanya, sekarang adiknya malah merebut calon suaminya. Udah begitu, perusahaan almarhumah namanya juga diambil ibu tiri dan adiknya itu. Entah kenapa Mama hanya ingin membantu dia untuk bisa merebut kembali haknya," terang Amber panjang lebar tanpa jeda.

Arsenio diam untuk sejenak seperti tengah berpikir. "Ma, kalau begitu mulai besok, biarkan Aozora yang menggantikan aku memimpin perusahaan, menunggu aku sembuh. Aku ingin, Dimas bisa merasakan ada di bawah pimpinan wanita yang sudah dia sia-siakannya. Mama tenang saja, untuk masalah keamanannya, akan aku pikirkan nanti,"pungkas Arsenio.

Tbc

Terpopuler

Comments

Surahmi Rahmi

Surahmi Rahmi

kisahnya menarik mendebarkan

2025-03-15

0

Fitri nur Jannatin

Fitri nur Jannatin

/Facepalm/

2024-07-23

3

Ani Maryani

Ani Maryani

bagus arsen semoga c Dimas nyesel
melihat mantan nya yg lebih cantik

2024-07-14

1

lihat semua
Episodes
1 Dipaksa untuk menikah
2 Keputusan Aozora
3 Alasan Amber.
4 Sah berganti status jadi istri
5 Menyampaikan uneg-uneg
6 Cantik
7 Daren
8 Permintaan Arsenio
9 Membersihkan tubuh Arsen
10 Hari pertama ke perusahaan
11 Dimas turun jabatan
12 Kedatangan Tsania
13 Kepanikan Tsania dan Dimas
14 Kita tidak bisa bersantai lagi
15 Bingung
16 Ancaman Aozora
17 Kepanikan Dimas dan Tsania
18 Kekesalan Arsenio
19 Gagal
20 Bangun
21 Hampir saja
22 Hampir saja 2
23 Berusaha menahan rasa kesal
24 Kamu butuh bantuan?
25 Apa dia sebaik itu?
26 Dia pasti cemburu
27 Aksi Damian
28 Ini pasti ulah Aozora
29 Terlalu percaya diri
30 Kepanikan Dona
31 Kamu harus berterima kasih padaku
32 Kamu harus menemaniku terapi
33 Ribut
34 Hampir saja
35 Siapa kamu?
36 bertemu Danuar
37 Aditya marah
38 Kembali ke pemilik asli
39 Sedikit kecewa
40 Selingkuh ?
41 Permulaan karma
42 Anda lebih tega
43 Bagaimana perasaanmu sekarang padaku?
44 Apa yang harus aku lakukan
45 Ancaman Dona.
46 cantik sekali!
47 Rencana licik Damian
48 Kemarahan Arsen
49 Aozora hilang sabar
50 Anggap saja aku sudah mati
51 Sulit dipahami
52 Bosan punya banyak uang
53 Aku tidak suka!
54 Rahasia Hanum
55 Akan kembali ke kantor
56 Pasrah
57 Sisi lain Arsen
58 Aku akan menghapus bekasnya
59 Dimas pulang
60 Ide gila Dona
61 Menyambut Arsen
62 Mau jadi sekretaris
63 Aku mau lihat sejauh mana rencanamu
64 Dona mengancam Tsania
65 Menemui Samudra!
66 Bella mendatangi Samudra
67 Ini tidak bisa dibiarkan
68 Provokasi Hanum
69 dia itu adik sepupuku
70 Aku sudah tidak peduli!
71 Apa yang aku lakukan itu keterlaluan?
72 Aku menyerah
73 Ke Makam
74 Dilema Tsania
75 Penyesalan Meta
76 pingsan
77 Keputusanku tetap sama.
78 Kalau tidak berguna buang saja!
79 Rencana Dimas
80 Acara Ulang tahun, Arsen
81 Ancaman Hanum
82 Aku juga tidak minta dilahirkan
83 Mengancam Danuar.
84 Aku harus bertindak
85 Ini semua rencanaku
86 Terpaksa melaporkan
87 Provokasi Hanum
88 Datang ke ruanganku sekarang!
89 Ya, Dia Raraku!
90 Aku mau menginap di sini
91 membujuk Aozora
92 Ke kantor polisi
93 Aku hamil.
94 Cerita Arsen
95 Kekesalan Arsen
96 Cari cara
97 Syarat Dimas
98 Aku ikhlas melakukannya
99 Perdebatan Bella dan Niko
100 Bab 100
101 Bab 101
102 Bab 102
103 103
104 Bab 104
105 Bab 105
106 Bab 106
107 Bab 107
108 bab 108
109 bab 109
110 bab 110
111 bab 111
112 bab 112
113 Bab 113
114 Bab 114
115 bab 115
116 bab 116
117 bab 117
118 bab 118
119 Bab 119
120 Bab 120
121 Bab 121
122 Bab 122
123 Bab 123
124 Bab 124
125 Pengumuman
126 Pengumuman
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Dipaksa untuk menikah
2
Keputusan Aozora
3
Alasan Amber.
4
Sah berganti status jadi istri
5
Menyampaikan uneg-uneg
6
Cantik
7
Daren
8
Permintaan Arsenio
9
Membersihkan tubuh Arsen
10
Hari pertama ke perusahaan
11
Dimas turun jabatan
12
Kedatangan Tsania
13
Kepanikan Tsania dan Dimas
14
Kita tidak bisa bersantai lagi
15
Bingung
16
Ancaman Aozora
17
Kepanikan Dimas dan Tsania
18
Kekesalan Arsenio
19
Gagal
20
Bangun
21
Hampir saja
22
Hampir saja 2
23
Berusaha menahan rasa kesal
24
Kamu butuh bantuan?
25
Apa dia sebaik itu?
26
Dia pasti cemburu
27
Aksi Damian
28
Ini pasti ulah Aozora
29
Terlalu percaya diri
30
Kepanikan Dona
31
Kamu harus berterima kasih padaku
32
Kamu harus menemaniku terapi
33
Ribut
34
Hampir saja
35
Siapa kamu?
36
bertemu Danuar
37
Aditya marah
38
Kembali ke pemilik asli
39
Sedikit kecewa
40
Selingkuh ?
41
Permulaan karma
42
Anda lebih tega
43
Bagaimana perasaanmu sekarang padaku?
44
Apa yang harus aku lakukan
45
Ancaman Dona.
46
cantik sekali!
47
Rencana licik Damian
48
Kemarahan Arsen
49
Aozora hilang sabar
50
Anggap saja aku sudah mati
51
Sulit dipahami
52
Bosan punya banyak uang
53
Aku tidak suka!
54
Rahasia Hanum
55
Akan kembali ke kantor
56
Pasrah
57
Sisi lain Arsen
58
Aku akan menghapus bekasnya
59
Dimas pulang
60
Ide gila Dona
61
Menyambut Arsen
62
Mau jadi sekretaris
63
Aku mau lihat sejauh mana rencanamu
64
Dona mengancam Tsania
65
Menemui Samudra!
66
Bella mendatangi Samudra
67
Ini tidak bisa dibiarkan
68
Provokasi Hanum
69
dia itu adik sepupuku
70
Aku sudah tidak peduli!
71
Apa yang aku lakukan itu keterlaluan?
72
Aku menyerah
73
Ke Makam
74
Dilema Tsania
75
Penyesalan Meta
76
pingsan
77
Keputusanku tetap sama.
78
Kalau tidak berguna buang saja!
79
Rencana Dimas
80
Acara Ulang tahun, Arsen
81
Ancaman Hanum
82
Aku juga tidak minta dilahirkan
83
Mengancam Danuar.
84
Aku harus bertindak
85
Ini semua rencanaku
86
Terpaksa melaporkan
87
Provokasi Hanum
88
Datang ke ruanganku sekarang!
89
Ya, Dia Raraku!
90
Aku mau menginap di sini
91
membujuk Aozora
92
Ke kantor polisi
93
Aku hamil.
94
Cerita Arsen
95
Kekesalan Arsen
96
Cari cara
97
Syarat Dimas
98
Aku ikhlas melakukannya
99
Perdebatan Bella dan Niko
100
Bab 100
101
Bab 101
102
Bab 102
103
103
104
Bab 104
105
Bab 105
106
Bab 106
107
Bab 107
108
bab 108
109
bab 109
110
bab 110
111
bab 111
112
bab 112
113
Bab 113
114
Bab 114
115
bab 115
116
bab 116
117
bab 117
118
bab 118
119
Bab 119
120
Bab 120
121
Bab 121
122
Bab 122
123
Bab 123
124
Bab 124
125
Pengumuman
126
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!