Charlotte terus berjalan dan kini sudah sampai di teras sempit rumah Alamanda yang di atas lantainya tampak penuh sandal sandal dan sepatu sepatu. Di dekat pintu itu ada satu ekor kambing yang talinya diikat pada kaki kursi yang diduduki orang.
Charlotte yang didampingi oleh Marcel lalu melonggokkan kepalanya di pintu rumah Alamanda. Alamanda yang tertunduk kepalanya tidak melihat Charlotte yang berdiri melongok di depan pintu itu.
Di dalam rumah Alamanda di ruang tamu yang sempit itu terhampar karpet di seluruh ruangan. Kursi kursi dan meja sudah dikeluarkan di taruh di pinggir jalan dan sudah diduduki oleh tamu tamu.
Di dalam ruang tamu itu, tampak Alamanda tampil cantik dengan kebaya putih dan juga kerudung putih berenda. Alamanda duduk bersimpuh dengan kepala yang terus tertunduk. Di samping kiri dan kanannya sosok kedua orang tuanya. Mamanya Alamanda juga duduk bersimpuh memakai baju kebaya berwarna biru tua. Dan Papanya Alamanda duduk bersila memakai celana panjang berwarna hitam dengan memakai baju batik lengan panjang berwarna biru tua senada dengan warna baju kebaya istrinya.
Di dalam ruang tamu itu juga duduk bersila beberapa laki laki yang tampak sudah berumur. Dua laki laki tampak usianya sudah tujuh puluh tahun lebih. Dan ada satu laki laki setengah baya kira kira berumur lima puluh tahun, rambut di kepalanya tampak botak. Laki laki itu memakai baju jas lengkap dialah Pak Darman, orang orang sering menyebut dirinya Juragan Darman. Juragan Darmanlah laki laki pilihan orang tua Alamanda yang malam ini datang bersama rombongannya untuk melamar Alamanda. Di depan rombongan pelamar itu ada banyak bingkisan juga nampan nampan berisi makanan yang akan diserahkan pada keluarga Alamanda.
“Kini waktunya telah tiba silakan Juragan Darman menyampaikan maksud kedatangannya.” Suara seorang laki laki yang usianya kira kira tiga puluh tahun tampak memegang sebuah mikrofon, dialah orang yang bertugas sebagai Master of Ceremony. Laki laki itu pun lalu menyerahkan mikrofon yang dipegang kepada Juragan Darman. Juragan Darman pun menerima mikrofon itu.
“Ehmm Ehmm.” Suara Juragan Darman berdehem dehem mungkin sedang mengetes mikrofon atau mengetes suaranya.
“Terima kasih, Karena orang tua saya dan wali saya sudah tua. Maka saya sendiri yang akan menyampaikan maksud kedatangan saya dan rombongan. Dan langsung saja pada tujuan utama saya datang ke sini, adalah untuk melamar puteri bapak ibu Irawan yaitu Neng Alamanda yang akan saya jadikan isteri ke...” ucap Juragan Darman belum selesai tiba tiba ada anak kecil yang masuk ke dalam ruang tamu itu sambil berteriak.
“Tidak bisa, aku anaknya Bunda Alamanda tidak mau punya Ayah kamu!” teriak Charlotte dengan lantang. Alamanda yang sejak tadi menunduk tampak mendongak dengan kaget.
“Hei anak siapa ini mengacaukan acara lamaranku?” tanya Juragan Darman sambil menoleh ke arah Charlotte yang berdiri tidak jauh dari pintu rumah Alamanda.
“Aku anak kandung Bunda Alamanda!” teriak Charlotte sambil menatap tajam Juragan Darman.
“Mana mungkin? Alamanda belum pernah hamil.” Suara orang orang baik yang di dalam ruang tamu dan juga orang orang yang berada di luar. Kedua orang tua Alamanda pun tampak kaget dan panik.
“Iya mana mungkin? aku melihat Alamanda dari bayi sampai saat sekarang ini. Belum pernah aku melihat Alamanda bunting apalagi melahirkan bayi.” Ucap salah seorang lagi yang berada di dalam ruang tamu itu, dia adalah orang yang dijadikan saksi acara lamaran itu.
“Kalian semua tidak tahu, kalau Papaku sudah pernah membeli sel telur Bunda Alamanda.” Suara Charlotte lagi masih dengan suara lantang. Banyak orang tampak bengong dan bingung. Jangankan orang orang itu, Marcel yang duduk jengkeng di depan pintu itu juga tampak bingung.
“Sel telur itu tidak di taruh di rahim Bunda Alamanda, tetapi ditaruh di rahim perempuan lain dan lahirlah aku Charlotte Hanson.” Ucap Charlotte masih dengan suara lantang dan terakhir dia menunjuk dadanya sendiri dengan jari telunjuk mungilnya.
“Kalau kalian tidak percaya bisa cek darahku. Darahku sama dengan darah Bunda Alamanda. Dan di dalam tubuhku mengalir darah Bunda Alamanda!” teriak Charlotte lagi dengan sangat percaya diri.
“Al, apa benar yang dikatakannya?” tanya orang tua Alamanda sambil menatap Alamanda. Dan Alamanda yang tidak suka dengan Juragan Darman pun mengangguk saat ditanya kebenaran ucapan Charlotte.
“Kurang ajar! Ternyata sudah punya seorang anak!” suara Juragan Darman dengan penuh emosi.
“Aku batalkan lamaran ini, aku tidak mau punya isteri muda yang sudah memiliki anak.” Suara Juragan Darman dengan nada tinggi penuh emosi. Dia pun langsung bangkit berdiri bahkan kakinya menendang beberapa bingkisan lamaran.
“Gan.. Tapi bagaimana dengan kesepakatan kita?” tanya Papanya Alamanda dengan nada dan ekspresi wajah khawatir.
“Aku tidak mau tahu, hutang hutangmu harus kamu bayar besok pagi. Kalau tidak kamu bayar lunas besok pagi, aku sita rumahmu ini!” suara Juragan Darman lalu dia melangkah pergi.
“Bapak, Paman ayo kita pulang.” Ucap Juragan Darman sambil menoleh pada dua orang tua renta yang kesulitan untuk bangkit berdiri dan sedang dibantu berdiri oleh orang orang rombongan pelamar.
“Bubar! Bubar! Bubar semua!” teriak Juragan Darman dengan penuh emosi. Rombongan pelamar pun berjalan mengikuti langkah kaki Juragan Darman sambil membawa kembali bingkisan bingkisan dan segala bawaan yang tadi akan diberikan pada Alamanda dan keluarganya.
“Permisi mau ambil kambing.” Ucap salah satu orang rombongan Juragan Darman yang akan membuka tali di kaki kursi.
“Emmmmmbekkkkk” suara kambing itu yang malah semakin sembunyi di bawah kursi. Sepertinya sang kambing tidak mau diajak pulang. Setelah tali sudah dilepas kambing itu pun digendong oleh salah satu orang rombongan pelamar. Para tamu pun bubar sambil membawa kotak makan konsumsi yang sudah dibagi.
Sementara itu di dalam rumah Alamanda kini hanya tinggal keluarga Alamanda bersama Marcel dan Charlotte. Tampak Charlotte duduk di pangkuan Alamanda. Sedangkan Marcel tampak berbicara serius dengan Bapak Irawan, Papanya Alamanda.
“Maafkan anak saya yang telah mengacaukan acara.” Ucap Marcel dengan penuh santun.
“Saya akan mengganti semua kerugian yang sudah dibuat oleh anak saya. Saya juga akan membayar hutang hutang Bapak saat ini juga agar rumah ini tidak disita.” Ucap Marcel dengan nada serius, lalu dia mengambil hand phone dari saku bajunya lalu dia mengusap usap layarnya sambil bertanya berapa jumlah utang mereka pada Juragan Darman. Marcel pun seketika mentransfer ke rekening Alamanda.
“Terima kasih Tuan, sebenarnya saya juga tidak tega untuk menjodohkan Alamanda dengan Juragan Darman. Tetapi kami tidak bisa membayar utang utang kami, Alamanda sudah bekerja keras untuk mendapatkan uang tetapi kata Juragan Darman untuk membayar bunga saja masih kurang.” Ucap Mamanya Alamanda dengan nada sedih.
“Ngomong ngomong apa benar gadis kecil yang cantik jelita ini cucuku?” tanya Mamanya Alamanda sambil menatap Charlotte dan Alamanda.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
neng ade
wooww.. hebat Charlotte so jenius sukses menggagalkan acara lamaran nya Alamanda ..
2024-12-13
0
Nit_Nit
ayo cel lgs lamar alamanda 💪💪💪💪💪
2023-07-20
0
✍️⃞⃟𝑹𝑨🤎ᴹᴿˢ᭄мαмι.Ɱυɳιαɾ HIAT
charlotte hebat heee😅😂🤭👍👍👍menggagalkan lamaran juragan dah tua jg pengen daun muda
2023-07-20
1