Marcel pun akhirnya menghentikan tawanya.
“Pa, kalau calon suami kan belum menjadi suami. Papa juga bisa ikut daftar jadi calon. Kan macam ada pendaftaran calon wali kota itu.” Ucap Charlotte dengan nada serius sambil menatap wajah Sang Papa
“Papa ikut daftar aja ke orang tuanya Ners Alamanda. “ ucap Charlotte lagi dengan suara imutnya.
“Hmmm kamu pikir ini pemilu..” ucap Marcel sambil memencet hidung Charlotte sambil digerak gerakkan ke kiri dan ke kanan.
“Papa, aku dengar dari Ners Alamanda sendiri. Calon suaminya itu bukan pacar pilihan Ners Alamanda tetapi pilihan orang tuanya. Siapa tahu Papa juga dipilih oleh orang tua Ners Alamanda.” Ucap Charlotte dengan lantang sambil melepaskan tangan sang Papa dari hidungnya.
“Ayo Pa, besok kita ke rumah Ners Alamanda. Aku dukung dech Pa, kalau Papa suka Ners Alamanda. Aku mau banget punya Mama Baru Ners Alamanda. “ ucap Charlotte kemudian sambil menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah ayo sekarang kita tidur. Besok sesudah Papa bekerja kita ke rumah Ners Alamanda.” Ucap Marcel sambil memeluk tubuh mungil Charlotte dan tangan mungil Charlotte pun memeluk tubuh Sang Papa tidak lupa kaki mungilnya juga ditumpangkan pada tubuh Sang Papa. Keduanya pun tertidur dengan saling berpelukan.
Pagi hari pun tiba. Marcel membuka matanya, tangan dan kaki mungil Charlotte masih menempel pada tubuhnya dengan posesif. Marcel pun mengecup lembut puncak kepala Charlotte.
“Bangun Sayang mau ke rumah Ners Alamanda tidak?” ucap Marcel sambil menciumi kedua mata Charlotte dan Charlotte pun langsung membuka matanya.
Charlotte yang ingat hari ini akan ke rumah Ners Alamanda, dia langsung bangkit dari tidurnya dan turun dari tempat tidur dan meminta sang Papa segera membukakan pintu kamar, lalu Charlotte pun berlari keluar dari kamar menuju ke kamarnya untuk bersiap siap melakukan kegiatan rutinnya. Agar segera tiba sore hari dan pergi ke rumah Ners Alamanda.
Marcel tersenyum senang melihat puterinya tampak bahagia dan bersemangat. Marcel pun segera bersiap siap untuk pergi ke kantor.
Beberapa menit kemudian Marcel telah selesai, dia segera keluar dari kamarnya untuk menuju ke ruang makan. Sesaat Marcel teringat akan sesuatu. Marcel pun lalu berjalan menuju ke ruang kerjanya.
“Hmmm untung masih ada.” Gumam Marcel dalam hati saat membuka pintu ruang kerjanya, dia masih melihat cangkir kopi di atas meja kerjanya.
“Untung pelayan belum membersihkan.” Gumam Marcel lalu mengambil cangkir itu. Marcel segera keluar dari ruang kerja itu dan berjalan menuju ke ruang makan.
Saat sampai di ruang makan tampak Millie dan Nyonya Hanson sudah duduk di kursi makan. Millie tampak kaget saat melihat Marcel datang dengan membawa cangkir kopi tadi malam dan wajah Marcel tampak angger tanpa senyuman. Dahi Millie pun tampak memar dan benjol.
“Millie selesai makan pagi segera kamu pergi dari Mansion ini jangan ganggu aku dan Charlotte. “ ucap Marcel sambil menaruh cangkir di meja makan dengan kasar. Hingga Nyonya Hanson kaget.
“Cel ada apa?” tanya Nyonya Hanson dengan nada tinggi sambil menatap Marcel yang masih berdiri.
“Ma, dia sudah menaruh racun ke dalam kopiku.” Ucap Marcel sambil menatap tajam Millie penuh kebencian.
“Tidak Kak, Kalau aku taruh racun kenapa Kak Marcel masih hidup.” Saut Millie tidak mau kalah.
“Cel jangan menuduh sembarangan.” Suara Nyonya Hanson
“Kalau kamu mengelak. Aku bawa kopi ini ke laboratorium untuk dicek apa kandungan di dalamnya. Ini masih ada sisanya bisa untuk diuji.” Ucap Marcel menantang Millie.
“Millie kamu taruh apa ke dalam kopi Marcel?” tanya Nyonya Hanson sambil menatap Millie ekspresi Nyonya Hanson sudah mulai tampak bingung.
“Bukannya Tante yang menyuruh?” ucap Millie sambil menatap Nyonya Hanson.
“Hah? Mama yang nyuruh?” teriak Marcel sambil menatap Sang Mama dengan nada melotot karena kaget.
“Bohong mana mungkin aku menyuruh Millie untuk mencelakakan anakku sendiri. Kamu itu sembarangan saja Millie.” Teriak Nyonya Hanson sambil menatap tajam ke arah Millie wajahnya pun tampak mulai tegang.
“Tapi Tante kan...” ucap Millie karena bagi Millie Nyonya Hanson sudah menyuruhnya agar Marcel jatuh hati padanya maka dia bisa melakukan dengan segala caranya.
“Sekarang juga kamu angkat kaki Millie! Sebelum aku suruh satpam menyeretmu keluar!” suara Marcel memotong kalimat Millie yang belum selesai sambil menatap tajam ke arah Millie penuh emosi.
“Tante...” ucap Millie sambil menatap Nyonya Hanson minta pertolongan. Tapi Nyonya Hanson hanya diam saja, bahkan Nyonya Hanson bangkit berdiri dari kursi makannya padahal dia belum selesai makan paginya.
Dan tidak lama kemudian sosok Charlotte sudah masuk ke dalam ruang makan didampingi oleh sang pengasuhnya. Millie pun merasakan aura yang tidak nyaman baginya. Akhirnya dia pun bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamar tamu. Sambil melangkah, mulut Millie terus saja menggerutu, ngedumel dan mengumpat umpat.
“Aku tidak akan menyerah begitu saja Kak Marcel. Kamu tunggu saja!” gumam Millie dalam hati sambil membuka dengan keras daun pintu kamar tamu.
“Dan buat Tante Hanson, biar Mama buka rahasia Tante Hanson.” Ucap Millie sambil mengemasi barang barangnya, untuk segera pergi sebelum petugas keamanan Mansion Hanson menyeretnya.
Waktu pun terus berlalu dan sore hari pun tiba. Marcel pulang lebih awal karena Charlotte yang sudah tidak sabar untuk ke rumah Ners Alamanda sudah meneleponnya berulang kali mengingatkan dirinya jika Sang Papa sudah janji akan ke rumah Ners Alamanda.
Mobil Marcel sudah memasuki halaman Mansion Hanson. Charlotte yang sudah mandi dan tampil cantik pun segera berlari menyambut Sang Papa.
“Papa kita belum membelikan oleh oleh buat Ners Alamanda dan keluarganya.” Ucap Charlotte saat Marcel sudah membuka pintu mobil.
“Aihhh puteri Papa sudah cantik.” Ucap Marcel sambil menggendong tubuh mungil Charlotte lalu mencium pipi Charlotte kiri dan kanan.
“Papa cepat mandi nanti kita beli oleh oleh dulu yang buaaaaanyakkkk agar Papa diterima menjadi calon suami.” Ucap Charlotte kedua tangannya pun membentang saat mengatakan kata buaaaanyakkkk.
Dan beberapa menit kemudian Marcel sudah selesai mandi dan sudah memakai baju. Marcel memakai baju casual agar tidak tampak resmi kedatangannya nanti. Wajah Marcel pun tampak segar dan semakin tampan karena hati Marcel pun sudah tumbuh lagi rasa cinta dan bahagia. Apalagi Millie sudah tidak berada di dalam mansionnya.
“Ayo Papa kita berangkat sekarang!” ajak Charlotte yang sejak tadi menunggu di dalam kamar Marcel. Marcel pun lalu menggandeng tangan mungil Charlotte dan mereka berdua melangkah keluar kamar dengan hati bahagia penuh harapan.
Mereka terus berjalan keluar dari Mansion utama menuju ke mobil. Dan mobil pun terus berjalan meninggalkan halaman mension Hanson. Sebelum ke rumah Alamanda mereka akan mampir dulu ke mall untuk membeli oleh oleh buat keluarga Alamanda.
Mobil terus melaju dengan kecepatan penuh....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 156 Episodes
Comments
neng ade
semoga misi Charlotte sukses utk mencalonkan papa nya jadi suami Ners Alamanda.. 😍😍
2024-12-13
0
Deliza Yuseva
😬
2024-02-19
0
Nit_Nit
ada rahasia apa nyonya hanson 🤔
2023-07-18
0